Dalam setiap metode pengembangan pembelajaran, analisis pembelajaran selalu ada dan yang kali pertama dilakukan sebelum tahapan-tahapan lain
Baik pengembangan desain pembelajaran, perangkat pembelajaran, maupun pengembangan media pembelajaran tahapan analisis pembelajaran adalah kuncinya. Tahapan desain selalu tergantung pada hasil analisis ini, sedangkan tahapan desain sendiri menentukan tahapan pengembangan (develop). Untuk membandingkan bagaimana pentingnya peran analisis tujuan pembelajaran ini silakan baca tentang metode pengembangan 4D, ADDIE, dan ASSURE.
Analisis tujuan pembelajaran
mencakup dua langkah mendasar. Pertama, adalah untuk
mengklasifikasikan pernyataan tujuan sesuai dengan jenis pembelajaran yang akan
terjadi. Kedua, adalah mengidentifikasi dan mengurutkan
langkah-langkah utama yang diperlukan untuk mencapai tujuan.
Masing-masing tujuan ini dapat
berfungsi sebagai titik awal desain pembelajaran, dan pertanyaannya kemudian
menjadi, “Bagaimana kita menentukan keterampilan apa yang harus dipelajari untuk
mencapai tujuan tersebut?”. Langkah pertama adalah
mengelompokkan tujuan pembelajaran ke dalam salah satu domain pembelajaran,
misalnya keterampilan intelektual, keterampilan psikomotor, dan sikap. Langkah
selanjutnya adalah mengidentifikasi tujuan pembelajaran dalam informasi verbal.
Informasi verbal tentang tujuan pembelajaran mengharuskan siswa untuk memberikan respons spesifik terhadap pertanyaan yang relatif spesifik. Biasanya tujuan pembelajaran dituliskan menggunakan kata kerja, dimana siswa harus menyatakan, mendaftar, menggambarkan, atau membandingkan. Diasumsikan bahwa informasi yang dinyatakan akan diajarkan dalam pembelajaran.
Keterampilan Intelektual (Intellectual
Skills)
Keterampilan intelektual merupakan
keterampilan yang mengharuskan siswa untuk melakukan beberapa aktivitas
kognitif yang unik. Unik dalam arti bahwa siswa harus mampu menyelesaikan
masalah atau melakukan aktivitas dengan informasi atau contoh yang sebelumnya
tidak tidak ada atau tidak diajarkan.
Mengidentifikasi berbagai tingkat
keterampilan intelektual juga cukup penting. Diskriminasi tingkatan pada
dasarnya sederhana, pembelajaran tingkat rendah yang dengannya kita tahu apakah
segala sesuatunya sama atau berbeda. Kita bisa secara aktif mengajar anak-anak
untuk membedakan antara warna, bentuk, tekstur, suara, suhu, selera, dan
sebagainya.
Diskriminasi jarang dijadikan
sebagai tujuan pembelajaran siswa yang lebih mahir atau dewasa kecuali dalam
kasus khusus seperti suara dalam bahasa asing atau bidang musik, warna dan bau
dalam kimia, dan “rasa” kinestetik dalam atletik. Namun, diskriminasi adalah
blok bangunan penting yang kita kumpulkan ketika kita mempelajari konsep.
Penguasaan konsep pada dasarnya
berarti siswa mampu mengidentifikasi contoh anggota klasifikasi tertentu. Jika
konsepnya adalah peralatan baseball, maka pelajar harus bisa
menentukan apakah benda-benda yang menjadi peralatan baseball atau
tidak. Mungkin siswa diminta untuk mengidentifikasi objek nyata, atau bahkan
gambar atau deskripsi objek. Siswa harus menguasai konsep dengan mempelajari
karakteristik peralatan baseball yang membedakannya dari semua
peralatan olahraga lainnya dan dari benda-benda lain.
Konsep digabungkan untuk
menghasilkan aturan. Contoh dari aturan adalah “a2 + b2 = c2”.
Dalam aturan ini, siswa harus memiliki konsep a, b, dan c, mengkuadratkan,
menambahkan, dan akar kuadrat. Aturan menunjukkan hubungan di antara
konsep-konsep ini. Pengetahuan tentang aturan ini diuji dengan memberikan siswa
berbagai nilai untuk a dan b dan meminta
berapa nilai c. Siswa harus mengikuti serangkaian langkah untuk
menghasilkan jawaban yang benar.
Tingkat keterampilan intelektual
tertinggi adalah pemecahan masalah. Secara umum ada dua jenis pemecahan
masalah, yaitu: pemecahan masalah yang terstruktur dan pemecahan masalah yang
tidak terstruktur.
Masalah yang terstruktur lebih khas
dan biasanya dianggap sebagai masalah aplikasi. Siswa diminta untuk menerapkan
sejumlah konsep dan aturan untuk memecahkan masalah yang terdefinisi dengan
baik. Biasanya, cara yang lebih disukai untuk menentukan apa solusi yang
seharusnya adalah dengan diberikan banyak detail tentang suatu situasi, saran
tentang aturan dan konsep yang mungkin berlaku, dan indikasi tentang
karakteristik dari solusinya. Misalnya, masalah aljabar adalah masalah
terstruktur dengan proses relatif jelas, melibatkan berbagai konsep dan aturan,
dan memiliki jawaban “benar”.
Masalah yang tidak terstruktur
adalah di mana tidak semua data yang diperlukan untuk mencari solusi tersedia
atau bahkan sifat tujuan juga tidak jelas. Berbagai proses dapat digunakan
untuk mencapai solusi, dan tidak ada satu solusi pun yang dianggap “benar”,
meskipun sifat umum dari sebuah solusi yang memadai dapat diketahui.
Proses desain pembelajaran juga
merupakan salah satu contoh masalah tidak terstruktur. Kita jarang tahu semua
elemen kritis yang berkaitan dengan perumusan kebutuhan pembelajaran atau siswa
sesuai dengan harapan (ideal). Ada berbagai metode analisis dan strategi
pembelajaran dapat digunakan untuk menilai dan mencapai efektivitas
pembelajaran.
Sebagian besar tujuan pembelajaran
adalah penguasaan keterampilan intelektual (Intellectual Skills). Adalah
penting untuk dapat mengklasifikasikan hasil belajar dalam berbagai tingkat
keterampilan. Hal ini sangat berguna untuk menentukan apakah tujuan
pembelajaran dapat ditingkatkan atau disesuaikan dengan karakteristik siswa
dalam upaya penguasaan keterampilan intelektual yang lebih tinggi.
Tujuan pembelajaran harus disajikan sebagai informasi verbal. Jadi, tujuan pembejalaran harus dituliskan menggunakan kata kerja dan mudah dikonfirmasi ketercapaiannya. Dengan demikian siapapun bisa mengidentifikasi apakah tujuan pembelajaran tercapai atau tidak.
Keterampilan Psikomotor (Psychomotor
Skills)
Keterampilan psikomotor dikarakteristikkan
oleh kemampuan siswa dalam melakukan tindakan fisik, dengan atau tanpa
peralatan, untuk mencapai hasil yang ditentukan. Dalam situasi tertentu,
mungkin ada banyak “psiko” dalam tujuan psikomotorik, yaitu mungkin ada banyak
aktivitas mental atau kognitif yang menyertai aktivitas motorik. Namun, untuk
keperluan analisis pembelajaran, jika pelajar harus belajar untuk mengeksekusi
keterampilan motorik baru, nontrivial, atau kinerja tergantung pada pelaksanaan
keterampilan fisik, kita bisa menyebutnya sebagai tujuan psikomotorik.
Misalnya, mampu melempar bola baseball adalah
keterampilan psikomotorik yang membutuhkan latihan berulang untuk
menguasainya. Panning dengan lancar dengan kamera video untuk
mengikuti objek bergerak sambil mempertahankan komposisi ruang yang benar dalam
bingkai video membutuhkan banyak latihan dalam menguasainya. Namun, memprogram
VCR untuk merekam menggunakan mode malam secara otomatis, di mana menekan
tombol adalah keterampilan motorik sepele bagi orang dewasa. Keterampilan
terakhir ini tidak melibatkan banyak aktivitas mental atau kognitif.
Kemampuan menggambar kurva penawaran
dan permintaan juga mungkin bukan termasuk keterampilan psikomotor tingkat
tinggi bagi seorang mahasiswa program studi ekonomi. Namun mengambarkan
elastisitas permintaan akibat berubahan harga barang komplementer dengan cepat
dan akurat merupakan keterampilan psikomotor tingkat tinggi, walaupun bagi
mahasiswa S1 tingkat akhir.
Sikap (Attitudes)
Jika tujuan pembelajaran adalah
meminta siswa untuk memilih melakukan sesuatu, seperti tentang memilih gaya
hidup sehat, maka tujuan itu harus diklasifikasikan sebagai tujuan sikap. Sikap
biasanya digambarkan sebagai kecenderungan untuk membuat pilihan atau keputusan
tertentu. Sebagai contoh, kami ingin individu memilih menjadi karyawan yang
baik, memilih untuk melindungi lingkungan, dan memilih untuk makan makanan
bergizi.
Untuk mengidentifikasi tujuan sikap,
tentukan apakah siswa memiliki pilihan untuk melakukan sesuatu, dan apakah
tujuan menunjukkan arah di mana keputusan dipengaruhi. Jadi, sikap hanya bisa
diketahui ketika siswa sudah menentukan pilihan tindakan.
Karakteristik lain dari tujuan sikap
adalah bahwa penguasaan siswa mungkin tidak akan tercapai pada akhir
pembelajaran. Sikap seringkali merupakan tujuan jangka panjang yang sangat
penting, tetapi sangat sulit untuk dievaluasi dalam jangka pendek.
Pandangan tentang sikap ini selaras dengan pemikiran saat ini tentang disposisi mengajar sebagai tujuan pendidikan. Sangat dipahami bahwa ada perbedaan yang jelas antara mengetahui bagaimana melakukan sesuatu dan memilih untuk melakukannya.



0 Response to " ANALISIS TUJUAN PEMBELAJARAN"
Post a Comment