Kegiatan di
bidang ilmu pengetahuan dan pendidikan merupakan dua kegiatan yang terpadu
erat. Maka tugas ilmu pengetahuan dan penelitian dapat dinyatakan secara
terpadu pula. Terdapat berbagai jenis penelitian dalam ilmu pendidikan, dan
berikut jenis-jenis penelitian pendidikan yang ada.
Fungsi dan
Prinsip Bimbingan dan Konseling
1. Menurut Penggunaannya
Jenis penelitian bila dilihat dari segi penggunaannya dapat
digolongkan menjadi 2 jenis, yaitu:
a. Penelitian Dasar atau Penelitian Murni
LIPI memberi definisi penelitian dasar adalah setiap penelitian
yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan ilmiah atau untuk menemukan bidang penelitian baru tanpa suatu tujuan
praktis tertentu. Artinya kegunaan hasil penelitian tidak segera dipakai, namun
untuk waktu jangka panjang akan segera dipakai. Gay (dalam Sugiyono, 2009; 9)
menyatakan bahwa penelitian dasar bertujuan untuk mengembangkan teori dan tidak
memperhatikan kegunaan yang langsung bersifat praktis. Senada dengan pendapat
tersebut, Suria sumantri (dalam Sugiyono, 2009; 9) berpendapat bahwa penelitian
dasar atau murni adalah penelitian yang
bertujuan menemukan pengetahuan baru yang sebelumnya belum pernah
diketahui.
b. Penelitian Terapan
Batasan yang diberikan LIPI bahwa setiap penelitian terapan
adalah setiap penelitian yang bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan
ilmiah dengan suatu tujuan praktis. Berarti hasilnya diharapkan segera dapat
dipakai untuk keperluan praktis. Misalnya penelitian untuk menunjang kegiatan
pembangunan yang sedang berjalan, penelitian untuk melandasi kebijakan
pengambilan keputusan atau administrator. Senada dengan pendapat tersebut, Gay
(dalam Sugiyono, 2009; 9) berpendapat bahwa penelitian terapan adalah
penelitian yang dilakukan dengan tujuan menerapkan, menguji dan mengevaluasi
kemampuan suatu teori yang diterapkan dalam memecahkan masalah-masalah praktis.
Suriasumantri (dalam Sugiyono, 2009;9) menyatakan bahwa penelitian terapan
bertujuan untuk memecahkan masalah-masalah kehidupan praktis. Sehingga, hubungan
penelitian murni dan penelitian terapan sangat erat, karena penelitian
murni/dasar berkenaan dengan penemuan dan pengembangan ilmu, setelah ilmu
tersebut digunakan untuk memecahkan masalah, maka penelitian tersebut akan
menjadi penelitian terapan.
2. Menurut Metodenya
Jenis penelitian dilihat pula dari segi metodenya sebagai berikut:
a. Penelitian Historis
Penelitian historis atau penelitian sejarah adalah kegiatan
penelitian yang difokuskan untuk menyelidiki, memahami, dan menjelaskan keadaan
yang telah lalu. Tujuan penelitian historis adalah untuk merumuskan kesimpulan
mengenai sebab-sebab, dampak, atau perkembangan dari kejadian yang telah lalu
yang dapat dipergunakan untuk menjelaskan kejadian sekarang dan mengantisipasi
kejadian yang akan datang. Contohnya penelitian untuk mengetahui bagaimana
perkembangan peradaban masyarakat tertentu, penelitian tentang mengapa suatu
produk dimasa lalu menjadi andalan.
b. Penelitian Survey
Penelitian survey adalah penelitian yang dilakukan pada populasi
besar atau kecil tetapi data yang dipelajari adalah data dari sampel yang
diambil dari populasi. Senada dengan pendapat tersebut, prasetyo (2005;49)
berpendapat bahwa penelitian survey umumnya dilakukan untuk mengambil suatu
generalisasi dari pengamatan yang tidak mendalam. Jika sampel yang diambil
adalah representatif maka generalisasinya kuat. Contoh penelitian tentang
kecenderungan masyarakat dalam memilih
pemimpinnya, penelitian pengaruh anggaran pendidikan terhadap kualitas SDM di
negeri ini, penelitian tentang kecenderungan konsumem dalam memilih suatu jenis
produk.
c. Penelitian Ex Post Facto
Penelitian Ex Post Facto adalah penelitian yang dilakukan untuk
meneliti peristiwa yang telah terjadi dan kemudian merunut kebelakang guna
mengetahui faktor-faktor penyebab timbulnya kejadian. Penelitian ini
menggunakan logika jika x maka y. Namun demikian dalam penelitian tidak
dilakukan manipulasi variabel. Contohnya penelitian untuk mengungkapkan sebab
terjadinya kerusuhan disuatu daerah, penelitian tentang sebab terjadinya banyak
siswa yang tidak lulus ujian, penelitian tentang sebab banyaknya produk yang
tidak terjual.
d. Penelitian Eksperimen
Penelitian Eksperimen adalah penelitian yang berusaha mencari
pengaruh variabel tertentu terhadap variabel lain dalam kondisi yang terkontrol
secara ketat. Ada empat bentuk eksperimen yaitu pre experimenta: true
experimental, factorial, dan quasi experimental. Contoh penelitian mengenai
pengaruh penggunaan metode mengajar A terhadap hasil belajar siswa, penelitian tentang
pengaruh metode promosi terhadap jumlah penjualan, dan lain-lain.
e. Penelitian Evaluasi (evaluation research)
Penelitian evaluasi adalah penelitian yang diharapkan dapat
memberikan masukan atau mendukung
pengambilan keputusan tentang nilai relatif dari dua atau lebih alternatif tindakan. Jadi penelitian evaluasi adalah
penelitian yang dilakukan untuk pengambilan keputusan. Contoh penelitian
tentang efektivitas pelaksanaan KBK di sekolah X, penelitian tentang kebijakan
link and match, dan lain-lain.
f. Penelitian Pengembangan (research development)
Penelitian pengembangan adalah merupakan penelitian untuk
mengembangkan produk sehingga produk tersebut menjadi lebih baik. Tujuan
penelitian pengembangan bukan untuk memformulasi atau menguji hipotesis,
melainkan untuk mendapatkan produk baru atau proses baru. Contoh penelitian
tentang kemungkinan mengembangkan produk A menjadi produk A plus.
g. Penelitian Tindakan (action research)
Penelitian Tindakan adalah suatu bentuk penelitian refleksi diri yang dilakukan oleh para
partisipan misalnya guru, siswa atau kepala sekolah, dalam situasi-situasi
sosial (termasuk pendidikan). Penelitian tindakan bertujuan untuk memecahkan
masalah melalui aplikasi metode ilmiah, bukan untuk memberi kontribusi pada
ilmu pengetahuan. Contoh penelitian tentang mencari mengajar yang paling tepat
untuk siswa kelas II SMA, penelitian tentang
prosedur dan metode kerja dalam
pelayanan masyarakat.
h. Penelitian Naturalistik
Penelitian Naturalistik adalah penelitian yang digunakan untuk
kondisi obyektif alamiah dimana peneliti adalah sebagai instrumen kunci, teknik
pengumpulan data dilakukan secara triangulasi, analisis data bersifat induktif,
dan hasil penelitian lebih menekankan
makna, bukan generalisasi. Contoh penelitian tentang makna upacara
ritual dari kelompok masyarakat tertentu, penelitian untuk menemukan
faktor-faktor penyebab terjadinya korupsi, dan lain-lain.
i. Penelitian Kebijakan
Penelitian Kebijakan adalah penelitian yang dilakukan untuk
kepentingan pengambilan kebijakan. Penelitian ini dilakukan karena adanya
masalah bagi organisasi atau para pengambil keputusan. Penelitian ini dilakukan
terhadap masalah-masalah sosial yang mendasar sehingga temuannya dapat
direkomendasikan kepada pengambil keputusan. Contoh penelitian untuk membuat
undang-undang atau peraturan, penelitian untuk mengembangkan struktur
organisasi, dan lain-lain.
3. Menurut jenis data dan analisisnya
Menurut jenis data dan analisisnya, penelitian dibedakan menjadi:
a. Penelitian Kualitatif
Penelitian Kualitatif adalah penelitian yang datanya adalah data
kualitatif sehingga analisisnya juga analisis kualitatif (deskriptif). senada
dengan pendapat tersebut sukmadinata (2009;18) berpendapat bahwa data
kualitatif adalah data dalam bentuk kata, kalimat, dan gambar. Data kualitatif
dapat diubah menjadi data kuantitatif dengan jalan diskoring. Contoh data
kualitatif adalah manis, pahit, rusak, gagal, baik sekali, baik, kurang baik,
tidak baik, atau sangat setuju, setuju,
ragu-ragu, tidak setuju, sangat tidak setuju, selalu, sering, kadang-kadang,
jarang, dan tidak pernah.
b. Penelitian Kuantitatif
Penelitian kuantitatif adalah penelitian yang datanya merupakan
data kuantitatif sehingga analisis datanya menggunakan analisis kuantitatif
(inferensi). Data kuantitatif adalah dalam bentuk angka, atau data kualitatif
yang diangkakan seperti: 1, 2, 3, 4, … dst, atau skor 5 = selalu, skor 4 =
sering, skor 3 = kadang-kadang, skor 2 = jarang, dan skor 1 = tidak pernah.
Data kuantitatif dibedakan menjadi data diskrit atau nominal dan data kontinum.
Data nominal adalah data dalam bentuk kategori atau diskrit.
c. Penelitian Gabungan Kualitatif dan Kuantitatif
Penelitian gabungan kualitatif dan kuantitatif adalah penelitian
yang datanya terdiri dari data kualitatif dan data kuantitatif sehingga
analisis datanya pun menggunakan analisis data kualitatif dan analisis data
kuantitatif.
4. Menurut tingkat ekplanasi (penjelasannya)
Menurut tingkat ekplanasi (penjelasannya) penelitian dapat
dibedakan menjadi:
a.
Penelitian Deskriptif
Penelitian
deskriptif adalah penelitian yang mengumpulkan data untuk menguji hipotesis
atau menjawab pertanyaan penelitian mengenai status terakhir dari subyek
penelitian. Penelitian deskriptif berusaha untuk memperoleh deskriptif lengkap
dan akurat dari suatu situasi. Kelemahan utama penelitian deskriptif adalah
kurangnya tanggapan subyek penelitian. Contoh: Penelitian disiplin kerja
pegawai negeri setelah otonomi daerah, penelitian profit guru yang profesional,
penelitian, kesiapan sekolah melaksanakan manajemen berbasis sekolah,
kesiapan sekolah melaksanakan KBK, dan
lain-lain.
b.
Penelitian Korelasional (Hubungan)
Penelitian
korelasional (hubungan) adalah penelitian yang bertujuan untuk menemukan apakah
terdapat hubungan antara dua variabel atau lebih, serta seberapa besar
korelasi dan yang ada diantara variabel yang diteliti. Penelitian korelasional
tidak menjawab sebab akibat, tetapi
hanya menjelaskan ada atau tidaknya hubungan antara variabel yang diteliti.
Contoh: penelitian tentang pengaruh
kepemimpinan terhadap disiplin kerja pegawai, penelitian tentang
hubungan antara tingkat pendidikan dan kerukunan masyarakat didaerah tertentu, penelitian
tentang faktor-faktor yang mempengaruhi merebaknya KKN di instansi tertentu,
dan lain-lain.
c. Penelitian Komparatif
Penelitian
komparatif adalah suatu penelitian yang bersifat membandingkan. Contoh:
penelitian tentang adakah perbedaan kemampuan kerja antara lulusan SMK
dengan lulusan SMU, penelitian tentang adakah perbedaan hasil belajar antara
strategi belajar A dengan strategi belajar B, penelitian tentang tingkat
kesiapan sekolah negeri dan sekolah swasta dalam melaksanakan manajemen
berbasis sekolah.
5. Menurut Tingkat Kedalaman Analisis Data Penelitian
Berdasarkan tingkat kedalaman analisis data penelitian, dapat
dibagi menjadi 2 jenis, yaitu:
a. Penelitian Deskriptif
Penelitian yang
analisis datanya hanya sampai pada deskripsi variabel satu demi satu. Deskripsi
berarti pemberian secara sistematik dan faktual tentang sifat-sifat tertentu
populasi tertentu (Hadeli, 2006;11).
b. Penelitian Eksplanatori
Penelitian yang
analisis datanya sampai pada menentukan
hubungan variabel dengan variabel lainnya.
6. Menurut Sifat Permasalahannya
Margono (2009;6) menyatakan bahwa tugas penelitian yaitu untuk
memberikan, menerangkan dan meramalkan dan
mengatasi permasalahan atau persoalan-persoalan, maka penelitian dapat
digolongkan pula dari sudut pandang ini.
Berdasarkan penggolongan dapat dipilih
rencana penelitian yang sesuai. Ada 8 jenis penelitian itu, yakni:
a. Penelitian
Historis
Penelitian
ditunjukan kepada rekonstruksi masa lampau secara sistematis dan objektif
memahami peristiwa-peristiwa masa lampau itu. Data yang dikumpulkan pada
penelitian ini sukar dikendalikan. Maka tingkat
kepastian pemecahan dengan metode ini pasti rendah. Data yang
dikumpulkan biasanya berupa hasil pengamatan orang, seperti surat-surat, arsip
dan dokumen-dokumen masa lalu. Penelitian seperti ini bila ditunjukan kepada
kehidupan pribadi seseorang maka penelitian disebut penelitian biografi.
Kekhususan penelitian ini adalah:
1) Data
yang dikumpulkan diambil dari hasil observasi orang lain.
2) Data
yang baik adalah data yang otentik, tepat dan dari sumber-sumber penting.
3) Penelitian
dilakukan dengan tertib, sistematis, objektif dan tuntas.
4) Data
yang dikumpulkan dari sumber primer, yaitu langsung melakukan observasi atas
peristiwa-peristiwa yang dilaporkan.
5) Data
yang berbobot adalah data yang diuji
secara eksternal dan internal.
b. Penelitian
Deskripsi
Penelitian
deskripsi berusaha memberikan dengan sistematis dan cermat serta fakta-fakta
aktual dan sifat populasi tertentu. Kekhususan penelitian ini adalah:
1) Bertujuan
untuk memecahkan masalah-masalah aktual yang dihadapi sekarang.
2) Bertujuan
untuk mengumpulkan data atau informasi untuk disusun, dijelaskan dan
dianalisis.
c. Penelitian
Perkembangan
Penelitian ini
menyelidiki pola dan proses pertumbuhan dan perubahan sesuai dengan fungsi waktu.
Kekhususan penelitian ini adalah:
1) Memusatkan
perhatian pada ubahan-ubahan tertentu dan perkembangannya selama jangka waktu
tertentu.
2)
Penelitian
ini biasanya memakai waktu yang panjang atau bersifat longitudinal.
d. Penelitian
Kasus atau Penelitian Lapangan
Penelitian
kasus memusatkan perhatian pada suatu kasus secara intensif dan terperinci
mengenai latar belakang keadaan sekarang yang dipermasalahkan. Kekhususan
penelitian ini adalah:
1) Subjek
yang diteliti terdiri dari suatu kesatuan (unit) secara mendalam, sehingga
hasilnya merupakan suatu gambaran
lengkap atas kasus pada unit itu.
2) Selain
penelitian hanya pada suatu unit, ubahan-ubahan yang diteliti juga terbatas,
dari ubahan-ubahan yang lebih besar
jumlahnya, yang berpusat pada aspek yang menjadi kasus.
e. Penelitian
Korelasional
Penelitian ini
bertujuan melihat hubungan antara dua gejala atau lebih. Misalnya, apakah ada
hubungan antara status sosial orang tua siswa dengan prestasi anak mereka.
Kekhususan penelitian ini adalah:
1) Gejala-gejala
yang diteliti pelik, tidak dapat dikontrol sehingga tidak dapat
dieksperimenkan.
2) Ubahan-ubahan
yang akan diukur ada hubungannya serentak muncul dalam kenyataan.
3) Korelasi
yang akan diukur adalah tingkat tinggi rendahnya hubungan bukan ada tidaknya
hubungan.
f. Penelitian
Hubungan Sebab-Akibat
Penelitian
untuk menyelidiki hubungan sebab-akibat antara faktor tertentu yang mungkin
menjadi penyebab gejala yang diselidiki. Misalnya: sikap santun siswa dalam
kegiatan belajar, mungkin dikarenakan banyaknya lulusan tertentu yang tidak
mendapakkan lapangan kerja. Kekhususan penelitian ini adalah:
1) Penelitian
bersifat ex post fakto.
2) Suatu
gejala yang diamati diusut kembali dari suatu faktor atau beberapa faktor pada masa lampau.
g. Penelitian
Eksperimen
Penelitian ini
dilakukan dengan melakukan percobaan terhadap kelompok-kelompok eksperimen.
Kepada tiap kelompok eksperimen dikenakan perlakuan tertentu dengan
kondisi-kondisi yang dapat dikontrol. Kekhususan penelitian ini adalah
1) Di
dalam eksperimen terdapat kelompok yang dikenal perlakuan eksperimental dan
kelompok yang dikenal perlakuan pembanding.
2) Menggunkan
sedikitnya dua kelompok eksperimen.
3) Harus
memperhatikan benar-benar perbedaan pengaruh yang diakibatkan oleh perlakuan
eksperimental dengan perlakuan pembanding.
4) Menggunakan
agar pengaruh perlakuan eksperimen maksimal dan pengaruh ubahan penyangga
menjadi minimal.
h. Penelitian
Tindakan
Penelitian yang
bertujuan untuk mengembangkan keterampilan baru untuk mengatasi kebutuhan dalam
dunia kerja atau bidang praktis lain. Misalnya: penelitian keterampilan
kerja yang sesuai bagi siswa yang putus sekolah di suatu daerah.
Kekhususan penelitian ini adalah:
1) Disiapkan
untuk kebutuhan praktis yang berkaitan dangan dunia kerja.
2) Penelitian
didasarkan pada pengamatan aktual dan data tingkah laku.
3) Bersifat
fleksibel.
i. Menurut
Tempat Penelitian
Hasan (2004;5)
menyatakan bahwa berdasarkan tempat penelitian, penelitian dibedakan atas tiga
yaitu sebagai berikut:
1) Penelitian
lapangan (Field Research)
Penelitian
lapangan adalah penelitian yang langsung dilakukan di lapangan atau pada
responden.
2) Penelitian
kepustakaan (Library Research)
Penelitian
kepustakaan adalah penelitian yang dilaksanakan dengan menggunakan leteratur (kepustakaan), baik berupa buku,
catatan, maupun laporan hasil penelitian dari peneliti terdahulu.
3) Penelitian
Laboratorium (Laboratory Research)
4) Penelitian
laboratorium adalah penelitian yang dilaksanakan pada tempat tertentu
(laboratorium) dan biasanya bersifat eksperimen atau percobaan
j. Menurut
Keilmiahannya
Hasan (2004;5-6)
menyatakan bahwa berdasarkan keilmiahannya, penelitian dibedakan atas dua yaitu
sebagai berikut:
1) Penelitian
Ilmiah
Penelitian
ilmiah adalah penelitian yang dalam pelaksanaannya menggunakan kaidah-kaidah
ilmiah, artinya pokok pikiran yang dikemukakan disimpulkan melalui suatu
prosedur yang sistematis dengan mempergunakan pembuktian yang meyakinkan
(ilmiah). Penelitian ilmiah didasarkan atas logika, terorganisasi, dan teliti
dalam identifikasi masalah, pengumpulan data, analisis data dan penarikan
kesimpulan yang valid. Kadar (tinggi-rendahnya) mutu ilmiah suatu penelitian
ilmiah dapat diukur dengan dua kriteria, yaitu:
a. Kemampuannya
untuk memberikan pengertian tentang masalah yang diteliti sehingga jelas.
b. Kemampuannya
untuk meramalkan, artinya sampai di mana kesimpulan yang sama dapat dicapai,
apabila data yang sama ditemukan di tempat waktu lain. Ciri-ciri penelitian
ilmiah, adalah sebagai berikut:
a. Purposiveness,
memiliki fokus tujuan yang jelas.
b. Rigor,
teliti dan memiliki dasar teori dan desain metodologi yang baik.
c. Testability,
prosedur pengujian hipotesis jelas.
d. Replicability,
pengujian dapat diulang untuk kasus yang sama atau kasus sejenis lainnya.
e. Objectivity,
berdasarkan atas fakta dari data actual, bukan penilaian yang subjektif dan emosional.
f. Generalizability,
semakin luas ruang lingkup penggunaan hasil penelitian semakin berguna.
g. Precision,
mendekati realitas dan confidence peluang kejadian dari estimasi dapat dilihat.
h. Parsimony,
kesederhanaan dalam pemaparan masalah dan metode penelitiannya.
2) Penelitian
Nonilmiah
Penelitian
nonilmiah adalah penelitian yang dalam
pelaksanaannya tidak menggunakan metode atau kaidah-kaidah yang ilmiah.
k. Menurut
(Ilmu) Garapannya
Hasan (2004;6)
menyatakan bahwa spesialisasi bidang (ilmu) garapannya, penelitian dibedakan
atas beberapa jenis yaitu sebagai berikut:
1) Penelitian
Bisnis
Penelitian
bisnis adalah penelitian yang dilaksanakan dalam bidang bisnis, seperti
berikut:
a. Akunting,
contohnya prosedur, praktik dan sistem anggaran, metode pembiayaan dan
sebagainya.
b. Keuangan,
contohnya operasi lembaga keuangan, rasio-rasio keuangan, merger dan akuisisi
dan sebagainya.
c. Manejemen,
contohnya sikap dan perilaku karyawan, manajemen SDM, dan sebagainya.
d. Pemasaran,
contonya citra produk, periklanan, distribusi, dan sebagainya.
3) Penelitian
Komunikasi
Penelitian komunikasi adalah penelitian yang dilaksanakan dalam
bidang komunikasi, seperti:
a. Komunikasi
massa
b. Komunikasi
bisnis
c. Kehumasan
(PR)
d. Periklanan
4)
Penelitian
Hukum
Penelitian hukum adalah penelitian yang dilaksanakan dalam bidang
hukum, seperti:
a. Hukum
perdata
b. Hukum
pidana
c. Hukum
tata Negara
d. Hukum
internasional
5) Penelitian
Pertanian
Penelitian pertanian adalah penelitian yang dilaksanakan dalam
bidang pertanian, seperti:
a. Agrobisnis
b. Budidaya
tanaman
c. Hama
tanaman
d. Agronomi
6) Penelitian
Ekonomi
Penelitian ekonomi adalah penelitian yang dilaksanakan dalam bidang
ekonomi, seperti:
a. Ekonomi
mikro
b. Ekonomi
makro
c. Ekonomi
pembangunan
B. Variabel / Fokus Penelitian
1. Variabel
Penelitian
Variabel
Penelitian pada dasarnya adalah segala sesuatu yang berbentuk apa saja yang
ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari sehingga diperoleh informasi tentang
hal tersebut, kemudian ditarik kesimpulannya. Banyak sekali definisi variabel
yang diungkapkan para ahli, dan definisi tersebut berpotensi membingungkan para
peneliti pemula. Perhatikan definisi variabel menurut para ahli berikut:
Menurut Hatch
& Farhady dalam Sugiyono (2011: 38). Variabel didefinisikan sebagai Atribut
seseorang atau obyek yang mempunyai variasi antara satu orang dengan yang lain
atau satu obyek dengan obyek yang lain. Kerlinger dalam Sugiyono (2011: 38),
variabel adalah konstruk (constructs) atau sifat yang akan dipelajari. Kidder
dalam Sugiyono (2011: 38), variable dapat dikatakan sebagai suatu sifat yang
diambil dari suatu nilai yang berbeda (different values). Dengan demikian,
Variabel itu merupakan suatu yang bervariasi. Bhisma Murti, variabel adalah
suatu kualitas (qualities) dimana peneliti mempelajari dan menarik kesimpulan
darinya. Sudigdo Sastroasmoro, variable merupakan karakteristik subyek penelitian
yang berubah dari satu subyek ke subyek lainnya.
Secara umum,
variabel penelitian adalah atribut yang
mencerminkan pengertian atau bangunan pengertian dan memiliki nilai. Contoh,
tinggi badan, kenapa dianggap sebagai variable, karena memiliki nilai, dan
antara satu dan yang lain memiliki tinggi badan yang berbeda. Kalau masih
membingungkan. Jika masih membingungkan, perhatikan contoh berikut; masalah
banyaknya kosakata dalam buku pelajaran menyulitkan siswa, maka variabel yang
bisa diambil adalah ukuran banyaknya kosakata, dan ukuran kemampuan siswa. Jadi
konsep yang menjadi perhatian dalam suatu penelitian, itulah yang menjadi
variabel penelitian.
Variabel
penelitian sangat penting dalam sebuah penelitian, karena variabel bertujuan
sebagai landasar mempersiapkan alat dan metode pengumpulan data, dan sebagai
alat menguji hipotesis. Itulah sebabnya, sebuah variabel harus dapat diamati
dan dapat diukur.
Variabel
penelitian dapat dibedakan menjadi:
Pertama:
Variabel Independen biasa juga diistilahkan dengan Variabel Stimulus,
Predictor, Antecedent, Variabel Pengaruh, Variabel Perlakuan, Kausa, Treatment,
Risiko, Variabel Bebas, dan Variabel Eksogen. Variabel Independen adalah
variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahannya atau timbulnya
variabel Dependen (terikat). Dinamakan demikian karena variabel ini bebas dalam
mempengaruhi variabel lain. Contoh, pengaruh zikir terhadap mental siswa.
Variabel dzikir bebas mempengaruhi mental
Kedua: Variabel
Dependen. Sering disebut sebagai Variabel Out Put, Kriteria, Konsekuen,
Variabel Efek, Variabel Terpengaruh, Variabel Terikat, Variabel Tergantung, dan
Variabel Endogen. Variabel Dependen merupakan Variabel yang dipengaruhi atau
yang menjadi akibat karena adanya variabel bebas. Disebut Variabel Terikat
karena variabel ini dipengaruhi oleh variabel bebas/variabel independent.
Contoh : pengaruh zikir terhadap mental siswa. Mental siswa adalah variable
dependen
Ketiga:
Variabel Moderator. Variabel Moderator adalah variabel yang mempengaruhi
(Memperkuat dan Memperlemah) hubungan antara Variabel Bebas dan Variabel
Terikat. Contoh: Hubungan motivasi dan prestasi belajar akan semakin kuat bila
peranan dosen dalam menciptakan iklim/ lingkungan belajar sangat baik, dan
hubungan semakin rendah bila peranan dosen kurang baik dalam menciptakan iklim
belajar. Variabel moderatornya adalah kuat dan rendah.
Keempat:
Variabel intervening adalah variabel yang menjadi media pada suatu hubungan
antara variabel bebas dengan variabel terikat. Sebagai contoh, prestasi kerja
pengaruh ibu terhadap ayah akan semakin kuat setelah berkeluarga. Jadi,
keluarga merupakan media bagi ibu dalam pengaruhnya terhadap ayah.
Kelima:
Variabel Kontrol. Variabel Kontrol adalah Variabel yang dikendalikan atau
dibuat konstan sehingga hubungan variabel bebas terhadap variabel terikat tidak
dipengaruhi oleh faktor luar yang tidak diteliti. Variabel Kontrol sering
dipakai oleh peneliti dalam penelitian yang bersifat membandingkan, melalui
penelitian eksperimental. Variable ini sefatnya sebagai penengah.
2. Fokus
penelitian
Dalam pandangan
penelitian kualitatif, gejala itu bersifat holistik (menyeluruh, tidak dapat
dipisah-pisahkan), sehingga peneliti kualitatif tidak akan menetapkan penelitiannya
hanya berdasarkan variabel penelitian, tetapi keseluruhan situasi sosial yang
diteliti yang meliputi aspek tempat (place), pelaku (actor) dan aktivitas
(activity) yang berinteraksi secara sinergis.
Batasan masalah
dalam penelitian kualitatif disebut dengan fokus, yang berisi pokok masalah
yang masih bersifat umum. Spradley dalam Sanapiah Faisal (1988) mengemukakan
empat alternatif untuk menetapkan fokus:
1. Menetapkan fokus pada permasalahan yang
disarankan oleh informan. Informan ini dalam lembaga pendidikan, bisa kepala
sekolah, guru, orang tua murid, pakar pendidikan dan sebagainya.
2. Menetapkan fokus berdasarkan domain-domain
tertentu organizing domain. Domain dalam pendidikan ini bisa kurikulum, proses
belajar mengajar, sarana prasarana, tenaga pendidik dan kependidikan,
manajemen, pembiayaan, sistem evaluasi, pandangan hidup kompetensi dan
sebagainya.
3. Menetapkan fokus yang memiliki nilai temuan
untuk mengembangkan iptek. Temuan berarti sebelumnya belum pernah ada. Temuan
ini dalam pendidikan misalnya menemukan metode mengajar matematika yang mudah
difahami dan menyenangkan.
4. Menetapkan fokus berdasarkan permasalahan
yang terkait dengan teori-teori yang telah ada. Penelitian inibersifat
pengembangan yaitu ingin melengkapi dan memperluas teori yang telah ada.
C. Defenisi Operasional Variabel / Deskripsi
Fokus
Dalam setiap
penelitian pasti terdapat variabel penelitian. Jumlah variabel penelitian bisa
hanya satu namun juga bisa lebih dari satu. Variabel penelitian pada hakikatnya
merupakan konsep yang nilainya ingin diketahui oleh peneliti. Tidak sedikit
variabel yang terlibat dalam suatu penelitian sifatnya abstrak, dalam arti
tidak jelas wujud dan ukurannya, sehingga sulit juga ditentukan nilainya. Kalau variabel penelitiannya adalah tinggi
badan atau berat badan maka sifat kedua variabel tersebut relatif konkret.
Peneliti bisa segera mengukur nilai tinggi badan dengan meteran, sedangkan nilai berat badan diukur menggunakan timbangan.
Setelah dilakukan pengukuran maka data nilai tentang tinggi dan berat badan
diketahui. Namun jika variabel penelitiannya bersifat abstrak, misalnya
motivasi atau kepuasan kerja , maka peneliti perlu menetapkan cara pengukuran
variabel tersebut agar dapat memperoleh
nilai yang tepat bagi kedua variabel tersebut. Proses penentuan ukuran suatu
variabel tersebut dikenal dengan nama operasionalisasi variabel.
Apakah semua
variabel penelitian harus dibuat definisi operasionalnya?
Kalau yang
dimaksud dengan definisi operasional variabel adalah proses penentuan ukuran
suatu variabel, maka tidak semua variabel penelitian harus disusun definisi
operasionalnya . Misalnya penelitian yang tujuannya adalah ingin mengetahui
pengaruh iklan terhadap volume penjualan. Iklan adalah variabel bebas dan volume
penjualan adalah variabel tergantung. Dari dua variabel tersebut yang perlu
dilakukan pengukuran–artinya disusun variabel operasionalnya-adalah volume
penjualan. sedangkan variabel “iklan” tidak perlu. Yang perlu dilakukan oleh
peneliti adalah menyusun definisi konseptual variabel “iklan”. Jika metode
penelitian atau rancangan penelitian yang akan diterapkan adalah “pre and post
test design” maka peneliti harus membandingkan volume penjualan sebelum ada
iklan dengan volume penjualan setelah ada iklan. Kedudukan “iklan” dalam
rancangan penelitian tersebut adalah sebagai betuk “perlakuan” (treatment)
Contoh
penelitian lain yang tidak memerlukan operasionalisasi variabel, misalnya
penelitian yang bertujuan ingin
mengetahui strategi bisnis, ingin mengetahui proses seleksi, atau penelitian-penelitian kualitatif yang
sasaran utamanya adalah memberikan uraian/deskripsi atau gambaran lengkap dari
suatu proses kegiatan. Yang diperlukan oleh penelitian jenis ini adalah definisi
konseptual, bukan definisi operasional. Contohnya, ketika peneliti ingin
mengetahui bagaimana proses seleksi pegawai di suatu organisasi, maka peneliti
harus memiliki definisi konseptual tentang variabel seleksi pegawai, agar yang
ditelitinya memang tentang seleksi pegawai, bukan kegiatan lainnya. Definisi
konseptual tentang seleksi pegawai harus lengkap dan rinci, termasuk proses dan
kegiatan-kegiatan apa yang seharusnya dilakukan dalam seleksi pegawai. Demikian
pula ketika peneliti ingin mengetahui bagaimana strategi bisnis suatu perusahaan.
Definisi konseptual yang lengkap tetang strategi bisnis dan
kegiatan-kegiatannya, harus dikuasai oleh peneliti agar yang ditelitinya memang
benar-benhar strategi bisnis, bukan “sekedar” strategi pemasaran, seperti yang
banyak dijumpai dalam hasil penelitian yang digunakan untuk penyusunan skripsi
atau tesis.
Proses
Operasionalisasi Variabel
Langkah pertama
yang harus dilakukan adalah mengembalikan variabel penelitian ke bentuk awal,
yaitu konsep penelitian. Peneliti harus mendefinisikan konsep penelitian sesuai
dengan definisi-definisi yang telah diberikan oleh para akhli yang relevan
dengan konsep penelitiannya. Jika konsep penelitiannya adalah “motivasi kerja”,
maka peneliti harus menemukan definisi “motivasi kerja” yang telah banyak
diakui kebenarannya oleh para pakar di bidang tersebut.
Dalam tahapan
ini studi kepustakaan menjadi salah satu tahap yang harus dilalui. Melalui
studi kepustakaan yang mendalam dan memadai, peneliti akan mampu merumuskan
definisi konsep penelitiannya dengan benar. Jadi ketika konsep penelitiannya
adalah tentang “motivasi kerja” maka kepustakaan atau literatur tentang konsep
tersebut harus benar-benar dipahami dengan baik oleh peneliti.
Perlu
diketahui, tidak sedikit kita menemukan satu konsep dengan definisi yang berbeda. Misalnya, definisi
“motivasi” yang dikemukakan oleh A.H. Maslow berbeda dengan Victor Vroom.
Maslow mendefinisikan motivasi sebagai “motivation arises from the needs and
wants of an individual and drives the people towards action or work by doing
which he makes efforts to fulfill these needs and wants. (kebutuhan-kebutuhan
atau keinginan-keinginan individu yang
membuatnya terdorong untuk melakukan sesuatu agar kebutuhan-kebutuhan tersebut
terpuaskan) Sedangkan Vroom mengatakan bahwa
“motivation is a product of the individual’s expectancy that a certain
effort will lead to the intended performance, the instrumentality of this
performance to achieving a certain result, and the desirability of this result
for the individual, known as valence”. (S.E. Condrey, 2005, p.482). Berdasarkan
definisi tersebut disusunlah rumus M= ExIxV. Oleh karena itu, agar punya
landasan teoritis yang jelas biasanya untuk kepentingan penyusunan definisi
operasional variabel , peneliti hanya memilih atau menggunakan satu definisi
tertentu yang cocok atau sesuai dengan tujuan penelitiannya. Beberapa penulis
menamakan langkah pertama ini dengan nama definisi konseptual. Langkah
berikutnya adalah menemukan cara mengetahui besaran (ukuran) dari variabel
penelitian berdasarkan definisi konseptual, atau dengan kata lain mulai
mengoperasionalisasikan variabel penelitian. Pada penelitian
kualitatif, defenisi operasional ini disebut dengan deskripsi focus.
D. Populasi (Sampel) / Sumber Data
(Subjek/Informan Penelitian)
1. Populasi
Populasi
berasal dari kata bahasa inggris population, yang berarti jumlah penduduk.
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek/ subyek yang
mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti
untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulan (Sugiyono, 2013: 117). Menurut Nazir (1983:327) mengatakan bahwa
popuasi adalah berkenaan dengn data bukan barang atau bendanya. Pengertian
lainnya, diungkapkan oleh Nawawi yang menyebutkan bahwa populasi adalah keseluruhan
objek penelitian yang terdiri dari manusia, benda-benda, hewan,
tumbuh-tumbuhan, gejala-gejala, nilai tes, atau peristiwa-peristiwa sebagai
sumber data yang memiliki karaktersitik tertentu di dalam suatu penelitian.
Sedangkan Riduwan (2002: 3) mengatakan bahwa populasi adalah keseluruhan dari
karakteristik atau unit hasil pengukuran menjadi objek penelitian. Dari
beberapa pendapat dapat disimpulkan bahwa populasi merupakan objek atau subjek
yang berada pada suatu wilayah dan memenuhi syarat–syarat tertentu berkaitan
dengan masalah penelitian.
2. Sampel
Sampel adalah
bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi. Bila populasi
besar, dan peneliti tidak mungkin mempelajari semua yang ada pada pupulasi,
misalnya karena keterbatasan dana, tenaga dan waktu, maka peneliti daapat
menuggunakan sampel yang diambil dari populasi itu, kesimpulannya akan
diberlakukan untuk populasi. Untuk itu sampel yangdiambil dari populasi
betul-betul representatif (mewakili).
Adapun
alasan-alasan penelitian dilakukan dengan mempergunakan sampel beikut ini:
1) Ukuran populasi
Dalam hal
populasi tak terbatas (tak terhingga) berupa parameter yang jumlahnya tidak
diketahui dengan pasti, pada dasarnya
bersifat konseptual. Karena itu sama sekali
tidak mungkin mengumpulkan data dari populasi seperti itu. Demikian juga dalam
populasi terbatas (terhingga) yang jumlahnya sangat besar, tidak praktis untuk
mengumpulkan data dari populasi 50 juta
murid sekolah dasar yang tersebar diseluruh pelosok Indonesia misalnya.
2) Masalah biaya
Besar-kecilnya
biaya tergantung juga dari banyak sedikitnya objek yang diselidiki. Semakin
besar jumlah objek, maka semakin besar biaya yang diperlukan, lebih – lebih
bila objek itu tersebar diwilayah yang cukup luas. Oleh karena itu, sampling
ialah satu cara untuk mengurangi biaya.
3) Masalah waktu
Penelitian
sampel selalu memerlukan waktu yang lebih sedikit daripada penelitian populasi.
Sehubungan dengan hal itu,apabila waktu yang tersedia terbatas, dan kesimpulan
diinginkan dengan segera, maka penelitian sampel,dalam hal ini, lebih cepat.
4) Percobaan yang sifatnya merusak
Banyak
penelitian yang tidak dapat dilakukan pada seluruh populasi karena dapat
merusak atau merugikan. Misalnya, tidak mungkin mengeluarkan semua darah dari
tubuh seseorang pasien yang akan dianalisis keadaan darahnya, juga tidak
mungkin mencoba seluruh neon untuk diuji kekuatannya. Karena itu penelitian
harus dilakukan hanya pada sampel.
5) Masalah ketelitian
Adalah salah
satu segi yang diperlukan agar kesimpulan cukup dapat dipertanggung jawabkan. Ketelitian ,dalam hal
ini, meliputi pengumpulan, pencatatan, dan analisis data. Penelitian terhadap
populasi belum tentu ketelitian terselengar. Boleh jadi peneliti akan menjadi
bosan dlam melaksanakan tugasnya. Untuk menghindarkan itu semua,penelitian
terhadap sampel memungkinkan ketelitian dalam suatu penelitian.
6) Masalah ekonomis
Pertanyaan yang
harus selalu diajukan oleh seseorang penelitian; apakah kegunaan dari hasil
penelitian sepadan dengan biaya ,waktu, dan tenaga yang telah dikeluarkan? Jika
tidak, mengapa harus dilakukan penelitian? Dengan kata lain penelitian sampel pada dasarnya akan lebih ekonomis
daripada penelitian populasi.
3. Teknik Sampling
Teknik sampling
adalah cara untuk menentukan sampel yang jumlahnya sesuai dengan ukuran sampel
yang akan dijadikan sumber data sebenarnya, dengan memperhatikan sifat-sifat
dan penyebaran populasi agar diperoleh sampel yang representatif. Secara umum,
ada dua jenis teknik pengambilan sampel yaitu, sampel acak atau random sampling
/ probability sampling dan sampel tidak acak atau nonrandom
samping/nonprobability sampling.
1. Random sampling
Random Sampling
adalah cara pengambilan sampel yang memberikan kesempatan yang sama untuk
diambil kepada setiap elemen populasi untuk dipilih menjadi anggota sampel.
Artinya jika elemen populasinya ada 100 dan yang akan dijadikan sampel adalah
25, maka setiap elemen tersebut mempunyai kemungkinan 25/100 untuk bisa dipilih
menjadi sampel. Sedangkan yang dimaksud dengan nonrandom sampling atau
nonprobability sampling, setiap elemen populasi tidak mempunyai kemungkinan
yang sama untuk dijadikan sampel. Lima elemen populasi dipilih sebagai sampel
karena letaknya dekat dengan rumah peneliti, sedangkan yang lainnya, karena
jauh, tidak dipilih; artinya kemungkinannya 0 (nol).
a) Simple Random Sampling atau Sampel
Acak Sederhana
Teknik untuk
mendapatkan sampel yang langsung dilakukan pada unit sampling. Dengan demikian
setiap unsur populasi harus mempunyai kesempatan sama untuk bisa dipilih
menjadi sampel.
b) Proportionate Stratified Random Sampling
atau Sampel Acak Distratifikasikan
Teknik ini
biasa digunakan pada populasi yang mempunyai susunan bertingkat atau
berlapis-lapis. Misalnya sekolah, terdapat beberapa tingkatan kelas. Jika
tingkatan dalam populasi diperhatikan, mula-mula harus dipastikan strata yang
ada, kemudian tiap strata diwakili sampel penelitian.
c) Disproportionate Stratified Random Sampling
Teknik ini
digunakan untuk menentukan junlah sampel, bila populasi berstrata tetapi kurang
proporsional. Misalnya pegawai dari unit kerja tertentu mempunyai; 3 orang
lulusan S3, 4 orang lulusan S2, 90 orang S1, 800 orang SMU, 700 orang SMP, maka
tiga orang lulusan S3 dan empat orang S2 itu diambil semuanya sebagai sampel.
Karena dua kelompok ini terlalu kecil bila dibandingkan dengan kelompok S1, SMU
dan SMP.
d) Cluster Sampling atau Area Sampel
Teknik ini
digunakan jika populasi tidak terdiri dari individu-individu, melainkan terdiri
dari kelompok atau cluster. Misalnya, penelitian dilakukan terhadap populasi
pelajar SMU di suatu kota. Untuk itu random tidak dilakukan secara langsung
pada semua pelajar, tetapi pada sekolah/kelas sebagai kelompok atau cluster.
2. Nonprobability/Nonrandom Sampling atau
Sampel Tidak Acak
Nonprobability
sampling adalah teknik pengambilan sampel yang tidak memberipeluang/ kesempatan
sama bagi setiap unsur atau anggota populasi untuk dipilih menjadi sampel
(Sugiyono, 2013:122). Tidak semua unsur atau elemen populasi mempunyai
kesempatan sama untuk bisa dipilih menjadi sampel. Unsur populasi yang terpilih
menjadi sampel bisa disebabkan karena kebetulan atau karena faktor lain yang
sebelumnya sudah direncanakan oleh peneliti. Teknik sampel ini meliputi samling
sistematis, kuota, aksidental, purporsive, jenuh, dan snowball.
a) Sampling Sistematis
Sampling
sistematis adalah teknik pengambilan sample berdasarkan urutan dari anggota
populasi yang telah diberi nomor urut.
b) Sampling kuota
Sampling kuota
adalah teknik untuk menentukan sampel dari populasi yang mempunyai ciri-ciri
tertentu sampai jumlah (kuota) yang diinginkan.
c) Sampling insidental
Sampling
insidental adalah teknik penentuan sampel berdasarkan kebetulan yaitu siapa
saja yang secara kebetulan/ insidental bertemu dengan peneliti dapat digunakan
sebagai sampel, bila dipandang orang yang kebetulan ditemui itu cocok sebagai
sumber data.
d) Sampling Purporsive
Sampling
purporsive adalah teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu.
e) Sampling jenuh
Sampling jenuh
adalah teknik penentuan sampel bila semua anggota populasi digunakan sebagai
sampel. Hal ini sering dilakukan bila jumlah populasi relatif kecil, kurang
dari 30 orang, atau penelitian yang ingin membuat generalisasi dengan kesalahan
yang sangat kecil.
f) Sampling Snowball
Sampling
Snowball adalah teknik penentuan sampel yang mla-mula jumlahnya kecil, kemudian
membesar.
Subjek dalam
penelitian kualitatif disebut informan, yaitu orang-orang yang berada pada
latar penelitian. Informan adalah orang-orang yang dimanfaatkan untuk
memberikan informasi tentang situasi, kondisi latar, dan data penelitian.
Informan dibedakan menjadi dua, yaitu informan yang berfungsi sebagai pembuka
jalan dan informan yang berperan sebagai pemberi informasi data lapangan.
Informan
sebagai pembuka jalan berfungsi sebagai pembuka jalan memasuki setting dan
sebagai jembatan komunikasi antara peneliti dengan situasi penelitian dan
masyarakat yang berfungsi sebagai pemberi data. Informan pembuka jalan dipilih
orang-orang yang memiliki pengaruh besar dalam suatu latar penelitian, misalnya
pimpinan-pimpinan formal, pimpinan-pimpinan informal, dan powe etite.
Informan
pemberi data lapangan berfungsi utama pemberi data penelitian. Informan yang
dipilih adalah orang-orang yang benar-benar mempunyai informasi yang relevan
dengan penelitian. Agar dapat memilih informan dengan tepat, ada empat macam
cara memilih yang dikelompokkan sebagai nonporobability sampling, yaitu
accidental, purposive, quota, dan snow ball sampling accidental:
untuk memperoleh informan, peneliti dalam waktu tertentu dengan cara aktif
memilih dan menjadikan semua responden
yang mereka ditemui sebagai informan.
- purposive: peneliti
atas dasar rasional tertentu memilih responden untuk dijadikan informan dalam
pengambilan data.
- quota:
pemilihan informan atas dasar jumlah tertentu dan jumlah itu ditentukan sebelum
penelitian.
- snow ball:
pemilihan informan yang dimulai dari jumlah kecil, kemudian atas dasar
rekomendasinya menjadi semakin membesar. Di tempat kita disebut “gethok tular”,
di mana respoden yang telah ditemui memberikan rekomendasi kepada orang lain
untuk dijadikan respoden.
DAFTAR PUSTAKA
Azwar,
Saifuddin. 2011. Metode Penelitian. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Furchan, arief.
2011. Pengantar Penelitian dalam Pendidikan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Sugiyono, Prof.
Dr. 2011. Metode Penelitian Pendidikan, Pendekatan Kuantitatif Kualitatif, dan
R&D. Bandung: ALFABETA.
Trianto. 2011.
Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta. Pustakaraya.
#JENIS-JENIS
PENELITIAN

0 Response to "JENIS-JENIS PENELITIAN"
Post a Comment