Oleh Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas حفظه الله

Alhamdulillah kita bersyukur kepada Allah Subhanahu wa
ta’ala atas segala nikmat yang Allah karuniakan, nikmat islam, nikmat iman,
nikmat sehat, nikmat ‘afiat, dan nikmat dijauhkan oleh Allah dari berbagai
macam malapetaka. Pada kesempatan ini, kita membahas tentang sikap
seorang muslim menurut syariat terhadap wabah virus Corona (Covid-19)
yang menyebar dimana-mana dan membuat sebagian kaum muslimin di berbagai negara di dunia panik. Bagaimana sikap yang benar menurut syari’at Islam
dalam menghadapi musibah yang seperti ini:
1. wajib mengimani dan meyakini hanya satu Illah (Satu yang sembahan)
Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:
وَإِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَٰحِدٌۖ لَّآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ
ٱلرَّحْمَٰنُ ٱلرَّحِيمُ
“Dan Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha
Esa, tidak ada tuhan selain Dia, Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.”
[Al-Baqarah/2 : 163]
Bahwa kita wajib meyakini dan mengimani, apapun yang
terjadi di langit dan di bumi dan diantara keduanya dan diseluruh alam semesta
ini tidak lepas dari kehendak Allah. Adanya kehidupan, kematian,
penciptaan, pemberian rizki, wabah penyakit, gempa, banjir,
peperangan, pembunuhan, dan apa saja yang terjadi, semua berjalan dengan kehendak
Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah tidak boleh ditanya tentang apa yang Allah
perbuat. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:
لَا
يُسْـَٔلُ عَمَّا يَفْعَلُ وَهُمْ يُسْـَٔلُونَ
“Dia (Allah) tidak
ditanya tentang apa yang dikerjakan, tetapi merekalah yang akan ditanya.”
[Al-Anbiya/21 : 23]
Seorang mukmin wajib meyakini dan mengimani bahwa apa saja
yang terjadi baik yang di langit maupun di bumi dan diantara keduanya serta di
seluruh alam semesta itu tidak terlepas dari kehendak Allah. Allah Ta’ala
berbuat menurut apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala kehendaki. Sebagaimana
firmanAllah ‘Azza wa Jalla:
وَهُوَ الْغَفُورُ
الْوَدُودُ ﴿١٤﴾ ذُو الْعَرْشِ الْمَجِيدُ ﴿١٥﴾ فَعَّالٌ لِمَا يُرِيدُ
“Dan Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Pengasih yang memiliki ‘Arsy. Lagi Maha
Mulia, Maha Kuasa berbuat apa yang Dia kehendaki.” [Al-Buruj/85:14-16]Setiap
apa yang dikehendaki Allah Subhanahu wa Ta’ala itu berjalan dengan ilmunya
Allah dan berjalan dengan hikmahnya Allah. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:
وَمَا تَشَآءُونَ إِلَّآ أَن يَشَآءَ ٱللَّهُۚ إِنَّ
ٱللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمًا
“Tetapi kamu tidak mampu (menempuh jalan
itu), kecuali apabila Allah kehendaki Allah. Sungguh, Allah Maha Mengetahui,
Maha bijaksana.” [Al-Insan/76 : 30]
Dalam Kitab "Syarah Aqidah Ahlus Sunnah
wal Jama’ah" point ke 40, dibahas tentang Iman kepada Qodar (takdir) baik dan buruk ada empat tingkatan:
a. Al-Ilmu (Ilmu)
Ilmunya Allah meliputi segala sesuatu, tidak ada satupun
yang terluput dari ilmunya Allah, apa saja yang terjadi di langit dan di bumi,
Allah Subhanahu wa Ta’ala pasti mengetahuinya. Firman Allah
‘Azza wa Jalla:
أَنَّ ٱللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ
شَىْءٍ قَدِيرٌ وَأَنَّ ٱللَّهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَىْءٍ عِلْمًۢا
“…Bahwasanya Allah Maha Berkuasa atas segala sesuatu, Dan ilmu Allah benar
benar meliputi segala sesuatu.” [At-Thalaq/65 : 12]
Dan juga Allah ‘Azza wa
Jalla berfirman:
وَعِندَهُۥ مَفَاتِحُ ٱلْغَيْبِ لَا
يَعْلَمُهَآ إِلَّا هُوَۚ وَيَعْلَمُ مَا فِى ٱلْبَرِّ وَٱلْبَحْرِۚ وَمَا
تَسْقُطُ مِن وَرَقَةٍ إِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِى ظُلُمَٰتِ ٱلْأَرْضِ
وَلَا رَطْبٍ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِى كِتَٰبٍ مُّبِينٍ
“Dan kunci-kunci
semua yang ghaib ada pada-Nya; tidak ada yang mengetahui selain Allah. Allah
mengetahui apa yang ada di darat dan di laut. Tidak ada sehelai daun pun yang
gugur yang tidak diketahui-Nya. Tidak ada sebutir biji pun dalam kegelapan bumi
dan tidak pula sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan semua tertulis
dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” [Al-An’am/6 : 59]
b. Al-Kitabah (Penulisan)
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mencatat semua taqdir
makhluk di Lauh Mahfuzh. Tidak ada satupun yang luput sama sekali. Allah ‘Azza
wa Jalla berfirman :
أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّ ٱللَّهَ
يَعْلَمُ مَا فِى ٱلسَّمَآءِ وَٱلْأَرْضِۗ إِنَّ ذَٰلِكَ فِى كِتَٰبٍۚ إِنَّ
ذَٰلِكَ عَلَى ٱللَّهِ يَسِيرٌ
“Tidak kah engkau tahu bahwa Allah
mengetahui apa yang di langit dan di bumi? Sungguh, yang demikian itu sudah
terdapat dalam sebuah Kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu
sangat mudah bagi Allah.” [Al-Hajj/22: 70]
Begitu pula Nabi Shallallahu ‘alaihi
wa sallam bersabda :
إِنَّ أَوَّلَ مَا خَلَقَ اللهُ
الْقَلَمَ، قَالَ لَهُ: اُكْتُبْ! قَالَ: رَبِّ وَمَاذَا أَكْتُبُ؟ قَالَ:
اُكْتُبْ مَقَادِيْرَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى تَقُوْمَ السَّاعَةُ.
“Yang pertama kali Allah ciptakan adalah Qalam (pena), lalu Allah berfirman
kepadanya : ‘Tulislah ! Ia menjawab : ‘Wahai Rabbku apa yang harus aku tulis ?’
Allah berfirman : ‘Tulislah takdir segala sesuatu sampai terjadinya Kiamat.”
[HR Abu Dawud (no. 4700), shahih Abi Dawud (no. 3933), at-Tirmidzi (no. 2155,
3319) Ibnu Abi Ashim dalam as-Sunnah (no. 102), al-Ajurry dalam asy-Syari’ah
(no. 180), Ahmad (V/317), Abu Dawud ath-Thayalisi (no. 577), dari Sahabat Ubadah
bin ash-Shamit Radhiyallahu ‘anhu, hadits ini shahih] (Lihat Syarah ‘Aqidah
Ahluss Sunnah wal Jama’ah (hlm. 337-cet. Ke-17), Pustaka Imam Syafi’i, Jakarta)
c. Al-Masyi-ah (Kehendak)
mengimani masyi-ah (kehendak) Allah yang pasti
terlaksana dan qudrah (kekuasaan) Allah yang meliputi segala sesuatu
d. Al-Khalq (Penciptaan)
Allah lah yang menciptakan segala sesuatunya Allah ‘Azza
wa Jalla berfirman :
ٱللَّهُ خَٰلِقُ كُلِّ شَىْءٍۖ
وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ وَكِيلٌ
“Allah pencipta segala sesuatu dan Dia
Maha Pemelihara atas segala sesuatu.” [Az-Zumar/39 : 62]
Allah ‘Azza wa Jalla
berfirman:
وَٱللَّهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُونَ
“Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu.”
[Ash-Shaffat/37 : 96]
Oleh karena itu, berkaitan dengan bencana, musibah,
petaka, wabah virus corona, gempa, banjir, terjadinya peperangan, pembunuhan
dan yang lainnya, semuanya sudah dicatat di Lauh Mahfuzh, semua berjalan dengan
kehendak Allah dan tidak terlepas dari ilmunya Allah dan hikmahnya Allah Subhanahu
wa Ta’ala. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman :
وَكَانَ
ٱللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا
“…Dan Allah Maha Mengetahui, Maha
Bijaksana.” [An-Nisa’/4 : 111]
Hikmah Allah tidak bisa kita ketahui semuanya,
ribuan hikmah yang dapat diambil faedah dari apa yang Allah takdirkan dan
apa-apa yang Allah perbuat. Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: “Andai
kata kita bisa menggali hikmah Allah yang terkandung dalam ciptaan dan
urusan-Nya, maka tidak kurang dari ribuan hikmah. Namun akal kita sangat
terbatas, pengetahuan kita terlalu sedikit, dan ilmu semua makhluk akan sia-sia
(tidak ada artinya) jika dibandingkan dengan ilmu Allah, sebagaimana sinar
lampu yang sia-sia (tidak ada artinya) di bawah sinar matahari. Dan ini pun
hanya gambaran saja, yang sebenarnya tentu lebih dari sekedar gambaran ini.”
[Syifaa-ul ‘Aliilfii Masaa-ilil Qadhaa’wal Qadar wal Hikmah wat Ta’liil (hal.
452) cet. Daaru Zamzam] (Lihat Hikmah Di Balik Musibah dan Ruqyah Syar’iyyah ;
Yazid bin Abdul Qadir Jawas, hlm. 15-cet. Ke-4, Pustaka Imam Syafi’i, Jakarta)
2. Jika terjadi malapetaka, Bencana atau wabah Penyakit Sseorang muslim harus Introfeksi diri
Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:
وَمَآ
أَصَٰبَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُوا۟ عَن كَثِيرٍ
“Dan musibah apa pun yang menimpa kamu adalah disebabkan oleh perbuatan tangan
mu sendiri, dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan-kesalahanmu).”
[Asy-Syura/42 : 30]
Allah meyebutkan apa saja yang menimpa kita dan kerusakan
yang ada baik di daratan maupun di lautan, disebabkan karena perbuatan manusia,
sebabnya karena dosa-dosa manusia. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman :
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ
أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
﴿٤١﴾ قُلْ سِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الَّذِينَ
مِنْ قَبْلُ ۚ كَانَ أَكْثَرُهُمْ مُشْرِكِينَ
“Telah tampak
kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia;
Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan
mereka, agar mereka kembali (kejalan yang benar). Katakanlah (Muhammad),
“Bepergianlah di bumi lalu lihatlah bagaimana kesudahan orang-orang dahulu.
Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang mempersekutukan (Allah).”
[Ar-Rum/30 : 41-42]
Jika kita lihat yang terjadi saat ini (meluasnya wabah
Corona di seluruh dunia, -ed.) tidak terlepas dari dosa-dosa manusia. Dosa
yang paling besar adalah Syirik, banyak orang yang menyekutukan Allah Subhanahu
wa Ta’ala. Memalingkan ibadah kepada selain Allah. Karenanya, Allah memberikan
hukuman atas perbuatan mereka. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman :
مَّآ أَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ ٱللَّهِۖ وَمَآ
أَصَابَكَ مِن سَيِّئَةٍ فَمِن نَّفْسِكَۚ وَأَرْسَلْنَٰكَ لِلنَّاسِ رَسُولًاۚ
وَكَفَىٰ بِٱللَّهِ شَهِيدًا
“Kebajikan apa pun yang kamu peroleh,
adalah dari sisi Allah, dan keburukan apa pun yang menimpamu, itu dari
(kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutusmu (Muhammad) menjadi Rasul kepada
(seluruh) manusia. Dan cukuplah Allah yang menjadi saksi.” [An-Nisa’/4 : 79]
Dalam ayat ini disebutkan “keburukan apa pun yang menimpa mu dengan sebab
kesalahan dan dosamu”. Jadi musibah dan wabah dengan sebab dosa dan maksiat.
Kalau seandainya Allah Subhanahu wa Ta’ala mau mengazab semua manusia dengan
sebab dosa-dosa mereka, maka tidak ada yang tertinggal sedikitpun di muka bumi
ini dengan sebab dosa-dosa manusia, tapi Allah Ta’ala menangguhkannya sampai
waktu yang sudah ditentukan. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman :
وَلَوْ يُؤَاخِذُ ٱللَّهُٱلنَّاسَ بِمَا كَسَبُوا۟ مَا تَرَكَ عَلَىٰ
ظَهْرِهَا مِن دَآبَّةٍ وَلَٰكِن يُؤَخِّرُهُمْ إِلَىٰٓ أَجَلٍ مُّسَمًّىۖ
فَإِذَا جَآءَ أَجَلُهُمْ فَإِنَّ ٱللَّهَ كَانَ بِعِبَادِهِۦ بَصِيرًۢا
“Dan sekiranya Allah menghukum manusia disebabkan apa yang telah mereka
perbuat, niscaya Allah tidak akan menyisakan satu pun makhluk bergerak yang
bernyawa di bumi ini, tetapi Allah menangguhkan (hukuman)nya, sampai waktu yang
sudah ditentukan. Nanti apabila ajal mereka tiba, maka Allah Maha Melihat
(keadaan) hamba-hamba-Nya.” [Fathir/35: 45]
3. Mengambil Hikmah dari menularnya wabah virus corona atau musibah lainnya.
Allah ‘Azza wa Jalla
berfirman :
وَلَقَدْ أَرْسَلْنَآ إِلَىٰٓ أُمَمٍ مِّن
قَبْلِكَ فَأَخَذْنَٰهُم بِٱلْبَأْسَآءِ وَٱلضَّرَّآءِ لَعَلَّهُمْ يَتَضَرَّعُونَ
“Dan sungguh, Kami telah mengutus (para rasul) kepada umat-umat sebelum engkau,
kemudian Kami siksa mereka dengan (menimpakan) kemelaratan dan kesengsaraan,
agar mereka memohon (kepada Allah) dengan kerendahan hati.” [Al-An’am/6 : 42]
Dalam menafsirkan ayat ini, Ibnu Jarir ath-Thabari rahimahullah berkata: (اَلْبَأْسَاءُ) yaitu ujian yang ditimpakan kepada
mereka ialah berupa kemiskinan dan kesempitan dalam penghidupan. Sedangkan (الضَّرَّاءُ) yaitu ujian yang ditimpakan kepada
mereka ialah berupa penyakit dan cacat yang menimpa tubuh. (لَعَلَّهُمْيَتَضَرَّعُوْنَ) artinya dengan keadaan mereka seperti
itu, semoga mereka mau tunduk kepada Allah, memurnikan ibadah kepada Allah dan
hanya mencintai Allah, bukan mencintai selain Allah, dengan cara taat dan
pasrah kepada Allah.” [Tafsir ibni Jarir ath-Thabari (V/241-242), cet. Daarul
A’lam, th. 1423 H] (Lihat Hikmah Di Balik Musibah dan Ruqyah Syar’iyyah ;
Yazid bin Abdul Qadir Jawas, hlm. 25-26 cet Ke-4, Pustaka Imam
asy-Syafi’i Jakarta) Diantara dosa-dosa yang dilakukan manusia seperti
kesombongan, keangkuhan, kezholiman, kesyirikan dan yang lainnya, sehingga
Allah menurunkan berbagai macam bencana, termasuk wabah virus Corona.
4. wabah penyakit menular pernah terjadi di jaman sahabat radhiallahu'anhum ajmain
. وَعَنْ أُسَامَةَ
بْنِ زَيْدٍ رضي اللَّه عَنْهُ عنِ النَّبِيِّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قَالَ
: « إذَا سمِعْتُمْ الطَّاعُونَ بِأَرْضٍ ، فَلاَ تَدْخُلُوهَا ، وَإذَا وقَعَ
بِأَرْضٍ ، وَأَنْتُمْ فِيهَا ، فَلاَ تَخْرُجُوا مِنْهَا » متفقٌ عليه
Dari Usamah bin Zaid Radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi Shallallahu
‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Apabila kalian mendengar wabah tha’un
melanda suatu negeri, maka janganlah kalian memasukinya. Adapun apabila
penyakit itu melanda suatu negeri sedang kalian ada di dalamnya, maka janganlah
kalian keluar dari negeri itu.” [Muttafaqun ‘alaihi]
Dari ‘Aisyah Radhiyallahu
‘anha, ia berkata, aku bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam
tentang tha’un, lalu Beliau memberitahukan:
إِنَّهُ
كَانَ عَذَابًا يَـبْـعَـثُـهُ اللهُ عَلَى مَنْ يَشَاءُ، فَجَعَلَهُ اللهُ
رَحْمَةً لِلْمُؤْمِنِيْنَ، فَلَيْسَ مِنْ عَبْدٍ يَـقَعُ الطَّاعُوْنُ،
فَـيَمْكُثُ في بَلَدِهِ صَابِرًا مُحْتَسِبًا، يَعْلَمُ أنَّهُ لَنْ يُصِيْبَهُ
إِلَّا مَا كَـتَبَ اللهُ لَهُ، إِلَّا كَانَ لَهُ مِثْـلُ أَجْرِ الشَّهِيْدِ»
أخرجه البخاري
“Tha’un ialah adzab yang Allah turunkan kepada siapa yang Dia
kehendaki, dan bahwasannya Allah menjadikannya sebagai rahmat bagi kaum
mukminin. Tidak seorangpun yang terserang penyakit tha’un kemudian dia tetap
diam di daerahnya dengan sabar dan mengharap ganjaran dari Allah, dia
mengetahui bahwa tidak ada yang menimpanya kecuali apa yang telah Allah
tetapkan baginya, kecuali dia akan mendapat ganjaran seperti orang yang mati
syahid.” [Shahih: HR. Al-Bukhari (no. 3474, 5734, 6619), Ahmad (IV/252), dan
an-Nasaa-i dalam Sunanul Kubra (no. 7483].
Dari Usamah bin Zaid Radhiyallahu
‘anhuma, Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:
الطَّاعُونُ
رِجْزٌ أَوْ عَذَابٌ أُرْسِلَ عَلَى بَنِي إِسْرَائِيلَ أَوْ عَلَى مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ
فَإِذَا سَمِعْتُمْ بِهِ بِأَرْضٍ فَلَا تَقْدَمُوا عَلَيْهِ وَإِذَا وَقَعَ
بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلَا تَخْرُجُوا فِرَارًا مِنْهُ.
“Tha’un adalah
semacam azab (siksaan) yang diturunkan Allah kepada Bani Israil atau kepada
umat yang sebelum kamu. Maka apabila kamu mendengar penyakit tha’un berjangkit
di suatu negeri, janganlah kamu datang ke negeri itu. Dan apabila penyakit itu
berjangkit di negeri tempat kamu berada, janganlah kamu keluar dari negeri itu
untuk melarikan diri daripadanya.” [Shahih:HR. Al-Bukhari (no. 3473), Muslim
(no. 2218 (92)]
Imam An-Nawawi rahimahullah menjelaskan definisi tha’un : Virus
yang mengenai tubuh, yaitu luka-luka yang keluar dari tubuh, di siku atau di
ketiak atau di tangan, atau di jari-jari dan seluruh tubuh, bengkak bengkak dan
sakit yang sangat dan lukanya terasa panas, melepuh, menjadi hitam sekitar
bagian anggota tubuh atau hijau warnanya atau seperti warna merah lembayung,
jantung berdebar-debar dan muntah-muntah. [Minhajul Muhadditsin wa Sabiilu
Thalibiihil Muhaqqiqin fi Syarhi Shahih Muslim (12/335), tahqiq, takhrij dan
ta’liq Mazin bin Muhammad as-Sirsawi]
Penyakit Tha’un Adalah Wabah Yang
Menular. Apakah Corona itu sama dengan Tha’un? Sebagian ulama menyebutkan
hampir sama tapi jelas tidak sama kejadiannya. Antara sebabnya dan kejadiannya
tidak sama, namun tha’un juga menular. Kata Imam an-Nawawi : Tha’un adalah
wabah dan tidak setiap wabah adalah tha’un. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:
لَا عَدْوَى وَلَا طِيَرَةَ
“Tidak ada penyakit menular dan tidak ada
dampak dari thiyarah (anggapan sial)…” [Shahih : HR. Al-Bukhari (no.5757) dan
Muslim (no. 2220)]
Ada seorang Sahabat bertanya kepada Nabi Shalallahu ‘alaihi
wa sallam. “Ya Rasulullah, saya mempunyai seekor unta yang kudis dan yang lain
sehat. Karena unta ini (yang kudis, peny), maka unta yang lain ikut kudis
juga.” Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, tidak bisa unta yang kudis
tersebut dengan sendirinya menyebarkan penyakitnya kepada unta yang lainnya,
tapi siapa yang pertama kali menularkannya itu?? Yaitu Allah Rabbul ‘alamiin.
Adanya penyakit menular dengan kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala, bila Allah
tidak berkehendak maka tidak akan terjadi.
5. Sikap Kita Terhadap Wabah.
1. Kita wajib beriman dan yakin bahwa semua
urusan ditangan Allah, apa yang terjadi semua dengan kehendak Allah, dan takdir
Allah ditetapkan 50 ribu tahun sebelum penciptaan langit dan bumi:
كَتَبَ
اللهُ مَقَادِيْرَ الْخَلاَئِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضَ
بِخَمْسِيْنَ أَلْفَ سَنَةٍ.
“Allah telah mencatat seluruh takdir
makhluk 50.000 (lima puluh ribu) tahun sebelum menciptakan langit dan bumi.”
[HR Muslim (no. 2653 (16) dan at-Tirmidzi (no. 2156), Ahmad (II/169), Abu Dawud
ath-Thayalisi (no. 557).
dari Sahabat Abdullah bin Amr bin
al-Ash. Lafazh ini milik Muslim]
إِنَّ أَوَّلَ مَا خَلَقَ اللهُ الْقَلَمَ،
قَالَ لَهُ: اُكْتُبْ! قَالَ: رَبِّ وَمَاذَا أَكْتُبُ؟ قَالَ: اُكْتُبْ مَقَادِيْرَ
كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى تَقُوْمَ السَّاعَةُ.
“Sesungguhnya makhluk yang pertama
diciptakan oleh Allah adalah qalam (pena). Allah berfirman kepadanya,
‘Tulislah.’ Ia menjawab, ‘Wahai Rabb-ku, apa yang harus aku tulis?’ Allah
berfirman, ‘Tulislah takdir segala sesuatu sampai terjadinya hari Kiamat.’”
[HR. Abu Dawud (no. 4700), at-Tirmidzi (no. 2155, 3319), Ibnu Abi ‘Ashim dalam
as-Sunnah (no. 102), Ahmad (V/317), dan selainnya dari Ubadah bin Shamit]
(Lihat Syarah Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, Yazid bin Abdul Qadir Jawas
(hlm. 337), Pustaka Imam Syafi’i Jakarta)
2. Kita wajib meyakini bahwa tidak akan
menimpa dan mengenai kita, apakah bentuknya penyakit, wabah, bahaya, bencana
dan lainnya kecuali apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala sudah takdirkan dan Allah
sudah tulis di Lauh Mahfuzh. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman :
قُل لَّن يُصِيبَنَآ إِلَّا مَا كَتَبَ
ٱللَّهُ لَنَا هُوَ مَوْلَىٰنَاۚ وَعَلَى ٱللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ ٱلْمُؤْمِنُونَ
“Katakanlah
(Muhammad), “Tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah
bagi kami. Dialah pelindung kami, dan hanya kepada Allah bertawakallah
orang-orang yang beriman.” [At-Taubah/9 : 51]
Allah
‘Azza wa Jalla berfirman :
مَآ أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ فِى ٱلْأَرْضِ وَلَا فِىٓ أَنفُسِكُمْ
إِلَّا فِى كِتَٰبٍ مِّن قَبْلِ أَن نَّبْرَأَهَآۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى ٱللَّهِ
يَسِيرٌ
“Setiap
bencana yang menimpa di bumi dan yang menimpa dirimu sendiri, semuanya telah
tertulis dalam Kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami mewujudkannya. Sungguh, yang
demikian itu mudah bagi Allah.” [Al-Hadid/57 : 22]
Allah
‘Azzawa Jalla berfirman :
مَآ أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ ٱللَّهِۗ وَمَن
يُؤْمِنۢ بِٱللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُۥۚ وَٱللَّهُ بِكُلِّ شَىْءٍ عَلِيمٌ
“Tidak
ada sesuatu musibah yang menimpa (seseorang), kecuali dengan izin Allah; dan
barangsiapa beriman kepada Allah, niscaya Allah akan memberi petunjuk kepada
hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu” [At-Taghabun/64 :
11]
Dari
Abdullah bin Abbas Radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, Nabi Shallallahu ‘alaihi
wa sallam bersabda :
وَاعْلَمْ أَنَّ الأُمَّةَ لَوِ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ
يَنْفَعُوْكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوْكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ
لَكَ، وَإِنِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوْكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوْكَ
إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ عَلَيْكَ، رُفِعَتِ الأَقْلاَمُ وَجَفَّتِ
الصُّحُفُ
“…Ketahuilah,
bahwa seandainya seluruh ummat berkumpul untuk memberi suatu manfaat kepadamu,
maka mereka tidak akan dapat memberi manfaat kepadamu, kecuali dengan sesuatu
yang telah ditetapkan Allah untukmu. Sebaliknya, jika mereka berkumpul untuk
menimpakan suatu kemudharatan (bahaya) kepadamu, maka mereka tidak akan dapat
menimpakan kemudharatan (bahaya) kepadamu, kecuali dengan sesuatu yang telah
Allah tetapkan atasmu. Pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering.” [HR
At-Tirmidzi (no. 2516) Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh al-Albani
rahimahullah dalam kitab Zhilalul Jannah fi Takhrijis Sunnah (no. 315-318) dan
Hidayatur Ruwat (no.5232)]. (Lihat Wasiat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
kepada Ibnu Abbas, Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Pustaka at-Taqwa Bogor)
Kita
harus meyakini, tidak akan menimpa kita sesuatu apa pun, kecuali apa yang Allah
telah menetapkannya untuk kita, sehingga tidak akan menimbulkan ketakutan yang
luarbiasa seperti yang terjadi sekarang ini. Semua Allah sudah takdirkan, kita
wajib usaha yang dibenarkan menurut syari’at, dan menurut dokter yang ahli
dalam masalah wabah ini. Tapi serahkan semua urusan kepada Allah. Jangan takut
berlebihan!!! Apa yang Allah takdirkan untuk kita, itu yang terbaik untuk kita.
Dan Allah Maha Penyayang kepada hamba-hamba-Nya yang beriman.
6. Tawakkal kepada Allah.
. Allah ‘Azza wa Jalla
berfirman :
وَإِن يَمْسَسْكَ ٱللَّهُ بِضُرٍّ فَلَا
كَاشِفَ لَهُۥٓ إِلَّا هُوَۖ وَإِن يُرِدْكَ بِخَيْرٍ فَلَا رَآدَّ لِفَضْلِهِۦۚ
يُصِيبُ بِهِۦ مَن يَشَآءُ مِنْ عِبَادِهِۦۚ وَهُوَ ٱلْغَفُورُٱلرَّحِيمُ
“Dan jika Allah menimpakan suatu bencana kepadamu, maka tidak ada yang dapat
menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu,
maka tidak ada yang dapat menolak karunia-Nya. Allah memberikan kebaikan kepada
siapa saja yang Allah kehendaki di antara hamba-hamba-Nya. Allah Maha
Pengampun, Maha Penyayang.” [Yunus/10 : 107]
Allah ‘Azza wa Jalla berfirman :
وَإِن يَمْسَسْكَ ٱللَّهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهُۥٓ إِلَّا
هُوَۖ وَإِن يَمْسَسْكَ بِخَيْرٍ فَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ
“Dan jika Allah menimpakan suatu bencana kepadamu, tidak ada yang dapat
menghilangkannya selain Allah. Dan jika Allah mendatangkan kebaikan kepadamu,
maka Dia Maha kuasa atas segala sesuatu.” [Al-An’am/6 : 17]
Allah ‘Azza wa
Jalla berfirman :
وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ
“…dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan aku,” [Asy-Syu’ara’/26 : 80]
Obat, dokter dalam mengobati penyakit kita adalah sarana saja, hakekatnya yang
menyembuhkan hanya Allah saja. Tidak ada yang bisa memberikan kesembuhan atas
suatu penyakit kecuali hanya Allah Azza wa Jalla. Seorang muslim dan muslimah
wajib menyerahkan urusannya kepada Allah, tetapi kita wajib ikhtiar dengan
cara-cara yang dibenarkan menurut syari’at. Selain bertawakal kepada Allah,
kita wajib ikhtiar yang sesuai dengan syari’at. Ikhtiar yang dilakukan tidaklah
berlebih-lebihan. Kita berpegang kepada dalil, kemudian nasehat orang-orang
berilmu, kemudian mendengar arahan dokter-dokter yang ahli dalam masalah ini,
supaya kita tidak takut berlebihan dan tidak boleh juga meremehkan wabah yang
sedang menimpa kita. Dan tidak boleh juga membesar-besarkan perkara ini
sehingga membuat orang takut. Menakut nakuti seorang muslim, haram hukumnya
dalam Islam. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
لَا يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يُرَوِّعَ مُسْلِمًا
“Tidak halal bagi seorang muslim menakut-nakuti muslim yang lain.” [Shahih:HR
Abu Dawud]
Ingat, kita wajib berhati-hati dan waspada terhadap wabah ini dan
bersikap yang wajar sebagai orang yang beriman, tidak berlebih-lebihan, tidak menakut-nakuti
orang dengan kematian, tapi kita juga tidak boleh meremehkan masalah wabah
virus Corona ini. Kita ikuti arahan Pemerintah, Majlis Ulama, dan
Dokter yang ahli dalam masalah ini.
7. Rasululullah shallallahu 'alaihi wassalam menganjurkan kita berobat
Cara pengobatan penyakit yang diajarkan dalam
syari’at Islam mencakup dua jenis : Terapi prefentive (pencegahan) Terapi
kurative (penyembuhan) Diantara cara pencegahan penyakit wabah virus Corona
adalah dengan mencuci tangan, membersihkan diri, dan semua ini Islam sudah
mengajarkannya, dengan kita berwudhu setiap hari minimal lima kali. Allah ‘Azza
wa Jalla berfirman :
إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ
ٱلتَّوَّٰبِينَ وَيُحِبُّ ٱلْمُتَطَهِّرِينَ
“…Sungguh Allah
menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang yang membersihkan diri.”
[Al-Baqarah/2 : 222].
Setiap Penyakit Pasti Ada Obatnya Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda :
ماَ أَنْزَلَ اللهُ دَاءً
إِلاَّ أَنْزَلَ لَهُ شِفَاءً
“Allah tidak menurunkan penyakit melainkan
pasti menurunkan obatnya.” [HR Al-Bukhari (no. 5678)
Dari Abu Hurairah
Radhiyallahu anhu] Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
لِكُلِّ دَاءٍ دَوَاءٌ, فَإِذَا أُصِيْبَ دَوَاءُ الدَّاءِ
بَرَأَ بِإِذْنِ اللهِ
“Setiap penyakit ada obatnya, jika suatu
obat itu tepat (manjur) untuk suatu penyakit, maka penyakit itu akan sembuh
dengan izin Allah ‘Azza wa Jalla.” [HR Muslim no. 2204 dari Jabir
Radhiyallahu’anhu]
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ اللهَ خَلَقَ الدَّاءَ وَالدَّوَاءَ , فَتَدَاوَوْا
وَلاَ تَتَدَاوَوْا بِحَرَامٍ
“Sesungguhnya Allah menciptakan penyakit
dan obatnya, maka berobatlah dan janganlah berobat dengan (obat) yang haram.”
[HR Ad-Dulabi dalam al-Kuna wal Asma’]
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda:
إِنَّ اللهَ لَمْ يَجْعَلْ شِفَاءَ كُمْ فِي
حَرَامٍ
“Sesungguhnya Allah tidak menjadikan kesembuhan (dari penyakit)
kalian pada apa-apa yang haram.” [HR Abu Ya’la (no. 6930) dan Ibnu Hibban (no.
1397 – Mawaarid), dari Ummu Salamah Radhiyallahu’anha). Lihat Shahih
Mawaaridizh Zhamaan (no. 1172)] (Lihat Hikmah di Balik Musibah dan Ruqyah
Syar’iyyah ; Yazid bin Abdul Qadir Jawas, (hlm 40-42 cet Ke-4) Pustaka Imam
Syafi’i Jakarta)
8. Berdo'a dan Berzikir
Allah
‘Azza wa Jalla berfirman :
وَقَالَ رَبُّكُمُ
ٱدْعُونِىٓ أَسْتَجِبْ لَكُمْۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِى
سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ
“Dan Tuhanmu berfirman, “Berdoalah
kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang
sombong tidak mau menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina
dina.” [Ghafir/40: 60]
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :“Doa
adalah ibadah, Rabb kalian berfirman : ‘Berdoalah kamu kepada-Ku, niscaya akan
Aku perkenankan bagimu.’ (Al-Mu’min/40 : 60) [HR Abu Dawud (no.1479), at-Tirmidzi
(no.3247), Ibnu Majah (no. 3828]
Allah ‘Azza wa Jalla berfirman :
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِى عَنِّى فَإِنِّى قَرِيبٌۖ أُجِيبُ
دَعْوَةَ ٱلدَّاعِ إِذَا دَعَانِۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا۟ لِى وَلْيُؤْمِنُوا۟ بِى
لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya
kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku Kabulkan
permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka itu
memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka memperoleh
kebenaran.” [Al-Baqarah/2 : 186]
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda:
إِنَّ الدُّعاءَ يَـنْـفَعُ مِمَّا نَـزَلَ
ومِمَّا لمْ يَنْزِلْ، فَـعَـلَـيكُم عِبادَ اللهِ بالدُّعاءِ. رواه الترمذي وغيره
“Doa bermanfaat terhadap apa yang sudah menimpa dan/atau yang belum menimpa.
Karena itulah, wahai sekalian hamba Allah, hendaknya kalian berdoa.” [HR
At-Tirmidzi (no. 3548) & al-Hakim (I/493) dari Abdullah bin Umar
Radhiyallahu ‘anhuma. Lihat Shahih al-Jami’ish Shaghir (no. 3409), dan
Hidayatur Ruwat (no. 2175] (Lihat Do’a & Wirid ; Yazid bin Abdul Qadir
Jawas,(hlm42-43-cet. Ke-34) Pustaka Imam Syafi’i Jakarta).
Baca Dzikir Pagi dan
Petang. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Barangsiapa membacanya
tiga kali ketika pagi dan sore, maka tidak ada yang membahayakan dirinya:
بِسْمِ اللَّهِ الَّذِي لَا يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ فِي
الأَرْضِ وَلا فِي السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
“Dengan menyebut nama
Allah, yang dengan nama-Nya tidak ada sesuatu pun yang akan membahayakan, baik
di bumi maupun langit. Dialah Yang Maha Mendengar dan Yang Maha Mengetahui.”
[HR At-Tirmidzi (no. 3388), Abu Dawud (no. 5088), Ibnu Majah (no.3869),
al-Hakim (I/514), dari Utsman bin Affan Radhiyallahu ‘anhu]. (Lihat Do’a &
Wirid ; Yazid bin Abdul Qadir Jawas, (hlm 169-cet. Ke-34) Pustaka Imam Syafi’i
Jakarta)
اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ
وَالْعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ، اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ
الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي دِيْنِيْ وَدُنْيَايَ وَأَهْلِيْ وَمَالِيْ
اللَّهُمَّ اسْتُرْ عَوْرَاتِى وَآمِنْ رَوْعَاتِى. اَللَّهُمَّ احْفَظْنِيْ مِنْ
بَيْنِ يَدَيَّ، وَمِنْ خَلْفِيْ، وَعَنْ يَمِيْنِيْ وَعَنْ شِمَالِيْ، وَمِنْ
فَوْقِيْ، وَأَعُوْذُ بِعَظَمَتِكَ أَنْ أُغْتَالَ مِنْ تَحْتِيْ.
“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon maaf (ampunan) dan keselamatan di dunia dan
akhirat. Ya Allah, sesungguhnya aku memohon maaf (ampunan) dan keselamatan
dalam agama, dunia, keluarga dan hartaku. Ya Allah, tutupilaha uratku (aib
ataupun sesuatu yang tidak layak dilihat orang) dan tenteramkanlah aku
dari rasa takut. Ya Allah, peliharalah aku dari depan, belakang, kanan, kiri
dan dari atasku. Aku berlindung dengan kebesaran-Mu, agar aku tidak disambar
dari bawahku (aku berlindung dari dibenamkan kedalam bumi).” [HR Al-Bukhari
dalam al-Adabul Mufrad (no. 1200), Abu Dawud (no. 5074), an-Nasai (VIII/282)
dan IbnuMajah (no. 3871), al-Hakim (I/517-518), dari Abdullah bin Umar
radhiyallahu’anhuma]. (Lihat Do’a & Wirid ; Yazid bin Abdul Qadir
Jawas,(hlm 167-cet. Ke-34) Pustaka Imam Syafi’i Jakarta)
Baca Do’a-Do’a yang
diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam agar terhindar dari
berbagai macam penyakit yang buruk.
اللَّهُمَّ
جَنِّبْنِي مُنْكَرَاتِ اَلْأَخلاَقِ وَالْأَهْوَاءِ، وَالْأَعْمَالِ،
وَالْأَدْوَاءِ
“Ya Allah, jauhkan aku dari berbagai macam kemungkaran akhlak,
hawa nafsu, dan amal perbuatan, serta segala macam penyakit.” [HR Ibnu Hibban
(no. 956 – at-Ta’liqatul Hisan), al-Hakim (I/532) dan dia menyatakan “Shahih
menurut syarat Muslim.”Dishahihkan oleh al-Hakim dan disepakati oleh
adz-Dzahabi. Lihat Shahih al-Adzkar (1187/938] (Lihat Do’a & Wirid ; Yazid
bin Abdul Qadir Jawas, (hlm 303-cet. Ke-34) Pustaka Imam Syafi’i Jakarta)
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْبَرَصِ، وَالْجُنُونِ،
وَالْجُذَامِ، وَمِنْ سَيِّئِ الأَسْقَامِ
“Ya Allah,
sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari penyakit belang, gila, lepra dan
keburukan segala macam penyakit.” [HR Abu Dawud (no. 1554), an-Nasai
(VIII/270), Ahmad (III/192) & IbnuHibban (no. 1013 -at-Ta’liqatul Hisan)
dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu. Lihat Shahih al-Jami’ish Shaghir (no.
1281] (Lihat Do’a & Wirid ; Yazid bin Abdul Qadir Jawas, (hlm 304-cet.
Ke-34) Pustaka Imam Syafi’i Jakarta)
Dianjurkan makan Kurma Ajwa 7 butir, agar
terhindar dari sihir dan racun Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda :
مَنِاصْطَبَحَ بِسَبْعِ تَمَرَاتٍ عَجْوَةً
لَمْ يَضُرَّهُ ذَلِكَ الْيَوْمَ سُمٌّ وَلاَ سِحْرٌ
“Barang siapa di pagi
hari makan tujuh buah kurma ‘Ajwa (kurma Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam)
maka dia tidak akan terkena racun atau sihir.” [HR Al-Bukhari (no. 5769, 5779)
& Muslim (no. 2047 (155)).
Dari Sa’d bin Abi Waqqash Radhiyallahu ‘anhu,
lafazh ini milik al-Bukhari] (Lihat Hikmah di Balik Musibah dan Ruqyah
Syar’iyyah ; Yazid bin Abdul Qadir Jawas, (hlm 74-cet. Ke-4) Pustaka Imam
Syafi’i Jakarta) Meminum air Zamzam Hadits Jabir Radhiyallahu ‘anhu yang marfu’:
مَاءُ زَمْزَمَ لِمَا شُرِبَ لَهُ
“Air Zamzam tergantung kepadat ujuan diminumnya.” [HR Ahmad
(III/357,372), Ibnu Majah (no. 3062), dan selainnya dari Jabir bin ‘Abdillah
Radhiyallahu ‘anhuma. Lihat Irwaa-ul Ghaliil (IV/320)] (Lihat Hikmah di Balik
Musibah dan Ruqyah Syar’iyyah; Yazid bin Abdul Qadir Jawas, (hlm 109, cet
Ke-4), Pustaka Imama Syafi’i Jakarta) Pengobatan dengan madu dan habbatussawda
9. Seorang Mukmin dalam menghadapi musibah dengan sabar.
Allah Ta’ala menciptakan makhluk-Nya
untuk memberikan cobaan dan ujian, lalu Allah menuntut konsekuensi dari
kesenangan, yaitu bersyukur dan konsekuensi dari kesusahan, yaitu sabar. Hal
ini tidak bisa terjadi kecuali jika Allah membalikkan berbagai keadaan manusia
sehingga peribadahan manusia kepada Allah menjadi jelas. Ada beberapa dalil
yang menunjukkan bahwa musibah, penderitaan, penyakit serta kematian itu
merupakan hal yang lazim bagi manusia. Dan semua itu pasti menimpa mereka,
untuk mewujudkan peribadahan kepada Allah. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ
وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ
الصَّابِرِينَ ﴿١٥٥﴾ الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا
لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ ﴿١٥٦﴾ أُولَٰئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ
رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ
“Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan,
kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada
orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah,
mereka berkata “Inna lillahi wainna ilaihiraji‘un” (sesungguhnya kami milik
Allah dan kepada-Nyalah kami kembali). Mereka itulah yang memperoleh ampunan
dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat
petunjuk.” [Al-Baqarah/2 : 155-157]
Jika seseorang benar-benar beriman, maka
segala urusannya merupakan kebaikan. Jika ia mendapat kesenangan, ia bersyukur
dan ketika susah, ia bersabar. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda :
عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ
كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ
سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ
خَيْرًا لَهُ
“Sungguh menakjubkan urusan orang Mukmin, sesungguhnya semua
urusannya merupakan kebaikan, dan hal ini tidak terjadi kecuali bagi orang
Mukmin. Jika dia mendapat kegembiraan, maka dia bersyukur dan itu merupakan
kebaikan baginya, dan jika mendapat kesusahan, maka dia bersabar dan itu
merupakan kebaikan baginya.” [HR Muslim (no. 2999).
Dari Shuhaib
Radhiyallahu’anhu] (Lihat Hikmah di Balik Musibah dan Ruqyah Syar’iyyah; Yazid
bin Abdul Qadir Jawas; (hlm 7 cet Ke-4, Pustaka Imama Syafi’i Jakarta)
Sesungguhnya tidak ada yang bisa menenangkan hati kita ketika mendapatkan
musibah atau adanya bencana, wabah dan lainnya kecuali sabar. Setiap cobaan
dihadapi dengan sabar, wajib sabar terhadap takdir Allah yang pahit ini.
10. Bertaubat kepada Allah dari segala dosa.
Sebagaimana sudah penulis jelaskan di atas, bahwa semua
bencana, musibah, penyakit, wabah virus Corona, malapetaka, dan lainnya,
disebabkan karena perbuatan dosa-dosa manusia, dengan sebab perbuatan dosa, maksiat,
dan kedurhakaan manusia kepada Allah. Obatnya adalah taubat kepada Allah. Ali
bin Abi Thalib Radiyallahu ‘anhu berkata:
مَانَزَلَ
بَلَاءٌ إِلَّا بِذَنْبٍ وَلَا رُفِعَ إِلَّا بِتَوْبَةٍ
“Tidaklah Allah
menurunkan bala’ (bencana, wabah penyakit) disebabkan perbuatan dosa, dan
tidaklah diangkat bala’ (bencana, wabah penyakit) tersebut kecuali dengan
bertaubat (kepada Allah).” [ad-Daa’ wad Dawa’ (hlm 113-cet. Ke-2. 1430 H),
karya Imam Ibnul Qayyim rahimahullah, tahqiq dan takhrij Syaikh Ali Hasan bin Ali
bin Abdul Hamid al-Halabi) Oleh karena itu kepada seluruh kaum Muslimin
segeralah bertaubat kepada Allah. Mudah-mudahan Allah angkat wabah ini dari
negeri-negeri kaum Muslimin. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman :
وَتُوبُوٓا۟ إِلَى ٱللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ ٱلْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ
تُفْلِحُونَ
“…Dan bertobatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang orang
yang beriman, agar kamu beruntung.” [An-Nur/24 : 31]
Allah ‘Azza wa Jalla
berfirman:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟
تُوبُوٓا۟ إِلَى ٱللَّهِ تَوْبَةً نَّصُوحًا
“Wahai orang-orang
yang beriman! Bertobatlah kepada Allah dengan tobat yang semurni-murninya…”
[At-Tahrim/66: 8]
Tegakkan Shalat yang lima waktu, kerjakan sahalat-shalat
sunnah. Allah Ta’ala berfirman:
اِنَّمَا يَعْمُرُ
مَسٰجِدَ اللّٰهِ مَنْ اٰمَنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ وَاَقَامَ
الصَّلٰوةَ وَاٰتَى الزَّكٰوةَ وَلَمْ يَخْشَ اِلَّا اللّٰهَ ۗفَعَسٰٓى
اُولٰۤىِٕكَ اَنْ يَّكُوْنُوْا مِنَ الْمُهْتَدِيْنَ
“Sesungguhnya yang
memakmurkan mesjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari
kemudian, serta (tetap) melaksanakan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut
(kepada apa pun) kecuali kepada Allah. Maka mudah-mudahan mereka termasuk
orang-orang yang mendapat petunjuk.”[At-Taubah/9: 18]
Perbanyak istigfar,
bertasbih, memuji Allah, berdzikir, melakukan amal-amal sholeh, perbanyak
sedekah, shalawat kepada Rasulullah Shalllahu alaihi wa sallam. wajib meyakini bahwa kita pasti akan mati dan pasti kembali kepada Allah
Subhanahu wa Ta’ala, dan kita akan dibalas oleh Allah tergantung dari amal-amal
yang kita kerjakan.
Semoga kita dapat mengambil pelajaran dari apa yang terjadi
saat ini, agar kita semuanya kembali kepada Allah, meminta ampunan atas
dosa-dosa. Kita wajib menjalankan perintah-perintah Allah dan menjauhi
larangan-larangan-Nya. Jangan tinggalkan shalat yang lima waktu dan harus kita
ingat, bahwa Allah Ta’ala itu sangat sayang kepada hamba-hambanya. Karena itu,
kita harus terus berdo’a kepada Allah, agar Allah Ta’ala menghindarkan kita
dari berbagai macam wabah, bencana, dan malapetaka. Ingat ketika Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut tha’uun, beliau mengatakan bahwa itu
adalah Rahmat bagi kaum Mukminin. Ingat bahwa setiap wabah itu tidak lama, in
syaa Allah sebentar lagi akan diangkat oleh Allah Ta’ala. Jangan panik,
ketakutan, gelisah. Kita wajib husnuzzhan (berbaik sangka) kepada Allah. Apa
yang Allah takdirkan itu yang terbaik bagi kita dan Allah Maha Mengetahui, Maha
Bijaksana, Maha Kasih dan Sayang kepada kaum Mukminin. Jangan bersedih dengan
musibah ini, Allah sayang kepada kita, semua pasti ada hikmahnya. Yang jelas
kalau kita sabar dan ridha, musibah-musibah itu akan menggugurkan dan menghapus
dosa-dosa kita, sehingga nanti di akhirat akan ringan hisab kita. Dan
mudah-mudahan Allah masukkan kita kedalam Sorga-Nya. Aamin ya Rabbal ‘Alamiin.
Mudah-mudahan Shalawat dan Salam dicurahkan kepada Nabi kita Muhammad
Rasulullah shollallahu alaihi wa sallam. Wallahu A’lamu bis Shawaab Yazid bin
Abdul Qadir Jawas Sabtu, 3 Sya’ban 1441 H/ 28 Maret 2020
0 Response to "Sikap Seorang Muslim Terhadap Wabah"
Post a Comment