Secara etimologis, Gita Bahana Nusantara (selanjutnya disingkat GBN) terdiri atas tiga kata yang pemaknaannya berakar dari budaya Indonesia. Kata gita yang berasal dari bahasa Sanskerta berarti nyanyian atau lagu. Adapun bahana adalah gema, bunyi (suara) riuh rendah, atau luar biasa, sedangkan Nusantara merujuk pada sebutan bagi seluruh wilayah kepulauan Indonesia. Maka yang dimaksud Gita Bahana Nusantara adalah nyanyian yang menggema di seluruh wilayah wilayah kepulauan Indonesia.
Gagasan pembentukan GBN sudah mengemuka sejak 2001 dari Presiden Megawati Soekarno Putri (2001- 2004). Megawati menyampaikan gagasannya kepada Surya Yuga (Direktur Kesenian waktu itu) untuk membentuk paduan suara dan orkestra nasional. Ide dasarnya adalah melibatkan seluruh generasi muda dari seluruh Indonesia, meremajakan pemain orkes yang sudah ada, dan menunjukkan kepribadian dalam kebudayaan. Selanjutnya Surya Yuga menyampaikan hal tersebut kepada I Gede Ardika (Menteri Kebudayaan dan Pariwisata 2001-2004). Selanjutnya I Gede Ardika menegaskan bahwa peserta adalah gabungan generasi muda Indonesia, agar tumbuh rasa nasionalisme (bangga akan persatuan dan kesatuan) dan memiliki jiwa

Upacara peringatan Tri Windu (24 tahun) lagu Indonesia Raya di Istana Merdeka, 28 Oktober 1952.
patriotisme (semangat kejuangan). Oleh karena itu, pada 2002 gagasan itu dimatangkan oleh Dr. Sri Hastanto (Direktur Jenderal Nilai Budaya, Seni dan Film) untuk mewujudkan suatu wadah paduan suara dan orkestra yang khas Indonesia, serta merumuskan teknis pelaksanaan GBN. Teknis pelaksanaan GBN diawali oleh audisi peserta, baik paduan suara maupun orkestra, pemusatan latihan, gelar perdana, dan pergelaran pada pidato kenegaraan Presiden Republik Indonesia dalam Sidang Pleno DPR/ MPR 2003. Puncaknya adalah pada peringatan Detik-Detik Kemerdekaan Republik Indonesia di Istana Merdeka Jakarta pada 2003 juga. Sejak 2003 GBN mengawali debutnya berkumandang hingga saat ini.
Lahirnya gagasan GBN dilatarbelakangi tujuan untuk (a) menguatkan jati diri dan karakter bangsa, (b) untuk menumbuhkan rasa kebangsaan, menghormati perbedaan, dan memupuk rasa kebersamaan di kalangan generasi muda, dan (c) membentuk paduan suara dan orkestra nasional yang tangguh. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa wadah tersebut untuk menyalurkan bakat dan potensi kreativitas generasi muda di bidang seni musik, yang pada akhirnya tumbuh rasa nasionalisme dan patriotisme, menghargai keberagaman, dan menguatnya jati diri dan karakter bangsa.
Dari 2003 sampai 2011, GBN difasilitasi oleh Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata. Di awal pelaksanaannya terasa berat, karena melibatkan seluruh provinsi di Indonesia yang tidak sama pemahaman akan pentingnya pembangunan karakter bangsa, khususnya di kalangan generasi muda. Namun berkat dorongan semangat dari Ibu Megawati sebagai penggagas awal, tim kerja Kembudpar mampu mewujudkan pelaksanaan GBN dengan baik. Pada perkembangan selanjutnya, Bapak Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono memberikan perhatian dan dukungan penuh, sehingga kegiatan GBN dapat dilaksanakan lebih baik dalam mekanisme pelaksanaannya.
Pada Oktober 2011, Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata berganti nomenklatur menjadi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, sedangkan “kebudayaan” berintegrasi kembali dengan “pendidikan” menjadi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Sejak itu, pelaksanaan GBN difasilitasi oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dari 2012-2014. Tujuan GBN pun ditambah dengan memasukkan unsur kreativitas dan pemahaman ekonomi kreatif. Penyenggaraan GBN diharapkan dapat menjadi sarana untuk memotivasi dan memberikan pemahaman kepada generasi muda tentang ekonomi kreatif.
Pada Maret 2015, Direktur Jenderal Ekonomi Kreatif Berbasis Seni Budaya, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi menyerahkan penyelenggaraan Gita Bahana Nusantara kepada Direktur Jenderal Kebudayaan, yang selanjutnya menugaskan
Direktur Kesenian untuk melaksanakan kegiatan GBN pada 2015 tersebut. Walaupun waktu yang sangat mendesak, panitia pelaksana Direktorat Kesenian mampu menyelenggarakan GBN tahun 2015 secara baik berkat dukungan dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Bapak Anies Baswedan dan Direktur Jenderal Kebudayaan, Bapak Kacung Maridjan. Pada 2016, Direktorat Kesenian kembali menyelenggarakan GBN secara sukses dengan pejabat baru di lingkungan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, yaitu Bapak Muhadjir Effendy sebagai menteri dan Bapak Hilmar Farid sebagai Direktur Jenderal Kebudayaan.
Penyelenggaraan GBN oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sejak 2015, merupakan kembalinya anak hilang ke habitat aslinya. Tujuan awal dibentuknya GBN adalah membangun karakter dan jatidiri bangsa, khususnya di kalangan generasi muda. Hal ini sejalan dengan visi dan misi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan khususnya yang berkaitan dengan pendidikan karakter yang gencar dikumandangkan. Nilai-nilai pendidikan karakter antara lain: religius, nasionalisme, kemandirian, gotong royong, dan integritas juga merupakan nilai-nilai yang diinternalisasikan kepada setiap peserta Gita Bahana Nusantara.
Gita Bahana Nusantara merupakan gabungan vokalis dan pemusik terbaik dari seluruh Indonesia yang perekrutan

Upacara peringatan Empat Windu Sumpah Pemuda di Istana Negara, 28 Oktober 1960.
anggotanya dilaksanakan melalui audisi yang diselenggarakan di seluruh provinsi di Indonesia. Mereka adalah putra-putri terbaik yang berusia 15-25 tahun, memenuhi berbagai persyaratan baik umum maupun teknik musikalitas. Audisi paduan suara memilih peserta yang akan mewakili provinsinya dengan jenis suara sopran, alto, tenor dan bass. Sedangkan audisi orkestra dilaksanakan di sekolah-sekolah musik dan perguruan tinggi dengan menitikberatkan pada kemampuan teknis bermusik dan kemampuan prima vista (membaca notasi pada saat itu juga).
Secara spesifik dalam proses audisi, para juri memilih calon peserta dengan kriteria: (a) memiliki bakat musikalitas, (b) menguasai teknik prima vista (c), memiliki karakter suara dan artikulasi yang prima, (d) memiliki prestasi di sekolah, dan (e) mengenal dan memahami budaya daerah asalnya. Penyelenggaraan audisi di daerah dilaksanakan oleh pemerintah provinsi melalui dinas yang terkait dengan pembinaan kebudayaan di daerah masing-masing.
Setelah proses audisi selesai, para peserta yang terpilih untuk mewakili provinsi masing-masing, dipanggil untuk masuk pemusatan latihan selama kurang lebih tiga minggu. Selama karantina tersebut, selain jadwal latihan musikalitas, peserta diberi materi pembekalan bela negara, pembinaan karakter, kunjungan belajar, dan rekreasi ke berbagai obyek yang mendukung pembentukan karakter bagi peserta.
Setelah melalui karantina dan latihan yang intensif, awal dari pelaksanaan tugas utama GBN adalah Gelar Perdana di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang bertujuan untuk menguji kesiapan dan kelayakan tampil. Pergelaran Utama GBN adalah pada Pidato Kenegaraan Presiden Republik Indonesia di Sidang DPR-DPD RI di Gedung DPR/MPR RI, dan puncaknya Pada Peringatan Detik-Detik Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia di Istana Merdeka Jakarta. Lagu-lagu yang ditampilkan adalah lagu-lagu nasional dan lagu-lagu daerah yang digubah dalam bentuk medley. Ciri khas Gita Bahana Nusantara adalah susunan orkestra yang memasukkan usur-unsur musik etnik pada instrumennya, seperti sasando, sampek, kendang, kecapi, dan gondang batak, serta aransemen lagu-lagu daerah yang mewakili wilayah-wilayah di Indonesia, dengan judul: Nyanyian Negeriku, Nyanyian Nusantara, Tembang Nusantara, dan Tembang Indonesia. Dalam penampilannya peserta paduan suara Gita Bahana Nusantara mengenakan pakaian daerah masing- masing, sehingga mencerminkan kebhinekaan bangsa Indonesia yang terdiri dari berbagai latar belakang suku bangsa, bahasa, dan etnis


0 Response to "Gita Bahana Nusantara dan pergerakannya"
Post a Comment