By: Muhammad Abduh Tuasikal, MSc
Kita ketahui bersama dalam tulisan-tulisan yang
sebelumnya bahwa bid’ah adalah setiap amalan ibadah (bukan perkara duniawi)
yang dibuat-buat dan tidak memiliki landasan dalil. Sebagian orang bingung
menilai manakah bid’ah hasanah (bid’ah yang dianggap baik)
dan bid’ah sayyi’ah (bid’ah yang dianggap jelek). Kadang yang
sebenarnya bid’ah sayyi’ah namun sayangnya dianggap sebagai hasanah (kebaikan).
Para ulama membantu untuk membedakan kedua jenis bid’ah ini bagi yang masih
mengkategorikan bid’ah menjadi dua maca seperti itu.
Beda Bid’ah Hasanah dan Sayyi’ah
Abul ‘Abbas Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah -rahimahullah–
berkata,
“Setiap bid’ah bukan wajib dan bukan sunnah,
maka ia termasuk bid’ah sayyi’ah. Bid’ah termasuk bid’ah dholalah (yang
menyesatkan) menurut sepakat para ulama. Siapa yang menyatakan bahwa sebagian
bid’ah dengan bid’ah hasanah, maka itu jika telah ada dalil syar’i yang
mendukungnya yang menyatakan bahwa amalan tersebut sunnah (dianjurkan). Jika
bukan wajib dan bukan pula sunnah (anjuran), maka tidak ada seorang ulama pun
mengatakan amalan tersebut sebagai hasanah (kebaikan) yang mendekatkan diri
kepada Allah.
Barangsiapa mendekatkan diri pada Allah dengan
sesuatu yang bukan kebaikan yang diperintahkan wajib atau sunnah, maka ia
sesat, menjadi pengikut setan dan mengikuti jalannya. ‘Abdullah bin Mas’ud–radhiyallahu
‘anhu-berkata:
خَطَّ لَنَا
رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَطًّا وَخَطَّ خُطُوطًا عَنْ
يَمِينِهِ وَشِمَالِهِ ثُمَّ قَالَ : هَذَا سَبِيلُ اللَّهِ وَهَذِهِ سُبُلٌ عَلَى
كُلِّ سَبِيلٍ مِنْهَا شَيْطَانٌ يَدْعُو إلَيْهِ
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam menggambarkan pada kami jalan yang lurus, lalu di samping kanan
kirinya terdapat jalan. Lalu beliau mengatakan mengenai jalan yang lurus adalah
jalan Allah dan cabang-cabangnya terdapat setan yang menyeru kepadanya. Lalu
beliau membaca firman Allah Ta’ala:
وَأَنَّ هَذَا
صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ
بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ
“Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini)
adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti
jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari
jalanNya” (QS. Al An’am: 153) (Majmu’ Al Fatawa, 1: 162).
Kenyataannya Kurang Tepat
Yang jelas pembagian bid’ah menjadi hasanah dan
sayyi’ah kurang tepat karena akan menimbulkan kerancuan. Kok bisa ada
bid’ah yang baik, padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam sendiri mengatakan:
وَكُلَّ
بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ
“Setiap bid’ah adalah sesat” (HR. Muslim
no. 867).
Hadits semisal ini dalam bahasa Arab dikenal dengan lafazh umum,
artinya mencakup semua bid’ah, yaitu amalan yang tanpa tuntunan atau tanpa
dasar.
Imam Asy Syatibhi Asy Syafi’i rahimahullah mengatakan,
“Para ulama memaknai hadits di atas sesuai dengan keumumannya, tidak boleh
dibuat pengecualian sama sekali. Oleh karena itu, tidak ada dalam hadits
tersebut yang menunjukkan ada bid’ah yang baik.” (Dinukil dari Ilmu Ushul
Bida’, hal. 91, Darul Ar Royah)
Inilah pula yang dipahami oleh para sahabat
generasi terbaik umat ini. Mereka menganggap bahwa setiap bid’ah itu sesat
walaupun sebagian orang menganggapnya baik. Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu
‘anhuma berkata:
كُلُّ بِدْعَةٍ
ضَلاَلَةٌ ، وَإِنْ رَآهَا النَّاسُ حَسَنَةً
“Setiap bid’ah adalah sesat, walaupun
manusia menganggapnya baik.” (Diriwayatkan oleh Muhammad bin Nashr dalam
kitab As Sunnah dengan sanad shahih dari Ibnu ‘Umar. Lihat Ahkamul
Janaiz, Syaikh Al Albani, hal. 258, beliau mengatakan hadits ini mauquf, shahih)
Untuk Memahami Manakah Bid’ah
Untuk memahami bagaimana pengertian yang
tepat mengenai bid’ah (sayyi’ah), maka berikut adalah kriterianya. Jika
memenuhi tiga kriteria ini, maka suatu amalan dapat digolongkan sebagai bid’ah:
1. Amalan tersebut
baru, diada-adakan atau dibuat-buat.
2. Amalan tersebut
disandarkan sebagai bagian dari ajaran agama.
3. Amalan tersebut
tidak memiliki landasan dalil baik dari dalil yang sifatnya khusus atau umum. (Qowa’id
Ma’rifatil Bida’, Muhammad bin Husain Al Jizaniy, hal. 18)
Dari kriteria pertama di atas, maka amalan yang
ada tuntunan dan memiliki dasar dalam Islam tidak disebut bid’ah semisal shalat
lima waktu dan puasa Ramadhan. Dilihat dari kriteria kedua, maka tidak termasuk
di dalamnya hal baru atau dibuat-buat berkaitan dengan urusan dunia, semisal
perkembangan atau inovasi pada smartphone dan laptop, ini bukanlah bid’ah yang
dicela. Dan jika menilik kriteria ketiga, maka amalan yang ada landasan dalil
khusus seperti shalat tarawih yang dilakukan secara berjama’ah di masa ‘Umar
hingga saat ini, tidaklah disebut bid’ah (Lihat Qowa’id Ma’rifatil
Bida’, hal. 18-21).
Semakin menguatkan penjelasan di atas yaitu
definisi Ibnu Hajar Al Asqolani Asy Syafi’i rahimahullah berikut
ini. Beliau berkata:
والمراد بقوله
كل بدعة ضلالة ما أحدث ولا دليل له من الشرع بطريق خاص ولا عام
“Yang dimaksud setiap bid’ah adalah sesat yaitu
setiap amalan yang dibuat-buat dan tidak ada dalil pendukung baik dalil khusus
atau umum” (Fathul Bari, 13: 254). Juga ada perkataan dari Ibnu Rajab Al
Hambali rahimahullah:
فكلُّ من أحدث
شيئاً ، ونسبه إلى الدِّين ، ولم يكن له أصلٌ من الدِّين يرجع إليه ، فهو ضلالةٌ ،
والدِّينُ بريءٌ منه ، وسواءٌ في ذلك مسائلُ الاعتقادات ، أو الأعمال ، أو الأقوال
الظاهرة والباطنة .
“Setiap yang dibuat-buat lalu disandarkan pada
agama dan tidak memiliki dasar dalam Islam, itu termasuk kesesatan. Islam
berlepas diri dari ajaran seperti itu termasuk dalam hal i’tiqod (keyakinan),
amalan, perkataan yang lahir dan batin” (Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, 2:
128). Ringkasnya yang dimaksud bid’ah adalah setiap yang dibuat-buat
dalam masalah agama tanpa ada dalil.
Silakan Datangkan Dalil!
Jadi silakan timbang-timbang jika menilai
bid’ah hasanah dengan pernyataan di atas. Apakah perayaan Maulid Nabi itu
hasanah? Apakah berdo’a dengan menganggap afdhol jika di sisi kubur para wali
itu bid’ah hasanah? Begitu pula yasinan dan selamatan kematian (pada hari ke-3,
7, 40, 100, sampai dengan 1000 hari) benarkah bid’ah hasanah? Silakan buktikan
dengan dalil!
قُلْ هَاتُوا
بُرْهَانَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ
“Tunjukkanlah bukti kebenaranmu jika kamu
adalah orang yang benar” (QS. Al Baqarah: 111).
Wa billahit

0 Response to "Bid’ah Hasanah dan Bid’ah Sayyi’ah"
Post a Comment