Al Khairan ISTRI SHALEHA YANG MENYEJUKKAN HATI | Al Khairan 286775737 -->

Iklan

ISTRI SHALEHA YANG MENYEJUKKAN HATI

Kisah ini dapat menjadi sumber inspirasi bagi istri yang ingin menjadi perhiasan terindah dunia dan bidadarinya di akhirat, yaitu wanita shalihah. Semoga kisah ini juga dapat menginspirasi mereka yang menginginkan keluarga yang harmonis, penuh kasih sayang, dan diridhai oleh Allah ‘Azza wa jalla.

Poto. Pixabay.com


Ia menceritakan pengalamannya:

"Saat aku menikahi Zainab binti Hudair, aku berpikir dalam hati: Aku telah menikahi seorang wanita Arab yang sangat keras dan kaku sikapnya. Aku teringat sikap wanita-wanita dari suku Tamim yang keras hatinya. Aku ingin menceraikannya. Kemudian aku berpikir (dalam hati): 'Aku akan bergaul dengannya terlebih dahulu (yaitu menikah dan berhubungan dengannya), jika aku menemukan apa yang aku sukai, aku akan bertahan. Dan jika tidak, aku akan menceraikannya.'

Kemudian datanglah wanita-wanita dari suku Tamim mengantarkannya. Setelah dia ditempatkan di rumah, aku berkata, 'Wahai fulanah, sesuai dengan sunnah, ketika seorang wanita bertemu dengan suaminya, suami dan istri harus mengerjakan shalat dua rakaat.'

Aku pun bangkit untuk mengerjakan shalat, lalu aku menoleh ke belakang dan ternyata dia ikut shalat di belakangku. Setelah shalat, para budak perempuan yang mendampinginya datang dan mengambil pakaianku, lalu mereka menggantikannya dengan pakaian tidur yang telah dicelupkan dengan za'faran.

Ketika rumah sudah sepi, aku mendekatinya dan mengulurkan tanganku kepadanya. Dia berkata, 'Tahan dulu (sabar dulu).' Aku berpikir dalam hati, 'Aku telah mengalami bencana.' (yaitu musibah telah menimpanya)

Lalu dia memuji Allah dan mengirimkan salam kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, lalu dia berkata, 'Aku adalah seorang wanita Arab. Demi Allah, aku tidak pernah melakukan sesuatu kecuali yang diridhai Allah. Dan engkau adalah seorang pria asing, aku belum mengenal perilakumu (yaitu aku belum mengenal tabiatmu)..."

Beritahulah kepada saya apa yang Anda sukai sehingga saya dapat melakukannya, dan apa yang Anda benci sehingga saya dapat menghindarinya."

Saya berkata kepadanya, "Saya suka hal ini dan itu (Syuraih menyebutkan satu per satu kata, tindakan, makanan, dan segala sesuatu yang disukainya) dan saya benci hal ini dan itu (Syuraih menyebutkan semua hal yang ia benci)."

Dia bertanya lagi, "Beritahukan kepada saya siapa saja anggota keluargaku yang Anda sukai jika mereka mengunjungi Anda?"

Saya (Syuraih) menjawab, "Saya adalah seorang qadhi, saya tidak suka mereka (anggota keluargamu) membuat saya bosan."

Maka saya menghabiskan malam yang paling indah bersamanya, dan saya tidur tiga malam bersamanya. Kemudian saya pergi ke majelis qadha', dan setiap hari yang saya lewati lebih baik daripada hari sebelumnya.

Tibalah waktu kunjungan mertua.

Yaitu genap satu tahun (setelah berumah tangga).
Aku masuk ke dalam rumahku. Aku dapati seorang wanita tua sedang menyuruh dan melarang.
Aku bertanya, “Hai Zainab, siapakah wanita ini?”
Istriku menjawab, “Ia adalah ibuku.”
“Marhaban”, sahutku.
Ia (ibu mertua) berkata, “Bagaimana keadaanmu hai Abu Umayyah?”
“Alhamdulillah baik-baik saja”, jawabku.
“Bagaimana keadaan istrimu?” Tanyanya.
Aku menjawab, “Istri yang paling baik dan teman yang paling cocok. Ia mendidik dengan baik dan membimbing adab dengan baik pula.”
Ia berkata, “Sesungguhnya seorang wanita tidak akan terlihat dalam kondisi yang paling buruk tabiatnya kecuali pada dua keadaan: Apabila sudah punya kedudukan di sisi suaminya dan apabila telah melahirkan anak. Apabila engkau melihat sesuatu yang tak mengenakkan padanya pukul saja. Karena, tidaklah kaum lelaki memperoleh sesuatu yang lebih buruk dalam rumahnya selain wanita warhaa’ (yaitu wanita yang tidak punya kepandaian dalam melakukan tugasnya).

Syuraih berkata, “Ibu mertuaku datang setiap tahun sekali kemudian ia pergi sesudah bertanya kepadaku tentang apa yang engkau sukai dari kunjungan keluarga istrimu ke rumahmu?”

Aku menjawab pertanyaannya, “Sekehendak mereka!” Yaitu sesuka mereka saja.
Aku hidup bersamanya selama dua puluh tahun, aku tidak pernah sekalipun mencelanya dan aku tidak pernah marah terhadapnya.”

Dikutip dari buku Agar Suami Cemburu Padamu karya Dr. Najla’ As-Sayyid Nayil, penerbit Pustaka At-Tibyan

Silahkan berlangganan al khairan dengan e-mail secara gratis:

0 Response to "ISTRI SHALEHA YANG MENYEJUKKAN HATI"

Post a Comment