Bahasan tentang idealisme dan realisme pendidikan politik dari Sumpah Pemuda berarti mencari makna ide politik yang terkandung dalam Sumpah Pemuda, dan sekaligus apa wujud pendidikan politik dari Sumpah Pemuda tersebut. Untuk mengungkap hal tersebut diperlukan wacana bahasan tentang apa sebenamya yang harus ada dalam politik itu sendiri, makna pemuda, dan kenyataan dari ide yang dicetuskan para pemuda melalui Sumpah Pemuda.
Sumpah
Pemuda yang terjadi pada tahun 1928 yakni pada masa penjajahan Belanda, berarti
ada makna perjuangan pemuda sebagai anak bangsa Indonesia untuk mewujudkan
cita-cita dan tujuan bangsanya melalui pemyataan, tekad, dan ikrar Sumpah
Pemuda tersebut. Latar belakang sejarah perjuangan khususnya pemuda
melawan penjajahan menjelang kemerdekaan dan hasil yang dicapai serta bagaimana
perwujudan pasca kemerdekaan akan dapat menggambarkan kondisi yang terjadi pada
generasi muda Indonesia. Apakah semangat integrasi dengan kesatuan tanah air,
bangsa, dan bahasa Indonesia untuk mewujudkan negara bangsa (nation state) dan mengisinya senantiasa
menjiwai pemuda dalam perjuangannya?
Sekelompok pemuda melakukan analisis terhadap hasil perjuangan yang
selalu gagal dan tetap terjajah tersebut. Akhirnya diperoleh kesimpulan bahwa
untuk menghadapi penguasa (colonial, diperlukan gerakan modern,
"ideologi" yang berupa kontra ideologi terhadap kolonialisme atau
imperialisme. Para pemuda mulai terjun ke kancah politik untuk menghadapi
penjajah dan mewujudkan cita-citanya. Perkataan politik berasal dari kata Yunani Pofistaia, Polls berarti "kesatuan masyarakat yang mengurus
diri sendiri/berdiri (negara)'. Sementara itu, taia berarti 'urusan'. Jadi, arti politik secara
etimologis adalah urusan sekelompok masyarakat yang mengatur diri mereka
sendiri. Dalam hal ini para pemuda sebagai pejuang dan berusaha untuk mengurus
keperluan untuk mewujudkan kemerdekaan. Menurut istilah, politik dalam arti
kepentingan umum (politics) adalah
"suatu rangkaian asas/prinsip, keadaan serta jalan, cara, dan alat yang
akan digunakan untuk mencapai tujuan tertentu". Dan dapat pula berarti
kebijaksanaan (policy) adalah
"penggunaan pertimbangan-pertimbangan tertentu yang dianggap lebih
menjamin terlaksananya suatu usaha, cita-cita/keinginan atau keadaan yang kita
kehendaki." Para pemuda melakukan kegiatan politik dalam arti
yang luas, yaitu merupakan suatu sistem yang sating bersangkut paut. Sebagai
suatu sistem, politik meliputi tiga hal, yaitu:
1. Kultur Politik, yaitu nilai rohaniah serta
lembaga-lembaga yang menata kehidupan politik, yang berasal dari adat, agama,
filsafat atau sejarah masyarakat yang bersangkutan.
2. Struktur Politik, yaitu kerangka hubungan formal
yang mengatur hubungan rakyat, pemerintah, wilayah, dan kedaulatan negara yang
bersangkutan. Struktur politik ini pada dasarnya termuat dalam Undang-Undang
Dasar Negara yang bersangkutan dan tampak dalam praktik ketatanegaraan.
3. Proses Politik, adalah kegiatan politik itu
sendiri dalam kenyataannya yang motivasinya bersumber dari kultur politik
masyarakat yang bersangkutan dan dilaksanakan dalam kerangka Struktur
politiknya yang ada.
Sebagai contoh penerapan kegiatan politik pemuda adalah dalam segi kepemimpinan gerakan pemuda dipegang oleh kaum intelektual yang berideologi nasionalisme, baik etno-nasionalisme maupun religionasionalisme. Mereka terdiri atas sekelompok kaum terpelajar, tamatan sekolah guru, sekolah dokter jawa, dan sekolah pamong praja.
Berkat pendidikan yang
diperoleh, yang berarti kedudukan sosial penuh wibawa, kaum elite baru ini
mengalami keresahan, tidak lain karena di mana-mana mereka masih membawa stigma
sebagai inlander yang mengalami
diskriminasi oleh kaum Eropa, meskipun tingkat pendidikan mereka menyamai kaum Eropa
Kondisi inilah yang
akhirnya membuat berdirinya Budi Utomo tanggal 20 Mei 1908, dan sejak saat itu
timbullah Pergerakan Nasional. Adapun tentang nama Budi Utomo ini ialah ttbudi"
artinya perangai atau tabiat dan "utomo" artinya baik, luhur.
"Jadi Budi Utomo yang dimaksud oleh pendirinya ialah perkumpulan yang akan
mencapai sesuatu berdasarkan keluhuran budi, kebaikan perangai, atau
tabiat". Perkumpulan Budi Utomo ini bergerak dan mengorganisir
diri serta berjuang untuk menyatukan tekad mewujudkan cita-cita kemerdekaan
bangsa.
Kebangkitan
Nasional telah lahirdari kalangan pemuda. Bahkan mereka telah menjadi angkatan
perintis kemerdekaan. Pelecehan terhadap pribadi serta perasaan kompleks
inferioritas menimbulkan rasa kehilangan identitas. Penderitaan kolektif itu
mendorong pemuda untuk membentuk organises! sebagai wadah solidaritas yang
sekaligus dapat dipakai sebagai simbol identitas kolektif mereka. Proses
modernisasi yang sedang dihadapi para pemuda tersebut mengalami suatu
transformasi struktural dari ikatan komunal menjadi ikatan asosional. Maka,
momentum pendirian Budi Utomo dijadikan tonggak sejarah dalam sejarah
Indonesia. Perlawanan secara fisik beralih bentuknya dengan berwujud
pendidikan dan organisasi dengan tujuan membangkitkan kesadaran berbangsa
(nasionalisme), pentingnya persatuan untuk menuju pada negara merdeka, agar
tercapai masyarakat yang adil dan makmur.
Tidak berselang lama
sesudah berdirinya Budi Utomo, segera diikuti dengan tumbuhnya
organisasi-organisasi lain seperti Sarekat Islam, Indische Partij,
Muhammadiyah, Nahdatul Ulama, Taman Siswa, Jong Pasundan, Jong Sumatera, Jong
Celebes, Jong Ambon, dan sebagainya. Berdirinya organisasi tersebut memberikan
wadah sosial kaum terpelajar sekaligus memberikan identitas baru kepada
generasi muda terpelajar. Memang perlu diakui bahwa etnosentrisme masih kuat
dan cakrawala mental belum dapat mentransendensikan faktor etnisitas. Di pihak
satu, generasi muda secara keseluruhannya menampilkan citra pluralistik serta
etnisitas yang mencolok dan di pihak lain menampilkan etnonasionalisme.
Transformasi dari etnonasionalisme menjadi nasionalisme sepenuhnya adalah
proses yang amat krusial dan hanya dapat dilaksanakan melalui aksi massa. Aksi massa ini benar-benar terwujud melalui Manifesto Politik tahun 1925 dan
Sumpah PemudaTahun 1928. Salah satu perkumpulan yang memakai nama Indonesia
ialah Perhimpunan Indonesia (PI) yang sebelumnya lebih dikenal dengan nama Indische Vereeniging, sebagai organisasi
terkemuka mahasiswa Indonesia di Belanda. Sumpah Pemuda berskala lebih besar
dan terbuka, iebih massal dan dihadiri oleh lebih banyak pemuda, lebih
bergairah dan bersemangat sehingga lebih banyak member! inspirasi dan
publisitas (Sartono Kartodirdjo, 1999: 63). Nasionalisme Indonesia makin
terwujud dengan hasil Kongres Pemuda II tanggal 27-28 Oktober 1928 yang
diselenggarakan oleh Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI) yang
didirikan tahun 1926 di Jakarta, Kongres ini menghasilkan Sumpah Pemuda yang
isinya:
1. Kami putra dan putri Indonesia mengaku bertumpah
darah yang satu tanah air Indonesia.
2. Kami putra dan putri Indonesia mengaku berbangsa
satu bangsa Indonesia.
3. Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa
persatuan bahasa Indonesia.
Dari hasil Konggres Pemuda II makin nyata pulalah perjuangan para pemuda mewujudkan integritas nasional sehingga dengan adanya peristiwa tersebut para pemuda dijuluki dengan Angkatan Penegas.
Pemuda, Integrasi
Nasional, dan Tantangan ke Masa Depan
Rangkaian kejadian selama periode 1908-1945 merupakan mata rantai yang secara keseluruhan menunjukkan semangat nasionalisme pada rakyat Indonesia. Pantas disimak ungkapan yang diketengahkan oleh Sartono Kartodirdjo yang member! istilah "adanya jenjang yang progresif" sebagai berikut.
1. Sejak sekitar tahun 1900 gerakan emansipasi
dilancarkan dengan dipelopori oleh Kartini.
2. Simbolisasi merupakan proses mencari identitas
baru meskipun belum mentransendensi etnisitas. BO, SI, Muhammadiyah, dan
sebagainya berfungsi sebagai lambang identitas baru menggantikan identitas
primordial.
3. Politisasi gerakan secara tajam merumuskan
konsep dasar nasionalisme Indonesia, kemudian lebih dikenal sebagai Manifesto
Politik oleh Perhimpunan Indonesia.
4. Kesadaran nasional secara bulat dirumuskan
sebagai Sumpah Pemuda.
Proses Indonesiasi memacu radikalisasi dalam bidang politik sebagai
reaksi terhadap politik kolonial yang makin konservatif, tanpa mengurangi makna
dan nilai Sumpah Pemuda. Sesungguhnya, Manifesto politik tahun 1925 tidak hanya
muncul lebih dahulu, melainkan juga perumusannya tentang nasionalisme Indonesia
lebih mendasar serta penjabarannya lebih konkret dalam penyusunan orientasi
tujuan gerakan politik.
Proses Indonesianisasi
yang memacu radikalisasi dalam bidang politik setelah timbul kesadaran nasional
secara bulat melalui Sumpah Pemuda, terwujud dalam berbagai bentuk. Bahasan ini
dikhususkan saat menjelang Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia dan pada
peristiwa Proklamasi itu sendiri.
Apa yang merupakan
motivasi pemuda bertindak lebih tegas untuk mewujudkan integrasi nasional
tersebut? Semangat integrasi nasional antara lain tumbuh melalui kesadaran akan
perlunya persatuan dan koordinasi perjuangan agardapat mencapai kemerdekaan,
sebagai hasil analisis di awal abad ke XX tentang perjuangan fisik bersenjata
yang senantiasa gagal dan tetap terjajah. Akibatnya dengan mengubah taktikdan
strategi perjuangan, sudah makin menunjukkan hasilnya. Makna integrasi
nasional makin membahana dalam jiwa juang pemuda. "Masalah integrasi
nasional menurut Coleman dan Rosberg, proses pemersatuan bangsa di suatu negara
terdiri atas dua dimensi, yaitu vertikal (elite massa) dan horizontal (teritorial)". Integrasi vertikal mencakup masalah-masalah yang ada dalam bidang yang
vertikal dan bertujuan untuk menjembatani celah perbedaan yang mungkin ada
antara kaum elite dan massa dalam rangka pengembangan suatu proses politik
terpadu dan masyarakat politik yang berpartisipasi. Mereka menamakan juga
dimensi vertikal ini sebagai integrasi politik. Adapun yang dimaksudkan dengan
integrasi teritorial adalah integrasi dalam bidang horizontal dengan tujuan
untuk mengurangi diskontinuitas dan ketegangan kultur kedaerahan dalam rangka
proses penciptaan suatu masyarakat politik yang homogen.
Kedua
dimensi integrasi nasional vertikal dan horizontal itulah yang dilaksanakan
oleh bangsa Indonesia, khususnya pada pemuda sebagai pelopomya. Integrasi
nasional dimensi horizontal menyangkut lebih dari tujuh belas ribu pulau,
masalah geografis, heteroginitas etnik yang lebih dari tiga ratus suku bangsa
dan menggunakan lebih dari dua ratus lima puluh bahasa yang berbeda, agama yang
beragam, serta rasa kesukuan yang mendalam dan identitas politik yang sangat
kuat. Integritas nasional dimensi vertikal menyangkut antara kaum elite dan
massa, dan juga antara golongan elite sendiri. Nasikun menyatakan bahwa struktur
masyarakat Indonesia ditandai oleh dua cirinya yang bersifat unik". Secara horizontal, ia ditandai oleh kenyataan adanya kesatuan-kesatuan sosial
berdasarkan perbedaan-perbedaan suku bangsa, agama, adat, serta kedaerahan.
Secara vertikal, struktur masyarakat Indonesia ditandai oleh adanya
perbedaan-perbedaan vertikai antara lapisan atas dan lapisan bawah yang cukup
tajam. Perjuangan untuk mewujudkan integrasi nasional itu sendiri sudah
merupakan suatu perjuangan yang berat, apalagi harus berhadapan dengan
penjajah. Namun, itulah risiko perjuangan, dan pemuda Indonesia membuktikan
keberhasilannya.
Peristiwa di sekftar
Proklamasi merupakan bukti keberhasilan upaya yang diperjuangkan oleh para
pemuda.
Sekarang, Bung! Sekarang! Ate/am
ini juga!" kata Chaeruf Saleh. "/Ota kobarkan revolusi yang meluas malam ini juga. Kita mempunyai pasukan Peta, pasukan Pemuda, Barisan
Pelopor, bahkan Heiho sudah siap. Dengan satu isyarat Bung Karno seluruh
Jakarta akan terbakar. Ribuan pasukan bersenjata sudah siap sedia akan
mengepung kota, menjalankan revolusi bersenjata yang berhasil dan menjungkirkan
seluruh tentara Jepang." Begituiah permulaan percakapan yang berlangsung
pada tanggal 15 Agustus 1945, jam 10 malam antara serombongan pemuda dan Bung
Kamo di tempat kediamannya, Pegangsaan Timur No. 56.
Pernyataan ini merupakan tekad dan semangat pemuda yang ingin segera mewujudkan kemerdekaan pada tanggal 15 Agustus 1945, meskipun hasil percakapan dengan Bung Karno, Bung Hatta, dan lain-lain pemimpin berakhir tidak memuaskan bagi pemuda sehingga mereka memutuskan untuk menyingkirkan kedua pemimpin itu.
Golongan
pemuda yang tidak menyukai hubungan terlalu erat antara pemimpin itu dengan
pihak Jepang menghadapi Proklamasi Kemerdekaan, pada dini hari tanggal 16
Agustus 1945 "mengamankan" kedua tokoh itu ke Rengasdengklok, suatu
kota kecamatan di sebelah Timur Jakarta. Maksudnya ialah agar supaya mereka itu
"terlepas dari pengaruh Jepang".
Deskripsi
ini mengungkapkan bagaimana semangat integrasi nasional yang berkobar di
kalangan pemuda. Mereka juga berpandangan bahwa Proklamasi Kemerdekaan
Indonesia agar jangan dicampuri oleh pihak lain, dalam hal ini Jepang sebagai
penjajah. Di Jakarta terdapat4 golongan pemuda
revolusioner yang bergerak secara tersembunyi, yaitu:
1. golongan
Sukami, termasuk Kusnaeni, Adam Malik, Panduwiguna, Maruto Nitimihardjo,
Armunanto;
2. golongan Sjahrir, termasuk Soedarsono, Hamdani,
Soepeno;
3. golongan Pelajar, termasuk Chairul Saleh,
Soebadio, Eri Soedewo, Djohar Nur;
4. golongan
Kaigun, termasuk Mr.Subardjo, Sudiro (Mbah),Wikana.
Lebih lanjut diungkapkan mengenai jasa pemuda berkaitan dengan Proklamsi Kemerdekaan. Pemuda
revolusioner telah berjasa dalam mempercepat Proklamasi, karena Pemuda tidak
sanggup melakukan Proklamasi sendiri, sebab kewibawaan Soekarno-Hatta, terutama
dari Bung Karno di kalangan rakyat sedemikian besarnya, sehingga hanya
Proklamasi yang dilakukan oleh Dwitunggal Soekarno-Hatta dan diucapkan oleh
Bung Karnolah yang pasti akan mendapat dukungan dari rakyat seluruhnya.
Dari pemyataan
tersebut bagaimana pemuda revolusioner telah berjasa dalam mempercepat proses
proklamasi, meskipun ada tindakan pemuda yang sempat mengamankan"
Bung Karno dan Bung Hatta ke Rengasdengklok.
Terungkap pula
pernyataan Mohammad Hatta tentang perjuangan pemuda sebagai berikut.
Sungguhpun begitu pemuda Indonesia banyak jasanya dalam perjuangan kemerdekaan
Indonesia. Berjuang untuk kemerdekaan tanah air dan keadilan sudah menjadi
tradisinya, apalagi kalau mereka memperoleh pimpinan yang tepat, yang dapat
memahamkan situasi yang sebenarnya. Kesalahan yang diperbuat para pemuda yang
sedang menggelora tidak mengaburkan jasanya. "Apabila semangat pemuda
tidak begitu meluap-luap pada permulaan Revolusi Nasional kita, maka sukarlah
kiranya menghidupkan perjuangan rakyat yang begitu hebat sehingga sanggup
menderita bertahun-tahun lamanya.
Kepeloporan pemuda
menjadi berkurang tatkala langkah perjuangan diteruskan dan dipegang oleh
golongan tua atau golongan lainnya sebagaimana pernah dialami Budi Utomo.
Kuntowijoyo menyatakan, "Budi Utomo yang semula mempunyai kepemimpinan
dari kalangan pemuda, kemudian jatuh ke tangan kaum priayi pemerintahan
sehingga kehilangan kepeloporannya." Diakui pula bagaimana
jasa Budi Utomo bagi cita-cita kemajuan. Namun, sebagai gerakan budaya, Budi
Utomo tetap penting karena banyak memberikan sumbangan dalam merumuskan
cita-cita kemajuan. Jasa umat Islam yang merupakan sebahagian besar penduduk
Indonesia baik menjelang kemerdekaan maupun pasca kemerdekaan, kiranya pantas
pula diketengahkan di sini. Mengenai hal ini Ramage menyatakan bahwa banyak
organisasi kebudayaan Islam dan organisasi ekonomi Islam yang didirikan pada
awal abad XX seperti Sarekat Islam yang didirikan tahun 1912, Muhammadiyah yang
modern juga didirikan pada tahun 1912, dan Nahdatul Ulama yang tradisional yang
didirikan tahun 1926, semuanya telah memberikan sumbanganterhadap perwujudan
suatu jati diri nasional Indonesia. "Orang-orang muslim Indonesia telah
lama berkecimpung dalam perjuangan untuk memperoleh kemerdekaan". Khusus tentang berdirinya Sarekat Islam memang ada berbagai pandangan yang
berbeda, antara lain: "Didirikan di Solo pada tanggal 11 Nopember 1912
dari organisasi yang mendahuluinya yang bernama Sarekat Dagang Islam." Bahkan dalam keterangan catatan kaki dari halaman yang sama menyebutkan,
"Sekelompok kecil orang-orang Islam di Indonesia dengan dipelopori oleh
Tamar Djaja mengemukakan bahwa Sarekat Dagang Islam didirikan pada tanggal 16
Oktober 1905, dan Sarekat Islam persis setahun kemudian", Integrasi nasional makin terwujud pada masa pasca proklamasi dalam perjuangan
menghadapi Belanda pada tahun 1945 hingga 1949. Drake menyatakan dalam buku National Integration in Indonesia sebagai
berikut.
"Perjuangan menghadapi Belanda selama empat
tahun dari tahun 1945 hingga 1949 merupakan saat pertumbuhan solidaritas dan
semangat kesatuan bagi sebahagian orang Indonesia dalam mewujudkan arti
kemerdekaan selengkapnya dan terpadu".20
Mengapa semangat juang dan kesadaran integritas nasional sedemikian kuat tumbuh dalam diri bangsa Indonesia, khususnya pada diri pemuda?
Dari
bahasan terdahulu terungkap bahwa kepeloporan perjuangan didominasi oleh para
pemuda. Oleh karena itu, batasan dan keadaan kejiwaan pemuda pantas
diketengahkan dalam bahasan ini. Sebenarnya, agak sulit untuk memberikan
batasan tentang siapa yang disebut sebagai pemuda.
Dalam
berbagai buku khususnya psikologi perkembangan diistilahkan dengan young people atau youth. Erikson pada waktu membahas tentang masa adolesensi
menyebut dengan istilah young people. "Pemuda seharusnya menjadi
orang dewasa dalam pembentukan dirinya sendiri, di mana karakteristik ini
terbentuk selama perkembangan melalui suatu perubahan yang beraneka ragam
pada pertumbuhan fisik, kematangan jenis kelamin, dan kesadaran sosial. Dalam buku-buku Angelsaksis (Hill/Monks 1977), istilah "pemuda'' (youth) memperoleh arti yang baru, yaitu
suatu masa peralihan antara masa remaja dan masa dewasa. "Dalam buku-buku
tersebut akan dijumpai pemisahan antara adolesensi (12-18 tahun) dan masa
pemuda (19-24 tahun)". Dengan batasan ini kalau dikhususkan
pada perkembangan usia maka pemuda berlangsung antara usia 19 sampai 24 tahun.
Namun, di awal bahasan telah dinyatakan bahwa pemuda akan ditinjau dari segi
ekosferis. Pendekatan ekosferis dimaksudkan untuk menghindarkan konotasi yang
keliru sebagaimana disampaikan oleh H.A.R.Titaar dalam Tinjauan Pedagogis
mengenai Pemuda: Suatu Pendekatan Ekosferis bahwa "pemuda identik dengan
pemberontak; berani tetapi pendek akal; dinamik tetapi seeing kali hantam
kromo; Penuh gairah tetapi sering kali berbuat yang aneh-aneh. Pendek kata,
pemuda dan kepemudaan sama dengan romantik. Masa yang menarik, tetapi juga yang
perlu dikasihani, setidak-tidaknya dari kaca mata orang dewasa". Tilaar lebih lanjut menyatakan bahwa seyogyanyalah penilaian bertotak dari
asumsi kehidupan yang kontinum, pemuda dan kepemudaan merupakan suatu tonggak
dari "wawasan kehidupan", yang
dengan sendirinya mempunyai potensi dan
romantisme sendiri dalam keseluruhan pengarahan untuk mengisi hidup itu.
Dua hal
yang menonjol dari pendekatan ekosferis ini: pertama, kepemudaan dan kehidupan
orang dewasa dan anak merupakan suatu totalitas. Tidak ada pertentangan yang
fundamental antara orang dewasa (generasi tua), pemuda, dan anak. Jika ada
perbedaan dalam kematangan berpikir, dalam menghayati makna hidup dan
kehidupan, ini semata-mata disebabkan oleh tingkat kedewasaannya dan bukan oleh
kehidupan kelompok itu dalam totalitas hidup dan kehidupan bersama. Jurang
generasi dalam arti bahwa terdapat perbedaanyang fundamental antar generasi tua
dan generasi muda dalam pendekatan yang di atas tentulah tidak ditemukan. Di
sinilah pula terletak makna kedua dari pendekatan ekosferis: bahwa baik apa
yang menggolongkan diri generasi tua maupun generasi muda dan anak-anak
semuanya berada dalam status yang sama, yaitu menghadapi atau berada dalam
suatu kesatuan wawasan kehidupan.
Penutup
Melalui Sumpah Pemuda dan rangkaian proses yang menghantarkannya serta peristiwa terwujudnya integritas nasional dengan terbentuknya kemerdekaan Indonesia sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia dapat kita simpulkan bahwa peranan pemuda dan kepemudaan sangat menentukan keberhasilan perjuangan bangsa Indonsia selama ini.
Walaupun
demikian, menarik untuk dicermati pernyataan Sudjoko:"... maka yang
dipersoalkan dewasa ini ialah kelesuan kaum muda yang seharusnya tidak lesu
oleh karena hidupnya sebenarnya sudah cukup tejamin". Sifat dan
kondisi kelesuan pemuda tersebut, beliau ungkapkan menjadi sepuluh macam,
Yaitu: (1) lesu kerja; (2) senang bermalas; (3) Mengutamakan hiburan; (4)
bersemangat bangsawan; (5) lesu disiplin; (6) loyo otak; (7) mengabaikan mutu; (8) takut mawas diri; (9) hidup dangkal; (10). segan
mengabdi pada sesama.
Sepuluh
kelesuan dan sifat negatif pemuda yang digambarkan tersebut patut pula
dicermati penyebabnya dan sekaligus memberikan jalan keluarnya. Sebab, kita
telah memiliki kemantapan pegangan menghadapi pemuda dengan pendekatan
ekosferis. Bagi orang yang berkecimpung dalam dunia pendidikan perlu menyadari
bahwa sistem pendidikan dan corak pendidikan yang selama ini dianut ada
kekeliruan atau kekurangannya. Terutama pada segi pendidikan akhlak untuk
pembinaan moral dan mental pemuda yang berakibat menjadi lesu tersebut antara
lain kurangnya pendidikan afektif dan psikomotorik dan sangat menekankan pada ranah
kognitif.
Untuk itu,
perlu ditata ulang dan disiapkan kegiatan pendidikan yang mengacu pada
pembentukan afeksi yang berlandaskan moral agama bagi peserta didik dan
psikomotorik berupa keterampilan kerja dan jasa di samping perlunya pendidikan
kognisi.
Islam lebih jauh memberikan didikan kepada
umatnya agar berusaha atau berjuang dengan bersungguh-sungguh.
"Dan barang siapa yang berjihad, maka
sesungguhnyajihadnya itu adalah untuk
dirinya sendiri. Sesungguhnya Allah benar-benar Mahakaya (tidak memerlukan
sesuatu) dari semesta alam" (Al-Ankabut29:6).
Di sinilah letak semangat juang hasil pendidikan Islam, baik kepada generasi tua maupun generasi muda atau para pemuda agar setiap generasi tetap berjuang atau berusaha karena kesungguhan berjuang itu akan bermanfaat bag! diri para pejuang juga. Maka, dengan semangat perjuangan yang berlandaskan nilai Islam, tiada alasan jika sepuluh kelesuan tetap bersarang pada jiwa generasi muslim. Justru sebaliknya, semangat juang berlandaskan nilai Islam akan menghapus kesepuluh kelesuan di kalangan jiwa muda. Semangat integralitas nasional sebagai usaha tetap mewujudkan kesatuan di kalangan muda niscaya akan tumbuh dan berkembang
Ditulis Oleh: Rahmat, Doktorandus, Magister Pendidikan, dosen dan Dekan Fakultas Tarbiyah, IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
DAFTAR PUSTAKA
Andito (Editor), Menggusur Status Quo, Bandung: PT.Remaja Rosdakarya, 1998.
Deliar Noer, Gerakan
Modem Islam diIndonesia 1900-1942, Jakarta: LP3ES,1991.
Departemen Agama RI, Al Quran dan Terjemahnya, Semarang: CV. Toha Putra, 1989.
Drake, Christine, National Integration In Indonesia: Patterns and Policies,
Honolulu: University of Hawaii Press, 1989.
Gallatin, Judith E,Adolescence and Individuality, New York:
Harper & Row Publishes, 1975.
Kuntowijoyo
Priyono,A.E., (Editor), Paradigma Islam
Interpretasi Untuk Aksi, Bandung: Mizan, 1999.
Lembaga Pertahanan
Nasional (Lemhannas), Kewiraan Untuk
Mahasiswa,Jakarta: Dirjen PendidikanTinggi Depdikbud dan PT. Gramedi
Pustaka Utama, 1992.
Mohamad Roem, Penculikan, Proklamasi dan Penilaian
Sejarah, Semarang-Jakarta: Ramadhani Hudaya, 1970.
Mohammad Hatta, Sekitar Proklamasi, Jakarta: Tintamas, 1970.
Nasikun, Sistem
SosialIndonesia, Jakarta: CV.Rajawali, 1989. Nugroho Notosusanto, Naskah Proklamasi yang Otentik dan Rumusan Pancasila
yang Otentik, Jakarta:
Dep.Hankam, Pusat Sejarah ABRI, 1971.
Ramage, Douglas E. Politics In Indonesia, London and New York. Routledge, 1995.
Saafroedin Bahar, et.al, Pendidikan Pendahuluan Be/a Negara
Tahap Lanjutan, Jakarta: Penerbit
Intermedia, 1989.
Saafroedin
Bahar Tangdililing, A.B., IntegrasiNasional
Teori, Masalah dan Strategi, Jakarta:
Ghalia Indonesia, 1996.
Sartono Kartodirdjo, Multi Dimensi Pembangunan Bangsa EtosNasionalisme
dan Negara Kesatuan, Yogyakarta: Kanisius, 1998.
Sartono Kartodirdjo/ Ideologi dan Teknologi dalam Pembangunan
Bangsa, Jakarta: Pabelan Jayakarta,
1999.
Siti Rahayu
Haditono Knoers, A.M.P Monks, F.J., Psikologi
Perkembangan: Pengantar dalam berbagai bagiannya, Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1982.
Susanto Tirtoprodjo, Sejarah Revolusi Nasional Indonesia Tahapan
Revolusi Bersenjata 1945-1950, Jakarta:
PT. Pembangunan, 1966.
Susanto Tirtoprodjo, Sejarah
Pergerakan Nasional Indonesia, Jakarta: PT. Pembangunan, 1970.
Taufik Abdullah (Editor), Pemuda
dan Perubahan Sosial, Jakarta: LP3ES, 1974.
Blogger yang senang mempelajari hal-hal baru seputar Blog, SEO dan Bisnis Online.
0 Response to "SUMPAH PEMUDA: ANTARA IDEALISME DAN REALISME"
Post a Comment