Al Khairan Biografi Ki Hajar Dewantara,Bapak Pendidikan Indonesia | Al Khairan 286775737 -->

Iklan

Biografi Ki Hajar Dewantara,Bapak Pendidikan Indonesia

Ki Hajar Dewantara lahir pada tanggal 2 Mei 1889 di Pakualaman. Kala itu, nama lahirnya adalah Raden Mas Soewardi Soerjaningrat. Dewantara lahir di sebuah keluarga Keraton Yogyakarta. Beliau adalah anak dari Gusti Pangeran Harya Soerjaningrat dan cucu dari Pakualam III. Beliau mengganti namanya menjadi ‘Ki Hajar Dewantara’ dan melepas gelar bangsawan yang dimilikinya pada tahun 1922. Nama Ki Hajar Dewantara pastinya sudah tidak begitu asing lagi di telinga orang Indonesia, karena sejak zaman Sekolah Dasar pastinya sudah diperkenalkan sebagai salah satu pahlawan nasional Indonesia. Bahkan ulasan seputar biografi Ki Hajar Dewantara ini sendiri juga ada dimana-mana, mulai dimuat dalam buku-buku, artikel, dan juga internet. Banyak yang membahas mengenai biografi Ki Hajar Dewantara tersebut. Ia termasuk salah satu pahlawan nasional yang memiliki kontribusi sangat penting di dalam pendidikan masyarakat pribumi pada masa Penjajahan Kolonial Belanda. 

Bahkan wajah beliau sendiri juga pernah ditempatkan dalam uang kertas pecahan 20 ribu rupiah keluaran tahun 1998, sehingga pastinya banyak yang sudah tidak asing dengan wajahnya. Namun untuk ulasan seputar biografi Ki Hajar Dewantara mungkin belum banyak yang tahu mengenai tokoh yang satu ini. ia dijuluki sebagai ‘Bapak Pendidikan Indonesia’. Berikut ini setidaknya profil biografi Ki Hajar Dewantara singkat yang harus kamu ketahui:

  • Nama Lengkap: Raden Mas Soewardi Soerjaningrat 
  • Nama Panggilan: Ki Hadjar Dewantara 
  • Tempat Tanggal Lahir: Yogyakarta, 2 Mei 1889 
  • Wafat: 26 April 1959, meninggal dunia di usia 69 tahun 
  • Orang tua: Anak dari pasangan Pangeran Soerjaningrat dan juga Raden Ayu Sandiah.
  • Saudara: Soerjopranoto 
  • Istri: Nyi Sutartinah 
  • Anak: Ratih Tarbiyah, Syailendra Wijaya, Bambang Sokowati Dewantara, Subroto Aria mataram, Sudiro Alimurtolo. 

Dengan status keluarganya tersebut, Ki Hajar Dewantara muda mendapat kesempatan untuk menempuh pendidikan di Sekolah Dasar Belanda, Europeesche Lagere School (ELS). Seusai ELS, Ki Hajar Dewantara melanjutkan pendidikan ke sekolah dokter Bumiputera, STOVIA, namun tidak menamatkan pendidikan tersebut karena jatuh sakit.

Perjalanan hidup Ki Hajar Dewantara 

Ki Hajar Dewantara sadar dengan fakta bahwa ia merupakan keturunan keluarga kerajaan. Beliau adalah cucu dari Pakualam III. Ki Hajar Dewantara muda menempuh pendidikan dasar di ELS, semacam sekolah SD di zaman Belanda. Kemudian dia melanjutkan studinya ke sekolah dokter khusus putra, STOVIA meski tak berhasil menamatkan pendidikan lantaran sakit. Ki Hajar Dewantara lantas bekerja sebagai wartawan. Ki Hajar Dewantara pernah menjadi penulis di sejumlah surat kabar seperti Midden Java, Soeditomo, De Expres, Kaoem Moeda, Oetoesan Hindia, Tjahaja Timoer, dan Poesara. Kepiawaiannya menulis, sifat telaten, penuh komitmen dan ulet, menjadi bekal beliau jalani karier sebagai jurnalis muda. Dia juga dikenal aktif di sejumlah organisasi sosial dan politik. Ki Hajar Dewantara muda juga dikenal kritis. Salah satu bentuk kritik pedasnya terhadap pejabat Hindia Belanda kala itu berjudul "Andai Aku Seorang Belanda" atau yang dalam bahasa Belanda "Als ik een Nederlander was". Tulisannya ini membuat dia ditangkap dan diasingkan ke Pulau Bangka. 


Pergerakan Ki Hajar Dewantara 

Selain telaten, komitmen dan ulet sebagai seorang jurnalis muda, Ki Hajar Dewantara muda juga sangat aktif di organisasi sosial dan politik. Ketika Boedi Oetomo (BO) berdiri pada tahun 1908, Ki Hajar Dewantara masuk ke organisasi ini dan aktif di bagian propaganda untuk melakukan sosialisasi dan membangunkan kesadaran rakyat Indonesia. Khususnya orang Jawa. Bagaimanpun caranya, rakyat Indonesia di waktu itu harus sadar mengenai pentingnya persatuan dan kesatuan dalam berbangsa dan bernegara. Kongres pertama Boedi Oetomo diselenggarakan di Yogyakarta juga diatur oleh Ki Hajar Dewantara. Selain di Boedi Oetomo, Ki Hajar Dewantara muda juga aktif di organisasi Insulinde. Insulinde merupakan organisasi multietnis yang menampung kaum Indo. Tujuannya yaitu menginginkan pemerintahan sendiri di Hindia Belanda. Sebenarnya, idealisme ini dipengaruhi oleh Ernest Douwes Dekker, atau lebih dikenal dengan nama Indonesia yaitu Danudirja Setiabudi adalah orang keturunan asing yang mengobarkan semangat anti kolonialisme. Lalu ketika Douwes Dekker membentuk Indische Partij, Ki Hajar Dewantara juga diajak untuk bergabung. 

Als ik een Nederlander Was (Seandainya Aku Orang Belanda)

Saat itu, Pemerintah Hindia Belanda bertujuan untuk mengumpulkan sumbangan dari warga pribumi. Dana ini digunakan untuk merayakan kemerdekaan Belanda dari Prancis pada tahun 1913. Atas aksi Hindia Belanda ini timbullah reaksi kritis dari golongan berhaluan perkembangan nasionalisme indonesia termasuk Ki Hajar Dewantara muda. Wajar saja karena tingkah Hindia Belanda sangat tidak tahu diri yaitu merayakan kemerdekaan di tanah bangsa yang mereka rebut kemerdekaannya. Ditambah lagi mereka juga mengumpulkan sumbangan dari warga. Ki Hajar Dewantara muda bereaksi dan menulis sebuah artikel berjudul “Een voor Allen maar Ook Allen voor Een” atau “Satu untuk Semua, tetapi Semua untuk Satu”. Tapi tulisan Ki Hajar Dewantara yang sangat terkenal adalah “Seandainya Aku Seorang Belanda” atau dalam Bahasa Belanda berjudul “Als ik een Nederlander was”. Karya Ki Hajar Dewantara ini dimuat dalam koran bernama De Expres yang dipimpin oleh Douwes Dekker pada tanggal 13 Juli 1913. Artikel buatan Ki Hajar Dewantara ini merupakan kritikan yang sangat pedas untuk kalangan pejabat Hindia Belanda. Contoh kutipan artikel tersebut antara lain sebagai berikut.  Seandainya aku seorang Belanda, aku tidak akan melaksanakan pesta-pesta kemerdekaan di negara yang telah kita rebut sendiri kemerdekaannya. Setara dengan cara berpikir seperti itu, hal ini selain tidak adil, tapi juga tidak pas untuk menyuruh si penduduk pribumi memberikan sumbangan untuk mendanai perayaan itu. Munculnya ide untuk menyelenggarakan perayaan kemerdekaan itu saja sudah merupakan suatu penghinaan, dan sekarang kita keruk pula dompet para pribumi. Ayo, tidak apa-apa, teruskan saja penghinaan lahir dan batin itu! Seandainya aku seorang Belanda, aspek yang bisa menyinggung perasaanku dan saudara-saudara sebangsaku adalah kenyataan bahwa pribumi wajib ikut membiayai suatu perayaan yang tidak ada kepentingan dan hubungan sedikit pun baginya”. Beberapa petinggi Hindia Belanda awalnya meragukan tulisan ini benar-benar dibuat oleh Ki Hajar Dewantara muda sendiri. Karena gaya bahasa dan isi artikelnya yang cenderung berbeda dari artikel-artikelnya selama ini. Sekalipun benar bahwa Ki Hajar Dewantara muda yang menulis, para petinggi Hindia Belanda percaya ada kemungkinan Douwes Dekker mempengaruhi Ki Hajar Dewantara muda untuk menulis secara kritis seperti itu. Karena artikel ini Ki Hajar Dewantara ditangkap atas perintah dari Gubernur Jenderal Idenburg lalu akan diasingkan ke Pulau Bangka. Sesuai dengan permintaan Ki Hajar Dewantara sendiri. Tapi dua rekan Ki Hajar Dewantara, Douwes Dekker dan Tjipto Mangoenkoesoemo, memprotes keputusan itu dan akhirnya mereka bertiga malah diasingkan ke Belanda pada tahun 1913. Ketiga tokoh ini lalu dikenal dengan julukan “Tiga Serangkai”. Ki Hajar Dewantara muda di kala itu masih berusia 24 tahun. 

Makna penting pendidikan dalam pandangan Ki Hajar Dewantara 

Ki Hajar Dewantara pernah berkata, “Kemerdekaan hendaknya dikenakan terhadap caranya anak-anak berpikir, yaitu jangan selalu ‘dipelopori’, atau disuruh mengakui buah pikiran orang lain, akan tetapi biasakanlah anak-anak mencari sendiri segala pengetahuan dengan menggunakan pikirannya sendiri". Maksudnya ialah sebuah proses pendidikan biarkan anak-anak berpikir sendiri, dengan begitu mereka memiliki ide yang orisinil dalam berpikir maupun bertindak di masa depan. Pendidikan juga dinilai berhasil jika anak bangsa bisa mengenali tantangan apa yang ada di depan mereka, kemudian bisa berpikir dan berbuat untuk menyelesaikan tantangan itu. Ki Hajar Dewantara adalah pahlawan nasional sekaligus menyandang bapak pendidikan. Selanjutnya bapak pendidikan yang biasa dipanggil sebagai Soewardi merupakan aktivis pergerakan kemerdekaan Indonesia, politisi, kolumnis, dan pelopor pendidikan bagi bumi putra Indonesia

 

Saat Indonesia masih dikuasai Belanda. 

Ki Hajar Dewantara adalah pendiri Perguruan Taman Siswa, suatu organisasi pendidikan yang memberikan kesempatan untuk para pribumi agar bisa mendapatkan hak pendidikan yang setara seperti kaum priyayi dan juga orang-orang Belanda. Ki Hajar Dewantara yang lahir pada tanggal 2 Mei kini diperingati di Indonesia sebagai Hari Pendidikan Nasional. Atas jasanya, namanya juga diabadikan di sebuah nama kapal perang Indonesia yaitu KRI Ki Hajar Dewantara. Potret Ki Hajar Dewantara juga diabadikan di uang kertas pecahan dua puluh ribu rupiah pada tahun 1998. Tujuh bulan setelah meninggal, Ki Hajar Dewantara diangkat menjadi pahlawan nasional yang kedua oleh Presiden RI yang pertama, Sukarno, pada tanggal 28 November 1959 menurut Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 305 Tahun 1959. 

Pengasingan Ki Hajar Dewantara 

Ketika diasingkan di Belanda, Ki Hajar Dewantara masuk dalam organisasi yang menjadi wadah bagi para pelajar asal Indonesia. Organisasi tersebut bernama Indische Vereeniging yang dalam Bahasa Indonesia dikenal dengan Perhimpunan Hindia. Tahun 1913, Ki Hajar Dewantara mendirikan sebuah biro pers yang bernama Indonesisch Pers-bureau yang dalam Bahasa Indonesia berarti kantor berita Indonesia. Pertama kali penggunaan formal istilah Indonesia. Istilah Indonesia ini dulu diciptakan tahun 1850 oleh seorang ahli bahasa Inggris bernama George Windsor Earl dan seorang pakar hukum dari Skotlandia yang bernama James Richardson Logan. Ki Hajar Dewantara kemudian memulai impiannya meningkatkan kualitas kaum pribumi dengan mempelajari ilmu pendidikan. Hingga akhirnya berhasil mendapatkan Europeesche Akta. Europeesche Akta adalah ijazah bidang pendidikan yang bernilai tinggi dan kelak menjadi landasan untuk memulai institusi pendidikan yang didirikannya. Dalam masa hidup Ki Hajar Dewantara tertarik pada pemikiran sejumlah tokoh pendidikan dari dunia Barat. Contohnya Montesseri dan Frobel. Pergerakan pendidikan di negara Asia Selatan khususnya India yang dipimpin keluarga Tagore. Pemikiran inilah yang mempengaruhi dan mendasari Ki Hajar Dewantara dalam mengembangkan aturan pendidikannya. 


Ki Hajar Dewantara saat pengasingan di Belanda memang tidak sendirian, melainkan ditemani oleh kedua sahabatnya, yaitu Douwes Dekker dan juga Tjipto Mangunkusumo. Pengasingan ini dilakukan pada tahun 1913. Dalam masa pengasingan tersebut, Soewardi aktif dalam sebuah organisasi yaitu Indische vereeniging atau Perhimpunan Hindia yang isinya adalah pelajar yang berasal dari Indonesia. Pada tahun yang sama ia juga mendirikan sebuah kantor berita yaitu Indonesiach pers bureau atau yang dikenal sebagai Kantor Berita Indonesia. Ki Hajar Dewantara awal mula Soewardi merintis cita-citanya untuk memajukan para kaum pribumi dengan belajar mengenai ilmu pendidikan sampai nantinya berhasil mendapatkan akta atau ijazah pendidikan. Sehingga dari akta atau ijazah tersebut dapat digunakan sebagai pijakan untuk mendirikan lembaga pendidikan yang sudah didirikannya tersebut. Pada studinya tersebut, kemudian terpikat dengan ide-ide dari sejumlah tokoh pendidikan Barat, diantaranya adalah Montessori dan juga Froebel, dari pengaruh-pengaruh tersebutlah kemudian membuatnya mengembangkan sistem pendidikannya sendiri. 

Kepulangannya dari Pengasingan

Setelah kembalinya ke Indonesia maka pada bulan September tahun 1919, kemudian ia bergabung di sekolah binaan milik saudaranya, kemudian Soewardi memiliki pengalaman mengajar. Dengan pengalamannya mengajar kemudian ia mengembangkan konsep mengajar bagi sekolah yang didirikannya sendiri, yaitu sekitar tahun 3 Juli 1992. Sekolah diberi nama national Onderwijs Institut Taman siswa atau yang lebih dikenal sebagai Perguruan Nasional Taman siswa. Pada saat itu Soewardi sudah genap berusia 40 tahun, beliau kemudian mengganti nama dengan Ki Hadjar Dewantara dan tidak memakai gelar kebangsawanan dinamanya. Ki Hajar Dewanta tidak menggunakan gelar kebangsawanannya dengan maksud agar lebih bebas atau leluasa dekat dengan rakyat secara fisik maupun jiwa, tanpa harus memandang kasta. Bahkan semboyan yang dipakai dalam sistem pendidikannya ini dikenal di Indonesia yaitu ‘ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani.’ yang artinya adalah ‘di depan memberi contoh, di tengah memberi semangat, di belakang memberi dorongan.’ Semboyan ini jugalah yang sampai saat ini masih dikenal di dalam pendidikan Indonesia, apalagi pada sekolah-sekolah dasar. 

Pengabdian Pada Indonesia

Pada kabinet pertama Republik Indonesia Ki Hajar Dewantara diangkat menjadi Menteri Pengajar Indonesia. Ki Hajar Dewantara pada tahun 1957 beliau mendapatkan gelar doktor kehormatan dari sebuah universitas tertua di Indonesia yaitu Universitas Gadjah Mada.  Atas jasa-jasanya dalam merintis pendidikan umum, kemudian diberikan gelar Bapak Pendidikan Nasional Indonesia dan kemudian hari kelahiran beliau yaitu 28 Nopember tahun 1959 dijadikan atau ditetapkan sebagai Hari Pendidikan nasional. 

Menyambung benang merah peradaban 

Ki Hajar Dewantara saat menerima gelar sebagai doktor kehormatan dari Universitas Gadjah Mada. Beliau menyebutkan bahwa pendidikan ala Belanda yang selama itu diberikan kepada masyarakat pribumi tidak sesuai dengan cita-cita bangsa Indonesia karena memang hanya mementingkan beberapa aspek saja, diantaranya adalah intelektual, individual, material dan juga kepentingan yang berhubungan dengan kolonial, juga tidak mengandung cita-cita kebudayaan nasional Indonesia. Setelah penjajahan berakhir sistem pendidikan masyarakat Indonesia kala itu masih dipengaruhi oleh penjajahan Belanda. Indonesia telah memiliki akar atau sejarah pendidikan yang sangat panjang sejak melalui masa penjajahan sampai masuk ke era globalisasi. Bahkan pendidikan yang ada di Indonesia sendiri sebenarnya pernah mengalami masa kejayaan ilmu. Pendidikan Indonesia cukup maju pada masa-masa kerajaan, terlihat jelas pada masa kerajaan Kutai yang ada di Kalimantan Timur, Kerajaan Tarumanegara hingga Kerajaan Kalingga dan juga Kerajaan Sriwijaya, kemudian memasuki masa penjajahan dari bangsa-bangsa, pendidikan di Indonesia mengalami kemunduran. Ki Hajar Dewantara juga menyebutkan bahwa ketika bangsa Indonesia telah memasuki masa pejajahan terjadi pembodohan dimana-mana, karena justru berbagai macam ilmu khas yang berasal dari Nusantara justru banyak yang diambil dan juga dipelajari oleh kaum penjajah tersebut, khususnya adalah di Belanda. Ki Hajar Dewantara dalam masa pengasingan ke Belanda beliau kemudian banyak belajar, disana kemudian berkembang sebuah ideology yang mempelajari tentang budaya, bahasa sampai dengan kesusastraan Indonesia. Meskipun Belanda banyak belajar tentang Indonesia justru bangsa Indonesia sebagai kaum terjajah disini tidak mendapatkan apapun, karena justru bangsa Belanda membodohi, tidak memberikan ilmu apapun kepada bangsa Indonesia, berbeda halnya pada masa penjajahan Inggris. Jika dilihat kondisi pendidikan saat itu, tidak ada upaya dalam mengembangkan pendidikan. Sehingga pada saat Ki Hajar Dewantara datang dan memberikan banyak kontribusi penting dalam kemajuan pendidikan Indonesia.. 

Pemikiran Ki Hajar Dewantara Tentang Pendidikan 

Beliau dikenal sosok yang memiliki peran penting dalam kemajuan pendidikan Indonesia, banyak hasil pemikirannya terkait dengan pendidikan, bukan hanya pada masa awal kemerdekaan saja, melainkan juga pasca kemerdekaan. Saat bangsa Indonesia menghadapi carut-marut pendidikan yang terjadi pada masa reformasi dan juga globalisasi. Butir-butir pemikiran beliau, melihat pendidikan dengan perspektif atropologis, yaitu bagaimana caranya warga negara meneruskan warisan budaya kepada generasi yang lebih muda dan juga dengan mempertahankan tatanan sosialnya. Dewantara menyatakan bahwa ‘Pendidikan adalah tempat persemaian segala benih-benih kebudayaan yang hidup dalam masyarakat kebangsaan.’ Jadi nantinya segala unsur peradaban akan tetap tumbuh dan diteruskan kepada anak cucunya. Dewantara menyebutkan bahwa pendidikan nasional harus berdasarkan pada garis hidup bangsanya dan ditujukan untuk keperluan peri kehidupan, sehingga nantinya hal tersebut dapat mengangkat derajat negeri dan juga rakyatnya. Sehingga dengan kedudukan yang sejajar nantinya pantas untuk bekerjasama dengan negara-negara lain untuk kemuliaan segenap manusia di seluruh dunia. Disini diketahui bahwa beliau adalah sosok yang sangat menghargai pluralisme atau kemajemukan, bahkan juga berpikiran futuristik. 


Dewantara menggagagas sistem pendidikan yang tanggap dan juga mampu untuk menjawab tatanan dunia global. Sehingga apa yang terjadi di masa sekarang ini tampaknya sudah diprediksi oleh Ki Hajar Dewantara dulu, yaitu dengan konsep pendidikan nasional yang digagasnya. Diantara sistem pendidikan yang digagas tersebut adalah kontinuitet, konvergensi dan juga konsentris. Asas tersebut digunakan untuk mengubah paradigma dan juga pola pikir dalam menyikapi sebuah kemajemukan budaya nasional dan juga internasional. Bagian ketiga ini adalah bulir akhir dari biografi Dewantara disebutkan bahwa beliau memandang pentingnya budi pekerti. Menurut beliau pendidikan ala barat memang hanya berorientasi pada intelektualitas, materialisme dan juga individualisme saja, namun tidak dengan budi pekerti dan memang kurang cocok dengan kebutuhan atau corak dari bangsa Indonesia. Dewantara mengatakan bahwa pendidikan tidak cukup hanya untuk membuat anak menjadi pintar dan juga unggul dalam aspek kognitif, melainkan juga harus mengembangkan seluruh potensi yang ada seperti diantaranya daya cipta (kognitif), daya rasa (afektif) dan juga daya karsa (koatif). Sehingga harus membuat anak menjadi sosok yang mandiri dan memiliki kepedulian terhadap orang lain, bangsa dan juga kemanusiaan. Demikianlah ulasan singkat seputar biografi Ki Hajar Dewantara, sosok yang dikenal sebagai Bapak Pendidikan Indonesia.

Silahkan berlangganan al khairan dengan e-mail secara gratis:

0 Response to "Biografi Ki Hajar Dewantara,Bapak Pendidikan Indonesia"

Post a Comment