Studi tentang wanita dalam sejarah Indonesia merupakan studi yang jauh tertinggal bila dibandingkan dengan bidang ilmu sosial yang lain.
Dalam hal ini sosiologi merupakan pioneer bagi pengkajian tentang studi wanita. Penelitian tentang peranan wanita dalam sektor sosial, ketenagakerjaan dan keluarga berencana merupakan tema-tema yang telah lama menjadi bahan penelitian dalam sosiologi. Namun, woman study tetap belum memperoleh kedudukan sendiri dalam ilmu-ilmu sosial di negeri ini. Sungguhpun demikian, akhir-akhir ini, studi tentang wanita telah menarik perhatian dari pelbagai ahli. Barangkali trend munculnya tokoh-tokoh wanita dalam tampuk kekuasaan politik di Asia akhir-akhir ini menjadikan-nya sebagai momentum bagi tumbuhnya minat terhadap kajian tentang wanita.
Hal ini
karena semata-mata beliau meninggalkan pemikiran-pemikiran yang dapat dirunut
dari surat-suratnya yang telah dibukukan. Perjuangan dan pemikirannya tentang emansipasi wanita
telah dirasakan gaungnya sejak lama. Selain ditetapkan sebagai pahlawan nasional dengan SK
Presiden RI nomer 108, 2/5/1964, tanggal lahirnya pun juga ditetapkan sebagai hari
nasional. Peringatan Hari Kartini terasa sangat semarak dimana
murid-murid sekolah mengenakan busana tradisional Jawa berupa kain kebaya, dan
acara-acara yang lain.
Namun kemeriahan peringatan hari Kartini tidak
berarti merupakan sebuah ekspresi dari pendalaman nilai-nilai perjuangan Kartini. Perjuangan
perempuan baru dianggap penting jika melakukan kegiatan publik yang selama ini
banyak dilakukan oleh laki-laki.3 Memang harus diakui bahwa perjuangan feminisme yang
berorientasi pada kesetaraan gender baru muncul pada tahun 1960-an. Gerakan
tersebut baru menjadi isu dalam kaitannya dengan pembangunan pada tahun 1970-an.
Munculnya LSM yang peduli dengan masalah tersebut
semakin meningkatkan gaung kesetaraan gender dalam berbagai bidang kehidupan. Oleh karenanya
harus dilakukan dekonstruksi atas penulisan sejarah nasional kita dengan
menempatkan sejarah pergerakan perempuan secara proporsional. Tulisan ini
akan mencoba memaknai perjuangan Kartini dengan mengungkap pikiran-pikiran
Kartini sebagai kontribusi terhadap bangsa kita ini.
Riwayat Singkat Kartini
Raden Ajeng Kartini merupakan sosok wanita yang dilahirkan ditengah-tengah keluarga bangsawan Jawa. Ia lahir pada tanggal 21 April 1879. Ayah Kartini bernama RMAA Sosroningrat sedangkan ibunya adalah MA Ngasirah. MA Ngasirah merupakan istri pertama namun bukan yang utama karena peraturan kolonial waktu itu mengharuskan seorang bupati beristri bangsawan. Untuk itu RMAA Sosronigrat kemudian menikah lagi dengan RA Woerjan. Perkawinan RMAA Sosoroningrat dengan MA. Ngasirah melahirkan 8 orang anak yaitu: RM Slamet Sosroningrat, P. Sosroboesono, RM Panji Sosro Kartono, RA Kartini, RA Kardinah, RM Sosro Mulyono, RA Sumatri Sosrohadi Kusumo, RM Sosrorawito. Kakeknya, Pengeran Condronegoro merupakan generasi awal dari rakyat Jawa yang menerima pendidikan Barat dan menguasai bahasa Belanda dengan sempurna. Diantara putra-putra Pangeran Condronegoro yang terkenal adalah Pangeran Ario Hadiningrat, RMAA Ario Condronegoro dan RMAA Sosroningrat.
Condronegoro merupakan seorang sastrawan yang banyak
dikenal oleh pembaca baik di Indonesia maupun di Belanda. Buku-buku
yang pernah ditulisnya antara lain: Kesalahan-kesalahan dalam berkarya sastra
Jawa, Pengelanaan Jawa, dan Kritik dan catatan atas buku karangan Veth Java jilid 1. Putra-putri RMAA Sosroningrat pada akhirnya nanti
tumbuh menjadi tokoh-tokoh yang memiliki kemampuan yang luar biasa serta
memiliki komitmen yang sangat kuat untuk cita-cita perdamaian dan kemajuan
bangsanya. Kartini juga banyak membaca surat kabar yang terbit di
Semarang yaitu De Locomotief. Disamping itu Kartini juga sering mengirimkan
tulisannya kepada majalah wanita yang terbit di Belanda yaitu De Hollandsche
Lelie. Di samping
membaca majalah, Kartini juga membaca buku Max Havelaar dan Surat-surat
Cinta karya Multatuli, lalu De Stille Kracht karya Louis Coperus, dan sebuah
roman anti perang yang berjudul Die Waffen Nieder karya Berta Von Suttner.
Kartini merupakan satu dari sedikit perempuan Indonesia
yang menguasai bahasa Belanda dengan baik. Kemampuannya berbahasa Belanda merupakan modal
pengetahuan yang amat berharga untuk berhubungan dengan teman-temannya terutama
dari Eropa. Korespodensi Kartini dengan wanita modern dari Eropa
seperti Stella Zeehandelaar, semakin membuka wawasannya khususnya tentang kemajuan
wanita.
Perjuangan Kesetaraan Gender
Kartini merupakan seorang dari sedikit
perempuan Indonesia yang memperoleh pendidikan Barat. Meskipun
hanya memperoleh pendidikan tingkat Elementary School yaitu Europesche Lagere
School, namun Kartini telah dapat menguasai bahasa Belanda
sehingga ia memiliki modal pengetahuan yang cukup untuk berhubungan dengan
dunia modern. Kamampuannya yang luar biasa dari seorang Kartini dalam
berbahasa Belanda memang diakui oleh banyak pihak. Ia sanggup membuat kalimat-kalimat yang sangat baik dan
menarik perhatian para sastrawan.
Oleh karenanya tidak berlebihan bila kemudian Suryanto
Sastroatmodjo menempatkan Kartini sebagai seorang penyair prosalirik, dimana
surat-surat Kartini merupakan sebuah kesatuan cerita yang memiliki nilai sastra
yang tinggi. Sebagian besar surat-surat Kartini mengisahkan tentang
keadaan kaum wanita di Indonesia yang secara umum masih sangat tertinggal. Hal ini
disebabkan oleh aturan adat dan budaya Jawa yang menempatkan wanita dalam
posisi yang inferior bila dibandingkan dengan pria. Lebih jauh
gambaran wanita Jawa adalah sebagai konco wingking, yaitu sebagai
pembantu yang melayani suami untuk urusan belakang.
Karena peranannya yang marjinal tersebut maka
wanita tidak perlu mendapatkan pendidikan yang tinggi. Lans, seorang guru
wanita berkebangsaan Belanda yang bertugas di Sunda. Kartini juga
mengungkapkan bahwa dirinya ingin menjadi wanita yang maju seperti wanita Eropa. Kartini
sadar bahwa keinginannya untuk maju hanya dapat ditempuh melalui pendidikan
yang lebih tinggi dari ia peroleh saat itu.
Hal lain yang menjadi perhatian Kartini tentang
ketidakadilan terhadap wanita adalah berkembang suburnya poligami. Kartini
melihat, dan merasakan betapa besar penderitaan dan pengorbanan
kehidupan wanita yang dimadu oleh suaminya. Hal inipun dilakukan oleh orang tuanya, abang-abangnya
dan para raden mas yang lainnya di lingkungan Kabupaten Jepara dan
kabupaten-kabupaten lainnya. Hal penting yang menjadi perhatian Kartini terhadap
kasus poligami adalah adanya dorongan dari orang tua agar anaknya mendapat
suami dari kaum bangsawan dengan tujuan untuk memperoleh kehormatan dan
kemewahan.
Menurut Kartini, gadis-gadis tersebut tidak dapat dipersalahkan karena
pada umumnya mereka merupakan anak-anak dari keluarga yang melarat yang terdiri
dari petani dan buruh pabrik. Dikawini oleh bangsawan merupakan anugerah yang membuka
jalan bagi mereka untuk mobilitas sosial secara vertikal. Mereka akan
menjadi putrid-putri kabupaten, kepangeranan, atau kesultanan yang bergelimang dengan kemewahan. Kartini berpendirian
bahwa calon-calon suami itu seharusnya telah terlebih dahulu dikenal oleh
gadis-gadis yang akan diperistri, dan tidak disodorkan begitu saja sebagai calon suami
hasil pilihan orang tuanya.
Ini merupakan sebuah tragedi yang amat meletihkan dan
memupuskan roh dan harapannya sebagai gadis modern yang berkemauan keras untuk
melawan belenggu tradisi dan konstruk budaya Jawa yang feodalistik, dan monoton. Namun
konstruk budaya yang demikian kuat melahirkan ketidakdilan gender itu nyatanya
masih kuat mengakar di dalam masyarakat. Kartini yang berkorespodensi langsung dengan tokoh
feminis Belanda Stella Zeehandelaar secara tidak langsung telah terpengaruh
oleh konsep-konsep feminisme liberal. Peradaban Barat yang demikian gemilang menyilaukan
semangat Kartini untuk belajar demi pembebasan dari kungkungan feodalisme
budaya yang timpang itu.
Nasionalisme Kartini
Oleh karenanya
gejala timbulnya nasionalisme merupakan suatu gejala yang wajar, dimana secara
psikologis ada hubungan emosional yang signifikan antara warga negara dengan
wilayah negaranya. Pertama dalam arti negatif yang diartikan sebagai sikap
keterlaluan, sempit, congkak dan sombong. Pengertian kedua merupakan sikap positif seorang
warga negara yang memiliki komitmen dan tanggung jawab terhadap keadaan
bangsanya. Dalam pengertian yang positif, nasionalisme
dapat diartikan sebagai suatu paham yang meletakkan kesetiaan tertinggi
individu atau sekelompok individu kepada negara.
Nasionalisme Kartini dapat dilacak dari pemikirannya yang
terdapat dalam surat-suratnya. Nasionalisme Kartini merupakan refleksi sosial yang
kritis dari seorang wanita Indonesia didasarkan pada religieusiteit, wijsheid en
schoonheid ditambah humanitarianisme dan nasionalisme. Nasionalisme
yang tampak dalam pandangan Kartini dapat dikategorikan sebagai sebagai
nasionalisme universal dalam arti gagasan-gagasan yang diungkapkan mengandung
nilai-nilai universal, seperti pendidikan, persamaan derajat, dan solidaritas sosial. ". Dalam suratnya kepada Stella Zeehandelaar
pada tanggal 12 Januari 1900, Kartini mengutip pandangan ayahnya dalam sebuah nota
yang dikirimkan kepada pemerintah Hindia Belanda sebagai berikut, "Father
says in his note that the government can’t set the rice upon the table for
every Javanese, and see that he partakes of it. " In union there is strength , and power."
Sementara itu sisi humanitarianisme yang
melekat dari diri Kartini tampak dalam ungkapannya dimana ia ingin dipandang
sebagai individu yang sama dengan orang lain. Kartini merasa tidak berbeda dengan rakyat biasa yang
sama-sama hidup dibawah penjajahan. Kartini tidak mau dianggap jauh di atas orang lain, lebih lebih di
atas insan yang sering disebut dengan rakyat jelata. Seperti
diketahui Stella Zeehandelaar merupakan sosok gadis yang demokratis karena
berada dilingkungan masyarakat Barat yang demokratis disamping ia
merupakan anak orang biasa.
Humanitarianisme Kartini merupakan refleksi kritis dari stratifikasi sosial
yang hierakhis akibat konstruk budaya yang feodalistik. Gagasan ini
merupakan embrio dari munculnya ide persamaan derajat atau yang dikenal dengan
emansipasi dimana wanita sudah selayaknya ditempatkan pada proporsi yang
semestinya. Pada sisi yang lain pemikiran tersebut juga
mencerminkan adanya solidaritas sosial antara bangsa-bangsa yang sedang dijajah
oleh bangsa asing. Arti dari semua itu adalah sebuah realitas bahwa
bangsawan dan rakyat jelata berada dalam posisi yang sama, yaitu
sama-sama dikuasai bangsa asing.
Kartini sadar bahwa untuk mencapai cita-citanya tentang persatuan dan persamaan derajat manusia tersebut diperlukan perjuangan yang keras melalui pendidikan. Keterbelakangan yang dihadapi bangsa Indonesia pada saat itu disebabkan oleh ketidaktahuan rakyat tentang cara mengatasi segala kesulitan yang dihadapinya seperti soal pangan, kesehatan, ataupun pendidikan bagi anak-anak.
Dari
uraian di atas maka dapat kita ambil kesimpulan bahwa perjuangan Kartini
memiliki dimensi yang amat luas. Kartini yang merupakan intelektual produk Politik Etis
pada awal abad ke-19 telah sejak lama memperjuangkan kesetaraan gender yang
dikenal dengan perjuangan emansipasi.
Menurut Kartini dalam surat-suratnya, keadaan
wanita Indonesia sangat memprihatinkan karena terbelenggu
oleh hukum adat yang sangat bias terhadap jender. Kartini juga mengkritisi maraknya poligami yang
dilakukan oleh para bangsawan Jawa pada masa tersebut. Menurut
Kartini ini semua merupakan sebuah konstruk budaya yang sangat tidak adil. Akhirnya
Kartini harus memendam keinginannya untuk melanjutkan studinya ke Eropa, menjalani
masa pingitan, dan harus kawin dengan laki-laki yang merupakan pilihan
orang tuanya. Menurut Kartini jalan yang harus ditempuh untuk mengatasi
persoalan tersebut adalah dengan pendidikan.
Daftar Pustaka
Awuy, Tomy F., (1995), Wacana Tragedi dan Dekonstruksi Kebudayaan, Yogyakarta: Jentera Wacana Publika.Fakih, Mansour, (2004), Analisis Gender & Transformasi Sosial, Yogyakarta: PT Pustaka Pelajar.
Geertz, Hildred (ed.) (1964), Letters of A Javanese Princess: Raden Adjeng Kartini,.(ab. Agnes Louise Symmers) New York: Norton Company.
Kuntowijoyo, (2003), Metodologi Sejarah, Yogyakarta: Tiara Wacana. Muttaqin, Farid., “Sejarah Gerakan Perempuan yang Bias Jender”, Kompas Edisi 28 Juni 2004.
Poesponegoro, Marwati Djoened & Notosusanto, Nugoho., (1993), Sejarah Nasional Indonesia V, Jakarta: PT Balai Pustaka.
Sasroatmojo, Suryanto., (2005), Tragedi Kartini, Yogyakarta: Penerbit Narasi.

0 Response to "Perjuangan seorang Kartini"
Post a Comment