Al Khairan Perjuangan seorang Kartini | Al Khairan 286775737 -->

Iklan

Perjuangan seorang Kartini

Studi tentang wanita dalam sejarah Indonesia merupakan studi yang jauh tertinggal bila dibandingkan dengan bidang ilmu sosial yang lain. 


Dalam hal ini sosiologi merupakan pioneer bagi pengkajian tentang studi wanita. Penelitian tentang peranan wanita dalam sektor sosial, ketenagakerjaan dan keluarga berencana merupakan tema-tema yang telah lama menjadi bahan penelitian dalam sosiologi. Namun, woman study tetap belum memperoleh kedudukan sendiri dalam ilmu-ilmu sosial di negeri iniSungguhpun demikian, akhir-akhir ini, studi tentang wanita telah menarik perhatian dari pelbagai ahli. Barangkali trend munculnya tokoh-tokoh wanita dalam tampuk kekuasaan politik di Asia akhir-akhir ini menjadikan-nya sebagai momentum bagi tumbuhnya minat terhadap kajian tentang wanita. 


Hal ini karena semata-mata beliau meninggalkan pemikiran-pemikiran yang dapat dirunut dari surat-suratnya yang telah dibukukan. Perjuangan dan pemikirannya tentang emansipasi wanita telah dirasakan gaungnya sejak lama. Selain ditetapkan sebagai pahlawan nasional dengan SK Presiden RI nomer 108, 2/5/1964, tanggal lahirnya pun juga ditetapkan sebagai hari nasional. Peringatan Hari Kartini terasa sangat semarak dimana murid-murid sekolah mengenakan busana tradisional Jawa berupa kain kebaya, dan acara-acara yang lain.


Namun kemeriahan peringatan hari Kartini tidak berarti merupakan sebuah ekspresi dari pendalaman nilai-nilai perjuangan Kartini. Perjuangan perempuan baru dianggap penting jika melakukan kegiatan publik yang selama ini banyak dilakukan oleh laki-laki.3 Memang harus diakui bahwa perjuangan feminisme yang berorientasi pada kesetaraan gender baru muncul pada tahun 1960-an. Gerakan tersebut baru menjadi isu dalam kaitannya dengan pembangunan pada tahun 1970-an.



Munculnya LSM yang peduli dengan masalah tersebut semakin meningkatkan gaung kesetaraan gender dalam berbagai bidang kehidupanOleh karenanya harus dilakukan dekonstruksi atas penulisan sejarah nasional kita dengan menempatkan sejarah pergerakan perempuan secara proporsional. Tulisan ini akan mencoba memaknai perjuangan Kartini dengan mengungkap pikiran-pikiran Kartini sebagai kontribusi terhadap bangsa kita ini.

 

Riwayat Singkat Kartini

Raden Ajeng Kartini merupakan sosok wanita yang dilahirkan ditengah-tengah keluarga bangsawan Jawa. Ia lahir pada tanggal 21 April 1879Ayah Kartini bernama RMAA Sosroningrat sedangkan ibunya adalah MA Ngasirah. MA Ngasirah merupakan istri pertama namun bukan yang utama karena peraturan kolonial waktu itu mengharuskan seorang bupati beristri bangsawan. Untuk itu RMAA Sosronigrat kemudian menikah lagi dengan RA Woerjan. Perkawinan RMAA Sosoroningrat dengan MA. Ngasirah melahirkan 8 orang anak yaitu: RM Slamet Sosroningrat, P. Sosroboesono, RM Panji Sosro Kartono, RA Kartini, RA Kardinah, RM Sosro Mulyono, RA Sumatri Sosrohadi Kusumo, RM Sosrorawito. Kakeknya, Pengeran Condronegoro merupakan generasi awal dari rakyat Jawa yang menerima pendidikan Barat dan menguasai bahasa Belanda dengan sempurnaDiantara putra-putra Pangeran Condronegoro yang terkenal adalah Pangeran Ario Hadiningrat, RMAA Ario Condronegoro dan RMAA Sosroningrat.


Condronegoro merupakan seorang sastrawan yang banyak dikenal oleh pembaca baik di Indonesia maupun di Belanda. Buku-buku yang pernah ditulisnya antara lain: Kesalahan-kesalahan dalam berkarya sastra Jawa, Pengelanaan Jawa, dan Kritik dan catatan atas buku karangan Veth Java jilid 1. Putra-putri RMAA Sosroningrat pada akhirnya nanti tumbuh menjadi tokoh-tokoh yang memiliki kemampuan yang luar biasa serta memiliki komitmen yang sangat kuat untuk cita-cita perdamaian dan kemajuan bangsanya. Kartini juga banyak membaca surat kabar yang terbit di Semarang yaitu De Locomotief. Disamping itu Kartini juga sering mengirimkan tulisannya kepada majalah wanita yang terbit di Belanda yaitu De Hollandsche Lelie. Di samping membaca majalah, Kartini juga membaca buku Max Havelaar dan Surat-surat Cinta karya Multatuli, lalu De Stille Kracht karya Louis Coperus, dan sebuah roman anti perang yang berjudul Die Waffen Nieder karya Berta Von Suttner.


Kartini merupakan satu dari sedikit perempuan Indonesia yang menguasai bahasa Belanda dengan baik. Kemampuannya berbahasa Belanda merupakan modal pengetahuan yang amat berharga untuk berhubungan dengan teman-temannya terutama dari Eropa. Korespodensi Kartini dengan wanita modern dari Eropa seperti Stella Zeehandelaar, semakin membuka wawasannya khususnya tentang kemajuan wanita.

 

Perjuangan Kesetaraan Gender

Kartini merupakan seorang dari sedikit perempuan Indonesia yang memperoleh pendidikan BaratMeskipun hanya memperoleh pendidikan tingkat Elementary School yaitu Europesche Lagere School, namun Kartini telah dapat menguasai bahasa Belanda sehingga ia memiliki modal pengetahuan yang cukup untuk berhubungan dengan dunia modernKamampuannya yang luar biasa dari seorang Kartini dalam berbahasa Belanda memang diakui oleh banyak pihak. Ia sanggup membuat kalimat-kalimat yang sangat baik dan menarik perhatian para sastrawan.

Oleh karenanya tidak berlebihan bila kemudian Suryanto Sastroatmodjo menempatkan Kartini sebagai seorang penyair prosalirik, dimana surat-surat Kartini merupakan sebuah kesatuan cerita yang memiliki nilai sastra yang tinggi. Sebagian besar surat-surat Kartini mengisahkan tentang keadaan kaum wanita di Indonesia yang secara umum masih sangat tertinggal. Hal ini disebabkan oleh aturan adat dan budaya Jawa yang menempatkan wanita dalam posisi yang inferior bila dibandingkan dengan pria. Lebih jauh gambaran wanita Jawa adalah sebagai konco wingking, yaitu sebagai pembantu yang melayani suami untuk urusan belakang.

 

Karena peranannya yang marjinal tersebut maka wanita tidak perlu mendapatkan pendidikan yang tinggi. Lans, seorang guru wanita berkebangsaan Belanda yang bertugas di Sunda. Kartini juga mengungkapkan bahwa dirinya ingin menjadi wanita yang maju seperti wanita EropaKartini sadar bahwa keinginannya untuk maju hanya dapat ditempuh melalui pendidikan yang lebih tinggi dari ia peroleh saat itu.

 

Hal lain yang menjadi perhatian Kartini tentang ketidakadilan terhadap wanita adalah berkembang suburnya poligami. Kartini melihat, dan merasakan betapa besar penderitaan dan pengorbanan kehidupan wanita yang dimadu oleh suaminya. Hal inipun dilakukan oleh orang tuanya, abang-abangnya dan para raden mas yang lainnya di lingkungan Kabupaten Jepara dan kabupaten-kabupaten lainnya. Hal penting yang menjadi perhatian Kartini terhadap kasus poligami adalah adanya dorongan dari orang tua agar anaknya mendapat suami dari kaum bangsawan dengan tujuan untuk memperoleh kehormatan dan kemewahan.

Menurut Kartini, gadis-gadis tersebut tidak dapat dipersalahkan karena pada umumnya mereka merupakan anak-anak dari keluarga yang melarat yang terdiri dari petani dan buruh pabrik. Dikawini oleh bangsawan merupakan anugerah yang membuka jalan bagi mereka untuk mobilitas sosial secara vertikal. Mereka akan menjadi putrid-putri kabupatenkepangeranan, atau kesultanan yang bergelimang dengan kemewahan. Kartini berpendirian bahwa calon-calon suami itu seharusnya telah terlebih dahulu dikenal oleh gadis-gadis yang akan diperistri, dan tidak disodorkan begitu saja sebagai calon suami hasil pilihan orang tuanya.

Ini merupakan sebuah tragedi yang amat meletihkan dan memupuskan roh dan harapannya sebagai gadis modern yang berkemauan keras untuk melawan belenggu tradisi dan konstruk budaya Jawa yang feodalistik, dan monoton. Namun konstruk budaya yang demikian kuat melahirkan ketidakdilan gender itu nyatanya masih kuat mengakar di dalam masyarakat. Kartini yang berkorespodensi langsung dengan tokoh feminis Belanda Stella Zeehandelaar secara tidak langsung telah terpengaruh oleh konsep-konsep feminisme liberal. Peradaban Barat yang demikian gemilang menyilaukan semangat Kartini untuk belajar demi pembebasan dari kungkungan feodalisme budaya yang timpang itu.

 

Nasionalisme Kartini

Oleh karenanya gejala timbulnya nasionalisme merupakan suatu gejala yang wajar, dimana secara psikologis ada hubungan emosional yang signifikan antara warga negara dengan wilayah negaranya. Pertama dalam arti negatif yang diartikan sebagai sikap keterlaluan, sempit, congkak dan sombong. Pengertian kedua merupakan sikap positif seorang warga negara yang memiliki komitmen dan tanggung jawab terhadap keadaan bangsanya. Dalam pengertian yang positif, nasionalisme dapat diartikan sebagai suatu paham yang meletakkan kesetiaan tertinggi individu atau sekelompok individu kepada negara.

Nasionalisme Kartini dapat dilacak dari pemikirannya yang terdapat dalam surat-suratnya. Nasionalisme Kartini merupakan refleksi sosial yang kritis dari seorang wanita Indonesia didasarkan pada religieusiteitwijsheid en schoonheid ditambah humanitarianisme dan nasionalismeNasionalisme yang tampak dalam pandangan Kartini dapat dikategorikan sebagai sebagai nasionalisme universal dalam arti gagasan-gagasan yang diungkapkan mengandung nilai-nilai universal, seperti pendidikan, persamaan derajat, dan solidaritas sosial. ". Dalam suratnya kepada Stella Zeehandelaar pada tanggal 12 Januari 1900, Kartini mengutip pandangan ayahnya dalam sebuah nota yang dikirimkan kepada pemerintah Hindia Belanda sebagai berikut, "Father says in his note that the government can’t set the rice upon the table for every Javanese, and see that he partakes of it. " In union there is strength , and power."

Sementara itu sisi humanitarianisme yang melekat dari diri Kartini tampak dalam ungkapannya dimana ia ingin dipandang sebagai individu yang sama dengan orang lain. Kartini merasa tidak berbeda dengan rakyat biasa yang sama-sama hidup dibawah penjajahanKartini tidak mau dianggap jauh di atas orang lain, lebih lebih di atas insan yang sering disebut dengan rakyat jelata. Seperti diketahui Stella Zeehandelaar merupakan sosok gadis yang demokratis karena berada dilingkungan masyarakat Barat yang demokratis disamping ia merupakan anak orang biasa.

Humanitarianisme Kartini merupakan refleksi kritis dari stratifikasi sosial yang hierakhis akibat konstruk budaya yang feodalistik. Gagasan ini merupakan embrio dari munculnya ide persamaan derajat atau yang dikenal dengan emansipasi dimana wanita sudah selayaknya ditempatkan pada proporsi yang semestinya. Pada sisi yang lain pemikiran tersebut juga mencerminkan adanya solidaritas sosial antara bangsa-bangsa yang sedang dijajah oleh bangsa asing. Arti dari semua itu adalah sebuah realitas bahwa bangsawan dan rakyat jelata berada dalam posisi yang sama, yaitu sama-sama dikuasai bangsa asing.

Kartini sadar bahwa untuk mencapai cita-citanya tentang persatuan dan persamaan derajat manusia tersebut diperlukan perjuangan yang keras melalui pendidikan. Keterbelakangan yang dihadapi bangsa Indonesia pada saat itu disebabkan oleh ketidaktahuan rakyat tentang cara mengatasi segala kesulitan yang dihadapinya seperti soal pangan, kesehatan, ataupun pendidikan bagi anak-anak. 

Dari uraian di atas maka dapat kita ambil kesimpulan bahwa perjuangan Kartini memiliki dimensi yang amat luas. Kartini yang merupakan intelektual produk Politik Etis pada awal abad ke-19 telah sejak lama memperjuangkan kesetaraan gender yang dikenal dengan perjuangan emansipasi.

Menurut Kartini dalam surat-suratnya, keadaan wanita Indonesia sangat memprihatinkan karena terbelenggu oleh hukum adat yang sangat bias terhadap jender. Kartini juga mengkritisi maraknya poligami yang dilakukan oleh para bangsawan Jawa pada masa tersebut. Menurut Kartini ini semua merupakan sebuah konstruk budaya yang sangat tidak adil. Akhirnya Kartini harus memendam keinginannya untuk melanjutkan studinya ke Eropa, menjalani masa pingitan, dan harus kawin dengan laki-laki yang merupakan pilihan orang tuanyaMenurut Kartini jalan yang harus ditempuh untuk mengatasi persoalan tersebut adalah dengan pendidikan.

Daftar Pustaka

Awuy, Tomy F., (1995), Wacana Tragedi dan Dekonstruksi Kebudayaan, Yogyakarta: Jentera Wacana Publika.
Fakih, Mansour, (2004), Analisis Gender & Transformasi Sosial, Yogyakarta: PT Pustaka Pelajar.
Geertz, Hildred (ed.) (1964), Letters of A Javanese Princess: Raden Adjeng Kartini,.(ab. Agnes Louise Symmers) New York: Norton Company.
Kuntowijoyo, (2003), Metodologi Sejarah, Yogyakarta: Tiara Wacana. Muttaqin, Farid., “Sejarah Gerakan Perempuan yang Bias Jender”, Kompas Edisi 28 Juni 2004. 
Nursarastriya, Haris., “Nasionalisme Kartini dan Teori Tentang Nasionalisme”, Kritis: Jurnal UKSW No. 4/Th. X April –Juni 1997.
Poesponegoro, Marwati Djoened & Notosusanto, Nugoho., (1993), Sejarah Nasional Indonesia V, Jakarta: PT Balai Pustaka.
Sasroatmojo, Suryanto., (2005), Tragedi Kartini, Yogyakarta: Penerbit Narasi. 

Silahkan berlangganan al khairan dengan e-mail secara gratis:

0 Response to "Perjuangan seorang Kartini"

Post a Comment