Kegiatan pembelajaran dilakukan oleh dua orang pelaku, yaitu guru dan siswa. Perilaku guru adalah mengajar dan perilaku siswa adalah belajar
Perilaku mengajar dan perilaku belajar tersebut terkait dengan bahan pembelajaran. Bahan pembelajaran dapat berupa pengetahuan, nilai-nilai kesusilaan, seni, agama, sikap dan keterampilan. Hubungan antara guru, siswa dan bahan ajar bersifat dinamis dan kompleks. Hasil penelitian para ahli tentang kegiatan guru, siswa dalam kaitannya dengan bahan pengajaran adalah model pembelajaran. Penelitian tentang model pembelajaran telah dilakukan oleh beberapa ahli di Amerika sejak tahun 1950-an. Perintis penelitian model pembelajaran di Amerika Serikat adalah Marc Belth penelitian tentang kegiatan pembelajaran adalah berusaha menemukan model pembelajaran. Model-model yang ditemukan dapat diubah, diuji kembali dan dikembangkan, selajutnya dapat diterapkan dalam kegiatan pembelajaran berdasarkan pola pembelajaran yang digunakan.
1. Pola Pembelajaran
Pembelajaran pada hakekatnya merupakan suatu proses interaksi
antara guru dengan siswa, baik interaksi secara langsung seperti kegiatan tatap
muka maupun secara tidak langsung yaitu dengan menggunakan berbagai media
pembelajaran. Didasari oleh adanya perbedaan interaksi tersebut, maka kegiatan
pembelajaran dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai pola pembelajaran. Barry Morris (1963:11) mengklasifikasikan 4 pola pembelajaran yang digambarkan dalam bentuk
bagan sebagai berikut:
Pola-pola pembelajaran di atas memberikan
gambaran bahwa seiring dengan pesatnya perkembangan media pembelajaran,
baik software, maupun hadrware, akan membawa perubahan
bergesernya peranan guru sebagai penyampai pesan. Guru tidak lagi berperan
sebagai satu-satunya sumber belajar dalam kegiatan pembelajaran. Siswa dapat
memperoleh informasi dari berbagai media dan sumber belajar, baik itu dari
majalah, modul, siaran radio pembelajaran, televisi pembelajaran, media
komputer atau yang sering kita kenal dengan pembelajaran berbasis komputer
(CBI) baik model drill, tutorial, simulasi maupun games instruction ataupun dari internet.
Sekarang ini atau di masa yang akan datang, peran guru tidak hanya sebagai pengajar (transmiter), tetapi ia harus mulai berperan sebagai director of learning, yaitu sebagai pengelola belajar yang memfasilitasi kegiatan belajar siswa melalui pemanfaatan dan optimalisasi berbagai sumber belajar, bahkan bukan tidak mungkin di masa yang akan datang peran media sebagai sumber informasi utama dalam kegiatan pembelajaran (pola pembelajaran bermedia), seperti halnya penerapan pembelajaran berbasis komputer (computer based instruction), di sini peran guru hanya sebagai fasilitator belajar saja.
2. Model-Model Pembelajaran
a. Pengertian
Model Pembelajaran
Model-model Pembelajaran biasanya disusun
berdasarkan berbagai prinsip atau teori pengetahuan. Para ahli menyusun model
pembelajaran berdasarkan prinsip-prinsip pendidikan, teori-teori psikologis,
sosiologis, psikiatri, analisis sistem, atau teori-teori lain (Joyce &
Weil, 1980). Joyce & Weil mempelajari model-model pembelajaran berdasarkan
teori belajar yang dikelompokkan menjadi empat model pembelajaran. Model
tersebut merupakan pola umum perilaku pembelajaran untuk mencapai
kompetensi/tujuan pembelajaran yang diharapkan. Joyce & Weil berpendapat
bahwa model pembelajaran adalah suatu rencana atau pola yang dapat digunakan
untuk membentuk kurikulum (rencana pembelajaran jangka panjang), merancang
bahan-bahan pembelajaran, dan membimbing pembelajaran di kelas atau yang lain
(Joyce & Weil, 1980:1). Model pembelajaran dapat dijadikan pola pilihan,
artinya guru boleh memilih model pembelajaran yang sesuai dan efesien
untuk mencapai tujuan pendidikannya.
b. Ciri-ciri
Model Pembelajaran
Model Pembelajaran memiliki ciri-ciri sebagai
berikut:
1) Berdasarkan
teori pendidikan dan teori belajar dari para ahli tertentu. Sebagai
contoh, model penelitian kelompok disusun oleh Herbert Thelen dan berdasarkan
teori John Dewey. Model ini dirancang untuk melatih partisipasi dalam kelompok
secara demokratis.
2) Mempunyai
misi atau tujuan pendidikan tertentu.
Misalnya model berfikir induktif dirancang
untuk mengembangkan proses berfikir induktif.
3) Dapat
dijadikan pedoman untuk perbaikan kegiatan belajar mengajar dikelas. Misalnya
model Synectic dirancang untuk memperbaiki kreativitas dalam
pelajaran mengarang.
4) Memiliki
bagian-bagian model yang dinamakan: (1) urutan langkah-langkah pembelajaran (syntax),
(2) adanya prinsip-prinsip reaksi, (3) sistem sosial, dan (4) sistem pendukung.
Keempat bagian tersebut merupakan pedoman praktis bila guru akan melaksanakan
suatu model pembelajaran.
5) Memiliki
dampak sebagai akibat terapan model pembelajaran. Dampak tersebut meliputi: (1)
dampak pembelajaran, yaitu hasil belajar yang dapat diukur (2) dampak
pengiring, yaitu hasil belajar jangka panjang.
6) Membuat persiapan mengajar (desain instruksional) dengan pedoman model pembelajaran yang dipilihnya.
3. Model Pembelajaran Berdasarkan Teori
A. Model
Interaksi Sosial
Model ini didasari oleh teori belajar Gestalt
(field-theory). Model Interaksi Sosial menitikberatkan hubungan yang
harmonis antara individu dengan masyarakat (learning to life together).
Teori Pembelajaran Gestalt dirintis oleh Max Wertheimer (1912) bersama dengan
Kurt Koffka dan W. Kohler, mengadakan
eksperimen mengenai pengamatan visual dengan fenomena fisik. Percobaanya yaitu
memproyeksikan titik-titik cahaya (keseluruhan lebih penting daripada bagian).
Pokok pandangan Gestalt adalah obyek atau
peristiwa tertentu akan dipandang sebagai suatu keseluruhan yang
terorganisasikan. Makna suatu objek/peristiwa adalah terletak pada keseluruhan
bentuk (gestalt) dan bukan bagian-baiannya. Pembelajaran akan lebih bermakna
bila materi diberikan secara utuh bukan bagian-bagian. Aplikasi
Teori Gestalt dalam Pembelajaran adalah:
1) Pengalaman insight/tilikan.
Dalam proses pembelajaran siswa hendaknya memiliki kemampuan insight yaitu
kemampuan mengenal keterkaitan unsur-unsur dalam suatu objek. Guru hendaknya
mengembangkan kemampuan siswa dalam memecahkan masalah dengan insight.
2) Pembelajaran yang bermakna.
Kebermaknaan unsur-unsur yang terkait dalam suatu objek akan
menunjang pembentukan pemahaman dalam proses pembelajaran. Content yang
dipelajari siswa hendaknya memiliki makna yang jelas baik bagi dirinya maupun
bagi kehidupannya di masa yang akan datang.
3) Perilaku bertujuan.
Perilaku terarah pada suatu tujuan. Perilaku disamping adanya kaitan
dengan SR-bond, juga terkait erat dengan tujuan yang hendak dicapai.
Pembelajaran terjadi karena siswa memiliki harapan tertentu. Sebab itu
pembelajaran akan berhasil bila siswa mengetahui tujuan yang akan dicapai.
4) Prinsip ruang hidup (Life space).
Dikembangkan oleh Kurt Lewin (teori medan/field
theory). Perilaku siswa terkait dengan lingkungan/ medan di mana ia berada. Materi yang disampaikan
hendaknya memiliki kaitan dengan situasi lingkungan di mana siswa berada (CTL). Model
Interaksi Sosial ini mencakup Strategi Pembelajaran sebagai berikut:
a) Kerja Kelompok, bertujuan
mengembangkan ketarampilan berperan serta dalam proses bermasyarakat dengan
cara mengembangkan hubungan interpersonal dan discovery skills dalam
bidang akademik.
b) Pertemuan Kelas, bertujuan
mengembangkan pemahaman mengenai diri sendiri dan rasa tanggung jawab, baik
terhadap diri sendiri maupun terhadap kelompok.
c) Pemecahan Masalah Sosial atau Inquiry
Social bertujuan untuk mengembangkan kemampuan memecahkan masalah-
masalah sosial dengan cara berpikir logis.
d) Model Laboratorium, bertujuan
untuk mengembangkan kesadaran pribadi dan keluwesan dalam kelompok.
e) Bermain Peranan, bertujuan
untuk memberikan kesempatan kepada peserta didik menemukan nilai-nilai sosial
dan pribadi melalui situasi tiruan.
f) Simulasi Sosial, bertujuan
untuk membantu siswa mengalami berbagai kenyataan sosial serta menguji reaksi
mereka.
Rumpun Model Interaksi Sosial
|
NO |
MODEL |
TOKOH |
TUJUAN |
|
1. |
Penentuan Kelompok |
Herbert Telen & John Dewey |
Perkembangan keterampilan untuk Partisipasi dalam proses sosial demokratis
melalui penekanan yang dikombinasikan pada keterampilan-keterampilan antar pribadi (kelompok)
dan keterampilan-keterampilan penentuan
akademik.
Aspek perkembangan pribadi merupakan hal yang penting dalam model
ini. |
|
2 |
Inkuiri Sosial |
Byron Massialas & BenjaminCox |
Pemecahan masalah sosial, terutama melalui penemuan
sosial dan penalaran logis. |
|
3 |
Metode Laboratori |
Bethel Maine (National Teaching Laboratory) |
Perkembangan keterampilan antar pribadi dan kelompok
melalui kesadaran dan keluwesan pribadi |
|
4 |
Jurisprudensial |
Donald Oliver & James P. Shaver |
Dirancang terutama untuk mengajarkan kerangka acuan
jurisprudensial sebagai cara berfikir dan penyelesaian isu-isu sosial |
|
5 |
Bermain Peran |
Fainnie Shatel & George Fhatel |
Dirancang untuk mempengaruhi siswa agar menemukan nilai-nilai pribadi dan sosial. Perilaku dan nilai-nilainya diharapkan anak menjadi sumber bagi penemuan berikutnya. |
|
6 |
Simulasi Sosial |
Sarene Bookock & Harold Guetzkov |
Dirancang untuk membantu siswa mengalami bermacam-macam proses dan kenyataan sosial, dan untuk menguji reaksi mereka, serta untuk memperoleh konsep keterampilan pembuatan keputusan. |
Model Pemrosesan Informasi
Model ini berdasarkan teori belajar kognitif (Piaget) dan berorientasi pada kemampuan siswa memproses informasi yang dapat memperbaiki kemampuannya. Pemrosesan Informasi merujuk pada cara mengumpulkan/ menerima stimuli dari lingkungan: mengorganisasi
data, memecahkan masalah, menemukan konsep dan menggunakan simbol verbal dan
visual. Teori pemrosesan informasi/kognitif dipelopori oleh Robert Gagne
(1985). Asumsinya adalah pembelajaran merupakan faktor yang sangat penting dalam
perkembangan. Perkembangan merupakan hasil komulatif dari pembelajaran. Dalam
pembelajaran terjadi proses penerimaan informasi yang kemudian diolah sehingga
menghasilkan output dalam bentuk hasil belajar. Dalam pemrosesan informasi
terjadi interaksi antara kondisi internal (keadaan individu, proses kognitif)
dan kondisi-kondisi eksternal (rangsangan dari lingkungan) dan interaksi antar
keduanya akan menghasilkan hasil belajar. Pembelajaran merupakan keluaran dari
pemrosesan informasi yang berupa kecakapan manusia (human capitalities)
yang terdiri dari: (1) informasi verbal, (2) kecapakan intelektual, (3)
strategi kognitif, (4) sikap, dan (5) kecakapan motorik. Delapan fase proses
pembelajaran menurut Robert M. Gagne adalah:
1) Motivasi,
fase awal memulai pembelajaran dengan adanya dorongan untuk melakukan suatu
tindakan dalam mencapai tujuan tententu. (motivasi intrinsik dan ekstrinsik).
2) Pemahaman,
individu menerima dan memahami informasi yang diperoleh dari pembelajaran.
Pemahaman didapat melalui perhatian.
3) Pemerolehan,
individu memberikan makna/mempersepsi segala informasi yang sampai pada dirinya
sehingga terjadi proses penyimpanan dalam memori siswa.
4) Penahanan,
menahan informasi/hasil belajar agar dapat digunakan untuk jangka panjang. Proses
mengingat jangka panjang.
5) Ingatan
Kembali, mengeluarkan kembali informasi yang telah disimpan, bila ada rangsangan.
6) Generalisasi, menggunakan hasil pembelajaran untuk keperluan tertentu.
7) Perlakuan,
Perwujudan perubahan perilaku indv sebagai hasil hasil pembelajaran
8) Umpan
Balik,
individu
memperoleh feedback dari perilaku yang telah dilakukannya.
Ada
Sembilan Langkah yang harus diperhatikan pendidik di kelas kaitannya dengan
pembelajaran pemrosesan Informasi.
1) Melakukan
tindakan untuk menarik perhatian siswa.
2) Memberikan
informasi mengenai tujuan pembelajaran dan topik yang akan dibahas.
3) Merangsang
siswa untuk memulai aktivitas pembelajaran.
4) Menyampaikan
isi pembelajaran sesuai dengan topik yang telah.
5) Memberikan bimbingan bagi aktivitas siswa dalam pembelajaran.
6) Memberikan
penguatan pada perilaku pembelajaran.
7) Memberikan
feedback terhadap perilaku yang ditunjukkan siswa.
8) Melaksanakan
penilaian proses dan hasil.
9) Memberikan kesempatan
kepada siswa untuk bertanya dan menjawab berdasarkan pengalamannya.
Model
Proses Informasi ini meliputi beberapa pendekatan/strategi pembelajaran,
diantaranya:
1) Mengajar
Induktif, yaitu untuk mengembangkan kemampuan berfikir dan membentuk teori.
2) Latihan Inquiry, yaitu untuk mencari dan menemukan informasi yang
memang diperlukan.
3) Inquiry Keilmuan, bertujuan untuk mengajarkan sistem penelitian dalam disiplin ilmu, dan diharapkan akan memperoleh
pengalaman dalam domain-domain disiplin ilmu lainnya.
4) Pembentukan
Konsep, bertujuan untuk mengembangkan kemampuan berfikir induktif,
mengembangkan konsep dan kemampuan analisis.
5) Model
Pengembangan, bertujuan untuk mengembangkan intelegensi umum, terutama berfikir
logis, aspek sosial dan moral.
6) Advanced Organizer Model, bertujuan untuk mengembangkan kemampuan memproses informasi yang efesien untuk menyerap dan menghubungkan satuan ilmu pengetahuan secara bermakna.
Implikasi
teori belajar kognitif (Piaget) dalam pembelajaran diantaranya:
1) Bahasa
dan cara berfikir anak berbeda dengan orang dewasa, oleh karena itu guru
hendaknya menggunakan bahasa yang sesuai dengan cara berfikir anak. Anak akan
dapat belajar dengan baik apabila ia mampu menghadapi lingkungan dengan baik.
2) Guru
harus dapat membantu anak agar dapat berinteraksi dengan lingkungan belajarnya
sebaik mungkin. (fasilitator, ing arso
sung tolado, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani).
3) Bahan
yang harus dipelajari hendaknya dirasakan baru tetapi tidak asing. Beri
peluang kepada anak untuk belajar sesuai dengan
tingkat perkembangannya.
4) Di
kelas, berikan kesempatan pada anak untuk dapat bersosialisi dan diskusi
sebanyak mungkin.
Rumpun Model Pemrosesan Informasi
|
Model |
Tokoh |
Tujuan |
|
Model Berfikir Induktif |
Hilda Taba |
Dirancang untuk pengembangan proses mental induktif dan penalaran akademik, atau pembentukan teori. |
|
Model Latihan Inkuiri |
Richard Suchman |
Dirancang untuk mengajar murid untuk menghadapi penalaran kausal, dan untuk lebih
fasih dan tepat dalam mengajukan
pertanyaan, membentuk konsep dan hipotesis. Model ini pada mulanya digunakan dalam sains, tetapi
kemampuan kemampuan Ini berguna untuk tujuan-tujuan pribadi dan sosial. |
|
Inkuiri Ilmiah |
Joseph J. Schwab |
Dirancang untuk mengajar sistem penelitian dari suatu disiplin, tetapi
juga diharapkan untuk mempunyai efek dalam kawasan-kawasan lain
(metode-metode sosial mungkin diajarkan dalam upaya meningkatkan pemahaman sosial dan pemecahan masalah sosial. |
|
Penemuan Konsep |
Jerome Bruner |
Dirancang terutama untuk
mengembangakan
penalaran induktif, juga untuk perkembangan dan analisis konsep. |
|
Pertumbuhan Kognitif |
Jean Piaget Irving Sigel Edmund Sulivan Lawrence Kohlberg |
Dirancang untuk
meningkatkan
perkembangan
intelektual,
terutama penalaran logis, tetapi dapat
diterapkan pada perkembangan sosial dan moral. |
|
Model Penata Lanjutan |
David Ausubel |
Dirancang untuk meningkatkan efisiensi kemampuan pemrosesan informasi untuk menyerap dan mengaitkan bidang-bidang
pengetahuan |
|
Memori |
Harry Lorayne Jerry Lucas |
Dirancang untuk meningkatkan kemampuan mengingat |
Model Personal (Personal Models)
Model ini bertitik tolak dari teori
Humanistik, yaitu berorientasi terhadap pengembangan diri individu. Perhatian
utamanya pada emosional siswa untuk mengembangkan hubungan yang produktif
dengan lingkungannya. Model ini menjadikan pribadi siswa yang mampu membentuk
hubungan yang harmonis serta mampu memproses informasi secara efektif.
Model ini juga berorientasi pada individu dan perkembangan keakuan. Tokoh humanistik adalah Abraham Maslow (1962), R. Rogers, C. Buhler dan Arthur Comb. Menurut teori ini, guru harus berupaya menciptakan kondisi kelas yang kondusif, agar siswa merasa bebas dalam belajar dan mengembangkan dirinya, baik emosional maupun intelektual. Teori humanistik timbul sebagai gerakan memanusiakan manusia. Pada teori humanistik ini, pendidik seharusnya berperan sebagai pendorong, bukan menahan sensivitas siswa terhadap perasaanya. Implikasi teori humanistik dalam pendidikan adalah sebagai berikut:
1) Bertingkah
laku dan belajar adalah hasil pengamatan.
2) Tingkahlaku
yang ada, dapat dilaksanakan sekarang (learning to do).
3) Semua
individu memiliki dorongan dasar terhadap aktualisasi diri.
4) Sebagian
besar tingkahlaku individu adalah hasil dari konsepsinya sendiri.
5) Mengajar
adalah bukan hal penting, tapi belajar siswa adalah sangat penting. (learn
how to learn).
6) Mengajar
adalah membantu individu untuk mengembangkan suatu hubungan yang produktif
dengan lingkungannya dan memandang dirinya sebagai pribadi yang cakap.
Model pembelajaran personal ini meliputi
strategi pembelajaran sebagai berikut:
1) Pembelajaran
Non-Direktif, bertujuan untuk membentuk kemampuan dan perkembangan pribadi
(kesadaran diri, pemahaman, dan konsep diri).
2) Latihan
Kesadaran, bertujuan untuk meningkatkan kemampuan interpersonal atau kepedulian siswa.
3) Sinetik,
untuk mengembangkan kreativitas pribadi dan memecahkan
masalah secara kreatif.
4) Sistem Konseptual, untuk meningkatkan kompleksitas dasar pribadi yang luwes.
|
Rumpun Model
Personal |
|||
|
No |
Model |
Tokoh |
Tujuan |
|
1. |
Pengajaran
non-Directif |
Carl Rogers |
Penekanan
pada pembentukan kemampuan untuk perkembangan pribadi dalam arti kesadaran
diri, pemahaman diri, kemandirian dan
konsep diri. |
|
2. |
Latihan kesadaran |
Fritz Perls
Willian Schutz |
Meningkatkan kemampuan seseorang untuk eksplorasi diri dan kesadaran diri.
Banyak menekankan pada perkembangan kesadaran dan pemahaman antar pribadi. |
|
3. |
Sinektik |
William Gordon |
Perkembangan
pribadi dalam kreativitas dan pemecahan masalah kreatif. |
|
4. |
Sistem- sistem Konseptual |
David Hunt |
Dirancang untuk meningkatkan kekomplekan dan
keluwesan pribadi. |
|
5. |
Pertemuan Kelas |
Willian
Glasser |
Perkembangan pemahaman diri dan tanggung jawab kepada diri
sendiri dan kelompok sosial. |
Model Modifikasi Tingkah Laku (Behavioral)
Model ini bertitik tolak dari teori belajar
behavioristik, yaitu bertujuan mengembangkan sistem yang efisien untuk mengurutkan tugas-tugas belajar
dan membentuk TL dengan cara memanipulasi penguatan (reinforcement).
Model ini lebih menekankan pada aspek perubahan perilaku psikologis dan
perlilaku yang tidak dapat diamanti Karakteristik Model ini adalah dalam hal
penjabaran tugas-tugas yang harus dipelajari siswa lebih efisien dan berurutan.
Ada empat fase dalam model modifikasi tingkah
laku ini, yaitu:
1) fase
mesin pengajaran (CAI dan CBI),
2) penggunaan media,
3) Pengajaran
berprograma (linier dan branching)
4) Operant
Conditioning, dan Operant Reinforcement.
Implementasi dari model modifikasi tingkah
laku ini adalah meningkatkan ketelitian pengucapan pada anak. Guru selalu
perhatian terhadap tingkah laku belajar siswa. Modifikasi tingkah laku anak
yang kemampuan belajarnya rendah dengan reward, sebagai reinforcement pendukung.
Penerapan prinsip pembelajaran individual terhadap pembelajaran klasikal.
Rumpun Model Modifikasi Tingkah Laku (Behavioral)
|
Model |
Tokoh |
Tujuan |
|
Manajemen Kontingensi |
B.F. Skinner |
Fakta-fakta, konsep, keterampilan |
|
Kontrol diri |
B.F. Skinner |
Perilaku/Keterampilan sosial. |
|
Relaksasi (santai) |
Rim &
Master Wolpe |
Tujuan tujuan pribadi (mengurangi ketegangan dan kecemasan) |
|
Pengurangan Ketegangan |
Rimm & Masters Wolpe |
Mengalihkan kesantaian
Kepada kecemasan dalam situasi
sosial |
|
Latihan Asertif Desensitisasi |
Wolp,
Lazarus, Salter |
Ekspresi
perasaan secara langsung dan spontan dalam situasi sosial. |
|
Latihan
langsung |
Gagne
Smith & Smith |
Pola-pola Perilaku, keterampilan. |
MODEL PEMBELAJARAN MENURUT PARA AHLI
Model desain pembelajaran pada dasarnya
merupakan pengelolaan dan pengembangan yang dilakukan terhadap komponen-
komponen pembelajaran. Beberapa model pengembangan pembelajaran antara lain: Model
PPSI (Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional), Model Jerold E. Kemp,
Gerlach & Ely, Glasser, Bella Banathy, Rogers, dan Model-model pembelajaran
yang lainnya. Adapun model-model pembelajaran yang akan dipaparkan pada modul
ini adalah: Model PPSI (Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional),
Model Glasser, Model Gerlach & Elly, Model Jerold E. Kemp, dan Model
Pembelajaran Kontekstual (CTL).
Munculnya model PPSI dilatar belakangi oleh
beberapa hal berikut:
a) Pemberlakuan
Kurikulum 1975, pasal 10: Metode penyampaian adalah “Prosedur Pengembangan
Sistem Instruksional (PPSI)” untuk Pengembangan Satuan Pembelajaran.
b) Berkembangnya
paradigma “pendidikan sebagai suatu sistem” maka pembelajaran menggunakan
pendekatan sistem (PPSI).
c) Pendidik/guru
masih menggunakan paradigma “Transfer of Knowledge”” belum pada
Pembelajaran yang profesional.
d) Tuntutan
Kurikulum 1975 yang berorientasi pada tujuan, relevansi, efisiensi, efektivitas
dan kontinuitas.
e) Sistem
Semester pada Kurikulum 1975 menuntut Perencanaan Pengajaran sampai Satuan
Materi Terkecil.
Konsep dari PPSI ini adalah bahwa sistem
instruksional yang menggunakan pendekatan sistem, yaitu satu kesatuan yang
terorganisasi, yang terdiri atas sejumlah komponen yang saling berhubungan satu
sama lainnya dalam rangka mencapai tujuan yang diinginkan. Sedangkan fungsi
PPSI adalah untuk mengefektifkan perencanaan dan pelaksanaan program pengajaran
secara sistemik dan sistmatis, untuk dijadikan sebagai pedoman bagi pendidik
dalam melaksanakan proses belajar mengajar.
PPSI digunakan sebagai pendekatan penyampaian
kurikulum 1975 untuk tingkat SD, SMP, dan SMA, dan kurikulum 1976 untuk sekolah
kejuruan. PPSI menggunakan pendekatan sistem yang mengutamakan adanya tujuan
yang jelas, sehingga dapat dikatakan bahwa PPSI merujuk pada pengertian sebagai
suatu sistem, yaitu sebagai kesatuan yang terorganisasi, yang terdiri atas
sejumlah komponen yang saling berhubungan satu dengan yang lainnya dalam rangka
mencapai tujuan yang diinginkan. Sebagai suatu sistem, pembelajaran mengandung
sejumlah komponen seperti: tujuan, materi, metode, alat, dan evaluasi yang
kesemuanya berinteraksi satu dengan yang lainnya untuk mencapai tujuan
pembelajaran yang telah ditetapkan. PPSI merupakan model pembelajaran yang
menerapkan suatu sistem untuk mencapai tujuan secara efektif dan efisien.
Ada lima Langkah-langkah pokok dari
pengembangan model PPSI ini yaitu:
a) Merumuskan
Tujuan Pembelajaran (menggunakan istilah yang opersional, berbentuk hasil
belajar, berbentuk tingkah laku, dan hanya ada satu kemampuan/tujuan).
b) Pengembangan
Alat Evaluasi (menentukan jenis tes yang akan digunakan, menyusun item soal
untuk setiap tujuan).
c) Menentukan
Kegiatan Belajar Mengajar, (merumuskan semua kemungkinan kegiatan pembelajaran
untuk mencapai tujuan, menetapkan kegiatan pembelajaran yang akan ditempuh).
d) Merencanakan
Program Kegiatan Belajar Mengajar, (merumuskan materi pelajaran, menetapkan
metode yang digunakan, memilih alat dan sumber yang digunakan dan menyusun program kegiatan/jadwal).
e) Pelaksanaan,
(mengadakan pre-tes, menyampaikan materi pelajaran, mengadakan post-tes dan revisi).
Secara lebih rinci langkah-langkah tersebut
dapat diuraikan sebagai berikut:
Langkah 1: Merumuskan Tujuan Pembelajaran
Dalam merumuskan tujuan instruksional yang
dimaksud adalah tujuan pembelajaran khusus, yaitu rumusan yang jelas dan
operasional tentang kemampuan atau kompetensi yang diharapkan dimiliki siswa
setelah mengikuti suatu program pembelajaran. Kemampuan-kemampuan atau
kompetensi tersebut harus dirumuskan secara spesifik dan terukur sehingga dapat
diamati dan dievaluasi.
Langkah 2: Mengembangjan Alat Evaluasi
Setelah tujuan pembelajaran dirumuskan,
langkah selanjutnya adalah mengembangkan alat evaluasi yaitu tes yang fungsinya
untuk menilai sejauhmana siswa telah menguasai kemampuan atau kompetensi yang
telah dirumuskan dalam tujuan pembelajaran khusus tersebut. Dalam model PPSI
berbeda dari apa yang biasanya
dilakukan, pengembangan alat evaluasi tidak dilakukan pada akhir dari kegiatan
pembelajaran, tetapi pada langkah kedua sesudah tujuan pembelajaran khusus
ditetapkan. Hal ini didasarkan atas prinsip yang berorientasi pada tujuan
(hasil), yaitu penilaian terhadap suatu sistem pembelajaran didasarkan atas hasil yang dicapai.
Hasil tersebut tergambar dalam perumusan tujuan pembelajaran pada langkah
pertama. Untuk mengecek apakah rumusan tujuan pembelajaran tersebut dapat
diukur (dievaluasi) atau tidak, perlu dikembangkan terlebih dahulu alat
evaluasinya sebelum melangkah lebih jauh. Dengan dikembangkannya alat evaluasi,
mungkin ada beberapa tujuan yang perlu diubah atau dipertegas rumusannya
sehingga dapat dievaluasi.
Dalam mengembangkan alat evaluasi ini perlu
ditentukan terlebih dahulu jenis-jenis tes dan bentuk-bentuk tes yang akan
digunakan. Apakah jenis tes tertulis, lisan atau tes perbuatan. Kemudian bentuk
tes yang digunakan apakah pilihan ganda (multiple choice), essai, benar-salah
atau menjodohkan. Untuk menilai sejumlah tujuan pembelajaran yang telah
ditetapkan, dapat digunakan satu jenis tes atau satu bentuk tes, atau dua
bahkan tiga jenis dan bentuk tes. Hal ini sangat bergantung pada hakekat tujuan
yang akan dicapai.
Langkah 3: Menentukan Kegiatan Belajar
Mengajar
Sesudah tujuan dan alat evaluasi ditetapkan,
langkah selanjutnya adalah menetapkan kegiatan belajar mengajar, yaitu kegiatan
yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dalam
menentukan kegiatan belajar mengajar hal yang harus dilakukan adalah:
a) merumuskan semua kemungkinan kegiatan belajar yang diperlukan untuk mencapai tujuan.
b) menetapkan mana dari sekian
kegiatan belajar tersebut yang perlu ditempuh dan tidak perlu ditempuh lagi
oleh siswa; dan
c) menetapkan kegiatan
belajar yang masih perlu dilaksanakan oleh siswa.
Pada langkah ini sesudah kegiatan belajar
siswa ditetapkan, perlu dirumuskan pokok-pokok materi pembelajaran yang akan
diberikan kepada siswa sesuai dengan jenis kegiatan
belajar yang telah ditetapkan.
Langkah 4: Merencanakan Program Kegiatan
Belajar Mengajar
Setelah langlah satu sampai tiga telah
ditetapkan, selanjutnya perlu dimantapkan dalam suatu program pembelajaran.
Titik tolak dalam merencanakan program kegiatan pembelajaran adalah suatu
pelajaran yang diambil dari kurikulum yang telah ditetapkan jumlah jam/sks-nya
dan diberikan pada kelas dalam semester tertentu. Pada langkah ini perlu
disusun strategi proses pembelajaran dengan cara merumuskan kegiatan mengajar
dan kegiatan belajar yang dirancang secara sistematis sesuai dengan situasi
kelas. Pendekatan dan metode pembelajaran yang akan digunakan dipilih sesuai
dengan tujuan dan karakteristik materi yang akan disampaikan. Termasuk dalam
langkah ini adalah penyusunan proses pelaksanaan evaluasi.
Langkah 5: Pelaksanaan
Langlah-langkah yang perlu dilakukan dalam
pelaksanaan program ini adalah sebagai berikut:
1. Mengadakan pre-test (tes awal)
Tes yang diberikan kepada siswa adalah tes
yang telah disusun pada langkah kedua. Fungsi tes awal ini adalah untuk
memperoleh informasi tentang kemampuan awal siswa, sebelum mereka mengikuti
program pembelajaran yang telah disiapkan. Apabila siswa telah menguasai
kemampuan yang tercantum dalam tujuan pembelajaran yang ingin dicapai, maka hal
itu tidak perlu diberikan lagi oleh pengajar dalam program pembelajaran yang
akan diberikan.
2. Menyampaikan materi pelajaran
Pada prinsipnya penyampaian materi pelajaran harus berpegang pada rencana yang telah disusun pada langkah keempat, yaitu “Merencanakan kegiatan belajar mengajar”, baik dalam materi, metode, maupun alat yang akan digunakan. Selain itu, sebelum menyampaikan materi pelajaran, hendaknya guru menjelaskan dulu kepada siswa tujuan/kompetensi yang akan dicapai, sehingga mereka mengetahui kemampuan-kemampuan yang diharapkan setelah selesai pelajaran.
3. Mengadakan postest
Posttest diberikan setelah selesai mengikuti program pembelajaran. Tes yang diberikan identik dengan yang diberikan pada tes awal, jadi bedanya terletak pada waktu dan fungsinya. Tes awal (pre-test) berfungsi untuk menilai kemampuan siswa mengenai materi pelajaran sebelum pembelajaran diberikan, sedangkan tes akhir (post-test) berfungsi untuk menilai kemmapuan siswa mengenai materi pelajaran sesudah pembelajaran dilaksanakan. Dengan demikian dapat diketahui seberapa jauh keberhasilan program pembelajaran yang diberikan dapat dicapai.
2. Model Glasser
Model Glasser adalah model yang paling sederhana. Ia menggambarkan suatu desain atau pengembangan pembelajaran kedalam empat kompone Model pembelajaran Gerlach dan Ely dikembangkan berdasarkan sepuluh unsur yaitu:
1. Spesifikasi
isi pokok bahasan (specification of content)
2. Spesifikasi
tujuan pembelajaran (specification of objectives)
3. Pengumpulan
dan penyaringan data tentang siswa (assessment of entering behaviors)
4. Penentuan
cara pendekatan, metode dan teknik mengajar (determination of strategy)
5. Pengelompokkan
siswa (organization of groups)
6. Penyediaan
waktu (allocation of time) space)
7. Penganturan
ruangan (allocation of space)
8. Pemilihan
media/sumber belajar (selection of resources)
9. Evaluasi
(evaluation of performance)
10. Analisis
umpan balik (analysis of feedback)
Model pembelajaran Jerold E. Kemp (1977),
terdiri dari delapan langkah yaitu:
1. Menentukan
Tujuan Pembelajaran Umum, yaitu tujuan yang ingin dicapai dalam
mengajarkan masing-masing pokok bahasan.
2. Membuat
analisis tentang karakteristik siswa. Analisis ini diperlukan antara lain untuk
mengetahui, apakah latar belakang pendidikan dan sosial budaya siswa
memungkinkan untuk mengikuti program, dan langkah-langkah apa yang perlu diambil.
3. Menentukan tujuan pembelajaran khusus, yaitu tujuan yang spesifik, operasional dan terukur, dengan demikian siswa akan tahu apa yang harus dipelajari, bagaimana mengerjakannya, dan apa ukurannya bahwa siswa telah berhasil. Dari segi guru rumusan itu akan berguna dalam menyusun tes kemampuan dan pemilihan bahan/materi yang sesuai.
4. Menentukan materi/bahan pelajaran yang sesuai dengan tujuan pembelajaran khusus.
5. Menentukan
strategi belajar mengajar dan sumber belajar yang sesuai. Kriteria umum untuk
pemilihan strategi pembelajaran yang sesuai dengan tujuan pembelajaran khusus
tersebut adalah: (a) efisiensi, (b) keefektifan, (c) ekonomis, (d) kepraktisan,
melalui suatu analisis alternatif.
6. Koordinasi
sarana peninjang yang diperlukan meliputi: biaya, fasilitas, peralatan, waktu,
dan tenaga.
7. Mengadakan evaluasi, yaitu untuk mengontrol dan mengkaji keberhasilan program secara keseluruhan, yaitu: (a) siswa, (b) program pembelajaran, (c) instrumen evaluasi, dan (d) metode.Secara visual model Jerold E.
Model Pembelajaran Kontekstual (CTL)
Pembelajaran
di sekolah tidak hanya difokuskan pada pemberian pembekalan kemampuan
pengetahuan yang bersifat teoritis saja, akan tetapi bagaimana agar pengalaman
belajar yang dimiliki siswa senantiasa terkait dengan permasalahan-
permasalahan aktual yang terjadi di lingkungannya. Dengan demikian inti dari
pendekatan CTL adalah keterkaitan setiap materi atau topik pembelajaran dengan
kehidupan nyata. Untuk mengaitkanya bisa dilakukan berbagai cara, selain karena
memang materi yang dipelajari secara langsung terkait dengan kondisi faktual,
juga bisa disiasati dengan pemberian ilustrasi atau contoh, sumber belajar,
media dan lain sebagainya, yang memang baik secara langsung maupun tidak
diupayakan terkait atau ada hubungan dengan pengalaman hidup nyata. Dengan
demikian pembelajaran selain akan lebih menarik, juga akan dirasakan sangat
dibutuhkan oleh setiap siswa karena apa yang dipelajari dirasakan langsung
manfaatnya.
Ketika
memberikan pengalaman belajar yang diorientasikan pada pengalaman dan kemampuan
aplikatif yang lebih bersifat praktis, tidak diartikan pemberian pengalaman
teoritik konseptual tidak penting. Sebab dikuasainya pengetahuan teoritik
secara baik oleh para siswa akan memfasilitasi terhadap kemampuan aplikatif
lebih baik pula. Demikian juga halnya bagi guru, kemampuan melaksanakan proses
pembelajaran melalui CTL yang baik didasarkan pada penguasaan konsep apa,
mengapa dan bagaimana CTL itu. Melalui pemahaman konsep yang benar dan mendalam
terhadap CTL itu sendiri, akan membekali kemampuan para guru menerapkannya
secara lebih luas, tegas dan penuh keyakinan, karena memang telah didasari oleh
kemampuan konsep teori yang kuat.
Pendekatan
kontekstual (contextual teaching and learning) merupakan konsep belajar
yang dapat membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan
situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara
pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai
anggota keluarga dan masyarakat. (Nurhadi, 2002). Untuk memperkuat dimilikinya
pengalaman belajar yang aplikatif bagi siswa, tentu saja diperlukan
pembelajaran yang lebih banyak memberikan kesempatan kepada siswa
untuk melakukan, mencoba, dan mengalami sendiri (learning to do),
dan bahkan sekedar pendengar yang pasif sebagaimana penerima terhadap semua
informasi yang disampaikan guru.
Oleh
sebab itu melalui pendekatan CTL, mengajar bukan transformasi pengetahuan dari
guru kepada siswa dengan menghafal sejumlah konsep-konsep yang sepertinya
terlepas dari kehidupan nyata, akan tetapi lebih ditekankan pada upaya
memfasilitasi siswa untuk mencari kemampuan untuk bisa hidup (life skill)
dari apa yang dipelajarinya. Dengan demikian pembelajaran akan lebih bermakna,
sekolah lebih dekat dengan lingkungan masyarakat (bukan dekat dari segi fisik),
akan tetapi secara fungsional apa yang dipelajari di sekolah senantiasa
bersentuhan dengan situasi dan permasalahan kehidupan yang terjadi di
lingkungannya (keluarga dan masyarakat).
Pendekatan konstekstual sebagai suatu pendekatan pembelajaran yang mefasilitasi kegiatan belajar siswa untuk mencari, mengolah, dan menemukan pengalaman belajar yang lebih bersifat kongkrit (terkait dengan kehidupan nyata) melalui pelibatan aktivitas belajar mencoba melakukan dan mengalami sendiri (learning by doing). Dengan demikian pembelajaran tidak sekedar dilihat dari sisi produk, akan tetapi yang terpenting adalah proses. Oleh karena itu tugas guru adalah mensiasati strategi pembelajaran bagaimana yang dipandang lebih efektif dalam membimbing kegiatan belajar siswa agar dapat menemukan apa yang menjadi harapannya. Dalam pembelajaran kontekstual ada 7 prinsip pembelajaran yang harus dikembangkan oleh guru yaitu: 1) konstruktivisme, 2) menemukan (inquiry), 3) bertanya, 4) masyarakat belajar, 5) pemodelan, 6) refleksi dan 7) penilaian sebenarnya.
CTL,
sebagai suatu pendekatan, dalam implementasinya tentu saja memerlukan
desain/perencanaan pembelajaran yang mencerminkan konsep dan prinsip CTL.
Disain pembelajaran pada intinya merupakan suatu rancangan atau rencana sistem
pembelajaran yang dibuat oleh guru untuk memudahkan dan meningkatkan proses dan
hasil pembelajaran. Bagi setiap guru membuat disain pembelajaran bukan
merupakan suatu hal yang baru, karena kita sudah terbiasa membuat persiapan
mengajar, apakah yang disebut Satuan Pelajaran (Satpel), Rencana Pembelajaran
(renpel), Persiapan Harian atau dalam bentuk nama yang lainnya. Secara
substansial semuanya memiliki kesamaan, yaitu merupakan rancangan pembelajaran
yang dikembangkan oleh guru sebagai bentuk penjabaran kurikulum tertulis (ideal)
kedalam bentuk nyata (actual) yaitu sebagai pedoman umum dan sekaligus
sebagai alat kontrol bagi guru untuk melaksanakan proses belajar mengajar di
kelas maupun di luar kelas.
Secara
lebih terurai diungkapkan oleh Reigeluth, bahwa fungsi dan peran Disain
Pembelajaran antara lain:
1) Instructional
design prescribes methods a part of Instructional Development
2) Instructional design prescribes procedure for Instructional
Implementation
3) Instructional design prescibes procedure for Instructional management
4) Instructional
design identifies and remedies weaknesses as
a part of Instructional Evaluation
Berdasarkan uraian singkat konsep disain di atas, maka desain pembelajaran memiliki sifat keluwesan (fleksibel), tidak kaku dalam satu model tertentu saja. Format disain bisa dikembangkan dalam bentuk yang bervariasi tergantung pada tujuan dan model pembelajaran bagaimana yang akan dilaksanakan oleh guru dalam melaksanakan proses belajar mengajar. Dari hasil inovasi, kini ditemukan berbagai jenis model pembelajaran seperti model terpadu, model cooperative learning, model pembelajaran quantum teaching & learning, dan lain sebagainya. Kini muncul model lain yaitu yang disebut dengan pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL). Tentu saja setiap model tersebut di samping memiliki unsur kesamaan, juga ada beberapa perbedaan tertentu. Hal ini karena setiap model memiliki karakteristik khas tertentu, yang tentu saja berimplikasi pada adanya perbedaan tertentu pula dalam membuat disain/skenarionya disesuaikan dengan model yang akan diterapkan. Ciri khas pendekatan CTL ditandai oleh tujuh komponen utama, yaitu: 1) Contruktivisme, 2) Inquiry, 3) Questioning, 4) Learning Community, 5) Modeling, 6) Reflection, dan 7) Authentic Assesment. Penjelasan dari setiap komponen tersebut sudah diungkapkan dalam materi sebelumnya. Sekarang tinggal bagaimana melaksanakan setiap komponen tersebut dalam bentuk pembelajaran di kelas atau di luar kelas sehingga benar- benar mencerminkan pelaksanakaan model CTL.
Sebelum melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan pendekatan CTL, tentu saja terlebih dahulu guru harus membuat disain/skenario pembelajarannya, sebagai pedoman umum dan sekaligus sebagai alat kontrol dalam pelaksanaannya. Pada intinya pengembangan setiap komponen CTL tersebut dalam pembelajaran dapat dilakukan melalui langkah-langkah sebagai berikut:
1) Mengembangkan
pemikiran siswa untuk melakukan kegiatan belajar lebih bermakna dengan apakah
dengan cara bekerja sendiri, menemukan sendiri, dan mengkonstruksi sendiri
pengetahuan dan keterampilan baru yang harus akan dimilikinya.
2) Melaksanakan
sejauh mungkin kegiatan inquiry untuk semua topik yang diajarkan.
3) Mengembangkan
sifat ingin tahu siswa melalui memunculkan pertanyaan-pertanyaan.
4) Menciptakan
masyarakat belajar, seperti melalui kegiatan kelompok berdiskusi, tanya jawab
dan lain sebagainya.
5) Menghadirkan
model sebagai contoh pembelajaran, bisa melalui ilustrasi, model bahkan media
yang sebenarnya.
6) Membiasakan
anak untuk melakukan refleksi dari setiap kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan.
7) Melakukan
penilaian secara objektif, yaitu menilai kemampuan yang sebenarnya pada setiap siswa.
Pendekatan CTL sebagai suatu pendekatan pembelajaran yang memberikan fasilitas kegiatan belajar siswa untuk mencari, mengolah dan menemukan pengalaman belajar yang lebih bersifat kongkrit (terkait dengan kehidupan nyata) melalui keterlibatan aktivitas siswa dalam mencoba, melakukan dan mengalami sendiri. Dengan demikian pembelajaran tidak sekedar dilihat dari sisi produk, akan tetapi yang terpenting adalah proses. Pembelajaran kontekstual ini memiliki 7 tahapan pokok yang harus dikembangkan oleh guru yaitu:
a) Konstruktivisme (Contructivisme)
Konstruktivisme merupakan landasan berfikir
(filosofi) dalam pendekatan CTL, yaitu bahwa pengetahuan dibangun
oleh
manusia sedikit demi sedikit yang hasilnya diperluas melalui
konteks yang terbatas. Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta-fakta, konsep
atau kaidah yang siap untuk diambil dan diingat. Manusia harus membangun
pengetahuan itu memberi makna melalui pengalaman yang nyata. Batasan
konstruktivisme di atas memberikan penekanan bahwa konsep bukanlah tidak
penting sebagai bagian integral dari pengalaman belajar yang harus dimiliki
oleh siswa, akan tetapi bagaimana dari setiap konsep atau pengetahuan yang
dimiliki siswa itu dapat memberikan pedoman nyata terhadap siswa untuk
diaktualisasikan dalam kondisi nyata. Oleh karena itu dalam pendekatan CTL,
strategi untuk membelajarkan siswa menghubungkan antara setiap konsep dengan
kenyataan merupakan unsur yang diutamakan dibandingkan dengan penekanan terhadap
seberapa banyak pengetahuan yang harus diingat oleh siswa.
Hasil penelitian ditemukan bahwa pemenuhan
terhadap kemampuan penguasaan teori berdampak positif untuk jangka pendek,
tetapi tidak memberikan sumbangan yang cukup baik dalam waktu jangka panjang. Pengetahuan teoritik
yang bersifat hafalan mudah lepas dari ingatan seseorang apabila
tidak ditunjang dengan pengalaman nyata. Implikasi bagi guru
dalam mengembangkan tahap konstruktivisme ini terutama dituntut kemampuan untuk
membimbing siswa mendapatkan makna dari setiap konsep yang dipelajarinya.
Pembelajaran akan dirasakan memiliki makna
apabila secara langsung maupun tidak langsung berhubungan dengan pengalaman
sehari-hari yang dialami oleh para siswa itu sendiri. Oleh karena itu setiap
guru harus memiliki bekal wawasan yang cukup luas, sehingga dengan wawasannya
itu ia selalu dengan mudah memberikan ilustrasi, menggunakan sumber belajar dan
media pembelajaran yang dapat merangsang siswa untuk aktif mencari dan melakukan serta
menemukan sendiri kaitan antara konsep yang dipelajari dengan pengalamannya.
Dengan cara itu pengalaman belajar siswa akan memfasilitasi kemampuan siswa
untuk melakukan transformasi terhadap pemecahan masalah lain yang memiliki
sifat keterkaitan, meskipun terjadi pada ruang dan waktu yang berbeda.
b) Menemukan (Inquiry)
Menemukan merupakan kegiatan inti dari
pendekatan CTL, melalui upaya menemukan akan memberikan penegasan bahwa
pengetahuan dan keterampilan serta kemampuan-kemampuan lain yang diperlukan
bukan merupakan hasil dari mengingat seperangkat fakta-fakta, tetapi merupakan
hasil menemukan sendiri. Kegiatan pembelajaran yang mengarah pada upaya
menemukan, telah lama diperkenalkan pula dalam pendekatan pembelajaran inquiry
and discovery (mencari dan menemukan). Tentu saja
unsur menemukan dari kedua pendekatan (CTL dan inquary and discovery) secara
prinsip tidak banyak perbedaan, intinya sama yaitu model atau sistem
pembelajaran yang membantu siswa baik secara individu maupun kelompok belajar
untuk menemukan sendiri sesuai dengan pengalaman masing- masing. Dilihat dari
segi kepuasan secara emosional, sesuatu hasil menemukan sendiri akan memiliki
nilai kepuasan lebih tinggi dibandingkan dengan hasil pemberian. Beranjak dari
logika yang cukup sederhana itu tampaknya akan memiliki hubungan yang erap pula
bila dikaitkan dengan pendekatan pembelajaran. Di mana hasil pembelajaran
merupakan hasil dan kreativitas siswa sendiri, akan bersifat lebih tahan lama
diingat oleh siswa bila dibandingkan dengan sepenuhnya merupakan pemberian dari
guru. Untuk menumbuhkan kebiasaan siswa
secara kreatif agar bisa menemukan pengalaman belajarnya sendiri, berimplikasi pada strategi yang dikembangkan oleh guru.
Suasana demokratis dalam pembelajaran dengan
memberi kesempatan yang luas kepada siswa untuk melakukan observasi, mendorong
keberanian untuk bertanya, mengajukan dugaan, mencari dan mengolah data serta
kebiasaan untuk membuat kesimpulan sendiri dari apa yang telah dipelajarinya
merupakan persyaratan utama yang harus dikembangkan oleh guru. Sebaliknya
suasana pembelajaran yang mencekam dengan otoritas pembelajaran sepenuhnya ada
di tangan guru, akan mengakibatkan tumpulnya daya kreativitas siswa, karena
siswa akan dihinggapi perasaan ragu-ragu, takut salah, takut dicemoohkan dan
ketakutan-ketakutan lain yang mengakibatkan tidak berkembangnya
imajinasi sebagai modal kreativitas siswa, dan kondisi semacam ini harus
dihindari dalam upaya mengembangkan tahap inquiry.
c) Bertanya (Questioning)
Unsur lain yang menjadi karakteristik utama CTL adalah adalah kemampuan dan kebiasaan untuk bertanya. Pengetahuan yang dimiliki seseorang selalu bermula dari bertanya. Oleh karena itu bertanya merupakan strategi utama dalam pendekatan CTL. Penerapan unsur bertanya dalam pendekatan CTL harus difasilitasi oleh guru, kebiasaan siswa untuk bertanya atau kemampuan guru dalam menggunakan pertanyaan yang baik akan mendorong pada peningkatan kualitas dan produktivitas pembelajaran. Seperti pada tahapan sebelumnya, berkembangnya kemampuan dan keinginan untuk bertanya, sangat dipengaruhi oleh suasana pembelajaran yang dikembangkan oleh guru. Dalam implementasi CTL, pertanyaan yang diajukan oleh guru atau siswa harus dijadikan alat atau pendekatan untuk menggali informasi atau sumber belajar yang ada kaitannya dengan kehidupan nyata. Dengan kata lain tugas bagi guru adalah membimbing siswa melalui pertanyaan yang diajukan untuk mencari dan menemukan kaitan antara konsep yang dipelajari dalam kaitan dengan kehidupan nyata.
Melalui penerapan bertanya, pembelajaran akan
lebih hidup, akan mendorong proses dan hasil pembelajaran yang lebih luas dan
mendalam, dan akan banyak ditemukan unsur- unsur lain yang terkait yang
sebelumnya tidak terpikirkan baik oleh guru maupun oleh siswa. Oleh karena itu
cukup beralasan jika dengan pengembangan bertanya produktivitas pembelajaran
akan lebih tinggi, karena dengan bertanya, maka:
1) dapat menggali informasi,
baik adminiastrasi maupun akademik, 2) mengecek pemahaman siswa,
3) membangkitkan respon siswa, 4) mengetahui sejauhmana keingintahuan siswa, 5) mengetahui hal-hal yang
diketahui siswa, 6) memfokuskan perhatian siswa, 7)
membangkitkan lebih banyak lagi pertanyaan dari siswa, dan 8) menyegarkan
kembali pengetahuan yang telah dimiliki siswa.
d) Masyarakat
Belajar (Learning Community)
Maksud dari masyarakat belajar adalah
membiasakan siswa untuk melakukan kerjasama dan memanfaatkan sumber belajar
dari teman-teman belajarnya. Seperti yang disarankan dalam learning
community, bahwa hasil pembelajaran diperoleh darim kerjasama dengan orang
lain melalui berbagai pengalaman (sharing). Melalui sharing ini
anak dibiasakan untuk saling memberi dan menerima, sifat ketergantungan yang
positif dalam learning community dikembangkan.
Manusia diciptakan sebagai mahluk individu
sekaligus sebagai mahluk sosial. Hal ini berimplikasi pada ada saatnya
seseorang bekerja sendiri untuk mencapai tujuan yang diharapkan, akan tetapi
disisi lain tidak bisa melepaskan diri
ketergantungan dengan pihak lain. Penerapan learning community dalam
pembelajaran di kelas akan banyak bergantung pada model komunikasi pembelajaran
yang dikembangkan oleh guru. Di mana dituntut keterampilan dan profesionalisme guru untuk mengembangkan komunikasi banyak arah (interaksi), yaitu model
komunikasi yang bukan hanya hubungan antara guru dengan siswa atau sebaliknya,
akan tetapi secara luas dibuka jalur hubungan komunikasi pembelajaran antara
siswa dengan siswa lainnya.
Kebiasaan penerapan dan mengembangkan masyarakat belajar dalam pendekatan CTL sangat dimungkinkan dan dibuka dengan luas memanfaatkan masyarakat belajar lain di luar kelas. Setiap siswa semesetinya dibimbing dan diarahkan untuk mengembangkan rasa ingin tahunya melalui pemanfaatan sumber belajar secara luas yang tidak hanya disekat oleh masyarakat belajar di dalam kelas akan tetapi sumber manusia lain di luar kelas (keluarga dan masyarakat). Ketika kita dan siswa dibiasakan untuk memberikan pengalaman yang luas kepada orang lain, maka saat itu pula kita atau siswa akan mendapatkan pengalaman yang lebih banyak dari komunitas lain.
e) Pemodelan (Modeling)
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi,
rumitnya permasalahan hidup yang dihadapi, tuntutan siswa yang semakin
berkembang dan beraneka ragam, telah berdampak pada kemampuan guru yang
memiliki kemampuan lengkap, dan ini yang sulit dipenuhi. Oleh karena itu, maka
kini guru bukan lagi satu-satunya sumber belajar bagi siswa, karena dengan
segala kelebihan dan keterbatasan yang dimiliki oleh guru akan mengalami
hambatan untuk memberikan pelayanan sesuai dengan keinginan dan kebutuhan siswa
yang cukup heterogen. Oleh karena itu tahap pembuatan model dapat dijadikan
alternatif untuk mengembangkan pembelajaran agar siswa bisa memenuhi harapan
siswa secara menyeluruh, dan membantu mengatasi keterbatasan yang dimiliki oleh
para guru.
f) Refleksi (Reflection)
Refleksi adalah cara berpikir tentang apa
yang baru terjadi atau baru saja dipelajari. Dengan kata lain refleksi adalah
berpikir ke belakang tentang apa-apa yang sudah dilakukan di masa lalu, siswa
mengendapkan apa yang baru dipelajarainya sebagai struktur pengetahuan yang
baru yang merupakan pengayaan atau revisi dari pengetahuan sebelumnya. Pada
saat refleksi, siswa diberi kesempatan untuk mencerna, menimbang,
membandingkan, menghayati, dan melakukan diskusi dengan dirinya sendiri (learning
to be).
Pengetahuan yang bermakna diperoleh dari suatu proses yang bermakna pula, yaitu melalui penerimaan, pengolahandan pengendapan, untuk kemudian dapat dijadikan sandaran dalam menanggapi terhadap gejala yang muncul kemudian. Melalui pendekatan CTL, pengalaman belajar bukan hanya terjadi dan dimiliki ketika seseorang siswa berada di dalam kelas, akan tetapi jauh lebih penting dari itu adalah bagaimana membawa pengalaman belajar tersebut keluar dari kelas, yaitu pada saat ia dituntut untuk menanggapi dan memecahkan permasalahan nyata yang dihadapi sehari-hari. Kemampuan untuk mengaplikasikan pengetahuan, sikap dan keterampilan pada dunia nyata yang dihadapinya akan mudak diaktualisasikan manakala pengalaman belajar itu telah terinternalisasi dalam setiap jiwa siswa dan disinilah pentingnya menerapkan unsur refleksi pada setiap kesempatan pembelajaran.
g) Penilaian
Sebenarnya (Authentic Assessment)
Tahap terakhir dari pendekatan CTL adalah
melakukan penilaian. Penilaian sebagai bagian integral dari pembelajaran memiliki
fungsi yang amat menentukan untuk mendapatkan untukm mendapatkan informasi
kualitas proses dan hasil pembelajaran melalui penerapan CTL. Penilaian adalah
proses pengumpulan berbagai data dan informasi yang bisa memberikan gambaran
atau petunjuk terhadap pengalaman belajar siswa. Dengan terkumpulnya berbagai
data dan informasi yang lengkap sebagai perwujudan dari penerapan penilaian,
maka akan semakin akurat pula pemahaman guru terhadap proses dan hasil
pengalaman belajar setiap siswa.
Guru dengan cermat akan mengetahui kemajuan,
kemunduran dan kesulitan siswa dalam belajar, dan dengan itu pula guru akan
memiliki kemudahan untuk melakukan upaya- upaya perbaikan dan penyempurnaan
proses bimbingan belajar dalam langkah selanjutnya. Mengingat gambaran tentang
kemajuan belajar siswa diperlukan disepanjang proses pembelajaran, maka
penilaian tidak hanya dilakukan di akhir program pembelajaran, akan tetapi
secara integral dilakukan selama proses program pembelajaran itu terjadi. Dengan
cara tersebut, guru secara nyata akan mengetahui tingkat kemampuan siswa yang
sebenarnya.
Proses pembelajaran dengan menggunakan
pendekatan CTL harus mempertimbangkan karakteristik-karakteristik: 1) Kerja
sama, 2) Saling menunjang, 3) Menyenangkan dan tidak membosankan, 4) Belajar
dengan bergairah, 5) Pembelajaran terintegrasi, 6) Menggunakan berbagai sumber,
7) Siswa aktif, 8) Sharing dengan teman, 9) Siswa kritis guru
kreatif, 10) Dinding kelas dan lorong-lorong penuh dengan hasil karya siswa
(peta-peta, gambar, artikel), 11) Laporan kepada orang tua bukan hanya rapor,
tetapi hasil karya siswa, laporan hasil praktikum, karangan siswa dan
lain-lain. (Depdiknas, 2002:20)
Dalam pembelajaran kontekstual, program
pembelajaran merupakan rencana kegiatan kelas yang dirancang oleh guru, yaitu
dalam bentuk skenario tahap demi tahap tentang apa yang akan dilakukan bersama
siswa selama berlangsungnya proses pembelajaran. Dalam program tersebut harus
tercermin penerapan dari ketujuh komponen CTL dengan jelas, sehingga setiap
guru memiliki persiapan yang utuh mengenai rencana yang akan dilaksanakan dalam
membimbing kegiatan belajar-mengajar di kelas.
Secara umum, tidak ada perbedaan mendasar
antara format program pembelajaran konvensional seperti yang biasa dilakukan
oleh guru-guru selama ini. Adapun yang membedakannya, terletak pada
penekanannya, di mana pada model konvensional lebih menekankan pada deskripsi
tujuan yang akan dicapai (jelas dan operasional), sementara program
pembelajaran CTL lebih menekankan pada skenario pembelajarannya, yaitu kegiatan
tahap- demi tahap yang dilakukan oleh gusu dan siswa dalam upaya mencapai
tujuan pembelajaran yang diharapkan. Oleh karena itu program pembelajaran
kontekstual hendaknya:
1. Nyatakan
kegiatan utama pembelajarannya, yaitu sebuah pernyataan kegiatan siswa yang
merupakan gabungan antara kompetensi dasar, materi pokok, dan indikator
pencapaian hasil belajar.
2. Rumuskan
dengan jelas tujuan umum pembelajarannya.
3. Uraikan
secara terperinci media dan sumber pembelajaran yang akan digunakan untuk
mendukung kegiatan pembelajaran yang diharapkan.
4. Rumuskan
skenario tahap demi tahap kegiatan yang harus dilakukan siswa dalam melakukan
proses pembelajarannya.
5. Rumuskan dan lakukan sistem penilaian dengan memfokuskan pada kemampuan sebenarnya yang dimiliki oleh siswa baik pada saat berlangsungnya (proses) maupun setelah siswa tersebut selesai belajar.
Latihan
1. Di
dalam model-model pembelajaran terdapat model PPSI (Prosedur Pengembangan
Sistem Instruksional). Coba Anda Jelaskan tentang model tersebut meliputi:
latar belakang, pengertian, fungsi, pendekatan dan langkah-langkahnya dari
model tersebut.
2. Di
dalam Model Kemp terdapat 8 langkah yang harus dilakukan pendidik dalam
mendesain pembelajaran. Coba Anda jelasakan 8 langkah tersebut.
3. Dari
kelima model pembelajaran yang ada, manakah menurut Anda yang paling sederhana
untuk digunakan dalam pembelajaran. Jelaskan langkah-langkahnya.
4. Dengan
kemajuan IPTEK yang sangat pesat dibarengi dengan perkembangan Teknologi
Informasi yang sangat menggembirakan. Hal ini membawa dampak terhadap inovasi
pembelajaran. Model Pembelajaran CTL adalah salah satunya. Berkaitan dengan hal
tersebut, Coba Anda jelaskan 7 ciri khas dari model CTL.
Rangkuman
Model Pembelajaran adalah suatu rencana atau
pola yang dapat digunakan untuk membentuk kurikulum (rencana pembelajaran
jangka panjang), merancang bahan-bahan pembelajaran, dan membimbing
pembelajaran di kelas atau yang lain.
Model pembelajaran yang dikembangkan para
ahli, meliputi Model PPSI (Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional), Model Glasser,
Model Gerlach & Elly, Model Jerold E.
Kemp, dan Model Contextual Teaching and Learning (CTL).
Model-model tersebut pada hakekatnya dapat
digunakan dan dikembangkan untuk kegiatan pembelajaran yang akan dilakukan. Hal
yang terpenting adalah bagaimana seorang guru dapat mengelola dan mengembangkan
komponen-komponen pembelajar itu dalam suatu desain yang terencana dengan
memperhatikan kondisi aktual dari unsur-unsur penunjang dalam implementasi
pembelajaran yang akan dilakukan, misalnya: alokasi waktu yang tersedia, sarana
dan prasara pembelajaran, biaya dan sebagainya.
Lima model pembelajaran menurut pendapat para
ahli yang telah dibahas tadi masing-masing memiliki keunggulan dan kelemahan.
Dengan membandingkan dan menelaah model pembelajaran tersebut, Anda diharapkan
memiliki wawasan yang luas tentang model pembelajaran yang dapat dijadikan
dasar berfikir pada saat Anda mengembangkan model pembelajaran untuk mata
pelajaran Anda di sekolah.
DAFTAR PUSTAKA
Hamalik, Oemar. (1993). Model-Model Pengembangan Kurikulum.
Bandung: PPs Universitas Pendidikan Indonesia.
Ibrahim, R. & Kayadi, B. (1994). Pengembangan Inovasi dalam
Kurikulum. Jakarta : UT, Depdikbud. Joyce Bruce. Et al. (2000). Models of Teaching.
Allyn & Bacon : London
Miller, John P & Seller Wayne. (1985), Curriculum ;
Perspective and Practice. Londong : Longman.
Nasution. (1993). Pengembangan Kurikulum. Bandung : Citra Aditya
Bakti.
Oliva, Peter. F. (1992) Developing the Curriculum 3rd ed. Harpers
Collins Publisher. New York.
. (1995), Kurikulum dan Pembelajaran, Bandung: Bumi Aksara.
Reiser A. Robert & Dikc Walter, (1996) Instructional Planning,
Asimon & Schuster Company. Needham Heights. Masaschussetts.
Schubert, W.H. (1986). Curriculum : Perspective, Paradigm, and
Possibility. New York : Macmillan Pub.
Sukmadinata, Nana S. (2000). Pengembangan Kurikulum: Teori dan
Praktek. Remaja Rosdakarya : Bandung.
Tim Pengembang, (2002), Kurikulum dan Pembelajaran, Jurusan Kurtek
FIP Universitas Pendidikan Indonesia.
Susilana, Rudi. (2002). Desain Pembelajaran, Jakarta: Puspen UT
Depdiknas.

0 Response to "Pendekatan & Model Pembelajaran"
Post a Comment