Berfikir kritis adalah salah satu kemampuan yang dibutuhkan dalam pemecahan masalah matematika. Menurut Ennis (2005), berpikir kritis adalah berpikir secara beralasan dan reflektif dengan menekankan pada pembuatan keputusan tentang apa yang harus dipercayai atau dilakukan. Oleh karena itu, kemampuan berpikir kritis mencakup:
- Kemampuan mengidentifikasi asumsi yang diberikan;
- Kemampuan merumuskan pokok-pokok permasalahan;
- Kemampuan menentukan akibat dari suatu ketentuan yang diambil;
- Kemampuan mendeteksi adanya bias berdasarkan pada sudut pandang yang berbeda;
- Kemampuan mengungkap data/definisi/ teorema dalam menyelesaikan masalah;
- Kemampuan mengevaluasi argumen yang relevan dalam penyelesaian suatu masalah.
Berpikir kritis merupakan proses mental untuk menganalisis informasi yang diperoleh. Informasi tersebut didapatkan melalui pengamatan, pengalaman, komunikasi, atau membaca. Berpikir kritis adalah sebuah proses sistematis yang memungkinkan siswa untuk merumuskan dan mengevaluasi keyakinan pendapat mereka sendiri. Berpikir kritis meliputi berpikir secara reflektif dan produktif serta mengevaluasi bukti (Suryobroto, 2009).
Ada beberapa definisi yang dikemukakan oleh para ahli, diantaranya adalah:
1) Menurut John Chaffe (dalam Desmita, 2009), berpikir kritis didefinisikan sebagai berpikir untuk menyelidiki secara sistematis proses berpikir itu sendiri. Maksudnya tidak hanya memikirkan dengan sengaja, tetapi juga meneliti bagaimana kita dan orang lain menggunakan bukti dan logika.
2) Menurut Dacey dan Kenny (dalam desmita, 2009), pemikiran kritis adalah “The ability to think logically, to apply this logical thinking to the assessment of situations, and to make good judgments and decision”. yang berarti kemampuan berpikir secara logis, dan menerapkannya untuk menilai situasi dan membuat keputusan yang baik.
3) Menurut Gerhand (dalam Desmita, 2009) berpikir kritis merupakan suatu proses kompleks yang melibatkan penerimaan dan penguasaan data, analisis data, evaluasi data dan serta membuat seleksi atau membuat keputusan berdasarkan hasil evaluasi.
4) Menurut Seriven dan Paul (Dalam Desmita, 2009) berpikir kritis merupakan sebuah proses intelektual dengan melakukan pembuatan konsep, penerapan, melakukan sintesis, dan atau mengevaluasi informasi yang diperoleh dari observasi, pengalaman, refleksi, pemikiran atau komunikasi sebagai dasar untuk meyakini dan melakukan suatu tindakan.
5) Glazer mendefinisikan (dalam Desmita, 2009) berpikir kritis matematika dari beberapa literasi. Menurutnya berpikir kritis matematika tidak didefinisikan secara eksplisit, berpikir kritis dapat dirujuk dari kombinasi pemecahan masalah, penalaran dan pembuktian matematika.
Berdasarkan pada beberapa definisi di atas dapat dipahami bahwa yang dimaksud dengan kemampuan berpikir kritis adalah kemampuan untuk berpikir secara logis, reflektif, sistematis dan produktif yang diaplikasikan dalam menilai situasi untuk membuat pertimbangan dan keputusan yang baik
Komponen Berpikir Kritis Matematis
Menurut (Brookfield, 1987),
berpikir kritis terdiri dari aspek-aspek, yaitu berpikir kritis adalah
aktivitas yang produktif dan positif, berpikir kritis adalah proses bukan
hasil, perwujudan berpikir kritis sangat beragam tergantung dari konteksnya,
berpikir kritis dapat berupa kejadian yang positif maupun negatif, dan berpikir
kritis dapat bersifat emosional dan rasional. Sedangkan komponen berpikir
kritis, yaitu:
- Identifikasi dan menarik asumsi
adalah pusat berpikir kritis,
- Menarik pentingnya konteks adalah
penting dalam berpikir kritis,
- Pemikir kritis mencoba
mengimajinasikan dan menggali alternatif, dan
- Mengimajinasikan dan menggali
alternatif akan membawa pada skeptisisme reflektif.
Karakteristik Berpikir Kritis Matematis
Berpikir kritis mencakup seluruh
proses mendapatkan, membandingkan, menganalisa, mengevaluasi, internalisasi dan
bertindak melampaui ilmu pengetahuan dan nilai-nilai. Berpikir kritis bukan
sekedar berpikir logis sebab berpikir kritis harus memiliki keyakinan dalam
nilainilai, dasar pemikiran dan percaya sebelum didapatkan alasan yang logis
dari padanya.
Karakteristik yang berhubungan
dengan berpikir kritis, dijelaskan Beyer (1985) secara lengkap dalam buku Critical
Thinking, yaitu:
1) Watak (Dispositions)
Seseorang yang mempunyai
keterampilan berpikir kritis mempunyai sikap skeptis, sangat terbuka,
menghargai sebuah kejujuran, respek terhadap berbagai data dan pendapat, respek
terhadap kejelasan dan ketelitian, mencari pandangan-pandangan lain yang
berbeda, dan akan berubah sikap ketika terdapat sebuah pendapat yang
dianggapnya baik.
2) Kriteria (Criteria)
Dalam berpikir kritis harus
mempunyai sebuah kriteria atau patokan. Untuk sampai ke arah sana maka harus
menemukan sesuatu untuk diputuskan atau dipercayai. Meskipun sebuah argumen
dapat disusun dari beberapa sumber pelajaran, namun akan mempunyai kriteria
yang berbeda. Apabila kita akan menerapkan standarisasi maka haruslah
berdasarkan kepada relevansi, keakuratan fakta-fakta, berlandaskan sumber yang
kredibel, teliti, tidak bisa, bebas dari logika yang keliru, logika yang
konsisten, dan pertimbangan yang matang.
3) Argumen (Argument)
Argumen adalah pernyataan atau proposisi yang dilandasi oleh data-data. Keterampilan berpikir kritis akan meliputi kegiatan pengenalan, penilaian, dan menyusun argumen.
4) Pertimbangan atau pemikiran (Reasoning)
Yaitu kemampuan untuk merangkum
kesimpulan dari satu atau beberapa premis. Prosesnya akan meliputi kegiatan
menguji hubungan antara beberapa pernyataan atau data.
5) Sudut pandang (Point of view)
Sudut pandang adalah cara memandang
atau menafsirkan dunia ini,yang akan menentukan konstruksi makna. Seseorang
yang berpikir dengan kritis akan memandang sebuah fenomena dari berbagai sudut
pandang yang berbeda.
6) Prosedur penerapan kriteria (Procedures
for applying criteria)
Prosedur penerapan berpikir kritis sangat kompleks dan prosedural. Prosedur tersebut akan meliputi merumuskan permasalahan menentukan keputusan yang akan diambil, dan mengidentifikasi perkiraan-perkiraan.
Indikator Berpikir Kritis Matematis
Menurut Carole Wade yang dikutip
oleh Hendra Surya (2011) terdapat delapan indikator berpikir kritis, yaitu:
a. Kegiatan merumuskan pertanyaan.
b. Membatasi permasalahan.
c. Menguji data-data.
d. Menganalisis berbagai pendapat
dan bisa.
e. Menghindari pertimbangan
yang sangat emosional.
f. Menghindari penyederhanaan
berlebihan.
g. Mempertimbangkan berbagai
interpretasi.
h. Mentoleransi ambiguitas.
Pendapat wade yang dikutip oleh
Hendra Surya (2011) ini dapat digunakan ketika kita memberikan siswa suatu
permasalahan yang dapatmelatih kemampuan berpikir kritis siswa. Definisi berpikir
kritis adalah berpikir secara beralasan dan reflektif dengan menekankan
pembuatan keputusan tentang apa yang harus dipercayai atau dilakukan (Ennis,
2005). Oleh karena itu, indikator kemampuan berpikir kritis dapat diturunkan
dari aktivitas kritis siswa meliputi:
1) Mencari pernyataan yang jelas
dari pertanyaan.
2) Mencari alasan.
3) Berusaha mengetahui infomasi
dengan baik.
4) Memakai sumber yang memiliki
kredibilitas dan menyebutkannya.
5) Memerhatikan situasi dan kondisi
secara keseluruhan.
6) Berusaha tetap relevan dengan
ide utama.
7) Mengingat kepentingan yang asli
dan mendasar.
8) Mencari alternatif.
9) Bersikap dan berpikir
terbuka.
10) Mengambil posisi
ketika ada bukti yang cukup untuk melakukan sesuatu.
11) Mencari penjelasan
sebanyak mungkin.
12) Bersikap secara sistematis dan teratur dengan bagian dari keseluruhan masalah.
Selanjutnya, (Ennis, 2005)
mengidentifikasi 12 indikator berpikir kritis, yang dikelompokkannya dalam lima
besar aktivitas sebagai berikut:
- Memberikan penjelasan sederhana, yang berisi: memfokuskan pertanyaan, menganalisis pertanyaan dan bertanya, serta menjawab pertanyaan tentang suatu penjelasan atau pernyataan.
- Membangun keterampilan dasar, yang terdiri atas mempertimbangkan apakah sumber dapat dipercaya atau tidak dan mengamati serta mempertimbangkan suatu laporan hasil observasi.
- Menyimpulkan, yang terdiri atas kegiatan mendeduksi atau mempertimbangkan hasil deduksi, meninduksi atau mempertimbangkan hasil induksi, dan membuat serta menentukan nilai pertimbangan.
- Memberikan penjelasan lanjut, yang terdiri atas mengidentifikasi istilah-istilah dan definisi pertimbangan dan juga dimensi, serta mengidentifikasi asumsi.
- Mengatur strategi dan teknik, yang terdiri atas menentukan tindakan dan berinteraksi dengan orang lain. Indikator-indikator tersebut dalam prakteknya dapat bersatu padu membentuk sebuah kegiatan atau terpisah-pisah hanya beberapa indikator saja.
Berdasarkan penjelasan
indikator-indikator berpikir kritis di atas. Aspek kemampuan berpikir kritis
yang digunakan dalam penelitian ini sebagai berikut.
- Keterampilan memberikan penjelasan yang sederhana, dengan indikator: merumuskan pertanyaan dan membatasi masalah.
- Keterampilan memberikan penjelasan lanjut, dengan indikator: menguji data-data dan menganalisis berbagai pendapat dengan bisa.
- Keterampilan mengatur strategi dan taktik, dengan indikator: menghindari pertimbangan yang sangat emosional dan menghindari penyederhanaan berlebihan.
- Keterampilan menyimpulkan dan keterampilan mengevaluasi, dengan indikator: mempertimbangkan berbagai interprestasi dan menoleransi ambiguitas.
Langkah-Langkah Berpikir Kritis Matematis
Untuk menjadi pemikir kritis yang
baik dibutuhkan kesadaran dan keterampilan memaksimalkan kerja otak melalui
langkah-langkah berpikir kritis yang baik, sehingga kerangka berpikir dan cara
berpikir tersusun dengan pola yang baik. Walau memang belum ada rumusan
langkah-langkah berpikir kritis yang dapat dijadikan tolak ukur atau parameter
yang baku. Sebab, berpikir kritis bisa sangat sulit untuk diukur karena
berpikir kritis adalah proses yang sedang berlangsung bukan hasil yang mudah
dikenali. Keadaan berpikir kritis berarti bahwa seorang terus mempertanyakan
asumsi, mempertimbangkan konteks (kejelasan makna), menciptakan dan
mengeksplorasi alternative dan terlibat dalam skeptisisme
reflektif (pemikiran yang tidak mudah percaya) atas informasi yang
diterimanya.
Menurut Kneedler (1976) dari The
Statewide History-social science Assesment Advisory committee, mengemukakan
bahwa langkah- langkah berpikir kritis itu dapat dikelompokkan menjadi tiga
langkah:
1) Mengenali masalah (defining and clarifying problem)
- Mengidentifikasi isu-isu atau permasalahan pokok.
- Membandingkan kesamaan dan perbedaan-perbedaan.
- Memilih informasi yang relevan.
2) Merumuskan/memformulasi
masalah.
- Menilai informasi yang relevan
3) Menyeleksi fakta, opini, hasil nalar (judgment).
- Mengecek konsistensi.
- Mengidentifikasi asumsi.
- Mengenali kemungkinan faktor stereotip.
4) Mengenali kemungkinan
bisa, emosi, propaganda, salah penafsiran kalimat (semantic slanting).
- Mengenali kemungkinan perbedaan orientasi nilai dan ideologi.
5) Pemecahan Masalah/
Penarikan kesimpulan
6) Mengenali data yang
diperlukan dan cukup tidaknya data.
- Meramalkan konsekuensi yang mungkin terjadi dari keputusan atau pemecahan masalah atau kesimpulan yang diambil

0 Response to "Berpikir Kritis Matematis dalam pembelajaran"
Post a Comment