Al Khairan Metode Repetition dalam menghafal al qur'an | Al Khairan 286775737 -->

Iklan

Metode Repetition dalam menghafal al qur'an

Repetisi yaitu pengulangan yang bermakna pendalaman, perluasan, pemantapan dengan cara siswa dilatih melalui pemberian tugas atau kuis. 

Bila guru menjelaskan suatu unit pelajaran, itu perlu diulang-ulang. Karena ingatan siswa tidak selalu tetap dan mudah lupa, maka perlu dibantu dengan mengulangi pelajaran yang sedang dijelaskan. Pelajaran yang diulang akan memberikan tanggapan yang jelas, dan tidak mudah dilupakan, sehingga dapat digunakan oleh siswa untuk memecahkan masalah[1]. 

Ulangan dapat diberikan secara teratur, pada waktu-waktu tertentu, atau setelah tiap unit diberikan, maupun secara insidentil jika dianggap perlu. Menurut Suherman bahwa, “Pengulangan yang akan memberikan dampak positif adalah pengulangan yang tidak membosankan dan disajikan dalam metode yang menarik”[2].

Macam-macam metode repetition  

1. Metode Taqrir
a) Definisi 
Metode Takrir adalah salah satu cara agar informasi – informasi yang masuk ke memori jangka pendek dapat langsung ke memori jangka panjang dengan pengulangan (rehearsal atau takrir). Dalam hal ini terdapat dua cara pengulangan: 
  1. Maintenance rehearsal, yaitu pengulangan untuk memperbarui ingatan tanpa mengubah struktur (sekedar pengulangan biasa) atau disebut juga pengulangan tanpa berpikir. 
  2. Elaborative rehearsal, yaitu pengulangan yang di organisasikan dan di proses secara aktif, serta dikembangkan hubungan-hubunganya sehingga menjadi sesuatu yang bermakna. 
Penyimpanan informasi dalam gudang memori dan seberapa lama kekuatanya juga tergantung pada individu. Ada orang yang memiliki daya ingat teguh, sehingga menyimpan infomasi dalam waktu lama, meskipun tidak atau jarang di ulang, sementara yang lain memerlukan pengulangan secara berkala bahkan cenderung terus menerus. Perlu ditegaskan bahwa gudang memori itu tidak akan penuh dengan informasi-informasi yang dimasukkan ke dalamnya walaupun di simpan berulang-ulang, kerena kemampuannya menurut para pakar psikologi nyaris tanpa batas.  

Perlu diketahui bahwa belahan otak (otak kanan dan otak kiri) mempunyai fungsi yang berbeda. Fungsi belahan otak kiri untuk menangkap persepsi kognitif, menghafal, berpikir linier dan teratur. Sedangkan belahan otak kanan lebih terkait dengan pesepsi holistic imajinatif, kreatif dan bisosiatif [3].

Men-taqrir hafalan baru itu tidak luput dari keliru. Dalam satu juz. Misalnya, sedikitnya satu atau dua kali keliru akan ada. Apabila taqrir dilakukan secara bersinambung dan terus mengevaluasi kekurangan kekurangan dan menandai ayat-ayat yang selalu keliru, InsyaAllah akan ada peningkatan. Hati-hati kontrol lidah saat mengulang, hindari saat mengulang kekeliruanya karena kalau kekeliruannya terulang, maka sama dengan men-taqrir kekeliruannya [4]. 

b) Tahapan penerapan metode taqrir dalam menghafal Al Qur'an
Untuk menunjang keberhasilan dari penerapan metode Takrir dalam menghafal Al Quran ada beberapa tahapan yang harus dilaksanakan, diantaranya adalah sebagai berikut:
1) Tentukan batasan materi 
2) Membaca berulang kali dengan teliti 
3) Menghafal ayat perayat sampai batas materi 
4) Mengulang hafalan sampai benar-benar lancar

Penerapan metode takrir untuk membuat hafalan baru untuk mencapai tingkat hafalan yang baik tidak cukup dengan sekali proses menghafal saja. Suatu kesalahan apabila seseorang menganggap dan mengharap dengan sekali hafalan saja kemudian dia menjadi seorang penghafal Al-Quran yang baik.  Adanya takrir atau mengulang-ulang dalam menghafal Al-Quran dapat menunjukkan kemajuan-kemajuan dan kelemahan para orang yang menghafal. Dengan demikian dapat menambah usahanya dalam belajar Metode takrir ini pada prinsipnya  bersifat lebih santai, tanpa  harus lebih mencurahkan  seluruh  pikiran [5].

Oleh sebab itu sebelum memulai mengahafal Al-Quran, perlu dibaca secara berulang-ulang ayat-ayat yang akan dihafal. Jumlahnya disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan. Sebagian penghafal melakukannya sebanyak 35 kali pengulangan, setelah itu baru mulai dihafal. Bagi kalangan anak-anak, guru mengulang-ulang bacaan, sedangkan anak-anak atau murid menirukannya kata per kata dan kalimat per kalimat, juga secara berulangulang sehingga benar-benar terampil dan benar. Cara yang demikian memberikan kemudahan khusus dalam merekam ayat-ayat tersebut [6].

Semakin intensif mengulang, maka kecakapan dan pengetahuan yang dimilikinya dapat menjadi semakin dikuasai dan makin mendalam. Sebaliknya semakin minim dalam mengulang, maka dapat membuat bacaan Al-Quran tidak lancar. Memperbanyak ulangan terhadap  ayat-ayat yang telah  dihafal  menjadi alternatif utama  untuk  tetap  dapat  menjaga hafalan  ayat-ayat  Al Quran dalam ingatan. Karena pada dasarnya hafalan itu terjadi karena kebiasaan atau terbiasanya lisan mengucapkan kalimat-kalimat tertentu, dalam hal ini adalah ayat-ayat Al-Quran. Oleh karena itu hendaknya, waktu mempelajari dan mengulang dibagi secara teratur. Karena mengulang-ulang, menghafal nash-nash Al-Quran dengan membacanya secara teratur akan meneguhkan konsentrasi relatif lebih lama [7].

c) Manfaat metode taqrir
Banyak orang yang mudah dalam menghafal, tetapi sulit untuk dapat selalu mengulang hafalanya agar tetap terjaga. Mengulang hafalan adalah aktifitas yang melelahkan akal, akan tetapi menghasilkan sesuatu yang sangat cemerlang dimasa depan. Diantara Manfaat dan tujuan metode ini antara lain: 
1) Untuk mengetahui letak kesalahan bacaan dalam hafalan. 
2) Untuk memperkokoh hafalan yang pernah dihafal. 
3) Sebagai peringatan (mengasah otak) bagi otak dan hafalannya. 
4) Untuk memantapkan hafalannya sebelum waktunya dan menyingkat waktu [8].

2. Metode murojaah
a) Definisi 
Secara bahasa muroja'ah berasal dari bahasa arab roja'a yarji'u yang berarti kembali. Sedangkan secara istilah ialah mengulang kembali atau mengingat kembali sesuatu yang telah dihafalkannya. Muroja‟ah juga bisa disebut sebagai metode pengulangan berkala. Ada beberapa mateti pelajaran yang perlu untuk dihafalkan. Setelah dihafalkan pun masih perlu untuk diulang atau di muroja’ah. 

Hal yang perlu dilakukan dalam metode pengulangan berkala ialah mencatat dan membaca ulang catatan[9]. Proses Muroja‟ah sendiri berupa hafalan yang sudah diperdengarkan kepada guru atau kyai yang semula sudah dihafal dengan baik dan lancar, tetapi kadangkala masih terjadi kelupaan lagi bahkan kadang-kadang menjadi hilang sama sekali. Oleh karena itu perlu diadakan Muraja‟ah atau mengulang kembali hafalan yang telah diperdengarkan kehadapan guru atau kyai[10].

Pada prinsip dasarnya, dalam metode ini penghafal dilarang tergesa-gesa menambah hafalan dengan tidak mengulang hafalan lama. Sebab, apabila seorang penghafal Al Quran secara rutin terus menerus selalu menambah hafalan baru tanpa mengulangi hafalan lama maka dikhawatirkan hafalannya banyak yang hilang. Jadi, metode muraja‟ah merupakan salah satu solusi untuk selalu mengingat hafalan kita atau melestarikan dan menjaga kelancaran hafalan Al-Qur'an kita, tanpa adanya muraja'ah maka rusaklah hafalan kita. 

b) Tahapan penerapan metode muroja'ah
Ada 3 langkah-langkah (Three P) yang harus difungsikan oleh ikhwan/ akhwat kapan dan dimana saja berada sebagai sarana pendukung keberhasilan dalam menghafal al qur'an. 3P (Three P) tersebut adalah: (a) Persiapan (Isti‟dad) Kewajiban utama penghafal Al-Quran adalah ia harus menghafalkan setiap harinya minimal satu halaman dengan tepat dan benar dengan memilih waktu yang tepat untuk menghafal seperti: Sebelum tidur malam lakukan persiapan terlebih dahulu dengan membaca dan menghafal satu halaman secara grambyangan (jangan langsung dihafal secara mendalam). Setelah bangun tidur hafalkan satu halaman tersebut dengan hafalan yang mendalam dengan tenang lagi konsentrasi. Ulangi terus hafalan tersebut (satu halaman) sampai benar-benar hafal diluar kepala. 

Pengesahan (Tashih/setor). Setelah dilakukan persiapan secara matang dengan selalu mengingat-ingat satu halaman tersebut, berikutnya tashihkan (setorkan) hafalan antum kepada ustadz/ustadzah. Setiap kesalahan yang telah ditunjukkan oleh ustad, hendaknya penghafal melakukan hal-hal berikut: Memberi tanda kesalahan dengan mencatatnya (dibawah atau diatas huruf yang lupa), mengulang kesalahan sampai dianggap benar oleh ustadz, bersabar untuk tidak menambah materi dan hafalan baru kecuali materi dan hafalan lama benar-benar sudah dikuasai. Pengulangan (Muraja‟ah/Penjagaan). Setelah setor jangan meninggalkan tempat (majlis) untuk pulang sebelum hafalan yang telah disetorkan diulang beberapa kali terlebih dahulu (sesuai dengan anjuran ustad/ustadzah) sampai ustad benar-benar mengijinkannya[11].

3. Metode tasmi’
a) Definisi
Secara umum Sima’an Al-Qur‟an mempunyai arti yaitu tradisi membaca dan mendengarkan pembacaan Al Quran di kalangan pesantren umumnya. Kata “Sima'an‟ berasal dari bahasa Arab Sami'a-Yasma'u, yang artinya mendengar. Kata tersebut diserap ke dalam bahasa Indonesia menjadi “Sima'an” atau “Simak”, dan dalam bahasa Jawa disebut “Sema'an”. Dalam penggunaanya, kata ini tidak diterapkan secara umum sesuai asal maknanya, tetapi digunakan secara khusus kepada suatu aktivitas tertentu para santri atau masyarakat umum yang membaca dan mendengarkan lantunan ayat suci Al Quran. Lebih lanjut, Sima'an tersebut merupakan suatu majelis yang terdiri dari 2 orang atau lebih yang didalamnya diisi dengan membaca dan menyima‟ terhadap bacaannya. 

Hal ini bertujuan agar bisa diketahui letak kesalahan ayat-ayat yang dihafalkan. Dengan menyemakkan kepada seorang guru, maka kesalahan tersebut dapat diperbaiki. Sesungguhnya, menyemakkan hafalan kepada guru yang Tahfidz merupakan kaidah baku yang sudah ada sejak zaman Rasulullah SAW. Dengan demikian, menghafal Al-Quran kepada seorang guru yang ahli dan faham mengenai Al Quran sangat diperlukan bagi sang calon penghafal supaya bisa menghafal Al-Qur‟an dengan baik dan benar. Berguru kepada ahlinya juga dilakukan oleh Rasulullah SAW. Beliau berguru langsung kepada malaikat Jibril As, dan beliau mengulanginya mengulanginya pada waktu bulan Ramadhan sampai dua kali khatam 30 juz

b) Tahapan penerapan metode Tasmi'
Sistem ini menggunakan metode baca bersama, yaitu dua/tiga orang (partnernya) membaca hafalan bersama sama secara jahri (keras), dengan ketentuan sebagai berikut:
1) Bersama-sama baca keras  
2) Bergantian membaca ayat dengan jahri. Ketika partnernya membaca jahr dia harus membaca khafi (pelan) begitulah seterusnya dengan gantian. Sistem ini dalam satu majelis diikuti minimal 2 peserta [12]. 

c) Konsep metode tasmi‟
Ayat-ayat Al Quran hanya akan tetap bersemayam didalam hati untuk al-ilm jika ayat-ayat yang dihafal selalu diingat, diulang dan dimuroja‟ah. 

4. Konsep Menghafal Al Qur’an
a) Pengertian
Tahfidz Al Quran terdiri dari dua suku kata, yaitu Tahfidz dan Al Quran, yang mana keduanya mempunyai arti yang berbeda. Yaitu tahfidz yang berarti menghafal. Menghafal dari kata dasar hafal yang dari bahasa arab hafidza yahfadzu- hifdzan, yaitu lawan dari lupa, yaitu selalu ingat dan sedikit lupa. [13]

Seseorang yang hafal Al-Quran secara keseluruhan, bisa disebut dengan juma' dan huffazhul Qur'an. Pengumpulan Al-Quran dengan cara menghafal (Hifzhuhu) ini dilakukan pada masa awal penyiaran Islam, karena Al Quran pada waktu itu diturunkan melalui metode pendengaran. Pelestarian Al-Quran melalui hafalan ini sangat tepat dan dapat dipertanggungjawabkan. Sesungguhnya orang yang mempelajari, membaca, dan menghafalkan Al Quran ialah mereka memang dipilih Allah Swt untuk menerima warisan, yaitu berupa kitab suci Al Quran. Para penghafal Al Quran menghabiskan waktunya untuk mempelajari dan mengajarkan sesuatu yang bermanfaat dan bernilai ibadah. Hal ini sekaligus memposisikannya sebagai manusia yang sempurna[14].

b) Persiapan menghafal Al-Qur'an
1) Niat yang ikhlas
Bagi seorang calon penghafal atau yang sedang dalam proses menghafalkan Al Quran, wajib melandasi hafalannya dengan niat yang ikhlas, matang, serta memantapkan keinginannya, tanpa adanya paksaan dari orang tua atau karena hal lain, maka akan ada kesadaran dan rasa taggung jawab dalam meghafal Al Quran. Orang yang menghafal Al Quran dengan ikhlas tidak akan mengharapkan penghormatan orang lain ketika sema‟an atau memaca Al Quran. 

Kemudian tidak menjadikan Al Quran untuk mencari kekayaan dan kepopuleran. Karena itu, ikhlas merupakan salah satu kunci kesuksesan menjadi penghafal Al Quran yang sempurna[15].

2) Mempunyai tekad yang besar dan kuat
Proses mengahafal Al-Qur‟an tidaklah sebentar, memerlukan waktu yang relatif lama, yaitu antara tiga sampai lima tahun, meskipun ada sebagian orang yang ketika menghafalkan al-Qur‟an tidak mencapai tiga tahun (leih cepat dari lazimnya). Hal itu dikarenakan mereka mempunya kecerdasan dan ketekunan yang tinggi. 

3) Istiqomah[16]
Sebaiknya anda memilki jadwal kegiatan sehari-hari agar proses menghafal materi baru dan mengulang hafalan sebelumnya bisa berjalan dengan lancar dan istiqomah. Dengan adanya jadwal kegiatan. Anda akan merasa lebih mudah untuk terus istiqomah. tentunya hal ini hanya akan merasa lebih mudah untuk terus istiqomah. Tentunya, hal ini akan berbeda bila anda tidak membentuk atau memrogram jadwal kegiatan, sehingga istiqomah akan terasa sulit untuk dijalankan.  

4) Berguru kepada yang ahli
Bagi seorang murid harus sam'an wa ta'atan kepada guruya, menetap dan menghormatinya dengan tawadhu', mengabdi dan qona'ah, serta selalu menykini bahwa gurunya orang yang unggul ilmunya dan alim. Sikap yang demikian itu akan mendekatkan seorang murid untuk memperoleh kemanfaatan ilmu dan keberkahan dari seseorang guru. Sesungguhnya, apabila seorang murid tidak bermanfat ilmunya dan tidak mendapatkan barakah, maka sesuatu yang ia kerjakan tidak akan berarti apa-apa seperti pohon yang tak berbuah[17].

5) Mempunyai akhlak terpuji.
Apabila orang yang menghafalkan Al Quran memiliki sifat yang tercela, maka hal itu akan sangat besar berpengaruh dan berdampak sangat buruk. Sebab Al Quran adalah kitab suci yang diturunkan oleh Allah kepada Rasulullah SAW. Dengan demikian dilarang menodai kesucian Al Quran dengan keburukan dalam bentuk apapun, baik dari sifat, sikap, dan lain sebagainya.

6) Berdo'a agar sukses mengahafal Al Quran 
Sebesar apa pun usaha seseorang dalam mengahafalkan Al Quran tanpa adanya sebuah permintaan dan berdo’a kepada Allah maka Allah akan menentukan jalan yang lain. Dengan demikian, sangat dianjurkan untuk selalu berdo’a dengan sungguh-sunggu dengan tulus serta ikhlas selam proses mengahafal Al Quran.   

[1] Dhian, Model Pembelajaran Auditory, [online]

[2] Ibid.,

[3] Sa'dullah, Op. Cit., h. 48-49

[4] D.M. Makyaruddin, Rahasia Nikmatnya Menghafal Al-Qur'an, (Jakarta: Naura Book, 2013), hal. 261

[5] Fithriani Gade, Implementasi Metode Takrar dalam Pembelajrana Menghafal Al-Qur‟an, vol. XIV No.2, 413-425 DIDAKTIKA 2014

[6] Ibid., h. 424

[7] Ibid.,

[8] Khalid bin abdul karim al-laahim. Mengapa Saya Menghafal Qur'an. (Solo: Daar An-Naba', 2008), hal. 224

[9] Alpiyanto, Menjadi Juara dan Berkarakter Mulia, (Tujuh Samudera Alfath: Bekasi, 2013),  h. 184

[10] Muhaimin Zen, Tata Cara/ Problematika Menghafal Al-Qur‟an dan Petunjuk-Petunjuknya, (Pustaka Al-Husna: Jakarta, 1985) , h. 250

[11] Wiwi Alawiyah, Wiwi Alwiyah Wahid, Cara Cepat Bisa Menghafal Al-Qur'an, (Diva Press: Yogyakarta, 2012., h. 77.

[12] Ibid.,

[13] Mahmud Yunus, Kamus Arab-Indonesia, (Jakarta: HidakaryaAgung, 1990), hal. 105

[14] Wiwi Alwiyah Wahid, Cara Cepat Bisa Menghafal Al-Qur‟an , (Diva Press: Yogyakarta, 2012), hal. 146

[15] Ibid., h. 28-19.

[16] Sa'dullah, 9 Cara Praktis Menghafal Al-Qur‟an, (Gema Insani : Jakarta, 2008), h. 30-31

[17] Ibid., h. 30-31. 

[18] Nana Syaodih, Op. Cit., h. 169-170.

[19] Emzir, Metodologi Penelitian Pendidikan, (Rajawali Pers: Jakarta, 2013), h.271.

Silahkan berlangganan al khairan dengan e-mail secara gratis:

0 Response to "Metode Repetition dalam menghafal al qur'an"

Post a Comment