Tjokroaminoto merupakan anak kedua dari dua belas bersaudara anak dari R.M. Tjocroamiseno merupakan salah satu pejabat pemerintah saat itu.
Sang kakek yang bernama R.M. Adipati Tjokronegoro pernah menjabat sebagai Bupati Ponorogo. Tjokroaminoto merupakan salah satu tokoh pergerakan Nasional yang gigih. Ia juga memiliki beberapa murid diantaranya Soekarno, Musso dan Kartosuwiryo. Tapi pemikiran yang tak sejalan membuat ketiga orang muridnya ini berselisih paham. Kemudian pada tahun 1912 tepatnya pada bulan Mei, Tjokroaminoto bergabung dalam kepengurusan Organisasi Sarekat Islam.

Pemimpin Abadi Sarekat Islam Ilustrasi Tjokroaminoto. Tjokroaminoto memimpin Sarekat Islam (SI) sejak 1914 hingga wafatnya. Hadji Oemar Said (H.O.S) Tjokroaminoto adalah pahlawan nasional sekaligus pemimpin abadi Sarekat Islam (SI). Tjokroaminoto memimpin SI sejak 1914 hingga wafat pada 17 Desember 1934. Di bawah kendalinya, SI sempat menjadi salah satu organisasi massa terbesar dalam sejarah pergerakan nasional.
Profil Singkat
- Nama : Raden Hadji Oemar Said (HOS) Tjokroaminoto
- Lahir : Ponorogo, Jawa Timur, 16 Agustus 1882
- Meninggal : 17 Desember 1934, Yogyakarta
- Kebangsaan : Indonesia
- Agama : Islam
- Orang tua : RM. Tjokroaminoto
- Pasangan : Suharsikin
- Anak: 1. Siti Oetari, 2. Oetaryo Anwar Tjokroaminoto, 3. Harsono Tjokroaminoto, 4. Siti Islamiyah, 5. Ahmad Suyud
Darah Biru Lahir di Bakur, Madiun, Jawa Timur, tanggal 16 Agustus 1882. Ayahnya, R.M. Tjokroamiseno, adalah seorang wedana atau asisten bupati. Sedangkan sang kakek, R.M. Adipati Tjokronegoro, pernah menjadi Bupati Ponorogo. Lulus dari Opleiding School voor Inlandsche Ambtenaren (OSVIA) di Magelang. OSVIA adalah sekolah bagi calon abdi negara pemerintah kolonial Hindia Belanda.
Riwayat Pendidikan
Karena anak seorang pejabat pemerintahan maka sejak kecil Tjokroaminoto mulai mengenyam pendidikan di sekolah Belanda yang khusus diperuntukkan untuk orang Belanda dan para pejabat pemerintahan. Tjokroaminoto yang ditulis dalam buku Memoria Indonesia Bergerak diketahui bahwa Tjokroaminoto menyelesaikan pendidikannya di OSVIA (Opleiding School Voor Inlandsche Ambtenaren). Sekolah tersebut dikenal dengan Sekolah Administrasi Pemerintahan yang mencetak para pegawai-pegawai pemerintahan kolonial Belanda di Magelang pada tahun 1902.
Riwayat Pekerjaan
Setelah lulus dari OSVIA, Tjokroaminoto kemudian bekerja sebagai juru tulis patih di Ngawi. Tak lama kemudian ia diangkat sebagai pembantu utama Regen (Bupati) atau Patih di Ngawi. Disini ia melihat kesewenang-wenangan orang Belanda terhadap kaum pribumi. Sejak kecil ia sudah mengerti akan jiwa nasionalisme. Tjokroaminoto diketahui menikah dengan Raden Ajeng Soeharsikin. Ia merupakan puteri dari wakil bupati Ponorogo yang bernama Raden Mas Mangoensomo. Dari pernikahannya ini, ia dikaruniai anak bernama Siti Oetari dan Harsono Tjokroaminoto.
Pada bulan September tahun 1905, Tjokroaminoto berhenti dari jabatannya sebagai seorang Patih bagian dari pegawai Belanda. Alasannya ia tidak puas dengan pekerjaannya karena dianggap sebagai budak dihadapan orang belanda dan kesewenangan kaum Belanda terhadap kaum pribumi lainnya. Keputusannya ini ditentang oleh keluarga dan mertuanya yang mengingkannya menjadi seorang birokrat. Walaupun begitu dia tetap pada keputusannya. Tjokroaminoto kemudian pindah ke Surabaya. Disana ia melanjutkan pendidikannya di Burgerlij ke Avondschool (Sekolah Teknik Mesin). Ia juga bekerja di Firma Coy & CO dari tahun 1907 hingga 1910. Tahun berikutnya, ia kemudian bekerja sebagai seorang teknisi yang kemudian diangkat sebagai ahli kimia di pabrik gula di wilayah Rogojampi, Jawa timur. Sembari bekerja, Tjokroaminoto juga rajin menulis artikel pada harian Bintang Surabaya. Ia bekerja di Pabrik Gula hingga tahun 1902. Selanjutnya ia kembali ke Surabaya dan bekerja di biro teknik.
Bergabung Dengan SI (Sarekat Islam)
Pada tahun 1912, Haji Samanhudi yang dikenal sebagai pendiri dari Sarekat Dagang Islam mengajak Tjokroaminoto bergabung. Tjokroaminoto sejak awal menyukai Sarekat Dagang Islam karena visi dari perkumpulan tersebut. Sarekat Dagang Islam berdiri pada tahun 1905 merupakan perkumpulan pedagang-pedagang Islam yang bertujuan menentang politik Belanda yang membiarkan banyaknya masuk pedagang asing hingga kemudian menguasai sendi perekonomian rakyat kala itu. Ketika Tjokroaminoto bergabung pada tahun 1912, ia kemudian mengubah nama nama Sarekat Dagang Islam menjadi Sarekat Islam. Tujuannya agar Sarekat Islam tidak hanya bergerak dalam bidang ekonomi saja melainkan juga pada bidang politik.
Di bawah kepemimpinan Tjokroaminoto, Sarikat Islam diakui oleh pemerintah kolonial Belanda dan memiliki badan hukum yang jelas. Dalam kongresnya, Sarekat Islam bertujuan ingin merdeka, memiliki pemerintahan sendiri dan menyatukan seluruh bangsa Indonesia. Lambat laun pengikut Sarekat Islam semakin banyak. Hal ini dikarenakan Tjokroaminoto mampu mempengaruhi massa melalui pidato-pidatonya. Ketika pindah ke Surabaya, Tjokroaminoto bersama dengan istrinya membuka indekos yang menampung para pemuda pribumi. Di rumah Tjokroaminoto lah kemudian tinggal Ir. Soekarno, Kartosuwiryo, Musso, Alimin, Darsono hingga Semaun. Ir. Soekarno, Kartosuwiryo, Musso, Alimin, Darsono, Semaun hingga Tan Malaka menganggap Tjokroaminoto sebagai guru besar mereka. Di rumah itu, mereka akrab satu sama lain dan belajar banyak mengenai semangat kebangsaan dari Tjokroaminoto. Ir. Soekarno memilih berhaluan nasionalis kelak melahirkan pancasila sebagai ideologinya, Kartosuwiryo memilih berhaluan islam kelak melahirkan DI/TII menentang Soekarno. Kemudian Musso, Alimin, Darsono dan Semaun memilih berhaluan komunis dan membentuk PKI yang kemudian melakukan pemberontakan di Madiun.
Pada akhirnya, Sarekat Islam yang dipimpin oleh Tjokroaminoto terpecah menjadi dua yakni SI Putih dan SI Merah yang disusupi oleh paham komunis yang dibawa oleh Sneevliet dari Belanda. Semaun, Darsono, Alimin dan Tan Malaka bergabung dengan SI merah. Sementara Tjokroaminoto lebih condong berpihak pada SI Putih. Darsono dan Semaun kemudian dikeluarkan dari Sarekat Islam atas desakan dari Abdul Muis dan Haji Agus Salim. Setelah dikeluarkannya Semaun dan Darsono membuat Alimin dan Tan Malaka kecewa. Perpecahan yang semakin meruncing membuat SI merah yang berkedudukan di Semarang kemudian berganti nama menjadi Sarekat rakyat. Setelah mengeluarkan Darsono dan Semaun dari Sarekat Islam, Tjokroaminoto kemudian mengubah nama SI menjadi Partai Sarekat Islam yang bertujuan untuk mencapai kemerdekaan Indonesia. Di kongres PSI, Tjokroaminoto sekali lagi mengubah nama partainya menjadi Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII) yang jelas-jelas bertujuan menginginkan kemerdekaan Indonesia.
Selain aktif dalam kegiatan politik partai, Tjokroaminoto juga diketahui mahir dalam seni Jawa, karawitan dan tarian. Ia juga kerap mengadakan latihan wayang orang di Taman Seni Panti Harsoyo. Selama hidupnya, Tjokroaminoto sangat besar pengaruhnya bagi awal pergerakan kemerdekaan Indonesia dan juga bagi kaum pribumi kala itu. Ia juga menjadi guru sekaligus inspirasi bagi tiga tokoh besar Indonesia yakni Ir. Soekarno, Musso, dan Kartosuwiryo. Karena pengaruhnya yang begitu besar ia bahkan sebut-sebut sebagai “Ratu Adil”. Bahkan Belanda menyebut Tjokroaminoto sebagai De ongekvoonde koning van Java yang berarti Raja Jawa yang tidak dinobatkan. Di tahun 1961, atas jasa-jasa dan perjuangan Tjokroaminoto terhadap Indonesia, maka pemerintah Indonesia menganugerahkan gelar Pahlawan Indonesia kepadanya.
Hadji Oemar Said (HOS) Tjokroaminoto adalah pahlawan nasional yang lantang menentang eksploitasi pemerintah kolonial Belanda. Ia adalah sosok pertama yang meneriakkan Indonesia Merdeka kala itu. Walaupun menguasai tanah air, Belanda menyimpan ketakutan akan kehadiran seseorang yang dijuluki Raja Jawa Tanpa Mahkota tersebut.
Sarekat Islam Kepemimpinan Tjokroaminoto
Selama bergabung dalam Sarekat, Ia bekerja keras memperjuangkan penegakan hak-hak manusia dan kehidupan masyarakat. Perjuangan ini dilakukan sekitar tahun 1912 hingga 1916, dan di akhir tahun tersebut Dewan Rakyat dibentuk. Tjokroaminoto pun mengungkapkan beberapa gagasan penting, salah satunya adalah pembentukan pemerintahan sendiri. Puncaknya muncul mosi Tjokroaminoto pada 25 November 1918. Inti dari mosi tersebut yaitu meminta kepada Belanda agar mereka mau mendirikan parlemen yang berisi anggota pilihan rakyat.
Hanya saja, tuntutan tersebut dinilai tidak masuk akal. Tjokroaminoto adalah tokoh besar yang menjadi inspirasi bagi banyak tokoh muda yang juga punya visi yang sama dalam pergerakan nasional. Tjokroaminoto dikenal sebagai sosok yang pandai bertutur kata dan suka melempar kritikan pedas kepada pemerintah Belanda yang dianggap sewenang-wenang. Karena usaha yang dilakukannya dan juga diduga terlibat dalam usaha penggulingan pemerintah Belanda, pada tahun 1920 Tjokroaminoto dimasukkan ke dalam penjara. Tujuh bulan berselang, Ia dibebaskan kembali dan di tunjuk menjadi anggota Volksraad, namun ia tidak bersedia. Pada 17 Desember 1934 Tjokroaminoto meninggal di Yogyakarta pada usia 52 tahun, setelah Ia jatuh sakit pasca mengikuti Kongres Sarekat Islam di Banjarmasin.
1. Tjokroaminoto disebut sebagai Ratu Adil rakyat jelata
Lelaki kelahiran Ponorogo, 16 Agustus 1883 itu memang tidak memiliki pendidikan formal. Namun, dari hasil belajar secara autodidak, Tjokroaminoto berhasil memiliki pengaruh kuat di kalangan rakyat jelata. Seperti dikutip dari buku 100 Tokoh yang Mengubah Indonesia, pada saat itu rakyat juga menganggap Tjokroaminoto sebagai Ratu Adil, karena gagasannya yang dianggap selalu memihak pada rakyat dan tanah air.
2. Tjokroaminoto berusaha hapuskan diskriminasi
Pada 1912, Tjokroaminoto bertemu pendiri Sarekat Dagang Islam (SDI) Haji Samanhudi di Surabaya, Jawa Timur. Dalam perbincangannya dengan Haji Samanhudi, Tjokroaminoto mengusulkan agar SDI diganti menjadi Sarekat Islam (SI), agar lebih luas cakupannya. Pada 10 September 1912, SI pun resmi didirikan dengan Samanhudi sebagai ketua, dan Tjokroaminoto sebagai komisaris untuk Jawa Timur.
Seiring dengan berjalannya waktu, Tjokroaminoto pun menjadi ketua Central SI yang menjadi gabungan SI di daerah-daerah pada 1915. Dalam naungan SI, ia berusaha menghapuskan diskriminasi terhadap pedagang pribumi. SI berupaya meninghilangkan dominasi ekonomi penjajah Benlanda dan pada pengusaha kerurunan Tiongkok. SI pun diakui secara nasional oleh pemerintah Hindia Belanda pada Maret 1916.
3. Tjokroaminoto tentang politik Indonesia
Tjokroaminoto tokoh yang menginginkan Indonesia bisa menyalurkan suara melalui politik. Misalnya, melalui parlemen sebagai bentuk prinsip demokrasi. Pemikirannya juga sudah masuk ke dalam pembentukan undang-undang yang bisa diputuskan bangsa Indonesia sendiri. Luapan-luapan pemikiran tersebut ia tumpahkan pada Kongres Nasional Pertama Central SI pada 1916. Kala itu, banyak pihak yang menilai pemikiran Tjokroaminoto luar biasa berani. Hampir berusia dua tahun SI, pemerintah kolonial Belanda membentuk Volksraad atau Dewan Rakyat. Tjokroaminoto, Abdul Muis, dan Agus Salim terpilih menjadi anggota dewan. Ketiga orang tersebut mengeluarkan mosi agar anggota parlemen dipilih dari dan oleh rakyat. Tetapi, mosi tersebut ditolak mentah-mentah oleh pemerintah Hindia Belanda.
4. Impian Tjokroaminoto menaruh mimpinya di PSI
Mendapat penolakan dari pemerintah kolonial Belanda, SI pun mengambil sikap non kooperatif dengan pemerintah. Pada kongres 1923, SI mengubah menjadi partai politik, dengan nama Partai Sarekat Islam (PSI). Partai tersebut memiliki misi untuk menentang pemerintah Belanda yang melindungi kapitalisme. Namun sayang, belum mencapai pada cita-citanya, Tjokroaminoto harus menaruh mimpinya di PSI. Ia wafat pada 17 Desember 1934. Walaupun demikian, ia telah melahirkan murid-murid yang ia percaya bisa meneruskan harapannya. Salah satunya, Presiden pertama RI Sukarno. Sukarno menyebutkan, Tjokroaminoto adalah salah satu guru yang sangat ia hormati. Kepribadian dan Islamisme Tjokroaminoto yang membuat Sukarno kian tertarik.
Tjokroaminoto Wafat
Pada tahun 1934, Tjokroaminoto menghadiri kongres partai di Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Namun setelah menghadiri acara tersebut, ia kemudian jatuh sakit. Tak lama setelah it beliau kemudian wafat pada tanggal 17 Desember 1934 di Yogyakarta. Ia kemudian dimakamkan di TMP Pekuncen, Yogyakarta.
Kata-Kata Tjokroaminoto
Jika kalian ingin menjadi Pemimpin besar, menulislah seperti wartawan dan bicaralah seperti orator.
Setinggi-tinggi ilmu, semurni-murni tauhid, sepintar-pintar siasat.
0 Response to "HOS Cokroaminoto dan Perjuangannya"
Post a Comment