Batang tumbuhan merupakan salah satu organ yang sangat penting, terutama bagi tumbuhan yang tumbuh di darat dan sering disebut dengan tumbuhan darat. Batang berfungsi sebagai penunjang tumbuh tubuh tumbuhan untuk tetap berdiri tegak dan melakukan aktivitasnya sebagai mana mestinya karena proses pengambilan makanan yang diperlukan tumbuhan salah satunya melalui batang. Batang mempunyai nama ilmiah caulis. Struktur ini merupakan struktur pokok tumbuhan yang tidak kalah penting dari daun. Batang berfungsi memperkokoh berdirinya tumbuhan, selain fungsi lainnya sebagai jalur transportasi air dan unsure hara tumbuhan, dari akar ke daun. Sifat-sifat umum batang yang dapat dikatakan sebagai karakteristik, antara lain adalah tumbuh selalu ke atas daun dan menjauhi pusat bumi. Istilah ini dikenal sebagai fototrofi positif dan geotrofi negatif. Selain itu, batang biasanya berwarna coklat. Batang memiliki bentuk yang beragam, walaupun pada umumnya berbentuk bulat (Rosanti, 2011).

Pada batang terdapat buku-buku
yang dikenal dengan nama ilmiah nodus. Pada buku inilah daun
melekat. Jarak antara dua buku dinamakan ruas. Ruas dikenal dengan nama
ilmiah internodus. Pada tumbuhan monokotil, biasanya buku-buku
batang terlihat dengan jelas, seperti pada batang tebu, jagung, dan
rumput-rumputan. Sedangkan pada tumbuhan dikotil, buku-buku batang
kadang-kadang tidak terlihat, tetapi hanya berupa tonjolan-tonjolan, tempat
tangkai daun melekat, sehingga bila tangkai daun lepas, akan meninggalkan bekas
pada batang. Batang merupakan organ tumbuhan yang tak kalah penting dengan akar
dan daun. Kedudukan batang bagi tumbuhan dapat disamakan denga rangka pada
manusia dan hewan. Dengan kata lain, batang merupakan sumbu tubuh tumbuhan. Batang
mempunyai fungsi utama sebagai jalur transportasi air dan zat-zat hara dari
akar ke daun dan sebaliknya. Selain itu, batang mendukung bagian-bagian
tumbuhan yang ada di atas tanah, yaitu daun, bunga, dan buah. Melalui
percabangannya, batang dapat memperluas bidang asimilaasi. Pada beberapa
tumbuhan, batang berfungsi sebagai tempat penimbunan zat-zat makanan cadangan.
Pada umumnya batang tidak berwarna hijau, kecuali tumbuhan yang umurnya pendek.
Misalnya rumput dan waktu batang masih muda. Batang selalu bertambah panjang
ujungnya. Pertumbuhan batang ditandai dengan adanya percabangan. Karena batang
memiliki struktur yang cukup kompleks, dalam mengamati batang suatu tumbuhan,
ada beberapa hal penting yang menjadi fokus pengamatan, misalnya bentuk, cabang-cabang,
arah tumbuhan dan sebagainya (Rosanti, 2011).
Fungsi transportasi zat mampu
dilakukan batang karena adanya struktur jaringan-jaringan pembuluh, yaitu
pembuluh kayu (xilem) dan pembuluh tapis (floem). Secara anatomis, xilem
tersusun oleh sel-sel panjang berupa trakeid dan unsur pembuluh. Trakeid adalah
sel panjang dan tipis dengan ujung runcing. Unsur pembuluh biasanya lebih
lebar, pendek, dinding selnya lebih tipis, dan kurang runcing. Floem dibentuk
oleh rangkaian sel yang disebut anggota pembuluh tapis. Dinding ujung antara
anggota pembuluh tapis disebut lempengan tapis yang memiliki pori sehingga
cairan mengalir dengan mudah dari sel ke sel sepanjang pembuluh itu. Jaringan
pembuluh xilem dan floem sama-sama terdapat pada tumbuhan monokotil dan dikotil.
Tumbuhan monokotil dan dikotil memiliki tipe pembuluh batang berbeda. Perbedaan
itu terdapat pada susunan jaringan-jaringan pembuluhnya. Susunan jaringan
pembuluh pada monokotil tersebar secara kompleks, sedangkan pada dikotil
tersusun ‘rapi’ berbentuk lingkaran. Secara anatomis, struktur batang tersusun
atas lapisan-lapisan jaringan. Lapisan paling luar adalah epidermis sebagai
jaringan pelindung dan dibawahnya terdapat korteks sebagai jaringan penyokong.
Korteks hanya ditemukan pada tumbuhan dikotil. Lapisan terdalam adalah empulur
yang tersusun oleh sel-sel dewasa dan kuat sebagai dasar pembentuk batang.
Dalam praktikum ini tentu banyak sekali manfaatnya bagi praktikan diantaranya adalah dapat menbedakan dapat mengetahui fungsi batang bagi tumbuhan, bagian-bagian batang sifat-sifat batang, jenis-jenis batang, bentuk batang, arah tumbuh batang dan percabangan batang.
Tujuan Praktikum
Adapun tujuan dari pembuatan laporan praktikum yang telah dilakukan
ini adalah:
1. Mengenal dan memahami beberapa sifat umum batang.
2. Mengetahui jenis-jenis batang.
3. Mengetahui struktur dan morfologi batang.
Manfaat Praktikum
1. Mahasiswa lebih mengenal dan memahami beberapa sifat umum pada
batang.
2. Mahasiswa lebih mengenal mengetahui jenis-jenis batang.
3. Mahasiswa lebih mengenal mengetahui struktur dan morfologi batang.
BATANG (Caulis)
I. Tujuan
Tujuan praktikum tentang batang
adalah untuk mengenal semua jenis batang pada yang ada pada dunia tumbuhan
II. Dasar Teori
Batang ialah bagian utama tumbuhan yang terdapat di atas tanah dan juga yang mendukung bagian-bagian lain dari suatu tumbuhan(Pohon), yaitu daun, bunga dan juga buah. Oleh sebab itu, batang tersebut mempunyai struktur yang lebih kompleks daripada akar pohon tersebut. Batang tersebut mempunyai ruas dan juga antar ruas. pada ruas tersebut akan muncul bunga atau juga tunas daun. Letak pada cabang-cabang dalam batang tersebut berguna untuk menempatkan daun dalam posisi yang dapat memungkinkan daun mendapat cahaya matahari dalam suatu proses fotosintesis. Pada dasarnya, bentuk penampang melintang batang tersebut menurut (Tjitrosoepomo, 1985) dibedakan menjadi tiga yakni bulat, persegi, dan juga pipih. Batang tumbuhan yang berbentuk bulat tersebut, misalnya ialah pada tumbuhan bambu dan juga kelapa. Batang yang berbentuk segi empat tersebut, misalnya ialah pada tumbuhan iler dan juga pohon markisa. Batang yang segitiga tersebut, misalnya ialah pada tumbuhan rumput teki. Batang berbentuk pipih, misalnya ialah pada pohon kaktus.
2.1.
Sifat-sifat Batang Batang.
Jika kita membandingkan berbagai jenis tumbuhan ada di antaranya yang jelas kelihatan batangnya, tetapi ada pula yang tampaknya tidak berbatang. Oleh sebab itu kita membedakan (Tjitrosoepomo, 1985). Batang tumbuhan dapat dibedakan seperti berikut :
- Batang basah (herbaceus), yaitu batang yang lunak dan berair, misalnya pada bayam (Amaranthus spinosus L), krokot (Portulaca oleracea L).
- Batang berkayu (lignosus), yaitu batang yang disusun oleh jaringan linin. Batang berkayu dmiliki oleh tumbuh-tumbuhan yang berkelas dikotil (Rosanti, 2011). Batang yang biasa keras dan kuat, karena sebagian besar terdiri atas kayu, yang terdapat pada pohon-pohon (arbores) dan semak-semak (frutices) pada umumnya.
- Batang rumput (calmus), yaitu batang yang tidak keras, mempunyai ruas-ruas yang nyata dan seringkali berongga, misalnya pada padi (Oryza sativa L), dan rumput (Gramineae) pada umunya.
- Batang mendong (calamus), seperti batang rumput, tetapi mempunyai ruas-ruas yang lebih panjang. Misalnya pada mending (Fimbristylis globulosa Kunth), wlingi (Scirpus grassus L) dan tumbuhan seabngsa teki (Cryperaceae) lainnya (Tjitrosoepomo, 1983).
Bentuk
batang pada umumnya bulat. Meskipun demikian, beberapa tumbuhan memiliki bentuk
batang yang tidak bulat. Bentuk batang menjadi kunci dalam determinasi dan
mengklasifikasi tumbuhan (Rosianti, 2011). Pada tumbuhan biji belah
(Dicotyledonae) pada umumnya mempunyai batang yang di bagian bawahnya lebih
besar dan ke ujung semakin mengecil, jadi batangnya dapat dipandang sebagai
suatu kerucut atau limas yang amat memanjang, yang dapat mempunyai percabangan
atau tidak. Sedangkan tumbuhan biji tunggal (Monocotyledonae) mempunyai batang
yang dari pangkal sampai ke ujung boleh dikatakan tak ada perbedaan sama besarnya.
Hanya pada beberapa golongan saja yang pangkalnya tampak membesar, tetapi
selanjutnya ke atas tetap sama, seperti terlihat pada semacam-macam palma (Palmae)
(Rosianti, 2011). Jika berbicara bentuk batang biasanya yang dimaksud ialah
bentuk batang pada penampang melintangnya ini dapat dibedakan bermacam-macam
bentuk batang, antara lain (Rosianti, 2011):
a. Bulat
(teres), misalnya bamboo (Bambusa sp), kelapa (Cocos nucifera L).
b. Bersegi (angularis), dalam hal ini ada kemungkinan :
1) Bangun segitiga (triangularis), misalnya batang teki (Cyperus rontundus).
2) Segi empat (quadangularis), misalnya batang markisah (Passiflora quadangularis L), iler (Coleus scutellarioides Benth).
c. Pipih
dan biasanya lalu melebar menyerupai daun dan mengambil alih tugas daun pula. Batang
yang bersifat demikian dinamakan :
1) Fitokladia
(phyllocladium), jika amat pipih dan mempunyai pertumbuhan yang
terbatas, misalnya pada jakang (Muehlenbeckia platyclada Meissn).
2) Kladodia
(cladodium), jika masih tumbuh terus dan mengadakan percabangan,
misalnya sebangsa kaktus (Opuntia vulgaris Mill) (Tjitrosoepomo,
1983).
Dilihat dari permukaannya batang tumbuh-tumbuhan juga memperlihatkan sifat yang bermacam-macam, yaitu (Rosianti, 2011):
- Licin (laevis), misalnya batang jagung (Zea mays L).
- Berusuk (costatus), jika pada permukaannya terdapat rigi-rigi yang membujur, misalnya iler (Coleus scutellariodes).
- Beralur (sulcatus), jika pada arah membujur batang terdapat alur-alur yang jelas, misalnya pada Cereus peruvianus.
- Bersayap (alatus), biasanya terdapat pada batang yang bersegi, tetapi pada sudur-sudutnya terdapaat pelebaran yang tipis, misalnya pada batang gadung (Dioscorea alata) dan markisa (Passiflora quadragularis)
- Berambut (pilosus), seperti misalnya pada tembakau (Nicotiana tabacuim).
- Berduri (spinosus), misalnya pada mawar (Rosa sp).
- Memperlihatkan bekas-bekas daun, misalnya pada papaya (Carica papaya) dan kelapa (Cocos nucifera).
- Memperlihatkan bekas-bekas daun penumpu, misalnya nangka (Artocarpus integra), kluwih (Artocarpus communis), dan sebagainya.
- Memperlihatkan lensitel, misalnya pada sengon (Albizia stipulata).
- Keadaan-keadaan lain, misalnya lepasnya kerak (bagian kulit yang mati) seperti terlihat pada jambu biji (Psidium guajava) dan pohon kayu putih (Melaleuca leucadendrom).
Menurut
Rosanti (2011), walaupun batang umumnya tumbuh kea rah cahaya, menjauhi tanah
dan air, tetapi arahnya dapat memperlihatkan beberapa variasi, sehingga arah
tumbuh batang dibedakan menjadi :
a. Tegak lurus (erectus), yaitu arahnya
lurus ke atas. Batang tegak lurus biasanya tidak bercabang, misalnya papaya (Carica papaya L),
kelapa (Cocos nucifera) dan beberapa jenis cemara. Contoh
batang tegak lurus dapat dilihat pada gamabr di bawah ini :
b. Menggantung
(dependens, pendulus). Batang seperti ini hanya dimiliki
oleh tumbuh-tumbuhan yang tumbuhnya di lereng-lereng atau tepi jurang, misalnya
Zebrina pendula atau tumbuh-tumbuhan yang hidup di atas pohon sebagai epifit
misalnya jenis anggrek (Orchidaceae) tertentu. Contoh batang menggantung
ditunjukkan pada gambar di bawah ini :
c. Berbaring
(hemifusus). Batang ini terletak pada permukaan tanah, hanya ujungnya
saja yang sedikit membengkok ke ataas, misalnya semangka (Citrullus vulagris Schrad).
Kadang-kadang batang berbaring diberikan penunjang dari kayu, kawat atau besi
agar bisa tumbuh ke atas. Contoh batang berbaring dapat dilihat pada gambar di
bawah ini :
d. Menjalar
atau merayap (repens). Batang menjalar hampir mirip dengan batang
berbaring. Yang membedakan terletak dari buku-bukunya yang mengeluarkan akar,
sehingga dapat tumbuh menjadi tunas. Batang menjalar dapat ditemukan pada
kangkung (Ipomoea crasicaulis), ubi jalar (Ipomoea batatas)
dan sebagainnya.
e. Serong
ke atas atau condong (ascendens), pangkal batang seperti hendak
berbaring, tetapi bagian lainnya lalu membelok ke atas, misalnya pada kacang
tanah (Arachis hypogaea). Contoh batang sorong ke atas dapat
dilihat pada gambar di bawah ini :
f. Mengangguk
(nutans). Batang ini tumbuh tegak lurus ke atas, tetapi ujungnya lalu
membengkok kembali ke bawah seperti mengangguk. Contoh batang mengangguk dapat
dilihat pada gambar bunga matahari (Helianthus annuus)di
bawah ini :
g. Memanjat
(scandens), yaitu jika batang tumbuh ke atas dengan menggunakan
penunjang. Penunjang dapat berupa benda mati ataupun tumbuhan lain, dan pada
waktu naik ke atas batang menggunakan alat-alat khusus untuk “berpegang” pada
penunjangnya ini, misalnya dengan (Tjitrosoepomo, 1983):
1) Alat
pelekat, contohnya sirih (Piper bettle L)
2) Akar
pembelit, misalnya panili (Vanilla planifolia Andr)
3) Cabang
pembelit (sulur dahan), misalnya anggur (Vitis vinifera L)
4) Daun
membelit atau sulur daun, misalnya kembang sungsang (Gloriosa superba L)
5) Tangkai
pembelit, misalnya pada kapri (Pisum sativum L)
6) Duri,
misalnya mawar (Rosa sp), bugenvil (Bougainvillea spectabillis Willd)
7) Duri
daun, misalnya rotan (Calamus caesius Bl)
8) Kait,
misalnya gambir (Uncaria gambir Roxr)
9) Membelit (volibillis). Jika batang naik ke atas dengan menggunakan penunjang seperti batang yang memanjat, akan tetapi tidak dipergunakan alat-alat yang khusus, melainnkan batangnya sendiri naik dengan melilit penunjangnya. Menurut arah melilitnya dibedakan lagi batang yang (Tjitrosoepomo, 1983):
a) Membelit
ke kiri (sinistrorsum volubillis). Jika dilihat dari atas
arah belitan berlawanan dengan arah putaran jarum jam. Dapat pula dikatakan
demikian, jika kita mengikuti jalannya kiri kita. Batang yang membelit ke kiri
misalnya pada kembang telang (Clitoria ternatea L).
b) Membelit ke kanan (dextrorsum volubillis). Jika arah belitan sama dengan arah gerakan jarum jam, atau jika kita mengikuti arah belitan, penunjang akan selalu di sebelah kanan kita. Batang tumbuhan yang membelit ke kanan tidak banyak ditemukan, contoh: gadung (Dioscorea hispida Dennst).
2.5. Percabangan
pada Batang.
Pertumbuhan batang dapat dilihat
dari percabangannya. Kebanyakan tumbuhan melakukan percabang, walaupun sedikit.
Batang yang tidak melakukan percabang kebanyakan dari golongan tumbuhan Monocotyledoneae,
misalnya jugang (Zea mays), bambu (Bambusa sp),
tebu (Saccharum officinarum), kelapa (Cocos nucifera)
dan sebagainya. Cara percabangan ada bermacam-macam, biasanya dibedakan tiga
macam cara percabangan, yaitu secara monopodial, simpodial, dan menggarpu. Cara
menentukan percabangan pada batang adalah dengan melihat posisi batang pokok
terhadap cabang-cabangnya (Rosanti, 2011).
Cara percabangan ada bermacam-macam,
biasanya dibedakan tiga macam cara percabangan, yaitu (Rosanti, 2011):
1) Percabangan secara monopodial,
jika batang pokok selalu tampak jelas. Ini disebabkan karena batang pokok lebih
besar dan lebih panjang (lebih cepat pertumbuhannya) daripada cabang-cabangnya,
misalnya cemara (Casuarina equisetifolia), kapus (Ceiba pentandra),
durian (Durio zibethinus), pinus (Pinus merkusii) dan
sebagainya.
2) Pada percabangan simpodial,
batang pokok sukar ditentukan. Hal ini disebabkan oleh batang pokok
menghentikan pertumbuhannya, sehingga pertumbuhan cabang lebih dominan. Dengan
kata lain pertumbuhan batang pokok kalah cepat dibandingkan dengan pertumbuhan
cabang, sehingga batang pokok hanya terlihat di bagian bawah saja, karena pada
bagian atas tumbuhan sudah merupakan cabang-cabang. Percabangan simpodial dapat
ditemukan pada sawo manila (Achras zapora), bugenvil (Bougenvillea
spectabillis), jeruk (Citrus sp) dan sebagainya.
3) Percabangan menggarpu atau dikotom, yaitu cara percabangan yang batang setiap kali menajdi dua cabang yang sama besarnya, misalnya paku andam (Gleichenia linearis Clarke) (Tjitrosoepomo, 1983).
2.5.1. Jenis-jenis
Percabangan.
Menurut
Tjitrosoepomo (1983), cabang yang besar yang biasanya langsung kelaur dari
batang pokok lazimnya disebut dahan (ramus), sedang cabang-cabang yang
kecil dinamakan ranting (ramulus). Cabang-cabang pada suatu tumbuhan
dapat bermacam-macam sifatnya, oleh sebab itu cabang-cabang dapat dibedakan
seperti di bawah ini :
a) Geragih
(flagellum stolon), yaitu cabang-cabang kecil panjang yang tumbuh
merayap, dan dari buku-bukunya ke atas keluar tunas baru dank e bawah tumbuh
akar-akar. Tunas pada buku-buku ini beserta akar-akarnya masing-masing dapar
terpisah merupakan suatu tumbuhan baru. Cabang yang demikian ini dibedakan lagi
dalam dua macam:
(1) Merayap
di atas tanah, misalnya pada daun kaki kuda (Centella asiatica Urb)
dan arbe (Fragraria vesca L).
(2) Merayap
di dalam tanah, misalnya teki (Cryperus rontundus L), kentang (Solanun
tuberosum L).
b) Wiwilan
atau tunas air (virga singularis), yaitu cabang yang biasanya tumbuh
cepat dengan ruas-ruas yang panjang, dan seringkali berasal dari kuncup yang
tidur atau kuncup-kuncup liar. Seringkali terdapat pada kopi (Coffea sp)
dan pohon coklat (Theobroma cacao L).
c) Sirung
panjang (virga), yaitu cabang-cabang yang biasanya merupakan pendukung
daun-daun, dan mempunyai ruas-ruas yang cukup panjang. Pada cabang-cabang
demikian ini tidak pernah dihasilkan bunga, oleh sebab itu sering pula cabang
yang mandul (steril).
d) Sirung pendek (virgule atau virgule sucrescens), yaitu cabang-cabang kecil dengan ruas-ruas yang pendek yang selain daun biasanya merupakan pendukung bunga dan buah. Cabang yang dapat menghasilkan alat perkembanganbiakan bagi tumbuhan ini disebut pula cabang yang subur (fertil).
2.6. Modifikasi Batang
1. Rimpang (Rhizoma)
Rimpang merupakan modifikasi dari batang. Rimpang sesungguhnya adalah batang sejati yang merambat di dalam tanah. Karena merupakan modifikasi dari batang, sifat-sifat batang juga nampak pada rimpang, seperti beruas-ruas, berbuku-buku, berdaun, tetapi daunnya telah menjelma menjadi sisik-sisik, mempunyai kuncup-kuncup, tumbuhnya ke pusat bumi atau air, kadang-kadang muncul di atas tanah (Tjitrosoepomo, 1989). Fungi rimpang antara lain adalah sebagai tempat penimbunan makanan. Selain itu rimpang berfungsi sebagai alat perkembangbiakan secara vegetatif. Biasanya rimpang yang ditanam akan segera tumbuh akar pada ruas-ruasnya dan tunas-tunas daun. Akar akan tumbuh sesuai dengan sifatnya yaitu menuju ke pusat bumi dan tunas-tunas daun akan muncul ke permukaan tanah (Rosanti, 2013).
2. Geragih (Stolon)
Pada beberapa tumbuhan,
batang tumbuh mendatar tidak di bawah permukaan tanah melainkan di atas
permukaan tanah (menjalar di permukaan tanah). Batang yang demikian itu disebur
stolon. Stolon memiliki struktur yang berbeda dengan rhizoma, ruas-ruas pada
stolon lebih panjang dan berdiamater lebih kecil. Pada setiap buku dari stolon
biasanya terdapat akar dan daun. Daun-daun pada stolon jarang sekali
termodifikasi menjadi sisik. Stolon berkembang dari kecambah ke arah radial,
kemudian memisahkan diri karena buku yang memiliki akar berbentuk tunas baru
atau teputus karena sebab mekanik. Misalnya pada tumbuhan enceng gondok (Eichornia
crassipes). Pola percabangan pada stolon dapat monopodial dan simpodial
(Sumardi, 1992).
3. Umbi Batang (Tuber)
Umbi merupakan modifikasi akar maupun batang. Umbi biasanya berbentuk bulat, karena merupakan struktur yang membengkak, seperti kerucut atau tidak beraturan. Umbi juga berfungsi sebagai tempat penimbunan makanan. Karena itu umbi dibedakan menjadi umbi batang dan umbi akar (Rosanti, 2013). Berbeda dengan rimpang, walaupun sama-sama merupakan modifikasi dari batang, umbi batang tidak memiliki ruas-ruas dan sisik seperti pada rimpang, karena strukturnya yang menggembung besar, sehingga permukaannya tampak licin. Karena itu umbi batang adalah penjelmaan batang masih terlihat dari terlihatnya kuncup-kuncup pada umbi ini, dan jika waktunya telah tiba dapat pula bertunas dan menghasilkan tumbuhan baru (Rosanti, 2013).
4. Umbi lapis (Bulbus)
Umbi lapis merupakan modifikasi batang dan daun. Karena memperlihatkan susunan yang berlapis-lapis, struktur ini disebut sebagai umbi lapis. Umbi lapis terdiri dari daun-daun yang telah menjadi tebal, lunak dan berdaging. Struktur umbi lapis terdiri dari cakram (discus), sisik (tunica), kuncup atau tunas (gemmae) dan akar serabut (Rosanti, 2013). Cakram merupakan batang yang sesungguhnya. Cakram berukuran kecil dengan ruas-ruas yang sangat pendek. Biasanya berbentuk tipis. Seperti halnya daun yang duduk pada batang, pada cakram terdapat kuncup-kuncup. Sisik merupakan struktur yang berlapis dan berdaging. Sisik berfungsi untuk menyimpan cadangan makanan. Sisik merupakan modifikasi daun yang mnejadi tebal, lunak dan berdaging (Rosanti, 2013).
Berdasarkan sifat dan bentuk, sisik pada umbi lapis dibedakan menjadi sisik yang berlapis dan sisik yang bersisik. Sisik yang berlapis (bulbus) berbentuk bagian yang lebar, dan yang lebih luar menyelubungi bagian yang dalam, hingga jika umbi diiris membujur akan jelas susunannya yang berlapis-lapis, misalnya umbi lapis bawang merah (Allium cepa) (Rosanti, 2013).
5. Sulur (Cirrhus)
Alat pembelit atau sulur
merupakan struktur yang terbentuk akibat modifikasi dari batang, daun mauapun
akar. Alat pemebelit biasanya berbentuk spiral, yang berfungsi untuk membelit
atau melilit benda-benda yang disentuhnya. Biasanya alat pemebelit berfungsi
untuk tumbuhan berpegangan saat tumbuhan berusaha mendapatkan penunjang untuk
memanjat ke atas. Oleh sebab itu, alat pembelit hanya ditemukan pada tumbuhan
yang memanjat ke atas (Rosanti, 2013).
Berdasarkan asal
modifikasinya, alat-alat pembelit dapat dibedakan menjadi (Tjitrosoepomo,
1989):
a. Cabang pembelit (sulur dahan)
Cabang pembelit ini
berasal dari cabang atau tunas daun, di mana pangkal tumbuhnya cabang pembelit
dapat dilihat ketiak daun atau berhadapan dengan daun, dan seringkali masih
mendukung daun-daun kecil. Cabang pembelit dapat ditemukan pada tumbuhan
markisa (Passiflora quadrangularis) (Tjitrosoepomo, 1989).
b. Daun pembelit
Daun pembelit adalah
alat pembelit yang biasanya merupakan modifikasi bagain daun, baik dari tangkai
daun, ujung daun, ujung tangkai daun pada daun majemuk, atau bagaian daun yang
lain. Dengan kata lain, daun pembelit tidak berasal dari seluruh bagain
tumbuhan. Daun pembelit dapat ditemukan pada kembang talang (Gloriosa
superba) (Tjitrosoepomo, 1989).
c. Akar pembelit
Akar pembelit adalah alat pembelit yang merupakan modifikasi akar. Akar pembelit berfungsi untuk melekatkan diri pada batang atau penunjang, saat tumbuhan akan memanjat. Akar pembelit dapat ditemukan pada vanili (Vanilla planof) (Tjitrosoepomo, 1989).
A. Bahan
1. Sawi (Brassica juncea)
2. Mangga (Mangifera indica)
3. Rumput teki (Kyllinga monocephala)
4. Tebu
B. Cara Kerja
1. Tuliskan nama ilmiah dan familia dari objek yang diamati
a) Sawi (Brassica juncea)
Sub Kingdom : TracheobinontaSuper Divisio : Spermatophyta
Divisio : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliophyta
Sub kelas : Dileniidae
Ordo : Capparales
Familia : Brassicaceae
Genus : Brassica
Spesies : Brassica juncea L.
b) Mangga (Mangifera indica)
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Sub Kelas : Rosidae
Ordo : Sapindales
Famili : Anacardiaceae
Genus : Mangifera
Spesies : Mangifera indica L.
c. Rumput teki (Kyllinga monocephala)
Kingdom : Plantae
Divisio : Spermatophyta
Subdivisio : Angiospermae
Kelas : Monocotyledoneae
Ordo : Cyperales
Family : Cyperaceae
Genus : Kyllinga
Spesies : Kyllinga monocephala R.
Kingdom : Plantae (tumbuhan)
Sub Kingdom : Tracheobionta (tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi : Spermatophyta (menghasilkan biji)
Divis : Magnoliophyta (tumbuhan berbunga)
Kelas : Liliopsida (berkeping satu /monokotil)
Sub Kelas : Commelinidae
Ordo : Poales
Famili : Graminae atau Poaceae (suku rumput-rumputan)
Genus : Saccharum
Spesies : Saccharum officinarum Linn
1. Gambarkan batang dari objek dan jelaskan karakteristiknya (Sifat batang, bentuk batang, permukaan batang, arah tumbuh batang dan tipe percabangan batangnya
Sawi (Brassica juncea)

2. Bentuk batang: batang pipih.
3. Permukaan batang: batang bersayap (alatus).
4. Arah tumbuh batangnya: serong ke atas atau condong (ascendes).
5. Bentuk percabangan: simpodial.
6. Arah tumbuh batang terkulai.
Mangga (Mangifera indica)

2. Bentuk batang: bulat (teres).
3. Permukaan batang: beralur (sulcatus).
4. Arah tumbuh batang: tegak lurus (erectus).
5. Bentuk percabangan: dikotomi atau menggarpu.
6. Arah tumbuh batang: condong ke atas (patens).
Rumput
teki (Kyllinga monocephala)

2. Bentuk batang: bersegi (angularis).
3. Permukaan batan: licin (laevis).
4. Arah tumbuh batang: tegak lurus (erectus).
5. Bentuk percabangan: monopodial.
6. Arah tumbuh batang: tegak lurus (fastigiatus).
Tebu

2. Bentuk batang: bulat
3. Permukaan batang: licin
4. Bentuk percabangan: monopodial
5. Warna batang : ungu
6. Arah tumbuh batang: tegak lurus
Hidayat, Estiti B. 1995. Anatomi Tumbuhan Berbiji. Bandung : ITB.
Mulyani, Sri. 2006. Anatomi Tumbuhan. Yogyakarta : KANISIUS (Anggota IKAPI)
Rosanti, Dewi. 2011. Morfologi Tumbuhan. Jakarta : Erlangga.
Tjitrosomo, Siti S. 1983. Botani Umum 1. Bandung :Angkasa.
Tjitrosoepomo, Gembong. 1985. Morfologi Tumbuhan. Yogyakarta: UGM Gadjah Mada University Press.
Hidajat, B. Estiti. 1994. Morfologi Tumbuhan. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Proyek Pendidikan Tenaga Guru: Bandung
Fahn, A.1991. Anatomi Tumbuhan. Universitas Gajah Madha. Yogyakarta.
Iserep, S. 1993. Struktur dan Perkembangan Tumbuhan. ITB. Bandung.
Subowo, 1992. Histologi Umum. Bumi Aksara. Jakarta.
Tjitrosoepomo, G. 1985. Morfologi Tumbuhan. Gajah Mada University. Yogyakarta.
Yekti, S. 1994. Biologi Umum. Erlangga. Jakarta.
0 Response to "Batang Tumbuhan dan Morfologinya"
Post a Comment