
Warga negara memiliki kewajiban untuk patuh kepada pemerintah dalam hal-hal yang bukan termasuk perbuatan maksiat, mendoakan kebaikan bagi mereka, dan memiliki ketulusan terhadap mereka.
Namun, seringkali jika pemimpin tidak sesuai dengan keinginan rakyat, maka menjadi sulit untuk tetap patuh kepada mereka, bahkan dalam hal-hal yang baik. Sikap ini tidak sesuai dengan ajaran Islam.
Imam al-Barbahari rahimahullah berkata, "Jika kamu melihat seseorang mendoakan kecelakaan bagi penguasa, maka ketahuilah bahwa dia adalah pengikut hawa nafsu. Jika kamu mendengarnya mendoakan kebaikan bagi penguasa, maka ketahuilah bahwa dia adalah pengikut Sunnah."
Kewajiban warga negara adalah patuh kepada penguasa, meskipun mereka melakukan kezaliman dan penyimpangan, meskipun mereka melakukan kefasikan dan maksiat, kecuali jika mereka memerintahkan perbuatan maksiat. Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam melakukan maksiat kepada Sang Pencipta.
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Kewajibanmu adalah mendengar dan patuh kepada pemimpin dalam keadaan sulit atau mudah, suka atau tidak suka, dan memprioritaskan kepentingan penguasa atau kepentinganmu sendiri." (Hadis Riwayat Muslim)
Perintah untuk patuh kepada pemimpin sangat banyak, meskipun pemimpin tersebut sewenang-wenang terhadap rakyatnya.
Thawus mengatakan, "Termasuk dalam sunnah adalah menghormati empat orang: orang yang berilmu, orang yang sudah tua, penguasa, dan orang tua." (Syarhus Sunnah, Al-Baghawi 13/41)
Oleh karena itu, kewajiban warga negara adalah mengingatkan pemimpin ketika mereka lalai, memberikan petunjuk dan bimbingan ketika mereka melakukan kesalahan dan tergelincir, didorong oleh rasa kasih sayang dan belas kasihan kepada mereka
0 Response to " SIKAP RAKYAT TERHADAP PEMIMPIN"
Post a Comment