Al Khairan Berpikir Kritis Matematis dalam pembelajaran | Al Khairan 286775737 -->

Iklan

Berpikir Kritis Matematis dalam pembelajaran

Berfikir kritis adalah salah satu kemampuan yang dibutuhkan dalam pemecahan masalah matematika. Menurut Ennis (2005), berpikir kritis adalah berpikir secara beralasan dan reflektif dengan menekankan pada pembuatan keputusan tentang apa yang harus dipercayai atau dilakukan. Oleh karena itu, kemampuan berpikir kritis mencakup: 

  1. Kemampuan mengidentifikasi asumsi yang diberikan; 
  2. Kemampuan merumuskan pokok-pokok permasalahan; 
  3. Kemampuan menentukan akibat dari suatu ketentuan yang diambil; 
  4. Kemampuan mendeteksi adanya bias berdasarkan pada sudut pandang yang berbeda; 
  5. Kemampuan mengungkap data/definisi/ teorema dalam menyelesaikan masalah; 
  6. Kemampuan mengevaluasi argumen yang relevan dalam penyelesaian suatu masalah.

Berpikir kritis merupakan proses mental untuk menganalisis informasi yang diperoleh. Informasi tersebut didapatkan melalui pengamatan, pengalaman, komunikasi, atau membaca. Berpikir kritis adalah sebuah proses sistematis yang memungkinkan siswa untuk merumuskan dan mengevaluasi keyakinan pendapat mereka sendiri. Berpikir kritis meliputi berpikir secara reflektif dan produktif serta mengevaluasi bukti (Suryobroto, 2009).


Photo Guru Berbagi

Ada beberapa definisi yang dikemukakan oleh para ahli, diantaranya adalah: 

1) Menurut John Chaffe (dalam Desmita, 2009), berpikir kritis didefinisikan sebagai berpikir untuk menyelidiki secara sistematis proses berpikir itu sendiri. Maksudnya tidak hanya memikirkan dengan sengaja, tetapi juga meneliti bagaimana kita dan orang lain menggunakan bukti dan logika. 

2) Menurut Dacey dan Kenny (dalam desmita, 2009), pemikiran kritis adalah “The ability to think logically, to apply this logical thinking to the assessment of situations, and to make good judgments and decision”. yang berarti kemampuan berpikir secara logis, dan menerapkannya untuk menilai situasi dan membuat keputusan yang baik. 

3) Menurut Gerhand (dalam Desmita, 2009) berpikir kritis merupakan suatu proses kompleks yang melibatkan penerimaan dan penguasaan data, analisis data, evaluasi data dan serta membuat seleksi atau membuat keputusan berdasarkan hasil evaluasi. 

4) Menurut Seriven dan Paul (Dalam Desmita, 2009) berpikir kritis merupakan sebuah proses intelektual dengan melakukan pembuatan konsep, penerapan, melakukan sintesis, dan atau mengevaluasi informasi yang diperoleh dari observasi, pengalaman, refleksi, pemikiran atau komunikasi sebagai dasar untuk meyakini dan melakukan suatu tindakan. 

5) Glazer mendefinisikan (dalam Desmita, 2009) berpikir kritis matematika dari beberapa literasi. Menurutnya berpikir kritis matematika tidak didefinisikan secara eksplisit, berpikir kritis dapat dirujuk dari kombinasi pemecahan masalah, penalaran dan pembuktian matematika.

Berdasarkan pada beberapa definisi di atas dapat dipahami bahwa yang dimaksud dengan kemampuan berpikir kritis adalah kemampuan untuk berpikir secara logis, reflektif, sistematis dan produktif yang diaplikasikan dalam menilai situasi untuk membuat pertimbangan dan keputusan yang baik

Komponen Berpikir Kritis Matematis

Menurut (Brookfield, 1987), berpikir kritis terdiri dari aspek-aspek, yaitu berpikir kritis adalah aktivitas yang produktif dan positif, berpikir kritis adalah proses bukan hasil, perwujudan berpikir kritis sangat beragam tergantung dari konteksnya, berpikir kritis dapat berupa kejadian yang positif maupun negatif, dan berpikir kritis dapat bersifat emosional dan rasional. Sedangkan komponen berpikir kritis, yaitu:

  1. Identifikasi dan menarik asumsi adalah pusat berpikir kritis,
  2. Menarik pentingnya konteks adalah penting dalam berpikir kritis,
  3. Pemikir kritis mencoba mengimajinasikan dan menggali alternatif, dan
  4. Mengimajinasikan dan menggali alternatif akan membawa pada skeptisisme reflektif.

Karakteristik Berpikir Kritis Matematis

Berpikir kritis mencakup seluruh proses mendapatkan, membandingkan, menganalisa, mengevaluasi, internalisasi dan bertindak melampaui ilmu pengetahuan dan nilai-nilai. Berpikir kritis bukan sekedar berpikir logis sebab berpikir kritis harus memiliki keyakinan dalam nilainilai, dasar pemikiran dan percaya sebelum didapatkan alasan yang logis dari padanya.

Karakteristik yang berhubungan dengan berpikir kritis, dijelaskan Beyer (1985) secara lengkap dalam buku Critical Thinking, yaitu:

1) Watak (Dispositions)

Seseorang yang mempunyai keterampilan berpikir kritis mempunyai sikap skeptis, sangat terbuka, menghargai sebuah kejujuran, respek terhadap berbagai data dan pendapat, respek terhadap kejelasan dan ketelitian, mencari pandangan-pandangan lain yang berbeda, dan akan berubah sikap ketika terdapat sebuah pendapat yang dianggapnya baik.

2) Kriteria (Criteria)

Dalam berpikir kritis harus mempunyai sebuah kriteria atau patokan. Untuk sampai ke arah sana maka harus menemukan sesuatu untuk diputuskan atau dipercayai. Meskipun sebuah argumen dapat disusun dari beberapa sumber pelajaran, namun akan mempunyai kriteria yang berbeda. Apabila kita akan menerapkan standarisasi maka haruslah berdasarkan kepada relevansi, keakuratan fakta-fakta, berlandaskan sumber yang kredibel, teliti, tidak bisa, bebas dari logika yang keliru, logika yang konsisten, dan pertimbangan yang matang.

3) Argumen (Argument)

Argumen adalah pernyataan atau proposisi yang dilandasi oleh data-data. Keterampilan berpikir kritis akan meliputi kegiatan pengenalan, penilaian, dan menyusun argumen. 

4) Pertimbangan atau pemikiran (Reasoning)

Yaitu kemampuan untuk merangkum kesimpulan dari satu atau beberapa premis. Prosesnya akan meliputi kegiatan menguji hubungan antara beberapa pernyataan atau data.

5) Sudut pandang (Point of view)

Sudut pandang adalah cara memandang atau menafsirkan dunia ini,yang akan menentukan konstruksi makna. Seseorang yang berpikir dengan kritis akan memandang sebuah fenomena dari berbagai sudut pandang yang berbeda.

6) Prosedur penerapan kriteria (Procedures for applying criteria)

Prosedur penerapan berpikir kritis sangat kompleks dan prosedural. Prosedur tersebut akan meliputi merumuskan permasalahan menentukan keputusan yang akan diambil, dan mengidentifikasi perkiraan-perkiraan.

Indikator Berpikir Kritis Matematis

Menurut Carole Wade yang dikutip oleh Hendra Surya (2011) terdapat delapan indikator berpikir kritis, yaitu:

a. Kegiatan merumuskan pertanyaan.

b. Membatasi permasalahan.

c. Menguji data-data.

d. Menganalisis berbagai pendapat dan bisa.

e. Menghindari pertimbangan yang sangat emosional.

f. Menghindari penyederhanaan berlebihan.

g. Mempertimbangkan berbagai interpretasi.

h. Mentoleransi ambiguitas.

Pendapat wade yang dikutip oleh Hendra Surya (2011) ini dapat digunakan ketika kita memberikan siswa suatu permasalahan yang dapatmelatih kemampuan berpikir kritis siswa. Definisi berpikir kritis adalah berpikir secara beralasan dan reflektif dengan menekankan pembuatan keputusan tentang apa yang harus dipercayai atau dilakukan (Ennis, 2005). Oleh karena itu, indikator kemampuan berpikir kritis dapat diturunkan dari aktivitas kritis siswa meliputi:

1) Mencari pernyataan yang jelas dari pertanyaan.

2) Mencari alasan.

3) Berusaha mengetahui infomasi dengan baik.

4) Memakai sumber yang memiliki kredibilitas dan menyebutkannya.

5) Memerhatikan situasi dan kondisi secara keseluruhan.

6) Berusaha tetap relevan dengan ide utama.

7) Mengingat kepentingan yang asli dan mendasar.

8) Mencari alternatif.

9) Bersikap dan berpikir terbuka.

10) Mengambil posisi ketika ada bukti yang cukup untuk melakukan sesuatu.

11) Mencari penjelasan sebanyak mungkin.

12) Bersikap secara sistematis dan teratur dengan bagian dari keseluruhan masalah.

Selanjutnya, (Ennis, 2005) mengidentifikasi 12 indikator berpikir kritis, yang dikelompokkannya dalam lima besar aktivitas sebagai berikut:

  1. Memberikan penjelasan sederhana, yang berisi: memfokuskan pertanyaan, menganalisis pertanyaan dan bertanya, serta menjawab pertanyaan tentang suatu penjelasan atau pernyataan.
  2. Membangun keterampilan dasar, yang terdiri atas mempertimbangkan apakah sumber dapat dipercaya atau tidak dan mengamati serta mempertimbangkan suatu laporan hasil observasi.
  3. Menyimpulkan, yang terdiri atas kegiatan mendeduksi atau mempertimbangkan hasil deduksi, meninduksi atau mempertimbangkan hasil induksi, dan membuat serta menentukan nilai pertimbangan.
  4. Memberikan penjelasan lanjut, yang terdiri atas mengidentifikasi istilah-istilah dan definisi pertimbangan dan juga dimensi, serta mengidentifikasi asumsi.
  5. Mengatur strategi dan teknik, yang terdiri atas menentukan tindakan dan berinteraksi dengan orang lain. Indikator-indikator tersebut dalam prakteknya dapat bersatu padu membentuk sebuah kegiatan atau terpisah-pisah hanya beberapa indikator saja.

Berdasarkan penjelasan indikator-indikator berpikir kritis di atas. Aspek kemampuan berpikir kritis yang digunakan dalam penelitian ini sebagai berikut.

  1. Keterampilan memberikan penjelasan yang sederhana, dengan indikator: merumuskan pertanyaan dan membatasi masalah.
  2. Keterampilan memberikan penjelasan lanjut, dengan indikator: menguji data-data dan menganalisis berbagai pendapat dengan bisa.
  3. Keterampilan mengatur strategi dan taktik, dengan indikator: menghindari pertimbangan yang sangat emosional dan menghindari penyederhanaan berlebihan.
  4. Keterampilan menyimpulkan dan keterampilan mengevaluasi, dengan indikator: mempertimbangkan berbagai interprestasi dan menoleransi ambiguitas.

Langkah-Langkah Berpikir Kritis Matematis

Untuk menjadi pemikir kritis yang baik dibutuhkan kesadaran dan keterampilan memaksimalkan kerja otak melalui langkah-langkah berpikir kritis yang baik, sehingga kerangka berpikir dan cara berpikir tersusun dengan pola yang baik. Walau memang belum ada rumusan langkah-langkah berpikir kritis yang dapat dijadikan tolak ukur atau parameter yang baku. Sebab, berpikir kritis bisa sangat sulit untuk diukur karena berpikir kritis adalah proses yang sedang berlangsung bukan hasil yang mudah dikenali. Keadaan berpikir kritis berarti bahwa seorang terus mempertanyakan asumsi, mempertimbangkan konteks (kejelasan makna), menciptakan dan mengeksplorasi alternative dan terlibat dalam skeptisisme reflektif (pemikiran yang tidak mudah percaya) atas informasi yang diterimanya.

Menurut Kneedler (1976) dari The Statewide History-social science Assesment Advisory committee, mengemukakan bahwa langkah- langkah berpikir kritis itu dapat dikelompokkan menjadi tiga langkah:

1) Mengenali masalah (defining and clarifying problem)

  • Mengidentifikasi isu-isu atau permasalahan pokok.
  • Membandingkan kesamaan dan perbedaan-perbedaan.
  • Memilih informasi yang relevan.

2) Merumuskan/memformulasi masalah.

  • Menilai informasi yang relevan

3) Menyeleksi fakta, opini, hasil nalar (judgment).

  • Mengecek konsistensi.
  • Mengidentifikasi asumsi.
  • Mengenali kemungkinan faktor stereotip.

4) Mengenali kemungkinan bisa, emosi, propaganda, salah penafsiran kalimat (semantic slanting).

  • Mengenali kemungkinan perbedaan orientasi nilai dan ideologi.

5) Pemecahan Masalah/ Penarikan kesimpulan

6) Mengenali data yang diperlukan dan cukup tidaknya data.

  • Meramalkan konsekuensi yang mungkin terjadi dari keputusan atau pemecahan masalah atau kesimpulan yang diambil

Referensi:

Silahkan berlangganan al khairan dengan e-mail secara gratis:

0 Response to "Berpikir Kritis Matematis dalam pembelajaran"

Post a Comment