Al Khairan Antara Umar Bin Khathab dengan Harta | Al Khairan 286775737 -->

Iklan

Antara Umar Bin Khathab dengan Harta


Jika kamu ingin tahu siapa sosok figur yang memiliki ciri khas berikut:
  • Orang terbaik kedua dari Umat para Nabi dan Rasul ‘alaihimush shalatu was salam
  • Orang yang mendapatkan pujian dalam Al-Quran dan As-Sunnah
  • Salah satu dari Khulafa’ur Rasyidin radhiyallahu ‘anhum
  • Salah satu dari sepuluh orang yang dikabarkan masuk Surga
  • Orang yang mendapatkan keistimewaan berupa perintah Allah pada umat Islam untuk mengikutinya
Siapakah sosok figur yang memiliki ciri khas di atas? Beliau adalah Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu, sosok panutan yang memiliki banyak keistimewaan, selain yang sudah disebutkan di atas.

Benar, membicarakan pribadi Umar dan sisi kehidupannya adalah hal yang tidak bisa dituangkan dalam satu buku saja, apalagi hanya dalam artikel yang singkat ini. Namun, Ma laa yudraku kulluh, laa yutraku kulluh (sesuatu yang tidak bisa didapatkan semuanya janganlah ditinggalkan semuanya). Tidak ada rotan akar pun jadi. Semoga yang sedikit ini bisa bermanfa’at besar bagi kita semua. 

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
اقتدوا باللذين من بعدي من أصحابي أبي بكر وعمر
“Ikutilah orang-orang sesudahku dari para sahabatku, yaitu Abu Bakar dan Umar” (Disahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahihul Jami’). [1]

Keteladanan Umar dalam Menyikapi Harta
Pada kesempatan ini kami mengangkat tema sikap beliau terhadap harta agar dapat menjadi contoh dan teladan. Apapun kedudukan kita, sama saja apakah kita adalah anggota keluarga, masyarakat, atau pejabat dan pihak berwenang yang mengelola harta negara, semuanya membutuhkan sosok teladan dari penduduk Surga yang satu ini. 

Beliau berpengalaman memimpin negara besar dan bersejarah, bahkan termasuk salah satu dari Khulafa’ur Rasyidin radhiyallahu ‘anhum, yaitu penerus Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dalam memimpin negara Islam terbesar sepanjang sejarah Islam. Lebih dari itu, beliau adalah orang terbaik kedua di muka bumi ini setelah para Nabi dan para Rasul ‘alaihimush shalatu was salam.

Iman kepada Allah adalah Pondasi Sikap Beliau Terhadap Harta
Beliau adalah orang yang paling bertakwa kedua setelah Abu Bakar Ash-Shiddiiq radhiyallahu ‘anhuma di tengah-tengah umat ini. Karenanya, pantas jika seluruh sikap beliau dibangun di atas pondasi takwa dan iman. Keimanan beliau kepada Allah yang tinggi membuahkan khasyatullah (takut kepada Allah), zuhud (meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfa’at bagi akhirat) dan wara’ (meninggalkan sesuatu yang membahayakan nasib seseorang di Akhirat) yang tinggi pula, dengan pertolongan dari Allah.

Hal ini nampak, sampaipun saat beliau menjabat sebagai amirul mukminin (pemimpin negara kaum muslimin) di negara Islam paling besar. Saat itu beliau menduduki jabatan paling tinggi. Dengan jabatan setinggi itu, sangat memungkinkan bagi beliau untuk melakukan berbagai kemaksiatan terkait dengan harta negara, seperti memperkaya diri dan keluarganya dengan cara yang batil dan mengeruk kas negara sebanyak-banyaknya untuk kepentingan pribadi. Namun yang terjadi justru sebaliknya, beliau mengingatkan diri sendiri untuk takut kepada Allah, berusaha mengawasi diri sendiri, mengaudit (menghisab) setiap amal perbuatan, dan bertakwa kepada Allah.

Wahai Para Pemimpin, Inilah Ketakwaaan Umar bin Khattab
Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu mengisahkan tentang betapa takutnya Umar kepada azab Allah,
خرجت مع عمر بن الخطاب حتى دخل حائطاً، فسمعته يقول وبيني وبينه الجدار، وهو في جوف الحائط: أعمر أمير المؤمنين بخٍ بخٍ،والله يا بُنَيَّ الخطاب لتتقين الله أو ليعذبنك
“Saya keluar bersama Umar bin Khattab hingga beliau masuk ke dalam suatu tempat yang berdinding. Saat itu saya mendengar beliau mengatakan sesuatu dan saat itu antara saya dan beliau terhalang dinding. Beliau di tengah-tengah tempat yang berdinding tersebut mengatakan pada dirinya sendiri, ‘Apakah Umar layak menjadi Amirul Mukminin? Wah, wah! Demi Allah, wahai putra Al-Khattab, sungguh-sungguhlah bertakwa kepada Allah atau Allah benar-benar akan mengazabmu‘” (Diriwayatkan oleh Imam Malik dalam Al-Muwaththo` dan yang lainnya, Shahih dari jalan Imam Malik). [2]

Diantara perkara yang menunjukkan rasa takutnya Umar kepada Allah, walaupun keberhasilan pemerintahan telah beliau raih, adalah riwayat berikut ini.

ولما حضرت الوفاة عمر رضي الله عنه أثنى عليه الناس في إمارته وخلافته، فقال بالإمارة تغبطوني؟! فوالله لوددت أني أنجو كفافاً لا علي ولا لي
“Menjelang wafatnya Umar radhiyallahu ‘anhu, orang-orang memuji kepemimpinan dan pemerintahan beliau. Seketika itu beliau menimpali, ‘Apakah kalian menginginkan kepemimpinan tersebut? Demi Allah, sungguh aku menginginkan diriku asal selamat saja, tidak rugi dan tidak pula untung” (Diriwayatkan oleh Ibnu Sa’din dalam Ath-Thabaqat dan yang lainnya, shahih dari jalan Ibnu Sa’din).


Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
اقتدوا باللذين من بعدي من أصحابي أبي بكر وعمر
“Ikutilah orang-orang yang sesudahku dari para sahabatku,yaitu: Abu Bakar dan Umar” (Disahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahihul Jami’).

Di atas, telah disebutkan bahwa iman kepada Allah adalah pondasi sikap beliau terhadap harta. Hal ini menjadi modal besar dalam menyikapi harta dengan benar. 

Zuhud (meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat di Akhirat)
Di antara sikap Umar radhiyallahu ‘anhu adalah zuhud terhadap dunia dan perhiasannya serta mengharap pahala di sisi Allah. Banyak contoh yang menunjukkan hal itu, namun satu saja yang akan dinukilkan di sini, yaitu sebuah kisah yang dituturkan langsung oleh beliau radhiyallahu ‘anhu,

كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يعطيني العطاء فأقول أعطه أفقر إليه مني، حتى أعطاني مرة مالاً، فقلت: أعطه من هو أفقر إليه مني، فقال النبي صلى الله عليه وسلم: (خذه فتموله، وتصدق به، فما جاءك من هذا المال، وأنت غير مشرف ولا سائل فخذه، ومالا فلا تتبعه نفسك)
“Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dulu pernah memberiku suatu pemberian, lalu akupun mengatakan, ‘Berikanlah itu kepada yang lebih membutuhkan dari aku. Di saat yang lain beliau pun memberiku harta lagi, lalu akupun mengatakan, ‘Berikanlah itu kepada orang yang lebih membutuhkan dari aku.’ Akhirnya beliau pun bersabda, ‘Ambilah harta itu, lalu milikilah sebagai hartamu dan bersedekahlah dengan harta itu. Sesuatu yang datang kepadamu dari harta ini, sedangkan Anda tidak tergiur bersemangat mengharap-harapnya dan tidak pula memintanya, maka ambillah. Adapun jika sebaliknya, maka janganlah nafsumu mencari-carinya (jika harta tersebut tidak datang kepadamu)” (HR. Al-Bukhari dan Muslim, dan yang lainya).

Wara’ (meninggalkan sesuatu yang membahayakan nasibnya di Akhirat)
Di antara sikap Umar radhiyallahu ‘anhu yang menunjukkan kesempurnaan agamanya adalah wara’nya beliau dalam meninggalkan sesuatu yang jelas keharamannya maupun yang masih samar atau belum jelas halal dan haramnya (syubhat).

Beliau dahulu memiliki unta yang biasa diperas susunya untuk diminum. Suatu hari, seorang pembantu yang kurang dikenalinya datang pada beliau.

Maka berkatalah Umar radhiyallahu ‘anhu,

ويحك من أين هذا اللبن لك؟
“Celaka engkau! Darimana kau dapatkan susu ini?”.

Lalu pembantunya tersebut menjawab,

يا أمير المؤمنين إن الناقة انفلت عليها ولدها، فشربها، فحلبت لك ناقة من مال الله
“Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya anak onta Anda lepas dari induknya, kemudian (setelah kembali) anak onta itu pun menyusu kepada induknya. Aku pun memeras susu untukmu dari onta lain yang merupakan harta Allah”.

Berkatalah Umar radhiyallahu ‘anhu:

ويحك، تسقني ناراً
“Celaka engkau! Engkau memberiku minum dari api neraka” (Riwayat hasan, diriwayatkan Ibnu Zanjawiyyah di Al-Amwaal dan Ibnu Syabbah di Taariikh Al-Madiinah). [4]

Dermawan
Umar radhiyallahu ‘anhu adalah seorang yang sangat dermawan, banyak berinfak di jalan Allah, dan banyak melapangkan rakyatnya. Beliau berlomba dengan Abu Bakar Ash-Shiddiiq radhiyallahu ‘anhuma dalam bersedekah. Umar radhiyallahu ‘anhu pernah bersedekah dengan harta termahal yang dimilikinya, yaitu tanah miliknya di daerah Khaibar (Riwayat Shahih, HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Beliau juga sangat dermawan dalam menjamu tamu. Ketika beliau kedatangan tamu, Utbah bin Farqod, Umar pun berucap, “Sungguh kami akan menyembelih satu ekor onta setiap hari. Adapun onta yang berlemak (gemuk) dan onta terbaik, maka itu untuk kaum muslimin yang mengunjungi kami dari berbagai penjuru” (Diriwayatkan oleh Hanad dan yang lainnya. Riwayat shahih dari jalan Hanad).
Tipe Pejabat pilihan
Umar radhiyallahu ‘anhu adalah sosok yang memiliki pandangan yang benar terhadap harta. Harta bukanlah menjadi patokan seseorang itu baik atau tidak, bertakwa atau tidak dan layak menjadi pemimpin atau tidak.

Oleh karena itu, sebagai kepala negara, dalam memilih para pejabat yang menjadi bawahannya beliau tidak menetapkan kekayaan sebagai kriteria dasar bagi kelayakan seseorang sebagai pemimpin kaum muslimin. Walaupun seseorang itu berasal dari kalangan budak, beliau akan memilihnya menjadi pemimpin jika syarat-syarat kepemimpinan terpenuhi.

Suatu hari Nafi’ bin Abdul Harits bertemu dengan Amirul Mukminin Umar bin Al Khattab radiyallahu ‘anhu di daerah ‘Usfan. Saat itu Umar tengah mempercayakan kepemimpinan Mekah kepada Nafi’.
Umar bertanya,
من استعملت على أهل الوادي؟
“Siapa yang engkau tunjuk menjadi pemimpin daerah lembah?”
Nafi’ menjawab,
ابن أبزى
“Ibnu Abza”

Umar bertanya,
ومَنْ ابن أبزى؟
“Siapa Ibnu Abza?”

Nafi’ menjawab,

مولى من موالينا
“Seorang bekas budak dari budak-budak kami yang telah dimerdekakan”
Umar bertanya kembali,

فاستخلفت عليهم مولى؟
“Engkau telah memberikan kepercayaan tersebut kepada seorang bekas budak?“

Nafi’ mengatakan,

إنه قارئ لكتاب الله عـز وجل ، وإنه عالـم بالفرائض
“Sesungguhnya dia adalah seorang Ahlul-Qur’an (yang hafal, paham, dan mengamalkannya) dan pakar ilmu Syari’at Islam”

Umar berkata:
أما إن نبيكم صلى الله عليه وسلم قال : إن الله يرفع بهذا الكتاب أقواما، ويضع به آخرين
“Sungguh Nabi kalian shalallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, “Sesungguhnya Allah mengangkat derajat sebagian manusia dengan Al-Qur`an dan merendahkan sebagian yang lain karena sebab sikap yang salah terhadap Al-Qur`an” (Shahih Muslim: 817) .
Jelaslah dari kisah di atas bahwa pemimpin yang faham agama Islam dan semangat mengamalkannyalah yang dipilih dan disetujui menjadi pejabat pada masa beliau. Di samping itu, tentu beliau memperhatikan kriteria-kriteria lain yang sesuai dengan tugas yang diembannya.
Pembuktian terbalik
Umar radhiyallahu ‘anhu tidak hanya menerapkan kriteria-kriteria yang baik dalam memilih seorang pejabat, namun beliau juga tidak membiarkan pejabat pilihannya menyeleweng di tengah-tengah bertugas. Beliau menerapkan berbagai bentuk pembinaan dan pengawasan dalam berbagai hal, di antaranya adalah pengawasan dalam masalah harta. Salah satu bentuk pengawasan harta pejabat bawahannya yang beliau terapkan adalah apa yang disebut pada zaman ini dengan istilah pembuktian terbalik, pembuktian yang berasal dari diri pejabat itu sendiri untuk menyatakan bahwa dirinya tidak menyelewengkan, mengambil, atau mengorupsi uang negara.

Suatu saat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu datang berkunjung menemui Umar radhiyallahu ‘anhu. Ketika itu Umar telah mengangkat Abu Hurairah sebagai pejabat di Bahrain. Ia membawa kekayaan sebesar sepuluh ribu keping uang emas (sekitar 42,5 kg emas). Lalu Umar radhiyallahu ‘anhu berkata:
استأثرت بهذه الأموال يا عدو الله وعدو كتابه
“Engkau telah melebihkan dirimu dengan harta ini, wahai musuh Allah dan musuh Kitab-Nya! “.

Berkatalah Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu :
لست بعدو الله ولا عدو كتابه، ولكني عدو من عاداهما
“Aku bukanlah musuh Allah dan bukan musuh Kitab-Nya, akan tetapi aku adalah musuh orang yang memusuhi Allah dan Kitab-Nya“.

Umar pun bertanya,
فمن أين هي لك
“Darimana uang ini engkau dapatkan?”

Abu Hurairah menjawab,
خيل لي تناتجت، وغلة رقيق لي، وأعطية تتابعت علي
“Kudaku berkembang biak, hasil usaha budakku naik, dan bagianku dari harta rampasan perang menumpuk“.

Umar radhiyallahu ‘anhu memberhentikan Abu Hurairah. Setelah itu para petugas Umar menyelidiki asal dari uang tersebut, ternyata mereka dapatkan sesuai dengan pengakuan Abu Hurairah, kemudian Umar radhiyallahu ‘anhu pun meminta kembali Abu Hurairah untuk menjadi pejabat, namun Abu Hurairah menolaknya (Riwayat Hasan, diriwayatkan oleh Abdur Razzaq di Mushannaf dan Ibnu Sa’din dalam Ath-Thabaqat dan Abu Nu’aim di Hilyah Auliya`). [5]

Nampak dari kisah di atas, Umar radhiyallahu ‘anhu meminta Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu untuk membuktikan darimana asal hartanya tersebut, sesudah itu para petugas Umar mengauditnya.

Amanah Umar radhiyallahu ‘anhu dalam menunaikan hak para pejabat berupa harta
Bukan hanya kewajiban pejabat saja yang beliau awasi, namun beliau juga memperhatikan pemenuhan hak-hak para pejabat bawahannya, beliau berusaha memenuhi kebutuhan-kebutuhan para pejabatnya, agar mereka tidak tergoda menggelapkan uang negara. Berikut ini salah satu buktinya.

Di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Umar radhiyallahu ‘anhu termasuk salah satu petugas penarik zakat dan termasuk orang yang mendapatkan kepercayaan mengurus harta kaum muslimin.

Pada masa kekhalifahan beliau radhiyallahu ‘anhu, beliau pernah menunjuk Abdullah bin As-Sa’di untuk mengurus harta shodaqoh, dan ketika Abdullah bin As-Sa’di telah menyelesaikan tugasnya, Umar pun memberi upah kepadanya, namun Abdullah bin As-Sa’di berkata:
إنما عملت وأجري على الله
“Sesungguhnya aku bekerja sedangkan balasanku dari Allah”.
Lalu Umar menjawab:

خذ ما أعطيت، فإني عملت على عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم فَعَمَّلني فقلت مثل قولك،
“Ambillah pemberianku ini, karena dulu aku bekerja di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu beliau pun memberi upah hasil kerjaku, lalu aku pun mengatakan seperti ucapanmu (tadi).
فقال لي رسول الله صلى الله عليه وسلم :”إذا أعطيت شيئاً من غير أن تسأل فكل وتصدق”
“Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadaku, ‘Jika engkau diberi sesuatu tanpa meminta maka makanlah dan bersedekahlah (dengannya)’” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dan yang lainnya).

Perhatian kepada rakyat
Beliau radhiyallahu ‘anhu memperhatikan para pejabat bawahannya, namun beliau juga memperhatikan nasib masyarakat yang beliau pimpin. Sebagai contoh adalah Umar radhiyallahu ‘anhu memiliki perhatian yang besar terhadap status kehalalan makanan yang dikonsumsi masyarakatnya. Beliau tidak ingin makanan yang haram mengotori hati masyarakatnya, sehingga berdampak munculnya berbagai macam kemaksiatan akibat tidak dihiraukannya konsumsi makanan yang haram tersebut.

Umar radhiyallahu ‘anhu suatu saat pernah menulis kepada para pasukannya yang berada di Azarbaijan surat sebagai berikut :
بلغني أنكم في أرض يخالط طعامها الميتة، ولباسها الميتة، فلا تأكلوا إلا ما كان ذكياً، ولا تلبسوا إلا ما كان ذكياً
“Telah sampai kepadaku bahwa kalian tinggal di daerah yang tercampur makanannya dengan bangkai dan demikian juga pakaiannya, maka janganlah kalian memakan kecuali hewan sembelihan (yang halal) dan janganlah kalian memakai pakaian kecuali dari (kulit) hewan yang disembelih (secara Syar’i)” (Riwayat Shahih,diriwayatkan oleh Ibnu Sa’din di Ath-Thabaqat). [6]

Dari kisah di atas, terdapat pelajaran besar bahwa menjadi tugas bagi pemerintah untuk menjaga masyarakatnya dari seluruh jenis konsumsi yang haram dan menjauhkan sarana-sarana keharaman, baik berupa toko, pasar maupun mall-mall yang menjual makanan dan minuman yang haram.
***

Catatan kaki

[1] Baca: Keutamaan Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu (1-2)
[2] Dirasah Naqdiyyah fil Marwiyyaatil Waaridah fi syakhshiyyati ‘Umar Ibnil Khaththab, DR. Abdus Salam bin Muhsin Ali ‘Isa , penerbit: Al-Jaami’ah Al-Islamiyyah (PDF), hal. 319
[3] Ibid, hal. 321
[4] Dinukil dari Dirasah Naqdiyyah fil Marwiyyaatil Waaridah fi syakhshiyyati ‘Umar Ibnil Khaththab, DR. Abdus Salam bin Muhsin Ali ‘Isa , penerbit: Al-Jaami’ah Al-Islamiyyah (PDF), hal. 1/331
[5] Dinukil dengan sedikit perubahan dari Dirasah Naqdiyyah fil Marwiyyaatil Waaridah fi syakhshiyyati ‘Umar Ibnil Khaththab, DR. Abdus Salam bin Muhsin Ali ‘Isa , penerbit: Al-Jaami’ah Al-Islamiyyah (PDF),2/639 dan Harta haram, Ust. DR. Erwandi
[6] Dinukil dari Dirasah Naqdiyyah fil Marwiyyaatil Waaridah fi syakhshiyyati ‘Umar Ibnil Khaththab, DR. Abdus Salam bin Muhsin Ali ‘Isa , penerbit: Al-Jaami’ah Al-Islamiyyah (PDF), 2/109
Referensi
Dirasah Naqdiyyah fil Marwiyyaatil Waaridah fi syakhshiyyati ‘Umar Ibnil Khaththab, DR. Abdus Salam bin Muhsin Ali ‘Isa, penerbit: Al-Jaami’ah Al-Islamiyyah (PDF).
Harta haram, Ust. DR. Erwandi.
Sittu Durar, Syaikh Ramadhani.
Al-Fiqhul Iqtishadi, DR. Jaribah Al-Haritsi.

Silahkan berlangganan al khairan dengan e-mail secara gratis:

0 Response to "Antara Umar Bin Khathab dengan Harta"

Post a Comment