Al Khairan Tokoh pendidikan Indonesia | Al Khairan 286775737 -->

Iklan

Tokoh pendidikan Indonesia

Pembelajaran merupakan perihal yang sangat berarti untuk kemajuan sesuatu bangsa, karena mutu pada masyarakat negeri yang jadi memastikan ke mana negeri tersebut hendak dibawa. Selaku Negeri tumbuh, Indonesia sangat mengerti betul perihal itu. Karenanya pembelajaran di Indonesia juga jadi suatu yang tidak boleh kesampingkan, apalagi wajib diperjuangkan. Bicara tentang pembelajaran di Indonesia, pasti tidak terlepas dari jasa- jasa para tokoh pembelajaran Indonesia.

Berkat usaha-usaha para tokoh pembelajaran inilah, yang dulu sudah merintisnya dengan perjuangan yang sangat berat serta tidak memahami letih, kita dapat mengeyam kebebasan pembelajaran saat ini. Indonesia sendiri memiliki beberapa pahlawan nasional dalam bidang pembelajaran, siapa saja? 

Ki Hadjar Dewantara

Raden Mas Soewardi Soejaningrat atau yang dikenal dengan nama Ki Hadjar Dewantara adalah bapak pendidikan nasional yang lahir di Pakualaman pada 2 mei 1889 dan wafat pada 26 April 1959 di Yogyakarta. Beliau lahir dari keluarga kaya Indonesia selama era kolonialisme Belanda dan dikenal karena berani menentang kebijakan pendidikan pemerintah Hindia Belanda pada masa itu yang hanya memperbolehkan anak-anak kelahiran Belanda atau orang kaya yang bisa mengenyam bangku pendidikan.

Ia membangun sekolah bernama national onderwijs institute Tamansiswa yang kemudian dikenal dengan nama Taman Siswa pada 3 Juli 1922. Pasca kemerdekaan, Ki Hajar Dewantoro pernah ditunjuk sebagai Menteri Pengajaran Indonesia (sekarang Menteri Pendidikan). Ia juga dikenal dengan tiga semboyannya yaitu Ing Ngarsa Sung Tuladha ( di depan memberi contoh), Ing Madya Mangunkarsa (di tengah memberi semangat) dan Tut Wuri Handayani (di belakang memberi dorongan).

R.A Kartini

Raden Ajeng Kartini adalah salah satu tokoh pendidikan perempuan di Indonesia yang lahir pada 21 April 1879 dan wafat pada 17 September 1904. Kartini dikenal sebagai seorang tokoh Jawa dan Pahlawan Nasional Indonesia dan pelopor kebangkitan perempuan pribumi.

Kartini gemar membaca dan menulis. Tiada hari tanpa membaca semua buku termasuk surat kabar. Melalui hobinya ini, Kartini tertarik pada kemajuan berpikir wanita Eropa (Belanda yang waktu itu masih menjajah Indonesia). Timbul keinginannya untuk memajukan pendidikan di Indonesia, khususnya wanita Indonesia agar tak sekedar berada di dapur tetapi juga harus mempunyai ilmu.

Ia memulai dengan mengumpulkan teman-teman wanitanya untuk diajarkan tulis menulis dan ilmu pengetahuan lainnya. Ditengah kesibukannya, ia tidak berhenti membaca dan juga menulis surat dengan teman-temannya yang berada di negeri Belanda.

Pada surat-surat Kartini tertulis pemikiran-pemikirannya tentang kondisi sosial saat itu, terutama tentang kondisi perempuan pribumi. Sebagian besar surat-suratnya berisi keluhan dan gugatan khususnya menyangkut budaya di Jawa yang dipandang sebagai penghambat kemajuan perempuan

Kartini juga mendirikan sekolah bernama Kartini School atau Sekolah Kartini yang dikhususkan untuk perempuan dan didirikan oleh Yayasan Van Deventer di beberapa tempat untuk para siswa perempuan.

Dewi Sartika

Tokoh pendidikan Indonesia lainnya yang diberi gelar sebagai pahlawan pendidikan nasional adalah Dewi Sartika. Wanita kelahiran Cicalengka pada 4 Desember 1884 ini merupakan tokoh perintis pendidikan kaum wanita. Untuk memajukan pendidikan di Indonesia, pada 16 Januari 1904, ia membuat sekolah yang bernama Sekolah Isterio di Pendopo Kabupaten Bandung.

Sekolah tersebut kemudian direlokasi ke Jalan Ciguriang dan berubah nama menjadi Sekolah Kaoetamaan Isteri pada tahun 1910. Pada tahun 1912 sudah ada Sembilan sekolah yang tersebar di seluruh Jawa Barat, lalu berkembang menjadi satu sekolah tiap kota maupun kabupaten pada tahun 1920. Pada September 1929, sekolah tersebut berganti nama menjadi sekolah Raden Dewi.

Hasyim Asy’ari

Kyai Hasyim Asy’ari atau disebut juga Kyai Hasyim Ashari lahir di kabupaten Jombang, Jawa Timur pada 14 Februari 1871 dan wafat pada 21 Juli 1947 pada usia 76 tahun. Beliau merupakan pendiri salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia, Nahdatul Ulama (NU).

Beliau adalah pahlawan pendidikan yang berhasil mendirikan Pondok Pesantren Tebu Ireng di Jombang yang kemudian menjadi pesantren terbesar dan terpenting di Jawa pada abad 20. Kemudian pada tahun 1926 K.H Hasyim Asy’ari menjadi salah satu pemrakarsa berdirinya NU yang berarti kebangkitan para ulama.

Ahmad Dahlan

Ahmad Dahlan atau yang akrab dipanggil Kyai Dahlan adalah teman dari KH. Hasyim Asy’ari. Ia lahir di Yogyakarta pada 1 Agustus 1868 dan wafat pada 23 Februari 1923. Ia adalah seorang ulama dan khatib terkemuka di Masjid Besar Kasultanan Yogyakarta pada masa itu.

Pada tahun 1912 KH. Ahmad Dahlan pun mendirikan organisasi Muhammadiyah untuk melaksanakan cita-cita pembaruan Islam di Indonesia. Ia ingin mengadakan suatu pembaruan dalam cara berfikir dan beramal menurut tuntutan agama Islam.

Silahkan berlangganan al khairan dengan e-mail secara gratis:

0 Response to "Tokoh pendidikan Indonesia"

Post a Comment