Al Khairan Riwayat Hidup sang pencipta Indonesia Raya | Al Khairan 286775737 -->

Iklan

Riwayat Hidup sang pencipta Indonesia Raya

Wage Rudolf Supratman dilahirkan 9 Maret 1903 di Desa Somongari yang terletak sekitar 12 kilometer sebelah tenggara Kota Purworejo, Jawa Tengah. Ayahnya, Jumeno Senen Sastrosuharjo seorang serdadu KNIL berpangkat sersan, ibunya bernama Siti Senen. 

Pada malam kelahirannya, sang ayah memberinya nama Wage Supratman. Akan tetapi, pada umur sebelas tahun, nama Rudolf ditambahkan padanya supaya memudahkan Supratman masuk ke Europeesche Lagere School, Sekolah Dasar mayoritas anak-anak Belanda.

Pada 1914, Supratman mengikuti kakak sulungnya, Rukiyem ke Makassar. Di sana, ia bersekolah sampai ke taraf Normaalschool. Supratman lantas bekerja di kantor pengacara Belanda, kemudian sebagai guru Sekolah Angka 2 dan juga di kantor sebuah perusahaan dagang serta firma hukum. Semasa tinggal di Makassar bakat musiknya dikembangkan oleh kakak iparnya, suami Rukiyem yang berprofesi sebagai guru musik tentara kolonial. Sastromiarjo alias Willem Mauritius van Eldik, sang kakak ipar mengajarinya bermain biola.

Sepulangnya ke Pulau Jawa pada 1924, Supratman bekerja sebagai wartawan di Bandung dan Jakarta. Ia menyumbangkan artikel-artikel pelaporan suratkabar Kaoem Moeda, Kaoem Kita dan juga Sin Po. Pada masa-masa inilah ketertarikannya pada dunia pergerakan kebangsaan yang sudah muncul semasa ia di Makassar semakin menguat dan ia pun mulai bergaul dengan para tokohnya. Dalam suasana perjuangan kebangsaan, Supratman menciptakan sejumlah lagu-lagu perjuangan yang membangkitkan semangat patriotik. Gubahan pertamanya adalah sebuah lagu berjudul Dari Barat Sampai Ke Timur:

Dari Barat sampai ke Timur

Berjajar pulau-pulau

Sambung menyambung menjadi satu

Itulah Indonesia

 

Indonesia Tanah Airku

Aku berjanji padamu

Menjunjung Tanah Airku

Tanah Airku Indonesia


Lagu perjuangan yang diciptakan pada 1926 ini dari segi musik menyerupai lagu La Marseillaise, sebuah lagu perjuangan Revolusi Prancis yang kemudian diadopsi sebagai lagu kebangsaan Prancis.

Sekitar masa inilah Supratman membaca sebuah artikel di majalah "Timboel" terbitan Solo yang menantang para komponis Indonesia untuk menciptakan lagu kebangsaan Indonesia. Tantangan ini juga dibarengi dengan kabar yang tersiar dari Indonesische Clubgebouw yang menghendaki supaya segera diciptakan lagu kebangsaan Indonesia. Menjawab kebutuhan historis bangsa ini, Supratman menggubah lagu Indonesia Raya yang pada subjudulnya dengan terang tertulis “lagu kebangsaan”

Pada 8 September 1944, Panitia Lagu Kebangsaan menetapkan sejumlah perubahan kecil atas lagu Indonesia Raya dengan ketentuan umum: apabila dinyanyikan satu stanza saja, maka ulangannya dinyanyikan dua kali, sedangkan jika dinyanyikan tiga stanza, maka ulangannya dinyanyikan satu kali pada dua stanza pertama dan dua kali pada stanza ketiga. Pada 26 Juni 1958, dikeluarkanlah Peraturan Pemerintah No. 44 yang menetapkan gubahan, irama, nada dan tata tertib dalam membawakan lagu tersebut.

Kisah dikumandangkannya lagu Indonesia Raya dalam Kongres Pemuda II punya latar yang menarik. Sebagai wartawan koran Sin Po, Supratman pernah meliput Kongres Pemuda I yang diselenggarakan antara 30 April dan 2 Mei 1926. Ketika akan diselenggarakan Kongres Pemuda II yang nantinya menghasilkan Sumpah Pemuda, Supratman pun ditugasi meliputnya kembali.

Mula-mula, demi keperluan liputan, Supratman bertemu dengan Soegondo Djojopoespito, salah seorang tokoh muda dan kawan satu indekos Sukarno ketika di Surabaya. Dalam pertemuan itu, ia diminta Soegondo membawakan lagu Indonesia Raya dalam suatu acara di gedung Indonesische Clubgebouw, Jalan Kramat Raya 106. Acara inilah yang kemudian digelar sebagai Kongres Pemuda II. Pada malam 28 Oktober 1928, tepat sebelum putusan Kongres dibacakan, W.R. Supratman membawakan Indonesia Raya dalam gesekanbiola. Atas pertimbangan Soegondo, demi menghindari represi oleh agen-agen kolonial yang terus memantau keseluruhan acara, lagu itu pun sengaja tidak dinyanyikan.


Kiri: W.R. Supratman bersama adiknya.

Kanan: Berita mengenai W.R. Supratman di Koran Berita Buana.

(Sumber: Museum Sumpah Pemuda)

Pada 1930, lagu Indonesia Raya dilarang dinyanyikan di depan umum. Pemerintah kolonial menganggap lagu itu subversif dan mengganggu “ketenangan dan ketertiban” (rust en orde). Lagu tersebut dikhawatirkan dapat memicu semangat kemerdekaan atau pemberontakan terhadap pemerintah yang sah. Seiring dengan pelarangan lagu Indonesia Raya, Supratman pun ditangkap polisi dan diinterogasi badan intelijen kolonial (Politieke Inlichtingen Dients). Pelarangan tersebut memicu protes yang meluas sampai menjadi perdebatan keras di Volksraad.

Dalam menyuarakan cita-cita kemerdekaan, Supratman tak hanya berhenti pada gubahan musik. Ia juga menulis novel berjudul Perawan Desa yang ditulis dan diterbitkan pada 1929. Novel itu berkisah tentang kesengsaraan hidup di bawah kolonialisme yang dipotret melalui cerita para kuli kontrak di tanah perkebunan Deli, Sumatra Utara. Karena mengandung kritik atas pemerintah kolonial, novel itu pun disita dan dimusnahkan oleh aparat Belanda.

Selain menggubah Indonesia Raya, Dari Barat Sampai Ke Timur, serta sejumlah lagu mars pergerakan, W.R. Supratman juga mencipta Ibu Kita Kartini, yang terinspirasi dari liputannya atas Kongres Perempuan Indonesia I di Yogyakarta, 22-25 Desember 1928, dan Matahari Terbit. Lagu terakhir itu dianggap subversif oleh pemerintah kolonial dan menggiring Supratman dijebloskan ke penjara Kalisosok, Surabaya, pada Agustus 1938. Kelelahan fisik dan psikis membuat W.R. Supratman jatuh sakit dan akhirnya meninggal di Surabaya, Jawa Timur, pada 17 Agustus 1938. Pada detik-detik penghabisannya, ia menulis secarik surat wasiat (Rahman 2016: 34):

“Selamat tinggal tanah airku Tanah tumpah darahku Indonesia tanah berseri Tanah yang aku sayangi Selamat tinggal bangsaku!”


Biola W.R. Supratman

Seperti sebagian komponis besar dunia, W.R. Supratman menggubah seluruh komposisi musiknya dengan biola. Ia menggubah lagu Indonesia Raya, R.A. Kartini, dan seluruh karyanya dengan sebuah biola yang diberikan oleh Willem Mauritius van Eldik, kakak iparnya, pada 1914. Dengan biola inilah ia maju ke hadapan hadirin Kongres Pemuda Kedua dan membawakan untuk pertama kalinya sebuah komposisi musik instrumental yang kita kenal sebagai Indonesia Raya.


Biola W.R. Supratman memiliki dimensi dengan panjang badan 36 sentimeter, lebar badan pada bagian terlebar 20 sentimeter dan 11 sentimeter bagian tersempit, tebal tepian biola 4,1 sentimeter dan tebal bagian tengah 6 sentimeter. Biola ini terbuat dari tiga jenis kayu yaitu cyprus atau jati Belanda untuk papan depan, maple Italia untuk papan samping, papan belakang, leher dan kepala biola serta kayu eboni Afrika Selatan untuk bagian snare holder, penggulung senar, kriplang dan end pin.


Pada bagian dalam biola tertulis “Nicolaus Amatus Fecit in Cremona 16”. Biola ini dibeli van Eldik di sebuah toko alat musik Makassar pada 1914. Kemungkinan biola itu merupakan salinan dari model biola buatan Nicolo Amati, seorang pembuat biola terbaik dari keluarga Amati yang hidup di Cremona, Italia, pada abad ke-17. Berkat nama besarnya, model biola Nicolo Amati (atau Nicolaus Amatus dalam versi Latin namanya) banyak disalin di Jerman dan beberapa negara lain pada akhir abad ke-19. Salinan itulah yang kemungkinan dibeli van Eldik dan diberikan kepada W.R. Supratman.


Dengan​ biola inilah W.R. Supratman menjadi anggota Black and White Jazz Band di Makassar dan anggota orkes Gedung Societet Concordia di Bandung, pada 1924. Dengan biola inilah pula ia maju ke hadapan hadirin Kongres Pemuda Kedua dan membawakan untuk pertama kalinya sebuah komposisi musik instrumental yang kita kenal sebagai Indonesia Raya.


Sepeninggal W.R. Supratman, biola itu dirawat oleh kakaknya, Rukiyem, sebelum akhirnya diserahkan ke Museum Sumpah Pemuda pada 1974. Oleh pihak Museum, biola tersebut dirawat dengan perhatian khusus karena merupakan aset negara. Sesekali biola itu dibawa keluar untuk dimainkan pada acara-acara khusus, misalnya dimainkan oleh Idris Sardi pada peringatan Hari Sumpah Pemuda pada 2005 dan 2007. Sampai hari ini, biola Amatus W.R. Supratman itu disimpan dalam ruang penyimpanan tertutup Museum Sumpah Pemuda. Karena alasan keamanan, para pengunjung hanya diperbolehkan melihat replika dari biola tersebut di ruang pamer  

Disarikan dari:

Anthony C. Hutabarat. 2001. Wage Rudolf Supratman: Meluruskan Sejarah dan Riwayat Hidup Pencipta Lagu Kebangsaan Republik Indonesia “Indonesia Raya” dan Pahlawan Nasional. Jakarta: Gunung Mulia.


Bambang Sularto. 2012. Wage Rudolf Supratman. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Direktorat Sejarah dan Nilai Budaya.


Mirnawati.  2012.  Kumpulan  Pahlawan  Indonesia Terlengkap. Depok: Penerbit CIF.


Momon Abdul Rahman. 2016. Wage Rudolf Supratman: Sang Pencipta Lagu Kebangsaan Indonesia Raya. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Museum Sumpah Pemuda.


St. Sularto dan D. Rini Yunarti. 2010. Konflik Di Balik Proklamasi: BPUPKI, PPKI dan Kemerdekaan. Jakarta: Kompas.


http://www.si.edu/Encyclopedia_SI/nmah/amati.htm


http://www.antaranews.com/berita/461355/cerita-biola-wr-supratman

Silahkan berlangganan al khairan dengan e-mail secara gratis:

0 Response to " Riwayat Hidup sang pencipta Indonesia Raya"

Post a Comment