
RANCANGAN, INSTRUMEN DAN VARIABEL
PENDAHULUAN
Data dan informasi ilmiah yang termaktub dalam khasanah
pengetahuan dan ilmu semata-mata merupakan hasil rekayasa manusia yang semula
diawali kekaguman manusia terhadap lingkungan di sekitarnya. Kekaguman ini
menimbulkan keinginan manusia untuk mengetahui dan selanjutnya bagaimana alam
dapat dikuasai manusia. Fenomena dan kejadian alam dapat dipelajari karena lazimnya hal-hal yang
terjadi secara alamiah akan berlangsung menurut hukum keteraturan dan
konsistensi.
Lazimnya suatu "Ilmu" disusun berdasarkan
pengalaman manusia dari hasil pengamatan manusia terhadap alam, semula
menghubungkan satu fenomena satu dengan lainnya yang bilamana diketahui
manusia disebut pengetahuan (knowledge). Pengamatan adalah suatu tindakan
manusia dalam usaha memahami suatu kejadian (gejala), dan dari hasil pengamatannya
manusia berusaha menarik kesimpulan umum (generalisasi). Pada prinsipnya ada dua pokok kegiatan mental
manusia yang memungkinkan tersusunnya ilmu pengetahuan, yaitu (1) pengamatan,
dan (2) inferensia. Keduanya merupakan komponen dari metoda penelitian ilmiah
(scientific research).
Scientific
research: kegiatan manusia yang membutuhkan kecer
dikan (astute), pengamatan atau persepsi obyektif dan dan daya evaluasi dan
generalisasi yang tajam. Tujuan dari penelitian ilmiah adalah untuk memperoleh
pengertian terhadap suatu fenomena atau proses dalam penyelidikan spesifik
untuk dapat memprediksikan dengan akurat mengenai apa yang terjadi dalam proses
itu sendiri atau memodifikasikan proses atau dalam mengembangkan proses baru
seperti metoda produksi (teknologi) yang lebih efisien. Dilihat dari segi
metodologi, seluruh ilmu pengetahuan didasarkan pada:
(1). Pengamatan dan pengalaman manusia yang terus
menerus; dan pengumpulan data yang sistematis.
(2). Analisis yang digunakan dalam bentuk berbagai
cara, antara lain: (a). Analisis langsung (direct analysis), (b). Analisis
perbandingan (comparative analysis), (c). Analisis matematis dengan meng
gunakan model matematis.
(3). Penyusunan model-model atau teori, serta
pemuatan peramalan-peramalan dengan menggunakan model itu.
(4). Penelitian-penelitian untuk menguji
ramalan-ramalan tersebut, hasilnya mungkin benar atau mungkin salah.
Proses
penelitian juga dapat diartikan sebagai usaha manusia yang dilakukan secara
sadar dan terencana dengan pentahapan proses secara sistematik untuk: (1)
memecahkan masalah dan menjawab pertanyaan praktis di lapang, atau (2)
menambah khasanah ilmu penge tahuan, baik berupa penemuan teori-teori baru atau
penyempurnaan yang sudah ada. Dengan
demikian penelitian juga dapat digunakan sebagai tolok ukur kemajuan suatu
negara, karena melalui penelitian inilah ilmu pengetahuan dan teknologi baru
dapat dihasilkan. Secara
umum penelitian (research), dalam pengertian umum dapat dibedakan antara survai
(survey) atau studi kasus (case study) di satu pihak dan penelitian (experiment)
di pihak lain. Untuk
dapat melaksanakan penelitian secara baik, diperlukan penguasaan yang memadai tentang metode penelitian itu
sendiri, baik yang menyangkut pengetahuan teoritikal, ketrampilan dalam
praktek dan juga pengalaman-pengalaman. Lebih dari itu, cara pelaksanaan
penelitian yang baik saja sering dirasa belum mencukupi bila kita tidak
berhasil menyebar luaskan dan meyakinkan akan kegunaan hasil penelitian
tersebut kepada masyarakat, melalui publikasi-publikasi dan pertemuan ilmiah.
Sementara
orang seringkali mencampur-adukkan pengertian "metode penelitian" dan
"metodologi penelitian". Metodologi penelitian membahas konsep teoritik berbagai metode, kelebihan
dan kelemahannya, serta pemilihan metode yang akan digunakan dalam suatu
penelitian. Sedangkan "metode penelitian" mengemukakan secara
teknis tentang metode-metod yang dipakai dalam suatu penelitian. Seringkali
metodologi penelitian diperkenalkan dalam maknanya yang teknis belaka, misalnya
langsung membahas tentang populasi, teknik sampling, merumuskan masalah,
mendisain dan merancang instrumen kuantifikasi data, dan sebagainya. Selain
itu, banyak peneliti telah tenggelam pada berbagai teknik sampling, teknik
instrumentasi, teknik analisis, tanpa menyadari bahwa dia telah menjadi
penganut filsafat ilmu tertentu. Pengguna metodologi seperti biasnaya akan cenderung menolak cara-cara
kerja lainnya sebagai spekulatif, subyektif, dan sebagainya. Sebaliknya para
penganbut filsafat ilmu yang berbeda memberi cap "bohong",
"munafik" pada lanbgkah-langkah kerja penelitian yang memulai
tulisannya dengan "alasan pemilihan judul", dan lainnya. Mereka ini lupa atau tidak tahu bahwa ada
metodologi penelitian berbeda yang menggunakan dasar filsafat ilmu yang lain,
yang memang menuntut langkah kerja seperti itu.
Berdasarkan
uraian di atas maka seyogyanya seorang peneliti mengetahui dan menyadari bahwa
dia menggunakan landasan filsafat ilmu yang mana untuk metodologi penelitian
yang digunakannya; sehingga dia menyadari kelebihan dan kelemahan
metodologi yang digunakannya, dan sadar pula bahwa ada metodologi epenelitian
lain yang menggunakan landasan filsafat ilmu yang berbeda. Metodologi
penelitian merupakan ilmu yang mempelajari metode-metode penelitian, ilmu
tentang alat-alat untuk penelitian. Di
lingkungan filsafat, logika dikenal sebagai ilmu tentang alat untuk mencari
kebenaran, dan kalau disusun secara sistematis, metodologi penelitian merupakan
bagian dari logika. Kita mengenal lima
macam model logika, yaitu (1) logika
formal Aristoteles, (2) Logika matematika deduktif, (3) Logika matematika
induktif, (4) Logika matematik probabilistik, dan (5) Logika reflektif.
Logika
formal Aristoteles berupaya menyusun struktur hubungan antara sejumlah
proposisi. Untuk membuat generalisasi, logika Aristoteles mengaksentuasikan
pada prinsip-prinsip relasi formal antar proposisi. Proposisi merupakan penegasan tentang relasi
antar jenis , proposisi juga dapat dimaknakan sebagai hubungan antar konsep.
Logika
matematika deduktif membangun konstruksi pembuktian kebenaran mendasarkan pada
proposisi-proposisi kategorik seperti Logika tradisional Aristoteles. Bedanya ialah kalau Logika Aristoteles
mendasarkan pada kebenaran formalnya,
sedangkan Lohgika Matematik deduktif mendasrakan pada kebenaran materiil.
Logika Aristoteles menguji kebenaran formal dari proposisi khusus (yang disebut
sebagai premis minor) berdasar kebenaran
proposisi universal (disebut sebagai premis mayor). Kontradiksi antar keduanya
berarti premis minor ditolak. Konstruksi keseluruhan pembuktiannya menggunakan
silogisme: bahwa kalau a termasuk dalam b dan b dalam c, maka a termasuk dalam
c. Logika matematik deduktif menguji
kebenaran materiil kasus berdasarkan dalil, hukum, teori, atau proposisi umum
universal lain. Logika Aristoteles
menuntut dipenuhi syarat formal, logika matematika deduktif melihat kebenaran
materiil. Proposisi universal dikenal dengan nama-nama: asumsi, aksioma,
postulat, teori, dan tesis. Asumsi
merupakan proposisi universal yang "self evident" benar dan tidak
memerlukan pembuktian. Aksioma merupakan
pernyataan tentang sejumlah sesuatu yang mempunyai hubungan tertentu dan benar;
kebenaran ini kalau perlu dapat dibuktikan. Setara dengan "aksioma",
dalam ilmu-ilmu sosial dikenal istilah "postulat". Tesis merupakan pernyataan yang telah diuji
kebenarannya lewat evidensi, mungkin berlandaskan empoiris, atau berdasarkan
argumentasi tergantung pada teori yang dianut. "Teori" merupakan suatu konstruksi pernyataan yang integratif
yang didalamnya terkandung asumsi, aksioma/postulat, sejumlah tesis, dan
sejumlah proposisi. Teori yang valid memuat lebih banyak tesis daripada
proposisi.
Logika
matematik induktif dapat dibedakan menjadi dua, yaitu logika matematika
induktif kategorik dan logika matematik probabilistik. Keduanya membangun generalisasi secara
induktif berdasarkan empiri. Logika
kategorik menetapkan kebenaran dengan penetapan yang implisit dan eksplisit
terhadap ketegorisasi yang ditetapkan;
sedangkan Logika probabilistik menamplkan proposisi universal relatif yang
memberi peluang atas kemungkinan benar dan salah dalam proposisinya. Untuk menguji dan memperoleh kebenaran logika
reflektif bergerak mondar-mandir antara induksi dan deduksi. Untuk hal-hal yang deterministik digunakan
logika reflektif kategorik, sedngkan untuk hal-hal yang indeterministik digunakan
logika reflektif probabilistik.
POPULASI DAN SAMPEL
Dalam suatu penelitian survei, sumber informasi diperlukan untuk menjawab permasalahan penelitian. Sumber informasi ini dapat dibedakan menjadi sumber informasi utama (primair) dan sumber informasi pendukung (sekunder). Sumber informasi utama lazimnya juga dikenal sebagai "POPULASI". Dalam konteks ini "populasi" diartikan sebagai himpunan semua hal yang ingin diketahui, dan biasanya juga disebut sebagai "universum'. Populasi ini dapat berupa lembaga, individu, kelompok, dokumen, atau konsep. Dalam penentuan populasi ada empat faktor yang harus diperhatikan, yaitu (a) Isi, (b) satuan, (c) cakupan (skope), dan (d) waktu. Suatu teladan adalah :
ISI
|
Semua
murid yang berumur 14 tahun
|
SATUAN
|
Yang
bersekolah di SLTP
|
CAKUPAN
|
Di
Jawa Timur
|
WAKTU
|
Pada
tahun 1995.
|
Populasi juga dapat diartikan sebagai jumlah keseluruhan unit analisis yang ciri-cirinya akan diduga (akan dianalisis). Dalam konteks ini dapat dibedakan antara POPULASI TARGET dan POPULASI SURVEI. Populasi target adalah populasi yang telah kita tentukan sesuai dengan permasalahan penelitian, dan hasil penelitian dari populasi ini akan disimpulkan. Populasi survei merupakan populasi yang terliput dalam penelitian. Secara ideal kedua populasi ini sehatrusnya identik, tetapi pada kenyataannya seringkali berbeda.
SAMPEL
atau CONTOH adalah sebagian dari
populasi yang diteliti/diobservasi dan dianggap dapat menggambarkan keadaan
atau ciri populasi. Dalam teknik
penarikan sampel dikenal dua jenis, yaitu penarikan sampel probabilita dan non
probabilita. Sampel probabilita adalah teknik poenarikan sampel dimana setiap
anggota populasi diberi/ disediakan kesempatan yang sama untuk dapat dipilih
menjadi sampel.
1. Sampel Probabilita
Ada
empat macam cara yang lazim:
(1).
Penarikan
sampel Secara Acak Sederhana (Simple Random Sampling)
Sampel acak sederhana adalah sampel
ayang diambil sedemikian rupa sehingga anggota populasi mempunyai
kesempatan/peluang yang sama untuk dipilih menjadi sampel.
(2).
Penarikan
Sampel Sistematis (Systematic Random Sampling)
Metode pengambilan sampel dimana anggota
sampel dipilih secara sistematis dari daftar populasi. Daftar populasi harus
berada dalam keadaan acak atau membaur.
(3).
Penarikan
Sampel Stratifikasi (Stratified Random Sampling)
Apabila kita akan mengkaji hubungan
antar variabel, atau kita melibatkan variabel bebas dan variabel tidak bebas
(terikat), maka diperlukan metode penarikan sampel berlapis atau
berstrata. Suatu kriteria yang jelas
harus ditetapkan untuk membatasi strata. Penarikan sampel dari setiap strata dapat dilakukan secara pro porsional
atau tidak proporsional. Keuntungan dari
cara penarikan sampel ini adalah (a) semua ciri populasi yang heterogen dapat
terwakili, (b) dapat dikaji hubungan antar strata, atau memban dingkannya.
(4).
Penarikan
Sampel Secara Bergerombol (Cluster Sampling)
Dalam praktek seringkali kita tidak
mempunyai daftar populasi yang lengkap. Dalam kondisi seperti ini diperlukan "POPULASI MINI" yang
sifat dan karakternya sama dengan seluruh POPULASI. Populasi mini seperti ini
disebut CLUSTER atau GEROMBOL. Setelah cluster ditetapkan, barulah memilih
sampel secara acak. Kelemahan cara ini adalah sulit mengetahui bahwa setiap
gerombol menggambarkan sifat populasi secara tuntas.
2. Sampel Tidak Probabilitas (1). Penarikan Sampel Secara Kebetulan (Accidental Sampling)
Peneliti dapat memilih orang atau responden yang terdekat dengannya, atau yang pertama kali dijumpainya dan seterusnya.
(2). Penarikan Sampel Secara Sengaja (Purposive
Sampling)
Peneliti telah menentukan responden
menjadi sampel penelitiannya dengan anggapan atau menurut pendapatnya sendiri.
(3). Penarikan Sampel Jatah (Quota Sampling)
Populasi dibagi menjadi ebberapa strata
sesuai dengan fokus pene litian. Penarikan sampel jatah dilakukan kalau peneliti tidak mengetahui jumlah
yang rinci dari setiap strata populasinya. Dalam kondisi ini peneliti menentukan jatah
untuk setiap strata yang kurang-lebih seimbang.
(4). Penarikan Sampel Bola Salju (Snowball Sampling)
Bola salju dibuat dengan menggulung
salju yang bertebaran di atas rumput, dari sedikit menjadi banyak dan besar. Pertama
kali ditentukan satu
atau beberapa responden untuk diwawancarai, sehingga berperan sebagai titik awal penarikan
sampel. Responden selanjutnya ditetapkan berdasarkan petunjuk dari responden
sebelumnya. Cara ini sering digunakan
dalam penelitian-penelitian pemasaran.
PREPOSISI PENELITIAN
1. Konsep dan Variabel
KONSEP adalah merupakan ide-ide, penggambaran hal-hal atau benda-benda atau gejala sosial, yang dinyatakan dalam istilah atau kata. Konsep dapat dibentuk dengan jalan abstraksi atau generalisasi. ABSTRAKSI adalah proses menarik intisari dari ide-ide, hal-hal, benda-benda, atau gejala sosial. Sedangkan GENERALISASI adalah menarik kesimpulan umum dari sejumlah ide- ide, hal-hal, benda-benda, atau gejala sosial yang khusus. Ciri dari suatu konsep adalah bersifat umum. Contoh yang mudah dipahami adalah konsep “tanaman”, “ternak”, "meja", "kursi", "masyarakat", "organisasi", "asimilasi", "kebahagiaan" dan lainnya. Konsep ber-fungsi untuk menyederhanakan pemikiran terhadap ide-ide, hal-hal, benda-ben-da, atau gejala sosial. Dalam konteks ini konsep harus didefinisikan dengan jelas dan tegas.
Definisi
merupakan pernyataan yang dapat mengartikan atau memberi makna suatu istilah
atau konsep tertentu. Tiga hal pokok dalam membuat definisi adalah (1) apa yang
mendefinisikan sebaiknya tidak mengandung istilah atau konsep yang
didefinisikan, atau mengandung istilah sinonim, atau istilah yang erat bergantung
pada apa yang didefinisikan; (2) definisi tidak dirumuskan dalam kalimat
negatif, dan (3) definisi sebaiknya dalam bahasa yang sederhana dan jelas serta
terperinci agar mudah dimengerti oleh orang lain dan komunikatif.
Dalam penelitian empiris,
konsep yang abstrak harus dapat diubah menjadi suatu konsep yang lebih konkrit
agar dapat diamati dan diukur. Konsep yang lebih konkrit ini lazim dikenal
sebagai VARIABEL, yaitu suatu konsep yang mempunyai variasi nilai. Misalnya konsep "BADAN" dan variabel "BERAT BADAN".
2. Jenis Preposisi
Preposisi
adalah suatu pernyataan yang terdiri dari satu atau lebih dari satu konsep atau
variabel. Preposisi yang hanya terdiri
atas satu konsep atau variebal disebut UNIVARIAT. Preposisi yang menyangkut
hubungan antara dua konsep atau variabel
disebut BIVARIAT, dan lebih dari dua konsep atau variabel disebut
MULTIVARIAT. Beberapa jenis preposisi
yang lazim digunakan adalah Aksioma, Postulasi, Teori, Hipotesis, dan
Generalisasi Empiris.
Jenis Preposisi |
Bagaimana dibuat |
Dapat langsung diuji atau tidak |
Generalisasi Empiris |
Dibuat dari data |
ya |
Hipotesis |
Dibuat secara deduksi atau dari data |
ya |
Teori |
Dibuat dari aksioma atau postulasi |
ya |
Postulasi |
Dianggap benar |
tidak |
Aksioma. |
Benar berdasarkan definisi |
tidak |
3. Teori dan Jenis Teori
Suatu
teori berusaha untuk menjawab pertanyaan "mengapa" dan
"bagaimana". Teori adalah serangkaian konsep dalam bentuk preposisi-preposisi
yang saling berkaitan, bertujuan memberikan gambaran yang sistematis tentang
suatu gejala. Untuk melihat apakah suatu
teori dirumus kan secara baik dapat dievaluasi melalui hal-hal (a) dapat diuji,
(b) satuan analisis, (c) kesederhanaan, (d) dapat menjelaskan atau memprediksi
suatu gejala.
4. Skala Variabel
Ciri-ciri
atau karakteristik dari nilai variabel pada dasarnya dapat dibedakan menjadi
empat tingkatan skala, yaitu SEKALA NOMINAL, SEKALA ORDINAL, SEKALA INTERVAL,
dan SEKALA RASIO. Sekala
Nominal hanya sekedar membedakan satu
kategori dengan kategori lainnya dari suatu variabel. Dasar perbedaannya adalah penggo longan yang
tidak saling tumpang tindih antar kategori. Sekala ordinal mempunyai sifat membedakan dan mencerminkan adanaya tingkatan. Misalnya
jenjang kepangkatan meliter "Mayor", "Kapten",
"Letnan". Sekala interval mempunyai sifat membedakan, mempunyai
tingkatan dan mempunyai jarak yang pasti antara satu kategori dengan kategori
lainnya. Misalnya variabel
"umur". Sekala rasio mempunyai sifat membedakan, mempunyai tingkatan
dan jarak, dan setiap nilai variabel diukur dari suatu keadaan atau titik yang
sama (titik nol mutlak). Misalnya
variabel "berat badan", keadaan tanpa bobot dapat dipakai sebagai titik
nol mutlaknya.
Sifat
Sekala
|
Nominal
|
Ordinal
|
Interval
|
Rasio
|
Membedakan
( =;#)
|
ya
|
ya
|
ya
|
ya
|
Urutan
(<;>)
|
-
|
ya
|
ya
|
ya
|
Jarak
(+; -)
|
-
|
-
|
ya
|
ya
|
Nol
mutlak (x; :)
|
-
|
-
|
-
|
ya
|
Dalam
penelitian, selain "sekala" kita lazim mengenal istilah
"indeks", yaitu ukuran gabungan untuk suatu variabel. Dari beberapa variabel kita mengga-bungkannya dengan cara etertentu
untuk megukur suatu variabel atau konsep baru. Dalam proses penggabungan ini
dapat digunakan pembobot yang sama atau berbeda untuk setiap variabel yang
digabungkan. Dalam penggabungan ini dapat digunakan cara (1) Summated Rating,
(2) Sekala Likert, dan (3) Sekala Guttman.
Summated
Rating: yaitu suatu cara pengelompokkan variabel dengan sekedar menjumlahkan
skor dari nilai sejumlah variabel yang akan dikelompokkan. Sekala Guttman atau
Sekalogram: sekala yang bersifat unidimensional dan
pernyataan/pertanyaan/variabel yang tercakup dalam sekala ini mempunyai bobot
yang berbeda. Sekala Likert: suatu ukuran gabungan yang berusaha untuk mengurangi akibat dari ukuran yang
multidimensional, dengan tujuan untuk memperoleh ukuran yang
unidimensional.
5. Pengukuran Variabel
Indikator
adalah hal-hal yang digunakan sebagai kriteria untuk menunjukkan dan mengukur
suatu konsep. Misalnya konsep "status sosial ekonomi" mempunyai
indikatro-indikator "pendidikan", "peker-jaan", dan
"penghasilan". Operasionalisasi konsep: upaya untuk menjabarkan
pengertian suatu konsep yang abstrak dengan menurunkannya pada tingkatan yang
lebih konkrit, dengan bantuan beberapa
variabel sebagai indikator yang dapat menunjukkan dan mengukur konsep tersebut.

Keterangan:
X = Status sosial ekonomi
X1 = Pendidikan; X2 = pekerjaan; X3 =
penghasilan
X1.1 = jenjang pendidikan terakhir
X1.2 = lama waktu pendidikan
X2.1 = jenis pekerjaan utama; X2.2 =
jenis pek. sampingan
X3.1 = jumlah penghasilan utama;
X3.2 = jumlah penghasilan sampingan
X1,X2, dan X3 adalah indikator untuk X
X1.1 dan X1.2 adalah indikator untuk
X1.
Definisi
operasional merupakan petunjuk tentang suatu variabel yang diukur, sangat
membantu dalam komunikasi antara peneliti. Misalnya, "Penduduk yang tergolong miskin adalah mereka yang mempunyai
tingkat pengeluaran senilai kurang dari 320 kg beras per kapita per tahun untuk
penduduk pedesaan dan 480 kg untuk perkotaan."
6. Hubungan antar variabel
6. Hubungan antar variabel
Hubungan antara variabel berdasarkan sifat hubungannya dapat dibedakan menjadi hubungan simetris dan hubungan asimetris; berdasar kan jumlah variabel yang terlibat menjadi bivariat dan multivariat; berdasar kan bentuk hubungannya menjadi linear dan tidak linear; berdasarkan kondisi hubungannya menjadi hubungan yang perlu, hubungan yang cukup dan hubungan yang perlu dan cukup. Kaitan antara teori dengan hipotesis dan konsep dengan variabel dapat diabstraksikan sbb:


Variabel kontrol: variabel yang berperan mengontrol hubungan antara dua variabel, yaitu hubungan semu atau sejati. Hubungan semu adalah hubungan antara dua variabel yang hanya ada dalam data, tetapi secara logika sebenarnya tidak ada hubungan. Hubungan ini ada karena terdapat variabel ke tiga yang berhubungan secara positif dengan kedua variabel.

7. Validitas (Keabsahan) dan Reliabilitas (keterandalan)
Dalam usaha untuk memperoleh kejelasan tentang konsep atau hubungan antar konsep yang sedang diteliti, langkah penting yang harus dilakukan adalah mengadakan pengukuran. Dalam konteks pengukuran inilah muncul masalah keabsahan dan keterandalan. "Apakah anda betul mengukur apa yang hendak anda ukur?" Suatu penelitian disebut valid (absah) apabila peneliti memang menukur konsep yang digunakan dalam penelitiannya sesuai dengan apa yang hendak diukur dan konsep itu diukur secara tepat. Dengan kata lain keabsahan menyatakan tingkat kesesuaian antara konsep dan hasil pengukuran atau antara konsep dengan kenyataan empiris.
Keterandalan
mencerminkan kecepatan dan kemantapan alat ukur dalam mengukur suatu konsep,
sehingga yang dipermasalahkan adalah kesesuaian antara hasil-hasil pengukuran di tingkatan kenyataan empiris.
0 Response to "PENELITIAN KUANTITATIF"
Post a Comment